Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 38 - Apa Mungkin Salah?


Mereka sadari atau tidak, Giska dan Zavia tidur di bawah atap yang sama bersama pria dalam waktu bersamaan. Keduanya bahkan belum pernah menjalin hubungan serius dengan lawan jenis, sungguh pencapaian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Jauh meninggalkan Giska, di rumah sakit Zavia mendengar samar kumandang azan yang menelisik indera pendengarannya. Matanya perlahan terbuka dan menatap sekeliling ruangan yang kini tampak sepi. Tidak ada Renaga di sini, hanya ada jaket dan ponsel Renaga yang menegaskan jika dia tidak ditinggal sendiri malam ini.


Selang beberapa lama, Zavia kembali merasakan apa yang dia tahan tadi malam. Hanya karena malu jika harus meminta pada Renaga, Zavia menahan keinginannya hingga di pagi hari miliknya seakan hampir basah lantaran sudah diujung tanduk.


Dia sangat mampu untuk berdiri sendiri sebenarnya, hanya saja memang bergerak sedikit saja Renaga panik dan sibuk sendiri. Pelan-pelan Zavia turun dengan berusaha melangkah tanpa bantuan.


Sedikit sulit sebenarnya, tapi tidak mengapa. Ini jauh lebih baik dibandingkan harus dibantu Renaga, selain malu, Zavia juga tidak terbiasa dengan sentuhan Renaga.


Zavia menghela napas lega, keringat yang membasah di keningnya terbayarkan sudah. Dia selesai lebih cepat, tampaknya Renaga belum kembali karena belum terdengar suara berat Renaga yang terus memanggilnya.


Leganya Zavia hanya sebentar, karena beberapa saat setelahnya dia kembali merasakan sakit di bagian kepala. Zavia memejamkan matanya cukup lama, dia butuh waktu untuk berhenti sejenak demi mengambil langkah berikutnya.


"Zavia!!"


Teriakan itu membuat Zavia terperanjat kaget, dia menatap ke arah pintu masuk. Dalam waktu tidak sampai tiga detik, Renaga membuatnya terpaku bahkan tidak berkedip untuk beberapa saat.


Dia yakin ini sudah pagi, Zavia sudah memastikan dia sudah terbangun dari tidurnya. Lantas kenapa alam bawah sadarnya masih membayangkan Renaga seperti ini. Zavia betah menatapnya, pemandangan manis seperti ini kerap dia saksikan di rumah setiap paginya.


"Kenapa tidak tunggu aku? Kalau sampai jatuh gimana?"


Dia bersuara lagi, artinya Zavia tidak sedang bermimpi. Wanita itu menatap Renaga lekat-lekat, sejak lama dia sadar Renaga memang tampan. Namun, dengan sarung dan baju koko yang dia gunakan saat ini Renaga berhasil membuat Zavia bungkam.


"Dari mana?"


Bukannya menjawab pertanyaan Renaga, dia justru balik bertanya. Sama sekali dia tidak bisa melepaskan tatapannya dari seorang Renaga, ingin dia berteriak sekarang juga.


"Mushola, tadi mau pamit kamu masih tidur."


"Mushola?"


"Hm, mushola ... ini waktunya subuh."


Zavia butuh waktu tentu saja, dia bingung mendengar jawaban Renaga saat ini. Pria itu hanya tersenyum simpul melihat Zavia yang tampak kebingungan saat ini.


"Jadi barusan sholat subuh?" tanya Zavia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya, kenapa? Aku cocok begini? Sarungnya dari Opa ... katanya ini hadiah dari om Zean, belinya di Turki." Tanpa diminta, Renaga ikut menceritakan bagian tidak pentingnya malam ini.


Sungguh, Zavia mendadak bodoh melebihi Giska jika sedang dalam posisi ini. Otaknya tidak dapat berpikir jernih, Renaga hanya menutup mulut Zavia yang sejak tadi terus menganga.


"Tahu aku tampan, biasa saja ... cepat naik lagi, kondisimu belum benar-benar memungkinkan untuk berdiri terlalu lama, Sayang."


Hari masih pagi, tapi sudah dibuka dengan Renaga yang membuat Zavia terus dibuat bingung tanpa akhir. Entah apa yang sebenarnya tidak Zavia ketahui, kenapa Renaga secepat ini melakukan segalanya.


"Kak Aga, aku tidak sadar berapa lama? Tiga tahun ada?" tanya Zavia menatap bingung Renaga yang kini hanya terkekeh mendengar pertanyaannya.


"Kalau benar kamu tidak sadakan diri tiga tahun, mungkin aku gila, Zavia."


Dugaan Zavia salah, tapi anehnya kenapa begitu banyak yang berubah. Curiga saja jika memang dia yang tidur terlalu lama. "Tidak bohong, 'kan?"


"Tidak, kenapa pertanyaanmu begitu?" tanya Renaga kembali duduk di tempat favoritnya, meski kursi tersedia, tapi dia lebih suka duduk di tepian tempat tidur Zavia dengan alasan lebih leluasa memandanginya.


"Aneh saja, aku seperti sedang bermimpi ... Kakak melakukan banyak hal tanpa aku ketahui, apa memang sudah lama?" tanya Zavia mencoba untuk serius, dia butuh jawaban Renaga soal ini.


"Lumayan, tapi ini tidak ada hubungannya denganmu, Zav. Aku memutuskannya untuk diriku sendiri, tanpa berharap bisa menikahimu dengan pilihan yang kutetapkan."


Keduanya tampak terdiam, Zavia menelan salivanya pahit. Apa mungkin dia terlalu menutup mata hingga tidak bisa membaca perubahan besar dalam hidup Renaga.


"Atas izin om Justin?"


"Tentu, Daddy tidak marah waktu itu."


Renaga paham bagaimana bingungnya Zavia. Keputusannya jelas menimbulkan banyak pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya.


"Kenapa menatapku begitu? Apa kamu berpikir aku sedang berbohong, Zavia? Coba kamu pikirkan, jika memang perbedaan kita setinggi itu ... mana mungkin aku berani melamarmu,"


Jika Zavia ingat-ingat lagi, Renaga memang terlihat tidak serius ketika dia membahas perihal perbedaan antara mereka. Sama sekali tidak dia duga jika santainya Renaga justru bermakna lain.


.


.


- To Be Continue -