
Berat sekali bagi seorang ayah untuk melepaskan buah hatinya. Jujur saja saat ini Evan tengah menikmati detik demi detik perannya sebagai satu-satunya cinta Zavia. Dalam dirinya yang tenang, tersimpan kekhawatiran yang tidak bisa dia utarakan setiap kali menatap Renaga.
Pemuda itu tampak gugup meski dia tidak mengungkapkannya. Wajah Renaga sedikit pucat, berbeda jauh dengan penampilannya sewaktu menghadap Mikhail beberapa hari lalu. Atas campur tangan Mikhail yang mnegetahui rekaman CCTV di depan rumahnya, Evan terpaksa mengiyakan desakan Mikhail dan Zean yang khawatir jika zavia berbuat lebih jauh.
Padahal, saat itu Zavia masih belum berhasil melewati masa kritis. Lebih menyebalkannya lagi, Renaga dengan lantang menyanggupi keinginan Mikhail. Lengkap sudah, Evan dan Justin tidak dapat berbuat apa-apa jika sesepuh sudah berkata demikian.
Sungguh, sejak hari itu Evan sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang. Pria itu sedih berkepanjangan hingga menjenguk Zavia saja dia tidak bisa rutin karena bisa dipastikan dia akan terlihat lemah.
"Aku sedang mendapatkan karmanya, Pa."
"Bisa dimulai?"
Suara pria itu sudah dua kali menyadarkan Evan yang masih termenung menatap Renaga tanpa berkedip. Seberat itu rasanya, senyum Renaga yang terlihat di depan sana hanya membuat Evan ingin memukulnya.
"Bi-bisa, Pak."
Yang akan menikah adalah Renaga, tapi anehnya dia bahkan lebih bingung dibandingkan mempelai pria. Beberapa kali Evan menarik napas dalam-dalam, dulu dia menikah tidak begini, bahkan tidak gugup sama sekali.
"Baik, kita mulai saja kalau begitu ... saya sudah ditunggu."
Keyvan memejamkan mata seraya menggigit bibirnya, bukankah hal semacam ini sangat mudah? Yah, ini adalah cita-cita banyak pria. Menjabat tangan pria yang akan menjadi pembimbing putrinya, seharusnya Keyvan senang-senang saja.
Suasana akad nikah dadakan yang cukup khidmat. Dadakan bagi Zavia, bagi Renaga dan yang lainnya memang sudah tepat waktu. Tanpa ada suara, Fabian tengah mengabadikan momen sakral yang tidak akan terjadi dua kali dalam hidup Renaga nantinya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Azkayra Zavia Qirany dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang senilai Rp. 22.222.222 serta cincin emas 22,22 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Azkayra Zavia Qirany dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang senilai Rp. 22.222.222 serta cincin emas 22,22 gram dibayar tunai!"
Tanpa jeda, Renaga mantap menjawab sighat ijab pria yang detik ini juga secara sah menjadi mertuanya. Semua yang ada dalam diri Zavia beralih pada Renaga, tugas Evan diambil alih sepenuhnya oleh Renaga saat ini juga.
"Bagaimana para saksi?"
"SAH."
Renaga memejamkan mata setelah usai menjemput jodohnya dalam kalimat qabul malam ini. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, dada Renaga naik turun bersamaan dengan tangannya yang kini semakin dingin padahal dia melakukannya dengan sangat amat baik.
Sementara di sisi lain, Zavia yang hingga saat ini masih belum berada di sampingnya tengah berusaha menyeka kristal bening yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya. Masih terpisahkan tirai di antara mereka, Zavia menatap Mikhayla yang kini tengah memeluknya begitu erat.
"Aku tidak mimpi, 'kan, ma?"
"Tidak, kamu dengar sendiri, 'kan Renaga melukannya dengan baik tanpa kesalahan sama sekali."
Tidak hanya Mikhayla yang terbawa perasaan, Syila dan Lengkara juga demikian. Wanita itu berusaha mengintip di balik tirai lantaran masih penasaran dengan wajah Renaga. Dia belum terlalu mengenal pria itu, tapi baru saja berhasil melihatnya beberapa detik tatapan tajam sang suami membuat Syila mendadak mengatupkan bibir.
"Lihat menantu, awas jangan ngalangin," pinta Syila mendorong dada Zean yang sengaja menghalangi pandangannya.
"Duduk, nanti bisa!! Tidak lihat di depan laki-laki semua? Sengaja tebar pesona?" bisik Zean sengaja menekan kepala Syila agar duduk seperti semula.
"Dih, sembarangan."
.
.
Sebelumnya Zavia memang sudah gugup, apalagi ketika dia benar-benar dipertemukan dan berada dengan jarak yang begitu dekat. Disaksikan pihak keluarga masing-masing, Renaga mengecup keningnya seraya membacakan sebuah doa yang cukup membuat Zavia berdesir.
Bukan kecupan pertama di keningnya, tapi kali ini Zavia merasa benar-benar berbeda. Dapat dia rasakan cinta tulus Renaga, cinta yang pada akhirnya menemukan titik temu setelah susah payah meluluhkan wanita plin-plan ini.
"Kamu milikku, Zavia."
Renaga ingin berteriak saat ini juga, sebuah usaha yang tidak sia-sia. Cincin yang pada akhirnya mampu dia sematkan di jemari manis Zavia, pria itu melepas cincin yang sebelumnya memang ada di sana lebih dulu.
"Dan aku adalah milikmu, hanya berdua tidak ada orang lain di antara kita," bisik Renaga kembali mengecup kening Zavia begitu lama. Apa yang dia utarakan di mobil hanya sebatas ancaman, sama sekali tidak ada niat dalam diri Renaga untuk melakukan hal sekonyol itu.
Beberapa jam lalu mereka bahkan berdebat, mempermasalahkan keraguan dan kini tidak lagi ada kata ragu dalam diri Zavia. Akad nikah sederhana, tanpa pesta mewah di hotel bintang lima atau semacamnya. Semua persis sama seperti yang Zavia cita-citakan sejak lama.
"Cium istri memang ada doanya?" bisik Zean pelan, dia benar-benar bertanya pada Evan yang saat ini menatap sendu putrinya.
"Ada, kau dulu tidak begitu?" tanya Keyvan mengerutkan dahi, pertanyaan Zean sejenak mencuri perhatiannya.
"Tidak, kakak begitu juga pas nikah?"
"Tidak juga."
Menyesal sekali Zean bertanya, dia lupa jika Evan perlahan religius itu ketika Azkara masuk sekolah dasar, sebelumnya ya sama saja seperti dia.
"Kau dulu bagaimana, Sean?"
"Lupa, konyol sekali pertanyaanmu ... itulah akibatnya kalau sekolah di bawah batang ubi," ucap Sean enteng dan berhasil membuat kakinya menjadi objek kekerasan Zean.
.
.
- To Be Continue -