
"Kalian berdua ubah angka pintu kamar sekarang juga, supaya orang luar sana tidak tahu kalau Brian ada di kamar ini. CEPAT!!" perintah Kyra lagi pada anak buahnya.
"Siap nyonya!"
Para anak buah yang di tugaskan oleh Kyra dengan cepat di kerjakan, di dalam Kyra membuka baju Brian melihat tubuh Brian yang sispek sekali. Perlahan ia membuka bajunya sendiri, Brian sudah di buat pingsan oleh Kyra sampai tidak mendengar apapun apa yang di lakukan Kyra.
"Hari ini adalah hari kebersamaan kita, ingat Brian. Hanya aku yang pantas di posisimu bukan Anne sia-lan itu" ucap Kyra dengan nada sombong.
Anak jari Kyra mulai menyentuh tubuh Brian yang sudah terbuka dia atas, membelai dengan pelan lalu menci-umi sesuatu yang kenyal di wajah Brian. Akhirnya tangan menyusul ke bawah dimana kobra yang masih tertidur, hampir sentuhan itu semakin mendekat...
Happ...
Sesuatu tangan langsung cegah menghalangi dengan cepat, itu adalah tangan Brian sendiri dan membuka mata melihat Kyra terkejut saat Brian bangun.
"Kamu!, bagaimana bisa?" ucap Kyra yang bingung.
"Kamu pikir saya tidak tahu kebusukan kamu yang lakukan selama ini, jangan bermimpi kamu Kyra. Di hati saya cuma ada Anne satu-satunya, kamu masih berani mengungkapkan kalau kamu pantas bersanding dengan saya!" ucap Brian menatap penuh amarah pada Kyra.
"Bukannya kamu sudah kena obat bius, lalu?" Kyra semakin bingung yang terjadi sekarang ini.
"Besok saya pastikan perusahaan kamu hancur, selamat tinggal!" keluar Brian dari kamar sembari tersenyum sinis.
Di luar Anne baru saja sampai depan hotel yang Brian datangi, Anne melihat Brian keluar dari dalam menghampiri dirinya.
"Sayang? Ngapain kesini?. Kenapa kamu tahu kalau aku disini".
"Tadi aku lihat mas buru-buru pergi kemari, makanya aku menyusul juga dan memastikan mas baik -baik saja" jawab Anne yang khawatir dengan Brian.
Apa dia khawatir padaku sampai menyusul aku kemari, sepertinya dia tidak mau kalau kejadian yang dulu mengulanginya lagi. Makanya dia datang untuk melihat keadaan aku. Pikir Brian
"Ayo kita pulang, urusan aku sudah selesai. Oh ya,,, jangan pernah komunikasi dengan Kyra lagi".
"Kenapa?".
"Dia tidak mau bersahabat dengan kamu lagi, itu katanya" jelas Brian mengatakan yang lain agar Anne tidak kepikiran.
"Dia bilang begitu, jahat sekali. Ayo kita pulang mas, aku lapar belum makan".
"Iya Sayang".
##
Masih masalah yang sama dalam keluarga Kin yang ragu dengan harta waris, perasaan Kin semakin bingung memikirkan kalau Hanni di berikan 70%. Thomas juga ikutan panaskan anaknya yang tengah kebingungan, akhirnya Kin menanyakan langsung pada omanya.
Menuju ke dalam kamar
Kin membuka pintu melihat Hanni di peluk oleh omanya dengan penuh kasih sayang, berbeda dengannya tidak pernah merasakan kehangatan seperti itu.
"Oma!" panggil Kin menatap oma Aleta.
"Kin? Kenapa ekspresi wajah kamu seperti itu, apa ada masalah?".
"Oma, aku ingin tanya sesuatu oma".
"Mau tanya apa sayang, sini duduk dengan oma".
"Apa benar oma memberikan harta warisan pada Hanni sejumlah 70%, kenapa oma begitu kejam padaku. Aku ini cucu kandung oma,,, seharusnya atas nama aku, apa maksud oma menetapkan nama orang lain" tanggapan Kin tentang harta warisan.
"Kamu tidak senang ya Kin, baiklah besok oma akan menaruh nama kamu. Dari mana kamu tahu masalah harta warisan?".
Pertanyaan oma Aleta membuat Kin diam kaku karena semua berita yang ia dengar dari papanya sendiri, kalau oma Aleta tahu pastinya Thoma juga ikutan tegur dari oma Aleta.
"Kenapa diam saja, kenapa Anne bisa seperti ini. Siapa yang lakukan?" natap oma Aleta pada Kin dengan tatapan tidak senang.
"Aku,,, aku,,,".
Tidak tahu menjawab, Kin berusaha mencari jawaban agar oma tidak tahu apa yang di lakukan papanya pada Anne. Ia tidak mau hanya karena orang asing keluarganya jadi berantakan, Hanni pun mengangkat bicara. "Aku tidak sengaja jatuh dari atas pohon oma, tadi Anne manjat pohon mangga. Dari pada Aku ngerepotin pak Toni makanya Anne manjat sendiri" ucap Hanni membantu jawab.
"Kamu tidak bohongkan sayang, sudah berapa kali oma katakan. Kamu itu perempuan, tidak pantas berbuat seperti itu. Itu pekerjaan pria, apa kamu mengerti!" tegur oma Aleta mendengar jawaban Hanni bersikap pria di dalam rumahnya.
"Aku minta maaf oma, aku tidak akan mengulanginya lagi".
"Apa kamu sudah puas Kin, sekarang harta 70% adalah milik kamu. Ada alasan oma menaruh nama Anne, Karena oma tidak mau nantinya papa kamu memindahkan nama kamu menjadi namanya" ucap oma Aleta lagi.
"Apa maksud oma?" tanya Kin yang terkejut mendengar perkataan oma Aleta.
"Suatu saat nanti kamu akan tahu Kin, Anne,, siapkan bubur oma lagi ya. Oma sangat suka dengan bubur yang kamu buat" suruh Anne memasak bubur kesukaan oma Aleta.
"Aku ke dapur dulu oma" ujar Hanni meninggalkan ruang kamar dan di susul oleh Kin dari belakang.
Menarik Hanni lalu menatap matanya. "Kenapa kamu menolongku?".
"Karena bapak pernah menolong saya jadi saya harus menolong bapak juga" ucap Hanni memalingkan wajah ke arah lain.
"Saya disini, lihat kemari!" tarik wajah Hanni melihatnya menahan air mata.
"Kamu menangis? Kenapa?".
"Saya tidak apa-apa pak!" ucap mencoba menepis tangan Kin.
"Maaf, karena aku,,, kamu harus menderita seperti ini" ujar Kin menarik Hanni yang menangis di dalam pelukannya.
"Terima kasih pak!".
Ternyata gagal apa yang di rencanakan, ingin menghasut anaknya Kin agar mau mengusir Hanni dari rumah.
Sial,,, kenapa gagal lagi. Anak ini tidak bisa di ajak kerja sama, aku harus cari cara lain supaya anak itu bisa keluar dari rumah ini. Siapa yang betah dengan wanita miskin ini.
Setiap kesalahan harus di tanggung jawabkan, melakukan kejahatan dimana pun terjadi. Kenzo mendapatkan sebuah keberuntungan dimana ada yang bayar uang jaminan kebebasannya. Seorang itu bukan tak lain adalah seorang yang pernah membanth Vanka waktu lalu, dia adalah sosok misteri yang masih belum ingin mengungkapkan jati dirinya di depan publik.
"Apa syarat yang kamu berikan, cepat katakan tuan".
"Cukup sederhana, bunuh Brian!" kata pria misteri itu.
"Brian? Anak mafia itu bukan?".
"Benar sekali, sampai disini saja obrolan kita".
"Baik tuan".
Kenzo bingung sekali kenapa orang itu menginginkan kematian Brian, sampai-sampai harus menyuruh orang lain turun tangan. Kenzo pun berpikir ada kedendaman antara keluarga Hadden dan pria itu.
Tapi bagaimana caranya aku bisa membunuh dia, Brian adalah orang mafia yang paling kejam. Tidak semua orang tahu kalau dia adalah mafia, karena pencitraan nama baik mereka sudah hancur sejak salah satu agen mereka mengkhianati gengnya sendiri.
"Zeline? Sepertinya aku tahu karena Zeline masih ada ikatan dengan Anne. Sebaiknya aku pikir rencana apa yang bagus!" pikir Kenzo merasa bahagia karan terbebas dari penjara berkat pria misteri itu.
Kenzo pulang ke tempat tinggalnya yang berbeda sebelumnya, jika kembali ke rumah yanh dulu lagi maka akan jadi sasaran warganet karena ia di capkan sebagai pembunuh. Biaya rumah atau pun biaya kehidupan pribadinya sudah di tanggung oleh pria misteri itu, jadi Kenzo tidak susah payah mencari kerja lagi.
##
Apa yang telah di tunggu selama ini tercapai juga, apalagi itu sesuatu yang sangat di idamkan sebel menikah. Sekarang ini Vino sudah mendapatkan hak yang selama ini di pendam dari Zeline, menikmati surga yang indah bersama Zeline.
"Sayang,,, ayo kita makan dulu" ucap Vino yang baru selesai masak untuk Zeline.
Karena merasa nyeri sekitar pemilik Zeline, dirinya tidak sanggup bangun akibat Vino meminta sampai sepuluh ronde. Saat ini wajah Zeline sangat malu mengetahui kalau dirinya sudah tidak perawan lagi.
"Kenapa menutup wajah seperti itu?" menatap istrinya bertingkah seperti kucing yang malu.
"Sakit kak" ucap Zeline yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Sini aku gendong".
"Eh,,, jangan kak, aku bisa jalan sendiri kak!" ujar Zeline cegah Vino mengangkat tubuhnya.
"Malu? Kamu ini masih seperti anak kecil" kata Vino menjentikkan kening Zeline.
Mereka pun makan bersama sampai Zeline menambahkan beberapa sendok nasi karena masakan suaminya sangat lezat baginya. Vino melihat Zeline terlihat bahagia membuat ia ikut bahagia.
Bersambung