
"Kita mau kemana tuan?. Kenapa membawa aku kesini tuan?" tanya Hanni yang buru-buru di tarik keluar oleh Kin.
"Masuk saja, kita sudah tidak banyak waktu ini. Vino pasti merasa kesal karena kamu aku lupa dengan acara pernikahan temanku!" ucapKin memarahi Hanni tanpa penjelasan.
"Aku?. Sejak kapan aku membuat masalah pada tuan, kenapa harus aku setiap saat masalah dalam hidup tuan. Pantas saja tuan tidak punya kekasih karena tuan selalu bersikap egois pada wanita" ujar Hanni membuat Kin tersinggung dengan kata-katanya.
"Maaf tuan" menutup mulut karena keceplosan.
"Sudahlah, kita berangkat sekarang. Aku malas berdebat dengan kamu Hanni, lebih baik pasang pengamannya karena aku akan membawa mobil dengan kecepatan tinggi".
"Apa?" terkejut Hanni menatap Kin.
"Kenapa?"
Tanpa mendengar jawaban dari Hanni usai memasang pengaman, segera Kin menancap gas dengan cepat sampai Hanni memasang wajah ketakutan. Kin tidak melihat reaksi Hanni yang takut setengah mati akibat Kin membawa mobil dengan kecepatan tinggi, dalam perjalanan Kin semakin mempercepat membawa mobil dan Hanni hanya bisa diam saja melihat Kin seperti itu.
Sampainya di rumah
Di rumah sudah ada seorang wanita yang menunggu Brian pulang dari luar, Brian dan lainnya baru saja sampi di halaman rumah membuka pintu mobil lalu mengendong Anne yang masih lemas. Para pelayan menyambut mereka semua saat sudah di depan pintu rumah, sedangkan Sania langsung menghampiri Brian yang masig mengendong Anne.
"Brian. Kamu sudah pulang sayang" ucap Sania mengguncangkan rasa keterkejutan di antara Aleysia dan Danial.
"Untuk apalagi kamu kemari Sania, aku sudah menikah!. Kejadian pada malam itu tidak sengaja, kalau kamu ingin uang aku akan berikan pada kamu Sania" ujar Brian dengan kemarahan.
"Kamu wanita tidak tahu malu, dia adalah menantu kami. Kenapa kamu menganggu rumah tangga mereka, apa tidak ada pria lain di luar sana yang mau bersamamu" datang Aleysia memarahin Sania.
"Brian sudah mengambil perawan aku dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diriku!. Kamu Brian jangan diam saja, apa kamh mau aku laporkan ke polisi atas pelecehan ini!!" ucap Sania tanpa ada rasa malu di depan orang tua Anne.
"Istri aku sedang hamil, lebih baik diam saja kamu Sania. petugas... usir dia dari sini" panggil penjaga rumah untuk mengusir Sania dari rumahnya.
"Tunggu!!!" terhenti langkah saat Anne membuka suara.
Brian menurunkan Anne dari gendongan tersebut, menghampiri Sani dengan tenang tanpa emosi. Saat sudah di depan Sania Anne mengangkat tangan yang akan menampar wajah Sania yang tidak berhenti mengganggu ketenangan hidupnya.
Plaakkkk (sebuah tamparan).
"Apa kamu belum cukup mengganggu kebahagiaan aku dari sejak dulu, kenapa kamu tidak pernah melihat kesalahan sendiri saat kamu melakukan perbuatan yang tidak baik. Karena cinta kamu harus berbuat jahat lalu menginginkan orang itu mati" ucap Anne dengan tenang karena tidak mau menganggu kesehatan kehamilannya.
"Aku yang pertama kenal Brian dan aku juga yang selalu bersama dengan Brian sebelum kamu hadir dalam kehidupannya. Kalau kamu tidak percaya dengan ucapan aku, lebih baik kamu tanyakan pada Brian".
"Masa lalu tidak perlu di ungkit lagi, kalau kamu mencintai Brian kamu salah besar Sania. Dia sekarang adalah suamiku dan kamu lebih baik mundur saja".
"Oh benarkah, apa Brian mencintaimu?. Tidak bukan!" menghampiri Brian membelai bidang dada Brian.
"Enyah kamu dari suamiku!, Aw sakit" merintis kesakitan karena perut Anne mulai sakit.
"Sayang kamu tidak apa, Sania.. lebih baik kamu pergi. Aku tidak mau Anne kenapa-kenapa, jadi sebelum kesabaran aku habis maka kamu keluar sekarang!" usir Sania oleh Brian.
Sania mendengus dengan kesal sebab dirinya tidak diperdulikan oleh Brian, dirinya lebih perhatian pada Anne istrinya. Brian membawa Anne ke dalam kamar dengan hati-hati, Aleysia mengikuti dari belakang membawa tas milik Anne.
"Kenapa kamu melakukan itu sayang, apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Brian.
"Tadi hanyalah akting aku saja, aku tidak akan pernah memaafkan semua kesalahan yang pernah kamu lakukan. Bahkan sampai anak ini lahir pun tidak ada pintu maaf bagimu Brian" jawab Anne memalingkan wajah ke arah lain.
"Sampai kapan kamu seperti ini padaku Anne, aku akan berubah, tolong percaya padaku"
"Sampai aku mati".
Brian terkejut dengan jawaban Anne yang begitu menginginkan mati, ia hanya bisa diam saja karena memang benar apa yang di katakan Anne kalau Brian tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Danial menunggu di ruang tamu duduk beristirahat, Aleysia datang mengajak suaminya untuk beristirahat di dalam kamar.
"Pah, bangun pah" membangunkan Danial yang sudah ketiduran.
"Tidak pah, papa tidur saja di dalam kamar. Oh ya pah, mama senang sekali kalau sebentar lagi kita akan punya cucu" ujar Aleysia.
"Iya papa juga senang, sebentar lagi mama akan menjadi nenek" kata Danial menggeledek Aleysia yang mengatakan kalau dirinya akan semakin tua.
"Papa, jangan nakal. Mama masak dulu untuk Anne, papa kalau mau tidur ke dalam kamar aja ya".
"Iya Sayang".
Sania keluar dari rumah Brian dengan perasaan kesal akibat di permalukan oelh Anne, banyak perubahan yang terjadi di dalam Anne sejak dia hamil. Sekarang tidak semudah itu Sania merebutkan Brian dari kehidupan Anne, ia pun berpikir bagaimana caranya membuat Anne dan Brian berpisah.
"Apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan Brian kembali, Kenapa aku pulang terlambat. Kalau aku tidak kuliah keluar negeri mungkin saja Brian menikah denganku bukan Anne, aku tidak peduli pokoknya aku lakukan sesuatu supaya Anne di usir dari rumah Brian".
Dirinya pergi keluar dari halaman rumah Brian, merencanakan suatu untuk menjebak Anne agar Brian marah lalu mengusirnya. Ia menelpon seseorang untuk meminta bantuan menjalankan rencana yang dibuat, seorang itu pun mengiyakan apa yang di perintah oleh Sania.
**
Kin dan Hanni sudah sampai di depan gedung dimana Vino menggelar acara pernikahan. Mereka berdua masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, agar cepat sampai mereka menaiki lift ke lantai sepuluh. Acara sudah di mulai, mereka berdua datang tepat waktu.
Kenzo juga hadir dalam acara pernikahan Zeline mantan kekasihnya, ia masih sakit hati pada Vino yang sudah merebut Zeline dari kehidupannya. Zeline belum keluar dari ruangan pengganti, hal itu membuat Kenzo penasaran dengan keadaan Zeline di dalam sana.
"Kemana Zeline, kenapa dia belum keluar. Bukannya acaranya sebentar lagi akan di mulai, lebih baik aku kesana saja".
Karena penasaran akhirnya ia datang ke ruangan pengganti dimana Zeline sedang di hias oleh pelayan make-up, Kenzo membuka pintu lalu melihat Zeline yang sedang menangis.
"Zeline. Kemu kenapa?" tiba-tiba datang Kenzo di depan Zeline.
"Kak Kenzo, kakak sedang apa disini. Kakak keluar sana nanti orang lain bisa salah paham kak" usir Kenzo dari ruangan.
"Apa kamu bahagia Zeline, apa kamu senajg dengan pernikahan ini?" tanya Kenzo.
Tidak ada jawaban dari mulut Zeline, diam membisu dari pertanyaan Kenzo.
"Kenapa tidak menjawab Zel, apa kamu bahagia?".
"Aku bahagia!".
"Benarkah bahagia, lalu kenapa kamu menangis".
Sebenarnya Zeline masih bingung dengan pernikahan yang ia lakukan, disisi lain kasihan melihat Kenzo dengan wajah sedih. Mereka sudah dekat sejak SMP, berjanji akan bersama sampai mereka nikah. Sekarang Zeline harus menikah dengan pria lain yaitu Vino pria yang di jodohin oleh kakaknya sendiri.
"Sudahlah kak, aku keluar karena sebentar lagi pernikahan di mulai. Maafkan aku kak" pergi Zeline keluar dari ruangan meninggalkan sendiri.
Vino sudah menunggu Zeline di tempat ijab qabul, Zeline datang dengan di kelilingi dua wanita di sampingnya. Ada rasa tidak tega terhadap Kenzo yang selalu bersamanya setiap saat, bahkan setiap apa yang di beli itu semua dari Kenzo bukan Jovi.
"Zel, kemana saja?" tanya Vino.
"Aku sedang di kamar mandi, maaf sudah membuat menunggu lama Vino".
"Ya sudah ayok kita kesana" ajak Vino pada Zeline.
Semua org berkumpul di suatu tempat dimana penghulu dan juga Vino mengatakan ijab qabul di depan mereka semua, sang penghulu memberikan jabat tangan pada Vino lalu Vino menerima jabat tangan sang penghulu. Ijab qabul pun di mulai...
**
Sania sudah mulai mengatur rencana saat ini, tidak butuh waktu lama untuk membuat suatu rencana. Sania memanggil seorang pria bernama Rony, dirinya akan membuat data buku pernikahan palsu antara Anne dan Rony. Dari situ pasti Brian akan mengusir Anne dari rumah karena telah berbohong, Rony langsung mengambil berkas di atas meja lalu pergi ke rumah Brian.
Aku tidak tahu rencana ini berhasil apa tidak, asal aku berusaha untuk bisa memisahkan mereka berdua. Aku tidak rela melihat Brian bersama wanita lain, jika aku tidak mendapatkan Brian maka orang lain juga tidak dapatkannya.
Bersambung