MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Anne hamil


Mobil brian sudah sampai di depan rumah Anne, Brian puk turun dari mobil di bukakan pintu mobil oleh Oden. Saat masuk ke dalam tiba saja mobil Danial sudah tiba di depan juga, Brian menyapa mertuanya yang baru saja sampai.


"Selamat sore papa" sapa Brian.


"Brian. Kapan kamu tiba disini, kenapa tidak masuk ke dalam" kata Danial.


"Aku baru sampai juga pah, kedatangan aku disini ingin menjemput Anne. Dan ada hal juga yang ingin di bicarakan dengannya pah" ujar Brian.


"Papa tidak akan ikut campur urusan kalian berdua, tapi papa berharap sekali. Jangan menyakiti perasaan dia ya, kasihan Anne".


"Iya pah, aku janji" ucapnya.


"Ayo kita masuk dalam" mengajak Brian masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah juga di ikuti Oden dari belakang, Dalam rumah Aleysia sedang menjaga Anne sampai ketiduran. Danial mengetuk pintu lalu di bukakan oleh pembantu yang di rumah tersebut.


"Silahkan masuk Tuan" ucap pembantu Minah.


"Dimana Sia?" tanya Danial.


"Nyonya ada di dalam kamar Nona Anne tuan, mereka ada disana" ucap Minah menunjukkan tangan ke kamar Anne.


"Mari Brian" ajak Danial.


Brian hanya mengangguk dengan ajakan Danial, ada rasa penasaran kenapa mama dan Anne tidak menyambut kedatangannya. Karena tidak mau di ambil pusing maka lebih baik masuk saja sana, pada saat masuk ke dalam kamar terlihat Aleysia dan Anne sedang tidur.


"Mah, bangun. Papa sudah pulang" terbangunnya Anne dengan kehadiran papa tapi di sisi lain ia tidak mau melihat wajah Brian.


Brian melihat Anne menatapnya dengan wajah yang tidak suka, ia pun merasa tidak enak atas apa yang di lakukan dalam kamar waktu itu.


"Kamu sudah pulang" kata Aleysia bangun dari tidur.


"Kenapa tidur disini, ayo kita ke kamar".


"Tunggu sebentar, Anne, kalau ada apa-apa panggil mama ya".


"Iya mah".


Danial dan Aleysia keluar dari kamar menuju ke kamar mereka, hanya tinggal Brian juga Anne di dalam kamar.


"Ada perlu apa?" tanya Anne.


"Kamu masih marah padaku tentang kejadian semalam lalu?" bertanya kembali.


"Untuk apa aku marah, kalau kamu ingin memiliki wanita yang banyak silahkan. Aku juga tidak peduli karena aku tidak pernah mencintaimu" jawab Anne.


"Kamu mengatakan kalau kamu tidak mencintaiku, lalu apa tindakan kamu selama ini Anne. Kamu bahkan sampai jatuh sakit karena masalah itu, jujurlah padaku Anne atau aku bongkar semua pada papa kalau kamu hanya bermain dengan pernikahan ini" ucap Brian berika ancaman pada Anne.


"Yang bermain pernikahan siapa?. Jelas-jelas kamu yang bermain semua ini, sudahlah Brian. Aku lelah dengan semua ini, kita bercerai saja"


Droommm


Hati Brian langsung terasa hantam sebuah pedang yang menusuk tubuhnya, semudah itu Anne mengatakan perceraian dan tidak ada memikirkan sama sekali pun. Anne berpaling wajah ke arah lain karena tidak mau melihat wajah Brian yang masih menatap tajam, namun tiba-tiba Anne bangun lalu mual sampau berkali-kali.


"Uwekkk... uwekkk..." terus mual sampai keadaan tubuhnya lemah.


"Anne, apa terjadi?. Kamu kenapa Anne, katakan padaku".


"Kepala aku sakit sekali Brian,sakit sekali. Uwekk... uwekk..." ucap Anne sembari terus mual.


"Pah-mah.. Anne mual" panggil Danial dan Aleysia.


Mereka pun datang secara bersamaan melihat Anne sudah pingsan, Danial menyuruh Brian untuk membawa ke rumah sakit saja. Tidak butuh waktu lama mengangkat Anne bawa masuk ke dalam mobil, Aleysia mengambil tas di dalam kamar lalu duduk di depan bersama Danial.


"Cepat pah, tubuh Anne semakin panas" ucap Brian dengan nada khawatir.


Mobil pun berangkat dengan cepat karena takut terjadi sesuatu dengan Anne, Brian yang duduk di sisi Anne merasa ketakutan melihat Anne yang masih belum sadar. Sudah di berikan minyak angin atau pun yang lain, tapi tetap saja tidak mau bangun.


**


Vino duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sedangkan Zeline mengambil air minum di dapur. Hati Anne masih tergoyah dengan kedatangan Kenzo, memang benar kalau dirinya masih mencintai Kenzo. Mau bagaimana lagi, kalau dirinya besok akan menikah.


"Ini kak Vino, minumlah" berikan teh pada Vino.


"Terima kasih".


"Aku ingin tanya Zeline, aku harap kamu menjawab jujur. Aku tidak suka dengan kebohongan, Jadi tolong ya Zel jangan menyembunyikan apapun dariku" ucap Vino menatap wajah Zeline.


"Apa kamu mencintai aku Zel?. Atau masih ada dia di hati kamu?" tanya Vino.


"Kenapa kakak bertanya begitu, besok kita akan menikah kakak. Apa kak Vino meragukan cintaku kak!" jawab Zeline.


"Aku tidak meragukan akan cintamu sayang, tapi percuma juga kita menjalani rumah tangga tanpa ada percintaan" kata Vino.


"Tapi kak Vino ada lihat sendiri tadi bukan, aku yang mengusir kak Kenzo pergi dari sini" bantah ucapan Vino.


"Aku tahu, sekarang terserah kamu saja Zeline. Aku tidak paksa dengan pernikahan ini, kalau kamu ingin membatalkan pernikahan ini aku tidak keberatan" ujar Vino.


"Kenapa diam kak Vino, kenapa kalian jahat sekali. Kenapa???" ucap Zeline berlinang air mata.


"Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi. Maaf dengan ucapan aku barusan, aku tidak membatalkan pernikahan ini. Kamu tenang saja Zeline" ujarnya memeluk Zeline.


Di luar masih ada Kenzo menunggu Vino keluar dari rumah Zeline, ia ingin bertemu lagi dengan Vino untuk membahas hubungan mereka berdua. Sudah beberapa jam mereka berdua di dalam rumah belum ada muncul tanda Vino keluar.


Sudah hampir malam Vino belum muncul, pada saat ingin menyalakan mobil. Vino sudah keluar minta pamit pulang ke rumah, Kenzo pun keluar dari mobil pergi menemui Vino.


"Vino!!" panggil Kenzo.


"Kenzo, kamu lagi!" memalingkan wajah dengan emosi.


"Sebaiknya kalian putus, Zeline hanya milikku Vino!!" bentak Kenzo.


"Kami sudah bertunangan, mau apalagi kamu Kenzo. Ingin merebut dia dariku, mimpi kamu Kenzo. Zeline hanya mencintaiku bukan kamu Kenzo, jadi tolong sadar diri aja jangan sampai kamu di cap sebagai PEBINOR" kata Vino dengan tenang.


"Besok kami akan menikah, jangan lupa datang hari pernikahan kami berdua".


"Oh ya, jangan sampai luar batas. Aku bisa saja lebih dari ini pada kamu Kenzo, jangan mentang kamu seorang artis mudah sekali menindas orang lain" ujar Vin.


"Sialan kamu Vino" kata Kenzo.


Vino pergi berangkat pulang ke rumah , meninggalkan Kenzo yang sedang kesal atas ucapannya barusan. Seperti sebuah ancaman baginya, ia pun tidak mau tinggal diam saja jadi harus melakukan sesuatu sebelum hari pernikahan itu tiba.


HOSPITAL


Brian dan lainnya sudah sampai di rumah sakit, memanggil para suster dan dokter untuk menangani Anne. Mereka semua langsung membawa Anne ke ruang ICU, dokter tidak mengizinkan mereka masuk dan harus menunggu di luar.


"Bapak dan ibu, silahkan menunggu di luar saja" kata dokter.


"Tolong istri saya dok!" ucap Brian.


"Anne pasti baik-baik saja, kamu tenanglah Brian" ujarnya memberi ketenangan pada Brian.


"Aku sangat khawatir pah, aku takut kalau Anne kenapa-kenapa. Semua ini salahku, seharusnya aku tidak melakukan hal seperti itu pada Anne jadi dia tidak akan mengalami kejadian seperti ini" jelas Brian.


Menunggu dan terus menunggu, akhirnya dokter keluar juga melihat.


"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya Danial.


"Apakah suaminya ada?".


"Saya dok, apa yang terjadi dok. Apa keadaan istri saya terjadi sesuatu, katakan dok!" sahut Brian.


"Selamat ya, istri bapak hamil. Kehamilan istri bapak sudah mencapai dua minggu, SELAMAT YA" ucap dokter berikan selamat pada Brian.


"Anne hamil!, terima kasih dok" menerima jabat tangan dari dokter.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu".


"Silahkan dok".


Apakah bahagia atau sedih, itu lah yang ada di pikiran Brian. Anne Hamil dan itu akan menjadi tanggung jawab bagi dirinya, karena sebentar lagi Brian akan menjadi seorang ayah.


**


Kin pulang kantor dengan cepat, keadaan rumah terlihat sepi. Sudah berapa kali ia memanggil omanya tapi tidak ada jawaban sama sekali, tanpa menunggu Kin datang ke kamar oma.


Membuka pintu kamar


"Oma".


"Kamu sudah pulang, kenapa cepat sekali".


"Kenapa dengan mata oma, seperti baru menangis saja?" tanya Kin melihat mata oma Aleta sembab tiba-tiba.


"Apa ada orang yang melukai oma?".


"Tidak ada, oma sedang nonton drakor jadi ceritanya sedih" jawab oma Aleta.


"Drakor?. Sejak kapan oma suka drakor, ada saja oma ini".


Oma Aleta tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi di dalam rumah, Kin juga tidak mau membuat hati oma Aleta sedih. Ia bisa melihat lewat cctv di rumah, jadi dengan begitu tahu apa yang terjadi.


"Kami pulang... Mama, Kin" tiba-tiba ada suara panggilan dari luar.


"Papa-mama pulang oma, ayo kita keluar".


"Iya, kamu duluan saja. Mama mau ganti baju dulu" ujar oma Aleta.


"Baik oma, Kin keluar dulu" pergi Kin meninggalkan kamar oma Aleta.


Bersambung