
Bersiap-siap menuju ke rumah Brian, akhirnya rencana yang dibuat rupanya berhasil. Tidak bersusah payah Sania menyingkirkan Anne dari kehidupan Brian, segitunya mudah membuat Brian terpancing dengan foto tersebut.
Ia berdandan diri secantik mungkin agar Brian terpesona dengan kecantikan Sania, usai memakai baju yang mewah juga lipstik yang merah. Memanggil pelayan menyuruh menyiapkan kue kesukaan Brian yang sangat lezat, Sania masuk ke mobil lalu berangkat.
Orang tua Anne sementara tinggal bersama mereka karena harus menjaga Anne apalagi sedang hamil, baru saja mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan anaknya sudah ada cobaan lagi yang datang. Melihat Anne keluar dari rumah entah siapa yang di jumpai lalu di ikuti oleh Brian dari belakang, Aleysia khawatir akhirnya ia juga mengikuti Anne.
"Kemana Anne pergi, apa dia ingin berjumpa dengan Jovi. Aku harus mencegahnya" ucap aleysia mengambil kunci mobil laku berangkat.
"Kita mau kemana tuan?" tanya sang supir.
"Ikuti saja mobik di depan, jangan sampai dia menghilang" jawab Brian.
"Baik tuan".
Anne sudah sampai di depan restoran dimana mereka akan mengobrol membahaskan masalah foto tadi, Jovi melihat Anne sudah datang.
"Kamu sudah datang Anne, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jovi lansung berdiri melihat Anne sudah berdiri di depannya.
"Ini apa Jovi, kenapa kamu terus menganggu kebahagiaan aku Jovi. Sampai kapan kamu melakukan ini padaku, apa maksudnya ini!!" melempar foto ke arah wajah Jovi.
"Foto?. Maksudnya?" ucap Jovi yang Kebingungan.
"Sudahlah Jov, aku tahu kamu tidak bahagia melihat aku bahagia bukan. Kalau bukan kamu siapa lagi" ujar Anne memalingkan wajah.
"Aku tidak tahu tentang foto ini, bukannya kita sudah saling putus kontak lalu dari mana datang foto ini Anne?".
"Kenapa kamu bertanya padaku, jelas-jelas di foto ini adalah kamu Jovi" ucap Anne menahan air mata.
"Ini salah paham Anne, aku serius.. aku tidak tahu apa-apa tentang foto ini. Tolong percaya padaku".
"Wah keren sekali bukan, ternyata bertemu dengan seorang pria dan dia adalah mantan kekasihnya" tiba-tiba datang Brian memberi tepuk tangan atas drama yang ia lihat.
"Brian, sejak kapan kamu di..sini?" tanya Anne terkejut dengan kehadiran Brian.
"Kamu bertanya sejak kapan aku disini, di saat kamu keluar saat itulah aku mengikutimu Anne" jelas Brian.
"Brian ini semua salah paham, aku tidak berhubungan dengan Jovi lagi. Itu foto palsu Brian, percaya padaku" ujar Anne memegang tangan Brian.
"Lepaskan tangan kamu Anne, aku sudah bosan dengan ucapan kamu. Kalau kamu ingin kembali bersamanya, aku suka rela mengikhlaskan wanita murahan seperti kamu".
Ucapan yang di lontarkan oleh Brian barusan membuat hati Anne pecah, dirinya di sebut sebagai wanita murahan oleh suaminya sendiri. Lebih mempercayai dengan foto itu dibandingkan kepercayaan istrinya, Jovi yang mendengar menyebutkan Anne sebagai wanita murahan merasa kesal dan sakit hati.
"Apa kamu tidak sadar dengan ucapan kamu barusan Brian, kamu tidak pernah berubah ya. Dulu dengan Clarinta kamu mengatakan seperti itu sekarang pada istri kamu sendiri" ujar Jovi membela Anne yang masih diam membisu.
"Ada yang membela mantan kekasihnya, sangat hebat bukan Anne" menatap ke arah Anne.
"Kurang ajar kamu Brian" kata Jovi memberikan pukulan pada wajah Brian.
"Kau..." membalas pukulan dari Jovi.
Mereka akhirnya bertengkar satu sama lain, Anne berusaha memisahkan mereka berujung mengenai perut Anne terlempar ke arah meja. Perut semakin lama terasa sakit, nampaklah darah yang keluar.
"Anne, kamu... ada darah?".
"Sakit sekali, tolong selamatkan anakku Jov. Tolong" ucap Anne yang sudah tidak tahan akibat benturan mengenai perutnya.
Anne hamil?.
"Tolong bantu angkat dia, tolong sebentar".
Jovi memanggil semua orang untuk meminta bantuan agar mau mengangkat tubuh Anne yang sudah lemah, sedangkan Brian hanya menatap saja apa yang di lakukan oleh Jovi. Ia pun meyakinkan kalau mereka berdua masih ada hubungan, maka sebab itu ia tidak turun tangan menolong anak yang di kandungan Anne merasa adalah anak Jovi.
Sialan Jovi, bisa-bisanya dia masih ingin dekatin Anne lagi. Kamu membuat kesabaran aku habis, baiklah... besok akan aku buat kamu lebih menderita Jovi.
Langsung di antarkan ke rumah sakit terdekat karen pendarahan Anne semakin banyak, Jovi begitu mengkhawatirkan dengan keadaan Anne yang sudah tidak berdaya. Sampai di rumah sakit para dokter membawakan Anne ke atas brangkar, suster mencegah Jovi untuk tidak masuk ke dalam.
"Bapak tunggu saja di luar, kami akan menangani istri bapak dengan baik" ucap suster.
"Tolong dia ya suster" ujar Jovi.
Sang suster mengangguk kepala sebagai tanda semua akan baik-baik saja, Jovi menunggu di luar sembari mengontak atik ponsel untuk menelpon Clarinta. Sudah beberapa hari tidak mendengar kabar Clarinta, ia mengira kalau Clarinta meninggalkan dan berhubungan dengan pria lain.
Lampu pun mati sang dokter keluar dengan rasa sedih, Jovi menghampiri dokter yang sudah keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan dia dok?" tanya Jovi.
"Anda suaminya?".
Apa yang harus aku jawab, demi keadaan Anne lebih baik aku jawab saja iya.
"Iya dok, saya suaminya" jawab Jovi
"Ikut saya ke ruangan, ada hal sesuatu yang ingin aku sampaikan" ajar Jovi ke dalam.
Jovi mengikuti langkah dokter menuju ruangan pribadi dokter tersebut, ia sangat penasaran apa yang terjadi dengan Anne.
"Ada apa dok, kenapa serius sekali".
"Istri bapak mengalami pendarahan yang cukup banyak, jadi kami perlu izin bapak sebagai suami pasien untuk mendatangani surat ini" ucap dokter memberikan surat tersebut.
"Istri bapak tidak akan keguguran melainkan anak tersebut selamat, tapi sayang sekali...".
"Kenapa dok?" memotong pembicaraan.
"Anak itu harus di keluarkan dari rahim istri bapak kalau tidak akan ada bahaya yang terjadi dengan anak bapak, telurnya sudah pecah tapi anak bapak bisa selamat. Kami belum menemukan hal seperti itu selama ini" jelas dokter dengan rinci.
Apa aku tanda tangani saja, tapi bagaimana nanti kalau Anne bertanya dimana anaknya. Jalan apa yang harus aku ambil, ini semua karena Brian. Kalau saja ia tidak menendang Anne tentu saja ini tidak terjadi, suami macam apa dia. Gerutu Jovi karena tidak tahan emosi.
"Dok, beri saya waktu untuk menjawab permasalahan ini".
"Baik, saya tunggu sampai besok" ujar sang dokter.
**
Mobil Sania sudah berada di perkarangan rumah Brian, melihat sekeliling terlihat sangat sepi sekali. Masuk ke dalam rumah dengan nada sombong, pelayan merasa sinis dengan kehadiran seorang pelakor di dalam rumah Brian.
"Brian.... kamu dimana?" ucap Anne dengan nada lembut.
"Tuan sedang keluar nona, beliau baru saja pergi dan juga nyonya ikut keluar" jawab pelayan rumah.
"Aku akan menunggu Brian pulang, ini adalah kabar baik untukku".
"Baik nona".
Pelayan rumah undur diri kembali ke dapur, mereka berbincang dengan diam-diam tentang Sania.
"Apa wanita tidak punya harga diri sampai merayu suami orang, apalagi tuan Brian sudah memiliki istri".
"Kamu benar, dia pelakor yang sangat kejam dan ingin merusak kebahagiaan orang lain" ujar pelayan lain.
"Sudah-sudah, kita harus bekerja. Jangan sampai nona itu mendengar pembicaraan kita" sahut yang lain.
Kembali ke tempat kerja masing-masing, terdengar suara mobil di luar. Mobil Brian sudah berada di depan rumah, hati Sania begitu bahagia karena Brian sudah pulang.
"Brian sayang... kamu sudah pulang" ucap Sania memeluk Brian yang sudah tiba di dalam rumah.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh aku Sania!" mendengus kesal karena kecemburuan melihat Jovi perhatian pada Anne.
"Kenapa Brian, apa salah dengan tubuhku?" bertanya Sania.
"Tubuh kamu sangat menjijikkan, apa kamu tahu itu!" ujar Brian.
"Aku tidak peduli dengan itu, karena aku hanya mencintaimu sayang" ucap Sania membelai wajah ketampanan Brian.
"Cih, menjijikkan" gerutu Brian meninggalkan Sania di ruang tamu.
Saat ini suasana Brian sedang kacau melihat istrinya di perlakukan baik oleh sahabatnya sendiri, dibandingkan dengan dirinya lebih mementingkan dengan ego sendiri.
Bersambung