MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Bahaya


"Brian jangan pergi dulu, aku ingin mengatakan sesuatu pada kamu" cegah Brian pergi meninggalkannya.


"Apa yang kamu bicarakan lagi Sania, sudah berulang kali aku katakan jangan pernah ganggu hidup aku lagi. Berapa kali aku ulang lagi perkataan itu Sania" berbalik badan menoleh ke arah Sania.


"Apa kamu akan setia pada wanita yang sudah bermain di belakang suaminya sendiri, sadar Brian... dia bukan wanita yang baik-baik" ucap Sania mengatakan kalau Anne bukan wanita yang bisa menjaga kesetiaan rumah tangga.


"Cuma aku yang tahu tentang dirinya bukan kamu Sania, sebaiknya keluar dari rumah ini. Sekarang!!!" usir Sania sampai suara menggema di seluruh ruangan.


Brian tak peduli dengan ucapan Sania, ia langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena sudah melewati hari yang sangat buruk dengan Jovi. Menutup pintu kamar dengan suara keras sampai para pelayan merasa terkejut dengan tingkah Brian, berbeda dengan Aleysia yang yang saja tiba di rumah.


"Kamu lagi, masih menggigil rumah tangga orang lain" ucap Aleysia mending perasaan Sania.


"Oh iya kah, sebenarnya siapa yang tidak tahu malu masih bermain dengan pria lain" membalas serangan sindiran ada Aleysia.


"Maksud kamu apa!, Anne tidak berselingkuh. Jangan-jangan ini semua rencana kamu, dasar wanita pelakor!".


Sania tidak mau kalah diam saja mendengar cacian dari Aleysia mamanya Anne, ia pun pergi dari rumah dengan perasaan kesal. Selalu saja rencana yang di buat tidak membuah hasil, kali ini dirinya sudah habis kesabaran akan melenyapkan Anne sekarang juga.


Malam pun tiba


Di rumah sakit Jovi masih terus menjaga Anne yang masih belum sadarkan diri, apakah Anne menerima kalau anaknya harus di taruh di laboratorium agar anaknya bisa tumbuh dengan sehat. Berat sekali rasanya memberitahu pada Anne, ia tidak mau nantinya terjadi sesuatu pada Anne.


Perut sudah bersuara akibat belum makan dari siang tadi, keluar mencari makan dekat rumah sakit tapi sayang dirinya melihat mendengar pembicaraan seorang wanita dengan beberapa pria lainnya.


"Kalian semua cari pasien bernama Anne, kalau kalian sampai gagal hidup kalian semua ada di tanganku" ancam Sania pada mereka agar tidak lalai dengan perintah yang di berikan.


"Baik Nona" membungkuk tubuh mengiyakan melaksanakan sebuah perintah.


Siapa mereka? kenapa mereka mencari Anne?. Apa hubungan mereka dengan Anne sampai harus mencari segala, aku harus kembali pasti mereka adalah orang jahat. Aduh gawat... mereka sudah disana, sepertinya mereka tidak mengenali aku kalau pakai masker. Aku harus tiba disana sebelum mereka tiba.


"Suster, apa ada pasien bernama Anne?" tanya Sania.


"Anne, dia ada di ruang sebelah sana. Nanti ke arah kiri saja" jawab suster.


"Terima kasih" ucap Sania meninggalkan tempat resepsionis.


Tidak tahu harus berbuat oleh Jovi karena Anne belum sadarkan diri dengan terpaksa membawa Anne secara sembunyi-sembunyi, Sania hampir sampai ke ruangan dimana Anne di rawat. Jovi menggantikan bajunya dengan seragam dokter, mengambil kursi roda untuk menaruh Anne.


"Ternyata ini ruangannya, kamu lihat saja Anne apa yang aku lakukan padamu. Ini saatnya kamu kembali kedunia dimana ibumu berada, haha... karena ibu kamu memilih mati karena demi menyelamatkan hidup kamu Anne" ujar Sania dengan senyuman sinis.


Jadi kematian mama Anne adalah perbuatan dia sendiri, jahat sekali wanita ini. Aku harus membawa Anne sejauh mungkin, maafkan aku Anne... seharusnya aku tidak melakukan ini padamu dulu.


Jovi sudah sadar diri atas kesalahan yang di lakukan selama ini, hatinya di penuhi dengan penyesalan akibat telah menyiakan wanita sebaik Anne. Apalagi Clarinta belum ada kabar sama sekali, jadi hati Jovi mulai goyah mencurigai kalau Clarinta sedang bersama pria lain.


Sania dan lainnya sudah berada di depan pintu ruangan di rawat Anne, para anak buah membuka pintu mempersilahkan Sania masuk lebih dulu. Ruangan terlihat kosong sekali tidak ada orang di dalam, Sania marah tak terlihat Anne di dalam.


"Anne tidak ada disini, kemana dia?" ngoceh Sania melihat apa yang terjadi.


"Sepertinya mereka sudah lari nyonya" sahut anak buahnya.


"Mereka? memangnya siapa yang bersama Anne!" ucap Sania dengan emosi.


"Kalian berpencar!, jangan sampai mereka lari. Cepat!!" suruh Sania bergerak cepat mencari keberadaan mereka.


Jovi terus membawa kursi roda dengan cepat, usai sampai di tempat parkiran Jovi membuka pintu mobil masukkan Anne dengan cepat mungkin. Para anak buah lainnya berpencar kesana kemari melihat keberadaan Anne juga orang yang bersama Anne, usai itu Jovi langsung membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


"Akhirnya selamat dari kejaran mereka, bisa gawat kalau mereka melakukan sesuatu pada Anne" ucap Jovi menoleh ke arah Anne yang masih belum sadar.


"Bangunlah Anne... jangan tidur saja kamu, aku yang lelah jaga kamu sampai para penjahat ingin mencelakai kamu".


Hasilnya sia-sia saja yang di perbuat oleh Sania, ia tidak mendapatkan Anne di dalam kamar Anne. Dengan penuh amarah ia berjalan menuju keluar, ternyata orang bersama Anne sudah mengetahui mereka datang untuk mencelakai Anne yang sedang hamil.


**


Keadaan hening yang terjadi di antara dua pasangan yang baru saja menikah, Vino juga Zeline baru saja tiba di rumah yang sudah di beli sebelum menikah. Zeline merasa malu kucing dengan ketampanan Vino yang selesai mandi, hati Zeline berdetak kencang seakan ini pertama kalinya merasakan tinggal bersama pria asing.


"Zel, apa kamu tidak mandi dulu?" tanya Vino.


"Iya kak, aku mandi" jawab Zeline dengan merona di wajahnya.


"Kenapa wajahmu memerah, apa yang terjadi" ucap vino meneh pipi Zeline.


"A..aku tidak apa-apa kak, kalau begitu aku masuk ke dalam" ujar Zeline merasa dirinya sangat aneh malam ini.


Membayangkan sesuatu


"Adikku tidak perawan lagi, apa kamu menerima Zeline apa adanya?".


"Benarkah dia tidak perawan lagi, jika aku bertanya langsung kenapa ia melakukan itu sebelum ada ikatan suami istri pasti Zel akan merasa kecewa denganku yang tidak menerima keadaannya sekarang ini" berpikir Vino mencerna semua yang terjadi.


Vino memesankan makanan di ponsel sebab belum ia tidak mau merepotkan Zeline untuk masak makan malam apalagi hari ini selesai acara pernikahan. ia pun memesan makanan yang sederhana saja, beberapa menit kemudian makanan sudah sampai di depan rumah dan Vino keluar langsung mengambil pada tukang pengantar makanan.


"Sayang... apa sudah mandi, kita makan bersama" ajak Vino memanggil Zeline makan bersama.


"Sebentar, aku akan menyusul. Kak Vin makan saja dulu" sahut Zeline yang masih di dalam kamar.


"Sedang apa dia, kenapa begitu lama keluar kamar. Aku kesana saja mungkin perlu bantuan" berjalan menuju ke arah kamar.


Benar saja Zeline sedang memakai baju yang baju tersebut terlihat kancing berada di belakang membuat Zeline susah menariknya. Vino yang tiba datang membuat Zeline merasa terkejut, ia pun menghadap ke depan Vino karena merasa malu memperlihatkan tubuh belakangnya.


"Ada yang bisa aku bantu sayang".


"Tidak usah kak, aku bisa sendiri kak Vino" ujar Zeline masih terlihat malu di depan Vino.


"Biar aku bantu mengancing baju kamu, tidak apa-apa" menarik tangan Zeline yang berusaha untuk menjauhi Vino.


"Tapi kak...".


Terlihat tubuh Zeline sangat mulus sekali membuat Vino menelan saliva, ingin menarik kancing baju Zeline tapi terpesona dengan indah tubuh istrinya.


Cupp...


Bukannya mengancing baju malah menci-um likuk tubuh Zeline dengan lembut, hal itu membuat Zeline terdiam kaku akibat bibir Vino yang di tempel pada tubuhnya.


"Kak.. kak Vino sedang apa?".


Tidak menjawab pertanyaan Zeline melainkan semakin mencuat bibir kemana-mana, reaksi Zeline semakin dibuat melayang bulu merinding. Tangan Vino sudah hampir berjalan menyusuri area di dalam baju Zeline, Vino tidak menggubris perlawanan Zeline yang ingin menjauh.


"Kak Vin" terus melawan dengan tindakan Vino.


Plaakkk (tamparan keras)


"Maafkan aku kak, kak Vino tidak apa?" ucap Zeline meraba wajah Vino yang terlihat kemerahan akibat pukulan tamparan yang keras.


Vino meninggalkan kamar dengan perasaan kecewa, hati Zeline merasa tidak enak melakukan itu pada Vino suaminya sendiri.


Bersambung