MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Cinta yang pudar


Pulang dari rumah oma Aleta dengan emosi, mendengarkan apa yang di ucap oleh oma Aleta soal tentang Anne. oma Aleta menginginkan bertemu dengan Aleta, Danial tidak mengizinkan hal itu terjadi karena masa lalu dulu masih melekat di dalam pikirannya.


"Semudah itu kalian mengatakan itu padaku, sudah puluhan belasan tahun aku cukup bersabar menghadapi cobaan yang kalian berikan pada kami. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan" ucap Danial rasa sedih berlinang air mata.


Mengambil ponsel di dalam saku


"Halo pah" sapa seberang sana.


"Maaf ma, papa pulang terlambat".


"Papa dimana sekarang?. Kapan pulang, Anne lagi demam ini. Cepat pulang ya pah" ujar Aleysia yang disana.


"Anne demam?. Kenapa bisa" tanya Danial.


"Mama juga tidak tahu, papa cepat pulang ya".


"Iya mah, aku segera pulang. See you".


"See you too papa".


Danial menghidupkan mobilnya lalu menjalankan mobilnya tersebut, ternyata hal yang khawatir benar terjadi. Anne sekarang jatuh sakit demam, hampir saja ia kehilangan Anne.


Sudah kehilangan istri sekarang ia harus kehilangan anaknya, tidak ikhlas merelakan orang di cintai pergi begitu saja. Dengan cepat Danial membawa mobil dari rumah oma Aleta, mengambil jalan pintas agqr bisa dengan cepat sampai ke rumah.


**


RUMAH


Mengambil ponsel menepon Anne untuk menanyakan tentang kabarnya, disisi lain ada rasa takut untuk menemui Anne. Kali ini dirinya telah berbuat dosa lagi, menidurkan wanita lain lagi. Apakah Anne akan masih sama menerima pemaaf darinya, Brian sangat bingung apa yang harus di lakukan sekarang.


"Tuan. Ada tamu di luar" tiba-tiba datang Oden.


"Siapa?" tanya Brian.


"Nona Sania tuan" jawabnya.


"Sania?. Untuk apa dia datang kemari".


"Saya tidak tahu Tuan".


Dengan terpaksa Brian keluar dari ruangan kerjanya untuk menemui Sania, kedatangannya tersebut jelas Brian tidak tahu. Maka oleh sebab itu Brian harus menemaninya dan membicarakan hal yang penting tentang semalam.


Sania sedang berada di ruang tamu, melihat sekitar rumah Brian yang sangat mewah tapi cukup sederhana untuk ditinggalkan. Brian pun muncul di depan Sania, tak di sangka malahan Sania memeluk Brian seperti kekasih yang sedang merindukan pasangannya.


Happpp... (memeluk)


"Apa kamu sudah GILA!, datang-datang memeluk saya. Enyah dari hadapanku" kata Brian dengan sombong dan jijik.


"Brian. Ini aku Sania, apa kamu lupa" ujar Sania.


"Sania, jangan bermimpi kamu untuk menjadi kekasih saya. Sudah berapa kali aku mengatakan kalau saya sudah menikah!!".


"Aku mau jadi istri kedua kamu Brian, aku mau".


Brian terkejut dengan perkataan Sania, begitu juga Oden. Segitu mudahnya mengatakan hal seperti itu pada Brian, apa dirinya terlalu murah sampai harus mengemis seperti itu. Oden hampir saja menertawakan Sania seperti seorang gembel yang minta makanan pada orang lain, Brian tidak masalah Oden bersikap mengejek Sania karena lucu.


"Apa yang lucu sampai kamu tertawa, siapa kamu!. Berani sekali, Brian.. lihat pengawal kamu begitu padaku" ucap Sania mengadu pada Brian.


"Lepaskan!!!, dia saudara saya. Jadi, terserah apapun yang di lakukan bukan urusan saya" kata Brian.


"Apa?. Kenapa harus begitu, dia kan pengawal kamu Brian. Kenapa diam saja dia melakukan perbuatan itu, apa kurang waras Brian" ucap Sania tanpa memikirkan kata-katanya.


"KURANG WARAS!!".


Oden mulai panik, saatnya harimau di dalam diri Brian akan keluar dan menerkam mangsa yang ada di depan mata. Dengan cepat Oden menarik Tuannya masuk kedalam kamar, meninggalkan Sania sendirian di ruang tamu.


"Hai, mau pergi kemana kalian!!" panggil Sania pada mereka berdua.


"Tuan tenanglah, apa tuan mau Sania tahu kalau anda adalah mafia. Pasti orang luar akan mencari dan membunuh tuan" ujar Oden dengan sedikit khawatir.


"Tapi dia mengatakan aku orang yang kurang waras, aku tidak kuat mendengar orang yang merendahkan aku Oden" jawab Brian.


"Aku tahu Tuan, tapi sekarang bukannya tuan harus bisa mengontrol emosi tuan sendiri. Tuan melakukan ini untuk nona Anne bukan tuan".


"Dia pasti tidak memaafkan aku Oden, semalam tahu apa yang aku alami. Vanka kembali, ia menginginkan aku mati" jelas Brian.


"Vanka, mantan kekasih tuan?".


"Betul sekali, maka sebab itu ia datang kemari dan minta tanggung jawab atas apa yang aku lakukan pada dia di dalam kamar waktu itu".


"Besok aku akan mencari obat tidak mudah ransa-ng untuk tuan, sepertinya tuan harus menjalankan terapi".


"Aku tidak mau, kamu saja yang lakukan. Pokoknya aku tidak mau Oden" membantah usulan dari Oden


"Kalau begitu, tuan akan selalu melakukan hal sama dengan wanita lain. Sampai tuan tua" ujarnya sembari mengejek tuanya sendiri.


"Kalian keluar lah, KELUAR KALIAN!!!. Aku perlu bicara dengan kamu Brian, cepat buka pintunya" suara dari luar kamar.


"Ayo".


"Mau apalagi kamu Sania, saya mau keluar menjemput istri pulang. Tolong ya Sania, jangan membangunkan harimau yang sedang tidur, nanti MATI!" ucap Brian sampai membuat bahu Sania merinding.


Aneh sekali dengan sikap Brian yang sekarang, dulunya dia tidak kejam begitu. Apa yang terjadi sebenarnya sampai matanya merah dan ingin rasanya membunuh apapun yang ada di depan matanya. Ya ampun... aku harus lakukan agar bisa mendapatkan hati Brian, sekarangkan dia sudah menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Kesempatan aku menjadi nyonya di rumah ini bukan Anne.


"Brian tunggu, Brian!!!".


Brian terus berjalan sampai ia masuk ke dalam mobil, tidak mendengar panggilan dari Sania yang sudah berulang kali. Oden menyalakan mobil menancapkan gas untuk secepatnya pergi dari wanita ular itu.


Sania marthalita umur 20 tahun



"Sial... Kenapa Brian tidak seperti dulu, kenapa dengan semua ini. Aku tidak akan menyerah Brian, aku tidak akan tinggal diam. Suatu saat nanti kamu akan menjadi milik aku Brian, selamanya!!". ucap Sania merasa dengan khayalan tersebut akan menjadi nyata.


"Aku pulang saja, tidak ada orang disini" perginya Sania keluar dari rumah Brian.


**


Jovi baru saja keluar daru ruangan syuting, melihat Clarinta yang sudah menunggu di ruang istirahat. Dengan senyuman yang terpancar dari wajah Clarinta dengan kedatangan Jovi, langsung memeluk Clarinta dengan penuh cinta lalu tidak pula dengan kecupan kening.


"Sudah lama menunggu sayang?" tanya Jovi.


"Tidak sayang, bagimu waktu itu tidak perlu di ingat. Lama atau tidak, kamu adalah orang yang istimewa" ucap Clarinta menebarkan pesona di depan Jovi.


"Oh Sayang... kamu manis sekali".


"Apa yang kamu bawakan, sepertinya enak sekali" membuka sebuah box yang di bawa oleh Clarinta.


"Ets, cuci tangan dulu sana. Kamu baru saja dari luar, tidak baik makan tidak mencuci tangan" ujar Clarinta.


"Oke-oke Sayang, cium aku" katanya.


Cuuppp (sebuah ciuman bibir)


"Sudah cepat sana, cepat..."


Sembari Jovi keluar pergi ke kamar mandi, Clarinta membuka handphone karena harus mengirim pesan untuk Vanka. Setelah itu, Jovi sudah tiba kembali datang dengan ke ruangan seperti biasa.


"Sepertinya kelaparan sekali sampai cepat mencuci tangan" ujar Sania.


"Kamu mengejek aku Sayang, nanti malam aku akan membuat kamu menikmati indah surga bersama".


"Tidak-tidak... jangan lakukan itu, aku sedang tidak mood untuk melakukan itu. Aku ingin nikah bukan seperti ini terus" ucapnya dengan emosi.


"Menikah?. Kamu ingin menikah, baiklah, kita akan menikah besok" jawabnya.


"APA!. Serius lah sayang, jangan seperti ini terus".


"Iya Sayang, besok kita akan menikah".


Sebenarnya besok adalah hari pernikahan adiknya yaitu Zeline, namun Clarinta begitu mudahnya percaya dengan ucapan Jovi. Ada rasa ingin tertawa tapi ia tidak kalau Clarinta sampai tahu dengan semua perkataannya barusan tadi. Dengan sangat lahao Jovi memakan makanan yang di bawa Clarinta, sangat enak sekali masakan Clarinta sampai tidak ada tersisa.


**


Usai pergi berjalan dengan Vino namun tidak menduga Kenzo sudah berdiri di depan rumah Zeline, membuat Vino greget dengan kedatangan Kenzo di rumah Zeline. Vino dan Zeline turun dari mobil langsung menghampiri Kenzo yang sudab duduk di kursi depan rumah Zeline.


"Zel" sapa Kenzo.


"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Zeline.


"Sayang..."


"STOP!!" cegah Vino pada Kenzo.


"Zeline tunangan saya jadi tolong anda jangan memanggil tunangan saya dengan sebutan SAYANG" ucap Vino dengan emosi.


"Kak Vin, tenanglah. Jangan emosi seperti itu, kak Ken, aku mohon segera pergi dari sini. Tolong mengerti kak" ujar Zeline.


"Kamu hanya mencintaiku bukan dia kan Zel, kamu pasti di jodohkan oleh Jovi kakak kamu sendiri. Jawab Zel, aku masih sangat mencintaimu Zel" kata Kenzo dengan penuh penyesalan.


"Maaf sekali lagi kak Ken, aku sudah bertunangan dengan kak Vino. Aku mencintainya bukan kak Ken".


"Semudah itu kamu melupakan kakak, jadi selama ini yang kakak percayakan dengan kamu. Menghilang begitu saja".


Zeline mengangguk dengan semua perkataan Kenzo, seandainya dirinya tidak keluar negeri. Tentu saja Zeline menjadi miliknya, namun sekarang semua sudah lenyap begitu saja hanya penyesalan.


"Baik kalau begitu, semoga bahagia. Aku pamit pulang dulu, jaga dirimua baik-baik" ucap dengan pasrah diri.


"Iya kak, kakak juga jaga diri. Ayo kak Vin, kita masuk dalam" ajak Vino masuk ke dalam rumah.


Bersambung