MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Ikut aku atau dia


Jovi mengotak ngatik ponsel yang ada di tangannya, menunggu Zeline keluar dari kamar. Ia sangat menyesal sudah membuat hati adiknya sendiri terluka demi membela wanita lain, tidak lama kemudian Zeline keluar dari kamar lalu bersiap-siap pergi keluar bersama temannya.


"Mau kemana kamu?. Kita makan dulu, ini kakak belikan untuk kamu" ucap Jovi memberikan bungkusan kotak makanan.


"Aku tidak mau!!!" menepis kotak makanan yang ada di tangan Jovi.


"Ini makanan kenapa kamu buang, kamu pikir mencari uang itu gampang" bentak Jovi semakin emosi.


"Terserah kakak mau ngomong apa, itu bukan urusan aku. Aku pergi dulu kak" ingin pergi tiba-tiba datang seorang pria dan juga kedua orang tuanya.


"Permisi" ucap mereka bertiga.


"Eh Vino kamu sudah datang, silahkan masuk dulu".


"Bukannya kamu sibuk Vin, kalau nanti bos kamu marah bagaimana?" tanya Jovi.


"Aku sudah minta izin sama bos Kin, bos aku baik jadi tidak masalah" jawab Vino.


"Okelah, kenalkan ini adik aku Zeline. Cepat beri salam pada mereka".


"Salam tante-om- dan..." tidak tahu harus memanggil nama apa.


"Aku Vino, senang berkenalan dengan kamu" memberi jabat tangan pada Zeline.


Jovi menjodohkan antara Zeline dan Vion, beruntung Vino adalah teman sekolah SMA dulu. Jadi tidak perlu bersusah payah mencari pengganti Kenzo. Zeline akan di nikahkan dengan Vino minggu ini, ia tidak mau terlambat menjalankan rencana ini agar Kenzo tidak mengganggu Zeline lagi.


"Kapan pernikahan kita adakan, apa perlu kita buat acara yang mewah sedikit. Bagaimana bu?".


"Semua keputusan pada anak kita saja, apa yang di lakukan oleh Vino semua hal yang terbaik".


"Kita akan menikah selasa ini?" bagaimana Zeline?" tanya Vino untuk memastikan lagi acara pernikahan.


"Maksud kamu?. Kita nikah bulan ini, kak,,, kakak tidak becandakan jodohin aku dengan pria yang tidak 'ku kenali".


Perkataan Zeline membuat orang tua Vino merasa bingung, kira adiknya sudah tahu tentang pernikahan ini ternyata tidak. Jovi pun merasa tidak enak pada Vino karena sudah datang ke rumah malahan mendapatkan kekecewaan.


"Lebih baik kamu turuti saja kemauan kakak, jangan membantah. Ini untuk kebaikan kamu juga Zel" mencoba menjelaskan semua agar menurut dengan kemauan Jovi.


"Oh ya kira-kira di mana acara pernikahan kita laksanakan, sepertinya di hotel ini bagus. Apalagi ini hotel yang baru saja di bangun" kata Jovi memberikan kertas pada mereka bertiga.


Di rumah sedang ada kegaduhan antara Brian dan Kin, mereka saling memandang satu sama lain. Kin mendengar suara wanita yang ada di kamar bersebelah Brian berdiri, dengan segera ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar.


"Cia, kalian sudah melakukan hubungan intim. Kamu tidak apa-apakan?".


Saat ingin menyentuh tubuh Anne, Brian langsung menepis tangan yang hampir memegang tangan Anne.


"Jangan sentuh istri saya!, apa yang kamu inginkan?" tanya Brian.


"Aku ingin menjemput Cia pulang".


"Cia?. Maksud kamu, dia adalah Cia?".


"Benar tuan, kenapa tuan tidak membaca dokumen itu" sahutnya Oden mengiyakan perkataan Kin.


"Apa?. Cia!".


Akhirnya Brian diam membisu mendengar kenyataan yang sebenarnya, ternyata Cia berada di sisinya selama ini tapi ia sengaja membuat penderitaan di dalam Anne. Apakah ada kemaafan dari Anne setelah mendengar siapa Brian sebenarnya atau sebaliknya.


"Aw, kepala 'ku sakit sekali, Kalian berdua ngapain di sini. Keluar" ucap Anne mengusir Brian dan Kin.


"Pakai baju kamu sekarang, ada hal yang perlu di bicarakan" kata Brian.


Kin dan Brian keluar dari kamar menuju ke ruang tamu membahaskan tentang isi dokumen itu. Kin meminta penjelasan bagaimana perlakuan Brian selama ini terhadap Cia.


"Saya tidak tahu kalau dia Cia, Lalu apa mau kalian?. Ingin mengambil dia dari saya, mimpi kamu Kin" Brian sudah kehabisan kesabaran dengan perkataan Brian.


"Anne akan bercerai dengan kamu Brian, kalian berdua harus cerai. Aku tidak akan mengizinkan Anne terluka karena kelakuan kamu Brian!" ucap dengan nada tinggi.


"Saya tidak peduli, dia istri saya. Tidak ada urusan dengan kamu Kin, kalau mau bertarung saya siap lawan kamu" Brian sedikit bingung maksud tujuan Kin datang ke sini.


"Apa yang kamu lihat Kin?. Kamu tertarik dengan istri saya, jangan bermimpi untuk membawa Anne dari sini karena dia istri saya".


"Anne. Silahkan baca" memberikan berkas dokumen pada Anne.


"Apa ini?".


"Baca saja".


"Maksud tuan, saya ini adalah sepupu tuan?" tanya Anne ingin lebih memastikan isi dokumen tersebut.


"Iya, betul sekali. Aku datang kesini ingin menjemput kamu, sekarang terserah kamu saja. Mau ikut bersama saya atau ingin tetap di sini".


Anne menatap ke arah Brian, kalau masih berada di sini otomatis dia akan menderita lagi. Tapi jikalau ia ikut dengan pria ini namun ia tidak mengenal pria yang duduk di depannya.


"Oma merindukan kamu Anne, kamu punya keluarga besar Anne".


"Tapi aku....".


"Dia akan tetap di sini, tidak akan pergi kemana pun" ucap Brian menantang dengan perkataan Kin.


"Ini uang saya kasih sejumlah 1 miliar baht, sekarang keluar dari rumah saya".


"Kamu pikir Cia adalah barang yang bisa kamu beli, pria seperti apa kamu Brian?" ucap Kin mengarahkan pistol kepada Brian.


Anne melihat tersebut langsung terkejut, Kin masih menantang Brian untuk tidak melawan polisi. Brian pun tersenyum sinis ke arah Kin hingga membuat ia merasa bingung dengan senyumannya.


"Silahkan keluar atau saya akan membunuh Anne" kata Brian juga mengarah pistol pada Anne.


"Ayo kita pulang!".


Mereka lebih memilih mundur dari pada terjadi sesuatu pada Anne, ia terpaksa melakukan itu pada Anne agar dia tidak di bawakan oleh Anne.


Di sana Vanka sedang geram dengan kelakuan Brian sampai di carinya luar negeri, ia pun mencari cara agar Brian tidak mengejarnya lagi ataupun mencari tempat persembunyian.


"Ayah, apa yang harus kita lakukan. Kita tidak bisa keluar kalau begini terus, bisa-bisa kita di laporkan polisi" ucap Vanka.


"Lalu mau kamu bagaimana, menyamar?".


Ide pun muncul di pikiran Vanka untuk melakukan sesuatu, penyamaran adalah cara yang terbaik untuk menghindari buronan Brian.


"Aku ada ide ayah, bagaimana kalau kita culik istri Brian lalu akan mengoperasikan wajah menjadi istri Brian" ucap Vanka memikirkan rencana untuk menjebak Brian.


"Kamu gila ya?. Bagaimana kalau ketahuan nanti, jangan berbuat semena-mena kamu Vanka!" kata Yoga untuk tidak menjalankan sebuah hal yang konyol.


"Lalu bagaimana caranya yah biar kita bisa bebas dari Brian, apa ayah?" tanya Vanka yang kebingungan.


Vanka kehabisan cara untuk melakukan rencana yang harus di lakukan sekarang. Yoga juga tidak punya cara lain agar bisa keluar dari temoat gudang yang ia tinggalkan sekarang, Sisa makanan hanya tinggal sedikit lagi.


Kin pulang dengan perasaan yang kecewa, apa yang di katakan pada oma Aleta nantinya. Beliau sangat merindukan cucunya yang telah hilang sekian lamanya, ia pulang dengan tangan kosong tidak membawakan Anne bersamanya.


"Tuan sudah pulang, maaf tuan saya tidak menjemput karena ada kesibukan yang harus saya hadiri. Sekali lagi maaf tuan" ucap Vino dengan menunduk kepala.


"Sudah tidak masalah, oh ya bagaimana acara lamaran kamu?. Lancar, cieeee tidak jomblo lagi" ucapnya menggoda Vino menjadi malu kucing.


"Ah tuan bisa aja, lamarannya lancar cuma...." berhenti berbicara.


"Cuma apa Vin?".


"Cuma wanita itu tidak mencintai saya tuan, tapi kakaknya masih aja memaksa kami di jodohkan" jawab Vino.


"Bagus dong kalau kakaknya setuju dan menerima kamu, oh ya siapa nama kakaknya?" tanya Kin lagi.


"Nama kakaknya Jovi, kami sebenarnya sudah saling kenal sejak bangku SMA tuan. Sempat berpisah karena keluarga dia pindah luar kota dulu tuan" menjelaskan tentang Jovi pada Kin.


Jovi?. Ada nama Jovi dalam dokumen itu, apa jangan-jangan dia pria yang sudah melukai perasaan Cia?. Sepertinya harus aku beri pelajaran untuk dia, ini adalah bentuk pembalasan telah mempermainkan Cia.


Bersambung