
Clarinta melihat kedatangan Brian. Penampilan yang berbeda dari biasanya, wajah berseri membuat Clarinta jatuh hati pada Brian. Jovi melihat mata Clarinta melihat ke arah Brian membuat ia emosi dengan tatapan mata dia.
"Apa yang kamu Cla?. Apa kamu ingin kembali ke sisi Brian, aku lihat dari tatapan kamu, masih berharap dengan Brian lagi!" kata Jovi dengan nada emosi.
"Tidak sayang... Aku 'kan hanya mencintai kamu, tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di dalam hatiku" ungkapnya Clarinta pada Jovi.
"Aku harap begitu. Aku tidak suka di permainkan apalagi soal hubungan" katanya Jovi.
Iya. Aku masih berharap ingin kembali ke sisinya tapi itu sudah tidak mungkin lagi, sebab dia sudah menaruh dendam atas apa yang kita lakukan dulu. Brian... Selagi kamu masih mencintai'ku, maka ada harapan untuk dapatkan kamu kembali..
Begitulah apa yang ada di pikiran Clarinta. Masih belum puas apa yang ia dapat, ia terkejut karena Brian sudah mendapatkan apa yang dia inginkan apalagi Brian adalah pewaris tunggal yang paling kaya seluruh dunia.
Jovi menyapa kedatangan Brian akan tetapi Brian tidak menanggapi kedatangan Jovi. Rasa sakit hati masih melekat di dalam hati, seorang sahabat berani mengambil kekasih sahabat iya sendiri. Tidak ada rasa malu sedikit pun pada Brian, menganggap semua barang yang mudah di ambil begitu saja. Clarinta seperti barang bagi Jovi, hanya alat yang bisa menaikkan popularitas di dalam karirnya sendiri.
"Oh jangan-jangan ingin menyimpan dendam rupanya. Seorang pengusaha seperti kamu Brian hanya bisa mengandalkan emosi bukan hati." Kata Jovi.
"Maksud kamu?. Brian yang di katakan apa?. Apa Jovi melukai perasaan kamu?" tanya Vanka.
"Itu bukan urusan kamu. Jangan terlalu peduli dengan saya, ingin melindungi saya?. urus saja hidup kamu sendiri Vanka" jawab Brian menahan emosi di depan semua orang.
Anne hanya menyimak saja apa pembicaraan mereka berempat. Ia tidak terlalu memperdulikan tentang masalah yang di hadapi oleh suaminya sendiri yaitu Brian. Memang Brian adalah suami, sebelum menikah dulu Brian memberikan sebuah perjanjian kontrak di antara mereka berdua.
Dalam perjanjian tersebut menuliskan:
1. Jangan terlalu ikut campur urusan pribadi tuan Brian
2. Mematuhi semua peraturan yang ada di dalam rumah
3. Dalam sehari wajib mandi 5 kali sehari sebab merasa jijik dengan wanita bau berkeringat
4. Tidur secara berpisah tidak ada saling perhatian antar satu sama lain.
5. Berani lawan maka hukuman yang berat di terima
DLL
Anne masih mengingat isi kontak tersebut, masih terus di bayangi saat Brian datang ke rumah tanpa di awasi oleh Aleysia. Sehari yang lalu Brian datang ke rumah mengantarkan sebuah dokumen kepada Anne. Saat itu Anne masih bingung, apakah pilihan yang dia pilih adalah terbaik untuk dia atau kesalahan selamanya yang akan di dapati.
Brian melihat ia termenung yang sedang memikirkan sesuatu, sudah bisa di tebak kalai Anne memikirkan isi perjanjian kontrak pernikahan mereka berdua. Hatinya sangat senang, melihat penderitaan kekasih Jovi.
Acara selanjutnya akan di umumkan sesuatu pengumuman yang sangat special, pengumuman tersebut di mana Brian mengatakan tentang pernikahan antara Brian dan Anne. Brian menaiki ke atas panggung di ikuti oleh Anne dari belakang.
"Selamat malam semuanya".
"Saya Brian Jeremy Smith. ada sesuatu hal yang harus 'ku sampaikan pada kalian semua, seseorang wanita yang berdiri di sisi saya. Bukan wanita sembarangan atau bukan wanita biasa, dia adalah sosok wanita yang sangat luar biasa dan istimewa".
Percakapan Brian tiba berhenti sementara, melihat Jovi yang sudah memanas. Brian tersenyum sinis melihat reaksi wajah Jovi yang terkejut hingga melotot ke arah Brian. Tanpa membuang waktu lagi, Brian menutup pengumuman yang di sampaikan pada mereka semua telah selesai.
"Hanya itu saja. To the poin saja dia adalah istri saya" kata Brian dalam penyampaian dua patah kata kepada semua orang yang hadir di dalam acara.
Anne mendengar apa perkataan Brian di depan mereka, dia mengumumkan hubungan mereka berdua dan ia pun berpikir apakah Brian sudah menerima dirinya sebagai seorang istri. Itulah yang di pikirkan Anne, padahal ada sebaliknya juga dari semua perkataan Brian.
Dia mengumumkan hubungan ini sedangkan di sisi lain dia selalu menghukum aku. Apa dia mau drama di depan mereka agar merasa tersanjung dan di kagumi oleh mereka semua.
" Apa yang kamu pikirkan?. Apa kamu menganggap pengumuman ini adalah yang terbaik untuk kamu, kamu bermimpi. Jangan terlalu terbang tinggi ke atas, nanti sakit" berbisik Brian pada Anne.
Ternyata benar, dia ada maksud lain berakting seperti ini. Sepertinya aku harus mencari tahu foto yang ada di dalam ruang kemarin, tapi bagaimana caranya ya?.
"Selamat ya atas pernikahannya, oh ya kapan rencana kalian bermulan madu?." tiba datang Vanka di depan Brian dan Anne. Tanpa rasa malu bertanya seperti itu.
"Terima kasih." hanya dua kata saja yang di ucap oleh Brian. Ia tidak mau basa basi dengan Vanka, membicarakan hal yang tidak jelas adalah hal yang tidak di sukai oleh Brian.
"Kenalkan. Aku Vanka teman Brian sejak sekolah SMA, nama kamu?." memperkenalkan diri dengan Anne.
"Aku Anne. Senang berkenalan dengan kamu nona Vanka." Jawab Anne memberikan jabat tangan.
"Panggil saja Vanka tidak usah memakai kata nona, jadi merasa tidak enak saya" katanya.
"Oh baiklah, maaf sekali lagi" ucapnya Anne.
Di tempat lain Jovi sedang asik dengan minuman. Ada rasa penyesalan dalam hidup ia telah menelantarkan Anne yang begitu tulus padanya, karir ia tetap berjalan namun rasa terkenal semakin hari semakin turun. Jovi merasa tidak puas dengan apa yang di inginkan apalagi soal uang.
"Jovi!, hentikan, jangan minum lagi. Aku tahu semua ini berat bagi kamu, tapi kita bisa melakukan sesuatu untuk melenyapkan Anne dari dunia ini. Bagaimana?."
"Apa?. kamu ingin membunuh Anne, tidak... Aku tidak bisa, jangan lakukan itu. Kamu mau masuk penjara apa, jangan sayang" kata Jovi mencegah Clarinta agar tidak merencanakan sesuatu di luar batasan.
Clarinta pun merasa kecewa melihat Jovi yang masih memiliki perasaan pada Anne. Di sisi lain ia tidak bisa mendapatkan Brian lagi dan sekarang Jovi masih memiliki rasa kasihan terhadap Anne. Sepertinya harus melakukan sesuatu untuk mencegah Jovi untuk tidak memperdulikan pada Anne lagi.
Acara pun selesai semua para hadirin akan pulang ke rumah masing-masing. Brian memanggil Oden untuk membawa pulang Anne dengan mobil lain, sebenarnya hati Brian masih emosi melihat kemesraan Jovi dan Clarinta. Brian akan pergi suatu tempat di mana tempat itu adalah ruangan rahasia bagi dia.
MASA LALU
Terjadinya sebuah kecelakaan di masa lalu di mana Brian dengan seorang wanita sedang pergi berjalan bersama orang tua mereka masing-masing. Umur mereka pada saat masih usia anak kecil, Brian sangat menyayangi wanita yang sedang duduk bersamanya.
Perjalanan menuju ke negara Rusia, mereka semua sedang pergi berliburan bersama. Dua keluarga besar sama sama memiliki anak tunggal masing-masing, hanya saja berbeda beberapa tahun saja dari mereka berdua.
"Cantik... Aku ada hadiah untuk kamu, dari pangeran kamu yang tampan ini" ucap Brian sembari memberikan sesuatu pada bocah wanita itu.
"Terima kasih kakak. Kak Yemi aku juga ada sesuatu untuk kakak, ini coba buka" juga memberikan sesuatu untuk Brian.
Yemi nama panggilan yang di panggil oleh bocah wanita tersebut. Ucapan bahasa masih saja melow dan belum lancar dalam berbicara, Brian membuka hadiah tersebut lalu mendapatkan sebuah gelang sebagai tanda pasangan di antara mereka.
"Apa kamu yang membeli ini untuk aku?. Wah sangat keren aku suka, lalu kamu juga punya?." Tanya Brian dengan nada gembira.
Para orang tua mereka menoleh ke belakang melihat kebahagiaan anak mereka masing-masing. Dalam menuju ke bandara hanya beberapa menit lagi, Setelah sampai mereka langsung turun dari mobil menuju ke tempat check-in.
"Sayang... Tunggu di sini ya, aku check dulu tiketnya"kata Pradana pada istrinya.
"Iya sayang. Kami tunggu di sini saja, jangan lama" sautnya istri Pradana.
"Bro.... Temenin aku, enak saja kau".
"Hahaha.... sebentar, sayang... Aku temenin Pradana dulu, jaga anak kita".
Istrinya hanya mengangguk saja melihat suaminya sudah pergi dari hadapannya. Kedua pria itu menemui orang petugas pesawat memberikan empat tiket pada petugas.
Jadwal penerbangan sudah tiba, mereka pun langsung naik ke pesawat bersama-sama. Brian dan wanita bocah itu duduk bersama ibu mereka, sedangkan dua ayah dari anak tersebut duduk di samping istrinya.
Bersambung