
Brian yang sudah bersiap-siap berangkat pergi ke tempat dimana dia gauli wanita tersebut, tanpa sengaja Anne lewat melihat Brian yang ingin keluar rumah.
"Mau kemana?" tanya Anne.
"Tidak kemana-mana, aku hanya ada tugas saja" jawab Brian.
"Benarkah yang kamu katakan Brian, sepertinya kamu tidak membutuhkan pemaafan dari saya. Wah... sepertinya begitu ya" ucap Anne dengan sombong.
"Tidak... bukan seperti itu".
"Aku...".
Ada apa dengan tubuh aku, kenapa sakit sekali. Aku harus menahan, tidak bileh emosian lagi. Bisa-bisa Anne kabur lagi nanti, ah... sakit sekali.
"Kenapa tidak menjawab?. Ayo katakan".
"Diam kamu Anne, kamu pikir bisa jadi ratu di rumah ini jangan bermimpi kamu Anne. Kamu itu hanya wanita sampah yang terlalu murah aku belikan" ujar Brian tiba-tiba mengamuk seperti harimau.
Ada apa dengan Brian?. Kenapa tiba berubah menjadi garang seperti ini, apa yang terjadi sebenarnya. Ya ampun tangannya sangat kuat sekali. Siapapun bantu aku, tolong.
"Kamu berlagak sombong Anne, kamu itu hanya wanita simpanan di dalam rumah ini Anne. Tidak ada yang special dari dirimu yang murahan seperti ini" ujar Brian lagi.
Kebetulan Oden sedang lewat di depan mereka, menggerakkan tangan agar Oden bisa menolong dirinya. Namu sayang sekali, Oden tidak menggubris Anne yang sedang di cekik oleh Brian.
"Lepaskan aku Brian, kenapa jadi kejam seperti ini" kata Anne berusaha lepas dari cengkraman Brian.
"Kamu akan mati Anne, kamu wanita yang bodoh".
"Lepas aku Brian, lepas!".
"Tuan. Ada ketua di depan" lapor pelayan yang tiba datang dari arah lain.
Ayah Brian yaitu Pradana, ia sudah pukang dari luar negeri. Brian langsung melepaskan tangannya dari leher Anne, akhirnya ia selamat dari ancaman Brian yang tiba aneh.
Brian menyusul keluar lalu pergi ke ruang tamu dimana ayahnya sedang duduk untuk beristirahat, Brian menyambut kedatangan Pradana dengan sinis. Kehadiran Pradana tidak membuat hati Brian senang, melainkan membuat luka yang lama menjadi ingat kembali.
"Ada apa papa datang kesini?" tanya Brian.
"Dimana istri kamu?" bertanya balik pada Brian.
"Dia....".
"Halo papa" sapa dari Kejauhan melihat kedatangan Anne.
"Halo sayang menantu papa yang cantik" jawab sapaan.
"Apa kabar pah?" tanya Anne dengan nada lembut.
"Kabar baik sayang, lalu bagaimana kabar kamu?. Oh ya, bagaimana perlakuan Brian anak papa ini pada kamu?. Apa dia perlakukan baik terhadap kamu, atau sebaliknya" tanya Pradana dengan pasti.
Anne melihat ke arah Brian, ia melihat bagaimana sikapnya pada dia selama ini. Brian melihat tatapan Anne sama sekali tidak takut, awalnya ia merasa seperti bucin pada Anne. Sekarang berubah drastis melihat tingkah yang aneh pada diri Brian, sebelum Anne menjawab pertanyaan Pradana, Brian langsung menerobos mengatakan yang sebenarnya.
"Aku perlakukan baik padanya, apa kamu ingin tahu bagaimana hidup keluarga aku?. Dulu saat mama butuh pertolongan papa, apakah saat itu" ucap Brian menatap sinis pada Pradana.
"Jangan membahas tentang hal yang lalu, itu sudah takdir kalau keadaan itu akan terjadi" kata bantah Pradana yang tidak mau kalah dengan perdebatan Brian.
"Aku tidak peduli, kamu yang mengatakan seperti itu semua" ucap Brian melawan emosi Pradana.
Pradana tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menghilangkan rasa dendam dan amarah di dalam hati anaknya sendiri. Semoga mukjizat terjadi suatu saat nanti dimana Anne istrinya bisa menghilangkan sakit hati di dalam diri Brian, lalu menjadikan Brian seperti anaknya yang dulu dimana tidak kejam seperti sekarang ini.
RUMAH JOVI
buru-buru ia pulang ke rumah melihat adiknya sudah di antarkan oleh Tuan temannya sendiri, tidak salah mengenal Vino selama ini. Menjadikan ia sebagai suami untuk adiknya, apalagi dirinya sudah mengatakan kalau Anne sudah tidak perawan lagi.
Membuka pintu
"Kakak?" ucap Zeline melihat Jovi masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana keadaan kamu?. Apa tidak ada luka, katakan!, siapa yang sudah menculik kamu?" tanya Kin.
"Aku takut kak, dia sudah menjual aku pada seorang pria hiks..." jawab Zeline dengan menangis.
"Siapa yang melakukan inu, jawab siapa?" tanya Jovi lagi yang terhambat emosi.
Ingin menjawab namun Clarinta sudah masuk di dalam kamar memantau pembicaraan mereka berdua, Zeline melihat Clarinta masuk tanpa permisi memberikan isyarat untuk tidak memberitahukan pada Jovi. Jika membuka mulut sama saja mencari mati, Zeline menatap Clarinta dengan ketakutan sampai ia menunduk wajah.
"Aku tidak tahu siapa dia kak, wajahnya tertutup tapi dia seorang wa..." ucapnya terputus.
"Dia seorang pria kak, wajahnya tidak jelas kak Jovi. Aku sangat takut" jawab Zeline memeluk Jovi.
Clarinta sangat senang, posisinya masih aman seperti itu. Ia tidak menduga kalau Zeline hanya seorang gadis yang sangat polos, tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Jovi mengajak Zeline makan bersama, sepertinya ia sudah kelaparan sejak kejadian yang ia alami.
**
Di tempat perusahaan, Brian sedang meeting dengan kliennya sendiri, membahas bangunan yang di rancanh oleh Anne. Tidak sengaja membawa handphone yang salah, mereka berdua memiliki ponsel yang sama persis karena Brian lebih suka ponsel moderen termahal.
Brian membuka ada sebuah panggilan dari seorang pria di dalam ponsel Anne, ternyata kemarin Jovi mantannya sedang telepon dengan istrinya. Emosi yang memuncak membuat klien ketakutan pandangan tatapan mata Brian ke arah ponsel.
Berani-beraninya kamu Anne menghubungi pria lain, apa kamu tidak lihat status kamu yang sekarang ini. ucap batin yang emosi karena Jovi masih menganggu Anne untuk minta bantuan cari adiknya, sekarang mendapatkan pesan tentang kabar Anne.
Para klien merasa tidak enak memanggil tuan Brian, ingin bertanya namun suasana yang tadi baik-baik saja menjadi ruang seperti neraka yang panas sekali. Brian menutup ponselnya lalu mengatakan apa yang ingin di tanyakan, maka di diperbolehkan oleh Brian.
"Apa rencana kali ini?" tanya Brian.
"Kita akan membangun kolam di tepinya tuan, sepertinya cocok sekitar disini" jawab salah satu mereka.
"Kolam?" tanya Brian lagi.
"Iya tuan, sepertinya cocok untuk pose setiap pemotretan tamu" jelasnya.
"Oke. Baiklah, di susun dengan rapi. Buatkan lima ruang pengganti di sebelahnya" ujar Brian berikan usulan lagi.
"Tapi tuan, tempatnya tidak ada tanah lagi dan...".
"Saya tidak peduli!!!" ucap Brian hentakkan tangan di atas meja.
Diam-kaku-mematung melihat kemarahan Brian semakin memuncak, dengan cepat berdiri dari kursi mengambil jaket dan ponsel segera pulang ke rumah.
DALAM GEDUNG
Vanka dan ayahnya masih saja disana, ia menggunakan ide yang sangat licik. Salah satu temannya telah membantu Vanka menyamar seperti pria sungguhan, ia memakai topeng agar orang anak buah Brian tidak dapat menemukan jejak mereka lagi.
"Penyamaran yang bagus Vanka, apa kamu yakin rencana ini berhasil?" tanya Yoga yang khawatir dengan anaknya.
"Ayah tenang saja, akan aku buatkan semua mereka tergila dan jatuh hati padaku!" kata Vanka dengan percaya diri.
"Bagaimana yah?. Apa aju terlihat seperti pria sungguhan?" tanya Vanka.
"Luar biasa sekali, ini adalah penampilan yang sangat menakjubkankan. Bagaimana data yang di urus oleh teman kamu, apa semua sudah di siapkan".
"Tenang ayah, semua sudah di siapkan. Bahkan juga perusahaan sudah di beli untuk kita" ujar Vanka yang sedang merapikan tubuhnya seperti pria.
"Baiklah, kita akan berangkat sekarang".
Yoga berpikir, uang tidak banyak yang sisa sekarang ini. Hanya cukup untuk beli rumah saja, dengan siapa Vanka merencanakan kali ini. Vanka tidak mengatakan itu semua pada Yoga membuat Yoga mati penasaran dengan kepercayaan diri yang ada di dalam diri Vanka.
"Kamu akan menggunakan nama ini?" tanya Yoga.
"Nama Romeo Sasfranky, wah nama yang bagus. Memang anak yang cerdas juga licik seperti ayahnya, hahaha...." ucap Yoga dengan tertawa bahagia.
Saatnya berangkat kembali dan pulang ke halaman kampung lagi dengan penampilan yang berbeda, Yoga tidak akan dengan Vanka karena itu akan membuat rencana terbongkar dengan kehadira ayahnya sendiri. Vanka membuat nama Romeo agar terlihat tampan dan gagah, seperti seorang pria sungguhan sangat perkasa.
**
Di mall Anne sedang memilih pakaian untuk Brian menghadiri acara menyambutan gedung baru yang sudah selesai di bangun, Kin juga sedang jalan ke mall bersama oma Aleta. Melihat Anne sedang memilih baju Kin langsung menghampiri Anne tersebut.
"Cia?" sapa Kin yang sudah berdiri di depannya.
"Kin, kamu" ucap Anne buru-buru pergi dari hadapan Kin.
Saat pergi kabur dari hadapan mereka, oma Aleta dengan cepat menangkap Anne yang berusaha kabur. Anne menoleh ke belakang melihat sosok wanita yang sudah tua memasang wajah yang sedih, ia melihat wanita tua itu merasa tidak enak hati lalu memegang tangan oma Aleta.
"Maaf, nenek siapa?" tanya Anne.
"Ini oma sayang, kamu cucu oma" jawab oma Aleta dengan menangis.
"Oma?" tanya Anne sembari menoleh pada Kin.
Bersambung