
"Ya sudah ayah pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik. Brian jaga Anne dengan baik, nanti ayah akan ceritakan semuanya pada kamu Anne" ucap Danial meminta pamit pulang pada Anne dan Brian.
"Ibu juga pulang, jaga diri kamu baik-baik di sini".
Jangan sampai kamu berbuat ulah apapun di sini, tutup mulut kamu dan sampai kamu beritahu pada ayah. Kalau kamu lakukan itu tidak segan aku membunuh ayah kamu. ujarnya berbisik di telinga Anne.
Anne mendengar merasa bulunya merinding ketika melihat tatapan ibu tirinya yang menyeram itu. Danial dan Aleysia pulang dengan mobil sendiri, Brian melihat tatapan yang sedih ke arah ayah Anne dengan tatapan dengan rasa ketakutan.
"Kenapa dengan tatapan kamu Cia?" tanya Brian.
"Nama aku Anne bukan Cia, sudah berulang kali aku bilang nama aku Anne bukan Cia!" jawabnya.
"Oh benar 'kah, jadi nama Anneke Felicia itu bukan nama kamu?".
"Terserah kamu Brian" ucap Anne menuju ke arah kamar.
"Dasar keras kepala, salah kamu juga tidak pernah bilang siapa sebenarnya jati diri kamu. Jika dari dulu mengatakan sudah dari dulu aku tidak berulah seperti ini padamu".
Bagaimana Anne mengatakan sedangkan dirinya tidak mengingat siapa dirinya, Anne sangat kecewa dengan kepribadian Brian yang memiliki sifat yang kejam tanpa ampunan dari setiap perbuatan orang lain. Brian begitu tidak punya perasaan setelah seorang wanita melukai perasaan dirinya, hal itu membuat Anne tidak begitu mencintainya dimana saat kecil dulu.
Di perjalanan Aleysia sedang termenung memikirkan bagaimana nasibnya nanti setelah Danial tau kalau anaknya di jual xuma karena uang. Pastinya Danial akan menceraikan dia suatu saat nanti, Brian bukan orang sembarangan yang mudah di injak sesuka hati.
"Ma, kenapa diam saja dari tadi?. Apa ada masalah yang sedang pikirkan?" tanya Danial.
"Tidak ada pah, mama baik-baik saja. Oh ya bagaimana pekerjaan di sana, apakah kembali lagi nanti setelah masa libur habis".
"Aku tidak kembali sana lagi, masa kerja kontrak aku sudah selesai. Aku akan melamar kerja di perusahaan Brian, kamu kenapa?. Wajah kamu kenapa tegang seperti itu?" tanya Danial dengan penasaran.
"Aku tidak apa-apa, ya sebagai seorang istri melihat suami bekerja jauh pasti sangat sedih sekali bagaimana rasanya menahan rindu seorang pria yang di cintainya" ungkapnya isi hati Aleysia dengan tulus.
"Kamu ada saja, pandai juga merayu suami kamu sendiri. Malam ini kita akan habiskan waktu bersama dimana kita akan memiliki buah hati tercinta".
Apa?. Danial menginginkan anak lagi, kesempatan baginya mendapatkan harta warisan. Ia harus memiliki anak laki-laki tidak bisa perempuan, dalam mewarisi setiap harta warisan harus ada anak laki karena laki bisa bertanggung jawab besar jika sudah besar nantinya. Pikirnya
"Kamu ingin anak lagi, ah kamu sayang mencoba menggoda aku sekarang. Baiklah, aku akan memuaskan sayang nanti malam dengan berbagai nikmat yanv aku berikan. Oh ya bagaimana sebelum kita melakukan itu, aku ingin meminta sesuatu sayang" kata Aleysia dengan nada manja.
"Kamu sudah tua mau apa?. Ada saja kamu ini banyak permintaan seperti anak gadis saja".
Aleysia pun merajuk setelah Danial berkata seperti itu, ia mengambek dengan rasa yang manja. Akhirnya Danial mengalah saja dengan tingkah laku Alysia begitu seperti anak gadis lagi.
"Apa permintaan kamu sayang?" tanya Danial mencoba membuat keceriaan Aleysia kembali.
"Aku ingin kita bulan madu, bagaimana kita pergi ke kota sebelah sana. Ayolah sayang kapan kita libur bersama-sama lagi" ucap Aleysia masih dengn nada manja.
"Siap nyonya, kita akan kesana besok".
"Jangan lupa bawa baju seksi yang aku hadiah untuk kamu" ucap Danial berbisik di telinga Aleysia hingga merinding mendengarnya.
"Kamu sudah tua masih saja seperti anak muda yang lain" kata Danial dengan wajah cemberut.
"Sudah jangan cemberut lagi, sampai di rumah bersiap terus perlengkapan kita berangkat nanti".
"Serius kita akan berangkat secepatnya?. Wah aku sangat bahagia memiliki suami seperti kamu sayang, ' I Love You Sayang 'ku." ucapnya memberi kiss pada pipi Danial.
Hal itu ia tidak lakukan demi Vino managernya sendiri, selama ini Vino selalu lakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri sebagai seorang manager yang taat dan patuh pada bosnya. Kin tidak tega melakukan seperti itu pada Vino, jadi ia lebih memilih untuk tidak ikut campur urusan percintaan mereka. Yang harus di urus sekarang adalah Jovi bukan Zeline adiknya Jovi.
Suara ponsel berbunyi...
"Bagaimana?. Kalian sudah menemukan titik keberadaan Zeline?" tanya Kin.
"Belum Tuan, sepertinya posisi mereka tidak di kota ini. Baru saja sebuah sinyal handphone milik nona Zeline satu jam yang lalu masuh berada di tempat kita dan sekarang mereka sudah berpindah tempat" jelasnya pengawal Kin.
"Cari keberadaan mereka sampai Zeline di temukan, siapapun mereka jangan pernah biarkan mereka lari. Urusan Vino juga urusan aku" ucap Kin dengan nada tegas.
"Baik tuan, kami segera mencari mereka sekarang. Setelah beberapa jam nanti kami akan mengabarkan lagi posisi mereka tuan".
"Jangan lupa tangkap mereka dan hukum mereka setimpalnya atas perbuatan mereka".
Ponsel pun di matikan.
Kin seorang polisi pastinya sangat ketat dalam menghancurkan kejahatan yang ada di depan matanya. Ia tidak akan membiarkan pelaku kejahatan kabur begitu saja dan membiarkan kejahatan merejalela dimana-mana.
Di seberang sana
Zeline telah ikat di sebuah kursi dalam ruangan yang kosong dengan mata yang tertutup, suara jalan kaki terdengar di telinga Zeline membuat dirinya terbangun. Suara hentak kaki seorang wanita menghampiri Zeline yang sedang terikat, ia adalah Clarinta kekasih Jovi.
"Siapa kamu, kenapa membawa aku kemari. Lepaskan, aku ingin pulang, aku ingin kmebali ke rumah" ucap Zeline dengan nada tinggi.
Sayangnya Clarinta tidak memperdulikannya dengan perkataan yang di ucap oleh Zeline. Ia hanya memperhatikan saja dan tidak bersuara sedikit pun di depan Zeline. Posisi pelaku orang yang menyulik ia masih berdiri di depannya, tapi sama saja tidak menjawab pertanyaan Zeline agar tidak curiga siapa yang telah menculik dirinya.
"Katakan siapa kamu?. Apa kamu menginginkan uang!. Aku berikan uang itu pada kamu, tapi kalau kamu menginginkan kakak saya, maaf dia hanya untuk kak Anne bukan untuk wanita lain" jawab Zeline dengan sombong.
Plakkkk.....
Suara tamparan yang keras mendarat ke arah pipi Zeline, hal itu membuat pipi sebelah kiri Zeline merasa sangat kesakitan.
Lebih tajam juga mulut kamu Zeline, setelah kamu menyerah dengan semua tingkah laku kamu yang sombong ini baru aku lepaskan tai jika tidak jangan berharap kamu selamat Zeline. Jovi hanya untuk aku seorang, jika aku tidak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak bisa memilikinya.
Jovi masih resah dengan keberadaan Zeline adiknya belum di temukan sama sekali, ternyata Zeline di culik oleh orang yang tidak kenal. Sudah menghubungi semua teman adik namun satupun tidak tahu dimana adiknya sekarang ini. Seharusnya ia tidak memaksa dalam pernikahan ini, pastinya ini tidak terjadi sesuatu dengan menager Kin.
Clarinta memanggil seorang pria kemari menyuruh membawa Zeline ke kamar pria bertopeng, membuat racun nafs* di dalam minuman pria juga minuman Zeline. Ia merencanakan agar Zeline dan pria itu bisa berhubungan, beberapa jam kemudian akhirnya Zeline merasa juga racun kenafsuan di dalam tubuhnya.
DALAM KAMAR
Zeline terus melawan dan ingin kabur tapi kunci kamar sudah di kunci, lalu racun di tubuhnya mulai bereaksi.
"Panas, panas sekali. Jangan lakukan ini pada 'ku, tolong lepaskan, aku ingin pulang" teriaknya Zeline meminta tolong pada orang luar.
Pria tersebut juga tidak tahan dengan nafs* yang bergejolak di dalam tubuh, rasanya ingin sekali berhubungan candu dari sekarang. Tanpa perasaan apapun pria itu menarik celana yang di pakai oleh Zeline, dengan sekuatnya pria itu menarik celana Jens. Tanpa membuang waktu semua pakaian Zeline sudah terlepas, ia terus meraba setiap lekuk tubuh Zeline dengan mesra.
Langsung ke intinya saja pria itu memasukan senjata yang selama ini tertahan karena tidak ada wanita yang mau bergairah dengannya yang tidak memiliki pistol yang lebih besar dari pria lain. Suara hentakan dari pria itu membuat Zeline merintis kesakitan karena ada yang panjang masuk ke dalam lobang gua yang sempit.
Hentakan semakin panjang dan Zeline terus mendesa* dengan sekuatnya tanpa ampun dari pria itu membuat gaira* yang sangat besar sampai ujung tanduk. Semakin lama semakin keras hentakan itu sampai bersuara dengan keras, Clarinta yang mendengar itu akhirnya tersenyum karena rencananya yang sudah berhasil di lakukan.
Bersambung