
Di sebuah cafe Zeline bertemu dengan Kenzo untuk membahas sesuatu yang penting, masalah tersebut ada hubungan di antara mereka berdua. Kenzo penasaran pagi-pagi sekali Zeline ingin bertemu dengannya.
Awalnya Zeline diam saja tidak ingin mengatakan hal tersebut, tapi mau bagaimana iya tidak mau terus-terusan melakukan itu tanpa ada ikatan nikah antara mereka berdua.
"Zel, ada apa bertemu pagi begini. Kakak sebentar lagi berangkat luar negeri, kamu tidak keberatankan?" tanya Kenzo.
"Kapan kak Kenzo kembali?. Apa kakak beneran mau nikahin aku?" bertanya balik pada Kenzo.
"Kamu tidak percaya sama kakak, setelah semua selesai kakak pasti akan lamar kamu tapi..." terputusnya pembicaraan.
"Tapi apa kak?".
"Aku baru tahu kalau kamu adalah adik Jovi, apa kamu yakin kakak kamu akan berikan restu pada kita sedangkan kami berdua adalah musuhan. Pikir lah baik-baik Zel, aku tidak mau kamu durhaka pada kakak kamu sendiri" jawab Kenzo yang sedikit khawatir.
"Lalu bagaimana kak, aku tidak mau begini terus. Aku mau nikah sama kakak, pokoknya kita nikah titik" kata Zeline dengan nada emosi.
"Iya kakak tahu, tapi sekarang kakak sedang sibuk. Besok kakak akan berangkat ke luar negeri lagi, jaga dirimu baik-baik ya".
Kenzo pamit pada Zeline karena sudah di jemput oleh anak buah bosnya, Zeline tampak terlihat sedih melihat Kenzo yang tidak pedulu dengan perasaannya. Jovi melihat Zeline langsung menghampiri dia, melihat adiknya yang sedang menangis.
"Sedang apa kamu di sini?. Di mana Kenzo?" tanya Jovi sembari melihat keliling dalam cafe.
Zeline tidak menjawab, iya hanya tetap diam saja dan terus menangis. Jovi yang melihat keadaan adiknya menjadi emosi karena kelakuan Kenzo membuat hati adiknya sakit. Jovi masih tetap memaksa bertanya pada Zeline.
"Jawab pertama kakak, dia apa saja lakukan pada kamu sampai menangis seperti ini?. Jawab Zel!".
"Kakak tidak mau kamu jadi sedih seperti ini, katakan pada kakak. Apa yang di lakukan sampai kamu seperti ini" tanyanya lagi.
"Aku sudah melakukan itu kak... itu.." berbicara dengan terbata-bata.
"Ayo kita pulang sekarang, ada seseorang yang ingin kakak kenalkan untuk kamu. Ikut kakak sekarang" ucap Jovi menarik tangan Zeline.
Mereka pun menaiki mobil lalu pergi pulang ke rumah, di sana Clarinta sudah menunggu Jovi pulang dari luar. Tak lama kemudian sampai juga mereka berdua di rumah, Clarinta berdiri dari kursi lalu menghampiri Jovi dan memeluknya.
"Kenapa tidak membalas pesan aku?. Apa kamu tidak mencintai aku lagi, coba katakan!".
"Maaf ya sayang tadi aku harus jemput Zel dulu di luar, jangan marah ya sayang" kata Jovi.
"Hai Zel, ini adik kamu sayang. Kenapa wajahnya kelihatan sedih seperti itu?" tanya Clarinta yang ingin tahu dengan keadaan Zeline.
Zeline tidak suka dengan kedatangan Clarinta, baginya Anne lah yang pantas menjadi kekasih kakaknya bukan Clarinta. Memasang wajah yang tidak yang suka pada Clarinta, Jovi menelepon temannya untuk datang ke rumahnya sekalian membawakan orang tua.
Hari ini akan ada lamaran antara Zeline dan seorang teman Jovi, awalnya Zeline keberatan tapi karena Jovi masih tetap memaksa Zeline mengiyakan semua. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah sembari menunggu kedatangan teman Jovi.
"Kamu tidak boleh menikah dengan Kenzo, lihat dia pergi begitu saja dan sibuk dengan karirnya. Kamu mau kakak di permalukan hanya karena masalah kamu sendiri?".
"Kak... aku mencintai kak Kenzo, tolong jangan nikahkan aku selain dengan kak Kenzo" kata Zeline untuk tidak menikahi ia dengan pria lain.
"Kamu tahu siapa dia sebelum jadi artis?. Dia mantan preman Zel, bukan pria baik-baik. Kamu dengar itu" ucap Jovi dengan nada emosi.
"Lalu, apa bedanya kakak dengan wanita ini. Apa kakak ada memikirkan perasaan kak Anne?. Tidak kan?" berbalik marah pada Jovi.
Plakkkk...
"Kakak berani nampar cuma karena bela wanita ini?. Di mana hati kakak!! dan kamu tidak akan pernah menjadi kaka ipar aku. Camkan!!" Zeline langsung menuju ke kamar dan menangis di dalam.
"Sepertinya aku harus pulang, aku tidak bisa di berlama-lama di sini. Aku pulang dulu".
"Kamu mau ke mana?. Apa kamu tersinggung dengan perkataan Zelin?. Maaf, dia masih anak kecil dan mungkin dia belum bisa nerima kamu" ucapnya memeluk Clarinta.
"Aku tidak apa-apa, tapi aku harus pulang dulu ada acara yang harus aku hadiri. Nanti malam kita akan makan bersama, aku akan mengabari setelah ini".
Clarinta pulang hati kecewa pada adiknya Jovi, ternyata ia sengaja berakting lemah di dwpan Jovi agar Jovi merasa kasihan padanya. Sebuah akting berhasil di jalankan untuk mendapatkan hati Zeline, selanjutnya adalah bekerja sama dengan Vanka.
Clarinta sengaja bekerja sama agar bisa mendapatkan harta warisan yang di miliki oleh Jovi dan Brian. Kakek mereka ternyata adalah teman dari kecil, karena sebagian orang di sekitar mereka yang gila denga harta.
Brian baru saja selesai mandi melihat keberadaan Anne tidak tahu kemana. Brian bertanya pada pelayan rumah di mana sampah itu berada, sampah adalah panggilan untuk Anne meskipun dia bukan pelaku yang melukai perasaan dia. Namanya jugq perempuan, jika salah satu orang semua akan kena.
"Di mana itu 'sampah'?. Apa jangan-jangan masih tidur jam segini, aku nenyusul ke kamar dia saja" menuju ke dalam kamar Anne.
Setiap kali aku melihat wajahnya mengingatkan aku pada gadis bocah dulu, itu tidak mungkin sama sekali. Dia bukan gadis bocah itu, sampai kapan dia tidak akan pernah menjadi gadis kesayangan aku.
Ternyata Anne sedang tidur di dalam kamar, proses pemulihan sudah selesai begitu cepat. Anne tidur dengan nada mengorok hingga membuat Brian menutup telinga dengan headset.
"Tidur seperti kerbau saja, dasar sampah" .
"Hai bangun!, bangun kamu sampah!. Cepat bangun".
Tidak ada reaksi apapun dari Anne, sepertinya Anne sedang tidur dengan lelap dan ia sedang bermimpi indah. Brian menyuruh pelayan membawakan air untuk menyirami dia, tidak lama kemudian pelayan datang dengan membawa air sebesar ember yang tinggi.
Ssriitttt...
"Aaaa... Ada banjir, ada tsunami..." terbangunnya Anne dari tidurnya. ia tidak menduga bahwa sebenarnya ia baru saja di siram oleh Brian.
"Bangun!!!!, laksanakan perintah saya. Sekarang tugas kamu adalah masak, saya ingin dunia tahu kalau saya memiliki istri yang pandai memasak bukan pandai pemalas".
"Tuan menyuruh saya masak?. Bukannya di rumah ini sudah ada pelayan yang memasak tuan, kenapa saya harus masak lagi" katanya.
"Kamu mau membantah saya?. Kamu ingin mati, baik ikut saya".
Lagi-lagi Anne mulai keceplosan dengan sifat aslinya yang suka ceroboh, Brian menari tangannya dengan keras. Membawa Anne ke suatu tempat di mana tempat itu menjadi sebuah hukuman untuk Anne.
Ruangan yang penuh dengan hewan harimau, Anne di masukkan ke dalam ruang tersebut dimana harimau yang sedang kelaparan. Anne pun terkejut, seharusnya ia tinggal menuruti apa yang Brian perintahkan tapi ujungnya malah mencari masalah.
"Bagaimana?. Apa kamu ingin melawan perintah saya, kamu ingin mati?. Silahkan jika kamu mati dengan cara yang ganas, pelayan, lepaskan ikatan harimau" kata Brian memberikan perintah pada mereka.
"Ampun tuan, maafkan saya tuan. Ampun jangan lakukan itu, saya mohon tuan. Saya akan masak tuan, lepaskan saya tuan" ucap Anne yang sedikit ketakutan dengan harimau yang ada di dalam kandang tersebut.
Brian tersenyum sinis melihat penderitaan Anne di dalam kandang harimau, tapi di sisi lain dia tidak tega dengannya. Ada rasa yang aneh terjadi di dalam hatinya, merasakan sesuatu sakit yang di alami oleh Anne.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan aku, melihat dia menderita seperti ini kenapa aku harus ikut sedih dan sakit. Gadis ini sebenarnya siapa?. Aku belum tahu siapa nama ayahnya dan juga ibu kandungnya.
"Oden. Segera lepaskan dia".
"Tuan, ini data yang anda minta kemarin. Sudah siap saya selesaikan, oh ya semoga tuan tidak terkejut dengan isi data di dalam dokumen itu" kata Oden membuat Brian penasaran dengan isi berkas dokumen.
Bersambung