MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Terbongkar


Visual Sania umur 23 tahun



Meraba di sekitar tubuh yang di tembak menemukan keluar darah, alangkah terkejut lagi Brian langsung menembak Sania dan berkata " Brian! kamu?" ucap Sania terbelalak melihat Brian yang lebih kejam darinya, melepaskan tarikan rambut Anne hingga tergeletak duduk di tanah. Dengan cepat Anne pergi darinya lalu kembali di tempat mobil Jovi.


Tidak ada kata menyerah bagi Sania yang terus berusaha bangkit berdiri lagi, Brian tak sungkan lagi menembak Sania dengan dua kali tembakan.


Dorrrr


Dorrrr


(menembus ke dalam perut)


"Ha? Bukannya itu Anne dan Brian, jadi ini permasalahan ada hubungan dengan mereka berdua. Kesempatan aku bisa bertemu dengan Anne lalu membahas tentang oma, tapi tunggu... bagaimana dengan Hanni" ucapnya tidak jadi menemui Anne yang masih berdiri diam membisu melihat aksi Brian menembak Sania.


Menghampiri Anne yang masih bengong dan menatap langkah Brian yang datang padanya "Kamu tidak apakan?" tanya Brian memegang bahu menyadarkan Anne yang terlihat diam.


"Untuk apa kamu kesini Brian!" mundur Anne ke langkah yang tidak mau di sentuh oleh Brian.


"Aku ingin menjemput kamu, papa sangat khawatir dengan kamu jadi aku mencari sampai kesini" jelas brian membuat Anne ingin semakin jauhi dirinya.


Para anak buah Sania merasa ketakutan karena nyonya mereka sudah di tembak oleh pria asing yang entah dari mana datang "Gawat nona kita!" kata mereka.


"Bagaimana ini, cepat lawan mereka. Kita tidak boleh mundur itu sama saja kita semua sudah mengecewakan nyonya kita, cepat kita berantas mereka" tanpa menunggu penyetujuan dari Sania sekelompok anak buah mengeluarkan peluru satu-persatu sehingga amarah Brian terpancing maka keluar lah anak buah mafia.


"Brian. Sejak kapan kau membuat mafia seperti ini, jangan-jangan kamu..." ucap Jovi terlihat terkejut dengan aksi yang di lakukan Brian.


"Jadi ini alasan kamu meninggalkan aku waktu dulu, tujuan apa kamu bergabung lalu membuat sebuah tim mafia" ujar Anne.


"Apapun yang terjadi denganku tidak ada hubungan dengan kamu Anne, di dalam kontrak pernikahan sudah dibahaskan untuk tidak bertanya masalah pribadi pemilik kontrak tersebut. Apa kamu kurang paham Anne, setidaknya aku masih peduli dengan kamu. Sekarang ikut aku pulang atau aku akan mengatakan pada papa kalau kamu sudah menjadi istri yang durhaka oada suaminya, masalah bayi di dalam kandungan aku akan bertanggung jawab" maju langkah depan terus memegang tangan Anne menyuruh masuk ke dalam mobil.


"Anne!!!" panggil Jovi tapi sayang di cegah oleh Brian.


"Anne istri saya, tidak perlu kamu ikut campur lagi. Lebih baik jangan pernah mengganggu rumah tangga kami atau reputasi kamu semakin saya hancurkan" ancam Brian karena terlalu cemburu pada pria yang selalu berusaha merebutkan wanita di dalam hidupnya.


Benar saja ia ingat pada adiknya Zeline, tidak mungkin ia lakukan hal tersebut demi wanita yang sudah menikah. Hati Jovi sangat terpukul mengingat penyesalan yang datang tiba-tiba, itulah cinta dalam setiap hubungan dan sebuah penyesalan akan datang pada waktu akhir.


"Baiklah, aku tidak menganggu ketenangan hidup kalian berdua. Tapi jika Anne selalu kamu sakitin maka aku tidak segan merebut kembali darimu" berbalik mengancam Brian.


Jovi tidak memikirkan setiap perkataan yang di ucapkan mengatakan Brian adalah pria baji-ngan malah sebaliknya dirinya adalah pria yang berganti pasangan demi karir. Tidak tau kemana lagi Jovi pergi, karir sudah di hancurkan oleh Brian dan di setiap semua kota sudah di blacklist namanya tersebut.


"Kau tak apa Jov, bagaimana keadaanmu?" tanya Vino tiba datang menghampirinya.


Kin juga merasa risih dengan keberadaan Brian, memang terkenal manusia yang paling kejam di kota ini tapi setidaknya seorang polisi tidak mudah takut pada orang seperti Brian. Kin pun mengatakan. " Kamu adalah mantan Anne saudaraku!".


"Kamu siapanya Anne?" terlihat bingung apa yang di dengar barusan.


"Aku dan dia adalah saudara sepupu, selama ini saya diam terhadap kamu Jovi. Anne sudah menikah kenapa masih ingin dekat dengannya lagi" Ucap Kin membuat Jovi terdiam, sosok atasan temannya sendiri adalah sepupu Anne dimana Vino adalah suami adiknya Zeline.


"Aku ingin pulang Vin, urusan aku sudah selesai" kata Jovi segera meningkatkan tempat itu dengan cepat, masuk ke dalam mobil dan Vino masih terlihat bingung dengan tingkah Jovi.


"Tuan, kenapa dengan teman saya?".


"Bukan urusan kamu" ujar Kin dengan nada acuh tak acuh.


Sebuah pertarungan antara anak buah Sania dengan Para mafia Brian yang lain, terlihat Sania mulai lemah tidak ada daya untuk bangkir lagi.


"Jika kamu ingin hidup maka jangan pernah mengganggu ketenangan saya, dengarkan baik-baik Sania... Dulu saat kamu melenyapkan ibu Anne aku melihat dengan kepala mataku sendiri. Memang aku tidak buru-buru dalam mengatasi setiap masalah terjadi, aku diam bukan berarti tidak melakukan apaapa Sania" bisiknya Brian ke telinga Sania.


"Kamu... bagaimana bisa tahu?" ucap Sania terlihat seperti orang ketakutan menatap wajah Brian semakin serupa dengan hewan buas yang kehausan.


"Tidak... jangan Brian, jangan lakukan ini pada mereka. Aku yang salah, hukum saja aku" cegah Brian untuk membuat tindakan yang akan membuat keluarga Sania hancur.


"Maaf, sudah terlambat" ucap Brian meninggalkan tempat.


**


Di rumah sedang menantikan kepulangan anak swmaya wayangnya yang tak ada kabar sama sekali, Danial bangun berdiri berbolak-balik sana kemari membuat Aleysia menambah pusing melihat suaminya tidak tetap.


"Papa bisa duduk dengan tenang" ucap Sania.


"Mama pikir papa bisa diam begitu saja sedangkan anak kita tidak tahu kemana pergi saat ini, kalau terjadi kenapa-kenapa pada anak kita bagaimana mah" ujar Danial semakin di buat Aleysia tambah pusing.


"Pah, Brian sedang menjemput Anne. Pasti mereka sedang dalam perjalanan pulang, papa tenang saja" berusaha untuk memberikan ketenangan pada suaminya yang kini masih memikirkan Anne yang belum pulang.


"Kami pulang..."


Tidak terdengar gerakan suara mobil karena sibuk memikirkan Anne, tanpa di sadari Anne dan Brian sudah pulang.


"Brian-Anne kalian dari ma...".


"Kami kelelahan mah-pah, kami ingin tidur" potong pembicaraan Danial yang ingin bertanya keadaan mereka berdua, tidak ada jawaban hanya melangkah ke kamar dan beristirahat.


Pagi pun tiba


Seperti biasanya kehidupan sehari-hari yang di alami oleh kedua pasangan ini, malam ini tidur sekamar hanya tidak ingin tahu oleh orang tua Anne. jam sudah mendekati pukul 08:00, waktunya Danial dan Brian berangkat ke kantor.


Danial lebih duluan berangkat karena masuk jam kerja pukul tujuh lewat, berbeda dengan Brian seorang presdir kapan saja bisa sesuka hati datang ke kantor. Saat ingin berangkat datanglah Jovi pagi buat ke rumah Brian, maka terpasanglah amarah di wajah Brian melihat Jovi datang.


"Ada apa pagi-pagi kau datang, masih belum paham apa yang aku katakan semalam" ujar Brian memalingkan wajah ke arah lain.


"Ada suatu surat yang harus aku berikan pada Anne, kalau kamu tidak paham baca saja sendiri" kata Jovi memberikan amplop kecil diatas meja.


"Surat dari rumah sakit?".


"Kalau begitu aku pamit, semoga kamu bisa menjaga istri dengan baik. Jika tidak...".


"Aku bisa sendiri, silahkan keluar dari rumah saya!!!" usir Brian pada Jovi.


"Oke, semoga berhasil".


Sebagai suami hal apa yang di alami oleh istri sama sekali tidak tahu, sebenarnya Brian merasa malu melihat ada pria lain yang lebih tahu dengan keadaan istrinya. Usai sarapan pagi Brian menghubungi Oden menyiapkan mobil untuk segera berangkat ke kantor.


"Tuan sudah siap" datang Oden memberitahukan kalau mobil sudah siap di depan rumah.


"Surat apa itu?" tanya Anne.


"Istriku tercinta nanti kita bahas masalah amplop ini, aku berangkat ke kantor jangan berbuat macam-macam selama aku tidak ada di samping kamu. Apa kamu paham Sayang" ucap Brian membelai rambut Anne hingga berantakan.


"Aku bukan istri kamu!, suami macam apa kamu membiarkan istrinya dalam bahaya" gerutu Anne yang membuat telinga Brian terganggu.


"Aku tidak mau berdebat jam pagi begini, aku berangkat. Oden bawakan ini" berikan tas pada Oden.


"Baik tuan" mengambil tas yang ada di tangan Brian.


Apa kemauan Brian sebenarnya? dari mana datang banyak orang dari belakang Brian. Anne pun berpikir karena penasaran apa yang di perbuat oleh Brian selama dirinya di tinggalkan, Brian sudah berangkat maka Anne diam mencari apa yang di sembunyikan oleh Brian selama ini.


Bersambung