
Dua hari yang lalu. Jovi mengirimkan sebuah pesan pada Anne untuk bertemu terakhir kalinya, awal niat Jovi bertemu dengan Anne untuk berakting dengan beralasan kalau Anne berselingkuh di belakangnya. Pada kenyataan sebenarnya adalah dia sendiri yang berselingkuh di belakang Anne, namun Anne tidak sadar dengan apa yang di lakukan oleh Jovi.
Mereka bertemu di tempat taman, sisi taman ada sungai dimana mereka duduk selalu berdua saat waktu yang senggang. Jovi melihat kedatangan Anne dari jauh lalu menyapa Anne yang sudah berdiri di depan dia.
"Bagaimana bisa kamu kenal dengan Brian. Dia sahabat aku!, atau jangan-jangan kalian memang sudah memiliki hubungan?" tanya Jovi berpura-pura agar tidak curiga dengan perselingkuhannya.
Anne masih tetap diam....
"Kenapa kamu diam?. jawab apa yang aku tanyakan!" semakin membentak dan meninggi nada suara ia.
"Aku tidak hubungan apapun dengan dia!, dia menginginkan hubungan kita hancur sayang, tolong percaya sama aku" ucapan Anne mencoba menjelaskan semua pada Jovi.
"Lalu?. Bagaimana kamu bisa di kamar dia?. Apa kamu bisa menjawab itu" ucap Jovi menatap ke arah Anne.
Kalau aku bilang yang sebenarnya, kemungkinan aku akan di bunuh oleh tuan Brian. Percuma juga aku jelaskan semua, dia juga sama sekali tidak percaya dengan pasangannya sendiri. Sakit hati aku lebih parah di bandingkan melihat kamu bersama wanita lain Jovi, aku tahu pertemuan ini agar kamu bisa segera putuskan aku dan bisa bersama Clarinta.
"Iya. Kamu benar, aku berselingkuh di belakang kamu. Hubungan kita ini hanya permainan yang aku buat, kalau mau pergi meninggalkan aku?. Itu tidak apa, aku ikhlas" kata Anne berubah tegar di depan Jovi.
"Jadi kamu belum cukup dengan apa yang aku berikan selama ini. Belum cukup?. Kamu benar-benar wanita yang ingin bermateri, dasar wanita murahan" bentak Jovi semakin tinggi dan pura-pura emosi seolah Anne yang bersalah.
Hati Anne menangis, kepada siapa ia harus mengadu. Ayah tidak ada di sisinya, ibu juga bersikap kejam pada dirinya. Tuan Brian membalas dendam atas perbuatan Jovi, hidup yang penuh dengan penderitaan.
Anne tidak berani menghubungi Kyra. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengannya, jangan karena ia orang lain harus kena imbas atas perbuatan ia sendiri. Jovi melihat Anne yang masih diam dan tidak berkata apapun, hal itu membuat Jovi semakin bosan menunggu jawaban dari Anne lalu ia pun meninggalkan Anne sendirian di taman.
"Sudah lah, lebih baik kita 'PUTUS'. Semoga hubungan kamu dengan Brian bahagia selamanya, soal pernikahan aku ucapkan selamat berpisah. Kemungkinan aku bisa membawa kejutan yang lebih bagus" ucap Jovi berlalu pergi keluar dari kamar.
Kamu jahat Jovi!, jelas-jelas kamu yang bermain di belakang aku. Kenapa kamu menuduh aku seperti itu, hiks.... Kenapa?.
Tidak lama kemudian, Rasa nekat Anne ingin mengakhiri hidup muncul. Ia pun pergi ke atas jembatan yang letak dekat dengan taman, Anne berdiri di sisi jembatan lalu membentangkan tangan. Saat melompat tiba-tiba seorang pria menarik Anne dari belakang.
"Wanita bodoh!!. Mau apa kamu?. Semua orang punya masalah tapi tidak seharusnya kamu berbuat seperti ini, apa kamu tidak sayang pada keluarga kamu sendiri" ucap pria yang tidak di kenalinya.
"Aku tidak punya keluarga!, ibuku sudah tiada dan ayah sudah pergi keluar kota. Lalu apa yang aku lakukan sekarang...." teriaknya Anne dengan tangisan yang keras. Dalam hidup memiliki nasib yang malang, ibu yang gila dengan harta dan Brian yang memiliki sifat kejam.
"Dasar wanita stres. Lebih baik kamu pulang, istirahat di rumah bukan melakukan seperti ini" ucap pria itu lagi.
Pria itu tidak terlalu open dengan Anne, ia tidak mau ikut campur dengan urusannya. Pria itu pun meninggalkan Anne dengan menaiki motor yang di kendarai, Anne memanggil taxi untuk pulang ke rumah.
Pagi di Villa
Seorang pria sedang menikmati sarapan pagi bersama wanita yanh sudah tua. Pria itu bernama Kin Dhananjaya Naja, memiliki profesi seperti Brian akan tetapi masih brada posisi di bawah. Kin hidup bersama seorang wanita tua yang sudah cukup lanjut usia, orang tua Kin sedang berada di luar negeri karena tugas mendesak di luar sana.
Saat sarapan pagi....
"Oma, aku sudah siap makan" kata Kin.
"Ini makanan siang jangan lupa kamu bawa. Oh ya kapan kamu membawa seorang wanita di sini, oma tidak sabar melihat kamu menikah sayang" ucap Oma Lena
"Oma....., sampai kapan oma berhenti membahas itu terus, aku ingin fokus kerja dulu oma. Masalah pernikahan nanti saja di pikirkan" ucap Kin mencoba mencari alasan menghindari dari idenya oma.
"Oma ingin sekarang sayang, jangan menunda lagi. Oma tidak suka, berarti kamu tidak sayang sama oma" memanjakan diri di depan Kin, cucu kesayangannya.
"Hufff.... Baik oma, nanti Kin cari. Kin berangkat kerja dulu, bye oma" ucap meninggalkan meja makan.
"Bye sayang oma".
Saat perjalanan tiba-tiba saja tidak sengaja lewat seorang wanita di pinggir jalan. Anne yang baru saja keluar dari mall sebab baru selesai belanja baju untuk keperluan acara, Brian tidak menemani ia belanja karena alasan sibuk dengan pekerjaan kantor.
Kin keluar dari mobil menolong Anne yang sedang terpeleset di jalan. Pada saat itu Anne sedang memakai masker untuk tidak menampakkan diri di dunia luar, bisa saja wanita yang menyukai Brian akan menjambak rambutnya.
"Sorry... Apa kamu tidak apa?. Sini saya bantu" ucap Kin sembari membantu Anne untuk berdiri.
"Tidak usah!, saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong saya, saya permisi dulu." pergi dengan secepat mungkin dari hadapan Kin.
"Eh,,, tunggu?".
Anne langsung pergi dari tempat itu, Kin melihat Anne dari jauh merasa tidak asing dengan wanita yang memakai masker. Kin masuk ke dalam mobil lalu berangkat ke kantor.
Sampai Kin di depan kantor lalu masuk ke ruang ia sendiri, saat sedang mengerjakan sebuah dokumen. Tiba saja di dalam pikiran muncul seorang wanita yang di tabrak tadi, sangat penasaran ingin sekali mengenal wanita itu. Kin memanggil menager untuk segera mencari tahu wanita yang memakai masker tadi pagi.
"Oh ya. Jangan lupa cari data wanita tersebut, selengkapnya dan jangan ada yang tertinggal!" ucap Kin dengan nada lembut.
"Baik Tuan" kata manager. Ia pun undur diri dari hadapan Kin, mengerjakan semua perintah yang di berikan oleh Kin.
Hati Kin mulai berdebar saat ia melihat Anne yang sangat cantik baginya. Ia tidak menduga baru saja membicarakan dengan omanya ternyata benar-benar sudah datang di depan matanya.
Di kamar oma sedang melihat sebuah foto seorang wanita bersama anak pria dia. Sangat sedih sebab telah kehilangan anak perempuan kesayangannya, seandainya mereka merestui pernikahan anak perempuan dia, mungkin sampai sekarang anak perempuan pasti tinggal bersama dengan Thomas.
Oma menangis di dalam kamar menatap foto anak perempuan. berharap bisa bertemu kembali dengan anak perempuan itu.
"Maafkan mama sayang... Dulu mama tidak merestui pernikahan kalian, lalu kalian pergi meninggalkan mama dan meninggalkan semua orang di rumah ini. Maafkan mama nak, sungguh mama merindukan kamu. Kapan kamu kembali nak, mama kangen sekali" ucap sembari memeluk sebuah foto.
Rasa kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah pudar selamanya. Begitu juga dengan keadaan oma yang merindukan anak kesayangan ia, bertahun lama tidak pernah berjumpa. Namun kasih sayang masih sama seperti saat dulu di mana Shofia di dalam kandungan.
Visual oma Aleta Quenby Elvina
Suara telepon berdering...
"Halo mah. Apa kabar?" tanya Thomas pada ibunya.
"Aku kabar baik Thomas. Bagaimana di sana, apa pekerjaan kamu masih banyak?. Kapan kalian pulang, oma rindu" jawab oma.
"Mungkin... Kami akan pulang bulan depan, mama sabar ya, kami pasti akan pulang".
"Jangan berjanji saja, mama sudah lelah mendengar janjimu yang palsu itu". kata oma dengan nada terkekeh.
"Hahahaha.... mama-mama, haha, mama lucu. Mama seperti wanita muda yang masih menagih janji pada seorang pria, apa mama sedang merindukan seseorang" ucap Thomas di seberang sana.
"Mama merindukan kamu sayang, ya sudah bekerja yang giat di sana. Jangan lama pulang, Kin juga merindukan kamu".
"Baik mama. See you mah"
Telepon di tutup. Akhirnya rindu pada anak lakinya sudah terlepaskan. Sudah sekian lamanya tidak melihat keberadaan Thomas, Kin yang sudah dewasa sekarang sudah menjadi seorang ketua di kantor peninggalan suaminya.
Bersambung