MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Dia tidak perawan


"Cepat!!!!".


"Kalian kesana yang sebagian disana, saya tidak mau kalian lalai dengan tugas masing-masing" ucap Kin memberi perintah pada mereka.


"Lapor tuan, sepertinya pelaku penculikan sudah melarikan diri" pernyataan dari salah mereka.


"Kenapa bisa kabur, sejak kapan dia melarikan diri?" tanya Kin.


"Sudah beberapa setengah jam yang lalu tuan" jawabnya.


"Kejar dia sampai dapat, saya tidak mau orang yang bersangkutan kabur begitu saja apalagi ini menyangkut dengan keselamatan Vino".


Semua anak buah Kin dan juga polisi sedang menggeledah tempat lainnya, banyak wanita dan pria pada tempat tersebut. Mereka membuka kamar satu persatu, akhirnya kamar terakhir menemukan seorang wanita yang sedang di ikat atas kasur.


Itu adalah Zeline, ia sedang meneriaki meminta tolong untuk membuka ikatan talinya. Hatinya sangat ketakutan lalu menangis di pangkuan salah satu polisi. Tidak lama kemudia Zeline di bawa ke ruang klinik untuk memberikan obat agar cepat pulih dari racun yang masih di dalam tubuhnya.


"Nona tenanglah, kamu sudah baik dan selamat. Sudah, nona jangan menangis lagi" ucap ketua polisi.


"Aku takut,,, aku ingin pulang. Antarkan aku pulang, aku tidak mau disini" ujar Zeline yang ketakutan semakin membuat ia sampai depresi.


"Sepertinya... nona ini sedang terobsesi atas apa yang di alami beberapa jam yang lalu, racun itu dapat membuat gangguan saraf di kepalanya. Saya harapa jangan menambah rasa ingatan yang waktu lalu, bisa saja ia sampai trauma dan jatuh sakit seperti orang gila" jelasnya dokter yang ada di klinik.


"Tuan, apakah nona ini kami bawa pulangkan?" tanya ketua polisi.


"Pulangkan saja pada kakaknya, saya masih ada urusan lain. Kamu saja yang mengatur itu semua" jawab Kin.


"Baik presdir".


"Mari nona, kita akan pulang ke rumah" ajaknya.


TEMPAT KOLAM


Gawat... Jadi semalam wanita itu, adalah adik mantan dia sendiri. Ya ampun apa yang harus aku lakukan, kalau Cia tahu aku menggauli wanita lain. Bisa-bisa dia tidak akan memaafkan aku lagi, aku harus cari cara. Sepertinya cctv ruangan itu harus aku hapuskan sebelum Cia mencari.


"Kamu kenapa bingung begitu, apa ada masalah dengan foto ini?" tanya Anne.


"Ah tidak apa-apa, sepertinya bukan wanita ini aku perbuat. Sosial media salah menguploadnya, aku yakin pasti itu salah" kata Brian berusaha menutupi kebohongan.


"Lalu, bagaimana Zeline bisa berada di tempat itu, jawab dengan jujur Brian!".


"Aku beneran tidak tahu kenapa Zeline teman kamu itu bisa berada di tempat itu, waktu itu aku sedang mabuk dan aku tidak akan berbuat itu kalau kamu tidak mengizinkan" ucapnya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Brian. Sepertinya kamu berbohong, aku tahu cara sikap kamu berbohong bagaimana. Aku tidak peduli apa masa lalu kita, aku sama sekali tidak mau mengingatnya lagi".


"Ayolah Cia, percayalah... aku tidak melakukan itu" ujar Brian berusaha mengembalikan kepercayaan Anne.


"Aku tidak percaya!!!" ucap Anne dengan emosi.


Brian otomatis langsung diam seperti manusia patung yang tidak bersuara, melihat Anne sudah semakin menghindari dari dirinya.


"Jangan panggil nama aku dengan sebutan Cia, aku sudah bilang berapa kali, jangan panggil aku Cia. Paham!!".


Brian mengangguk apa yang di ucap oleh Anne, para pelayan yang ada di rumah Brian merasa heran. Baru akhir ini melihat tuan muda yang biasanya selalu kejam sekarang seperti budak di depan Anne. Apa racun yang di berikan oleh Anne sampai Brian bisa ketakutan seperti itu.


SAAT MASA KECIL DULU


Waktu jam sekolah sudah selesai, Brian dan Anne sudah di jemput oleh ibu Anne yaitu Shofia. Waktu itu belum terjadi apa-apa dengan mereka, hidup yang damai bersama dua keluarga yang harmonis.


"Brian... aku mau duduk dekat jendela" ucap Cia dengan manis.


"Biarkan sekali aku duduk dekat jendela, masa kamu terus yang duduk disana" ujar Brian dengan kesal.


"Aku perempuan, seharusnya kamu harus mengalah Brian. Kamh laki jahat" ucap Cia yang semakin emosi.


"Kalau suatu saat nanti aku adalah orang yang jahat, apa kamu masih mau berteman dengan aku?" tanya Brian.


Pertanyaan itu membuat Anne terkejut, ia tidak menyangka bahwa Brian menginginkan menjadi orang jahat suatu saat nanti. Shofia mendengar itu juga terkejut melihat anak Pradana lebih memilih arah yang salah, bukan menjadi pria yang baik malah menginginkan menjadi pria yang kejam.


"Kenapa kamu tidak menjawab, apa salah dengan pertanyaan aku?".


"Ah tidak apa-apa, tidak ada yang salah. Terserah kamu saja, itu adalah hidup kamu dan aku tidak bisa melarangnya" ucap Anne berusaha tegar diri melihat Brian tidak seperti awal mereka kenal.


**


"Kenapa melamun?. Apa yang sedang kamu pikirkan" tanya Brian melihat Anne yang bengong sendiri.


"Tidak ada, aku ke kamar dulu" jawab Anne dengan judes.


Anne meninggalkan Brian sendirian di tepi kolam, perasaan Brian akhirnya lega karena Anne tidak mempertanyakan lagi tentang masalah majalah tersebut. Pasti ada orang lain yang melaporkan hal seperti itu di sosial media, Brian pun berpikir siapa lagi yang menganggu ketenangan dirinya.


Di rumah sakit gerakan jari Vino sudah mulai bertanda bahwa sebentar lagi dia akan sadar, Jovi melihat itu sangat senang karena temannya sudah sembuh tapi di hatinya masih ada rasa kehilangan sosok perempuan dalam hidupnya.


Zeline belum sampai di rumah sebab masih dalam perjalanan yang di antarkan oleh para polisi lainnya, ia tertidur di dalam mobil karena pingsan saat di klinik berteriak karena depresi dengan apa yang di alami.


"Sepertinya dia terlalu banyak mengalami penderitaan yang banyak sampai depresi seperti ini, dimana rumahnya?" tanya Kin.


"sepertinya rumahnya alamat ghing pai, nona ini tinggal bersama kakaknya yaitu Jovi" jelas ia pada Kin.


"Jadi dia tinggal dengan kakaknya, lalu kemana orang tua mereka?. Kenapa tidak bersama mereka?" tanya Kin yang penasaran.


"Mereka anak yatim piatu Tuan" jawabnya.


"Begitu ya, baik. Kita antar dia ke sana sekarang" perintah Kin.


Kin terpana melihat kecantikan Zeline yang begitu manis, tanpa sadari ia ingat dengan Vino dan akhirnya lebih untuk tidak jatuh hati pada wanita ini. Sudah sampai di depan rumah, Kin mengetuk pintu lalu di buka oleh pelayan rumah.


Bibi yang lihat majikannya yang sedang pucat pasi di wajah, ada rasa kasihan setelah melihat keadaan majikannya sekarang. Zeline langsung di antarkan ke kamar yang di tuju oleh bibi pada mereka.


"Disini tuan" kata bibi pelayan rumah.


"Terima kasih tuan sudah mengantar nona Zel ke rumah, kakaknya sudah mencarinya kemana-mana bahkan seluruh temannya sudah di tanyakan".


"Sama-sama bi, kalau begitu kami pamit dulu. Kunci pintu rumah dengan baik, kita tidak tahu siapa saja orang-orang yang bertopeng di sekitar kita" ucap Kin kasih saran atau peringatan pada bibi pelayan rumah.


"Sekali lagi terima kasih tuan" ucapnya lagi.


Mereka akhirnya keluar lalu pulang ke rumah, masalah calon tunangan Vino sudah selesai tapi masalah Jovi belum selesai. Lebih baiknya tanya dengan kepala dingin atas apa yang di lakukan pada Anne dulu sejak mereka pacaran, apa penyebab mereka sampai putus seperti itu.


KAMAR PASIEN


Vino sudah sadarkan diri, ia membuka mata perlahan melihat sekeliling dirinya ada Jovi juga ada seorang wanita yang ada di samping Jovi. Ingin bangun tapi sakit di kepala menganggunya untuk bangun dari tempat tidur.


"Vino, jangan banyak bergerak. Lihat keadaan kamu sekarang, kamu baik-baik saja kan sekarang?".


"Bagaimana kepala kamu?. Apa masih terasa sakit yang berat?" tanya Jovi.


"Aku ada dimana?".


"Kamu di rumah sakit sekarang" jawab Jovi.


"Dimana Zel, apa dia baik-baik saja?. Kemana dia!" teriak Vino menanyakan tentang keadaan calon tunangannya sendiri.


"Tenang dulu Vin, kasihan keadaan kamu yang sekarang. Kalau terjadi apa-apa sama kamu lagi bagaimana".


"Aku tidak peduli dengan keadaan aku, dimana Zelin?. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja" Vino memaksa bangun dari tempat tidur melihat sekeliling keberadaan Zeline.


"Apa kamu mencintai adik 'ku Vino, maaf lebih baik aku beritahu kamu sekarang" ucap Jovi dengan pasrah.


"Katakan!!!, apa maksud yang kamu bicarakan".


"Zelin.... dia...".


Clarinta hanya memandang saja obrolan mereka yang tampak serius di ucapkan oleh Jovi, dirinya juga penasaran apa yang di sembunyikan oleh Jovi.


"Zeline sudah tidak perawan lagi!" ucap Jovi dengan pasrah lagi.


Tidak ada emosi dalam tatapan Vino, melainkan tatapan yang bingung dan tidak percaya. Tidak mungkin membatalkan pertunangannya dengan Zeline, ia begitu mencintai adik temannya tapi bagaimana dengan orang tuanya. Apakah Zeline akan di terima?, itulah yang ada di pikiran Vino.


Bersambung