MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Vino kecelakaan


"Cia. Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu Cia?. Maafkan aku selama ini sudah membuat kamu menderita, aku menyesal Cia?" memeluk Anne dengan erat.


"Cia?. Nama aku Anne bukan Cia!" katanya dengan kebingungan.


"ini bacalah baik-baik, Anne Felicia. Ini nama kamu kan sayang?". tanya Brian.


Sayang, dia memanggil aku dengan sebutan sayang. Tidak, aku sudah menderita selama ini. Aku tidak mau maafkan dia, lihatlah bagaimana dia memperlakukan aku selama ini. Lebih baik aku ikut dengan Kin dari pada tinggal bersama dia.


"Maaf, aku tidak bisa tinggal di sini. Aku ikut dengan Kin, aku tidak mengingat siapa kamu. Jadi tolong biarkan aku pergi, lebih baik kita cerai".


Semua adalah kesalahannya seandainya dari awal tahu kalau dia adalah Cia, tentu pastinya tidak akan jadi seperti ini. Namun sayang sekali hati Brian tidak bisa di kendalikan, seorang Mafia rela di tutupi demi mencari keberadaan Cia.


"Apa kamu tahu alasan aku lakukan semua ini, aku rela menutupi asli diri aku sebenarnya hanya untuk mencari keberadaan kamu Cia!" ucap Brian sembari menggenggam tangan Anne.


"Nama aku Anne sekarang bukan Cia, Cia kamu sudah mati dan rasa cinta Cia pada Brian manusia seperti kamu sudah hilang. Itu bukan kesalahan aku, karena memang aku tidak ingat sama sekali tentang masa lalu aku".


Brian sudah kehilangan cara untuk mendapatkan hati Anne lagi, Seharusnya ia sudah membaca dokumen itu dari awal dan sekarang hanya sebuah penyesalan yang ia terima. Anne tidak membuka hati untuknya lagi memilih ikut bersama Kin.


"Anggap saja kita tidak saling kenal, kamu ingin mengancam aku dengan pistol ini. Apakah kamu Brian yang super hero selalu mencintai Cia dengan tulus atau hanya ancaman?".


"Tidak. Aku tidak pernah mengancammu sejak kita masih kecil, tidak ada aku perbuat seperti itu Cia!" jelasnya Brian.


"Lalu apa?. Sekarang aku tahu jalan yang harus di ambil, tinggal di sini seperti neraka bagi 'ku".


"Kalau mau bunuh aku silahkan, aku tidak melarang kamu untuk bunuh aku Brian" ucap Anne.


"Maaf".


Anne masuk ke dalam kamar, membereskan semua baju keperluan ia sendiri. Brian melihat Anne menkemasi barang-barang, ada hati yang hilang darinya. Ingin sekali cegah kepergian Anne, tapi apa daya ia tidak mau mendengarkan perkataan Brian lagi.


"Antar dia selamat sampai ke rumah Kin, jangan lupa bawa juga anak buah yang lain untuk berjaga-jaga".


"Tapi tuan... Tuan tidak apakan, apa tuan...".


"Lebih baik kamu diam sebelum saya pecat kamu Oden" memotong pembicaraan Oden dengan cepat.


"Baik tuan, saya permisi dulu" ucap Oden undur diri dari hadapan Brian.


Di tepi jalan Zeline sedang menyeberang melewati beberapa mobil, tak jauh ada seorang wanita yang sedang menunggu untuk mencelakai Zeline yang sedang berjalan. Clarinta sedang memantau Zeline menyeberang jalan, ia ingin menabrak Zeline sampai mati.


Kalau kamu tidak mau mati lebih baik diam saja kamu, sengaja aku diam selama ini untuk memberikan waktu yang lama. Zeline.... kapan kamu bisa berubah, kakak kamu Jovi lebih mencintai aku dari pada kekasihnya Anne. Bersiap-siap lah kamu Zeline...


Clarinta menancapkan gas mobil melaju dengan kecepatan tinggi, lama-kelamaan mobil Clarinta semakin kencang. Zeline tidak menyadari kalau ada mobil yang ingin menabraknya, tidak seperti yang di bayangkan di saat ingin menabrak Zeline seorang pria menyelamatkan Zeline.


Di saat lampu merah, Vino melihat Zeline menyeberang jalan lalu melihat mobil yang ingin mencelakai calon istrinya. Tentu saja baginya itu hal yang buruk terjadi nantinya pada Zeline, dengan cepat Vino lari untuk menyelamatkan Zeline yang hampir tertabrak.


"Zel,,,, awas".


Druukkkkk


"Sial, siapa pria itu?" ucap Clarinta sembari melarikan diri.


Tubuh tergeletak di jalan, yang tertabrak adalah Vino bukan Zeline.


"Aduh sakit sekali, aw...".


Zeline menoleh ke belakang melihat seorang pria yang sudah tergeletak di jalan. Membalikkan tubuh orang itu dan rupanya adalah Vino, Zeline pun terkejut melihat Vino sudah berdarah di kepalanya.


Memanggil semua orang yang di jalan untuk menyelamatkan Vino yang sudah tidak berdaya lagi. Banyak warga yang datang menolong mereka berdua, mobil ambulan sudah datang dan membawa Vino masuk ke dalam.


"Kak Vin, bangun.... jangan tinggalkan Zel. Bangun kak Vin, bagaimana ini, kak Jovi pasti akan marah sama aku" ucapnya dengan nada ketakutan.


Sampailah mereka di depan rumah sakit, para dokter dan juga suster lainnya datang membawa Vino ke dalam ruang UGD. Zeline menelepon Jovi menyuruh segera datang ke rumah sakit, Jovi yang mendengar itu terkejut dengan keadaan temannya sendiri.


"Dimana kamu sekarang?. Kakak ke sana, jangan kemana-mana dan tetap di sana" kata Jovi seberang sana.


Menelepon Clarinta...


"Halo Sayang, kamu dimana sekarang?" tanya Jovi.


"Aku di apartemen, sedang pertemuan dengan teman. Ada apa nelpon aku?. Apa terjadi sesuatu?" bertanya balik pada Jovi.


"Ya sudah, hati-hati di sana. Jangan lupa makan ya sayang".


"Iya sayang".


Keluar dari rumah langsung naik mobil lalu berangkat ke rumah sakit, ia sangat khawatir dengan keadaan Zeline. Jovi tidak tahu, sebenarnya terjadi kecelakaan itu adalah rencana dari Clarinta. Ia tidak tahu niat Clarinta ingin membunuh adiknya sendiri karena kesal tidak menerima kehadiran dirinya.


Ini balasan untuk kamu Zeline, kamu selamat. Itu bukan berarti aku berhenti menghalangi rencana untuk membunuh kamu Zeline. Jangan senang dulu, ini baru awal permulaan.


Ternyata ada pertemuan dengan anak buah ayah Vanka, mereka sedang telepon bersama. Vanka bekerja sama dengan Clarinta, demi keuntungan yang ingin di dapati adalah dengan cara membunuh Anne, Brian dan Kin. Dengan membunuh mereka, semua harta warisan peninggalan Hadden akan jatuh ke tangan mereka.


"Bagaimana Vanka, tidak mudah untuk menjebak mereka. Kamu tahukan, kalau Brian itu seorang Mafia" jelaskan Clarinta.


"Sebaiknya kamu mencuri hati Brian kembali, cuma itu jalannya. Aku punya ide dimana Anne akan berpisah dengan Brian, oh kalau rencana ini bagaimana?" ucap Vanka memberikan bisikan pada Clarinta.


"Ahhh rencana yang bagus, oke. Kita akan mulai permainan sekarang" menyetujui ide yang di berikan oleh Clarinta.


Di rumah sakit Zeline masih menantikan dokter keluar dari ruangan UGD tersebut, ia sangat khawatir dengan keadaan Vino. Jika terjadi sesuatu pasti orang tua Vino akan minta bertanggung jawab, membuat Zeline banyak berpikiran tentang Vino.


Tiba datang Jovi sudah berdiri di depannya, menatap Zeline adiknya sedang menangis.


"Sudah jangan menangis lagi, Vino tidak apa-apa. Kamu jangan menangis lagi, kita tunggu kabar dari dokter" ucap Jovi memberikan ketenangan pada Zeline.


"Kak, aku takut. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kak Vin, aku tidak mau kakak. Hiks...." menangis Zeline karena ketakutan.


"Zel, sudah jangan menangis. Dokter sudah keluar. Dok, Bagaimana keadaan teman saya?. Baik-baik ajakan?" tanya Jovi dengan penasaran keadaan Vino.


"Butuh waktu dua hari pasien bisa sadar dari kepulihan akibat terbentur kepalanya. Pesien mengalami banyak keluar darah dari kepala, jadi butuh waktu kesembuhan untuk dirinya." jelasnya dokter.


"Kira-kira tidak ada selain itu 'kan dok?" ucap Jovi yang khawatir.


"Kak, bagaimana ini. Kenapa jadi seperti ini, jangan-jangan Clarinta ingin bunuh aku kak, pasti dia kak" ucap Zeline meyakinkan apa di pikirannya.


"Kakak baru saja telepon dengan Clarinta, dia di apartemen sekarang. Bagaimana bisa dia melakukan itu, kamu boleh menghina pacar kakak tapi jangan menuduh seperti ini Zel".


"Kalah begitu saya pamit dulu".


"Iya dok, terima kasih sekali lagi".


"Kakak tidak mau tahu, kalau kamu mengatakan yang tidak lagi tentang pacar kakak. Jangan menghalangi kami untuk menikah" ucap Jovi dengan nada emosi.


Jovi tidak percaya apa yang di katakan Zeline, ia menganggap Zeline hanya membenci Clarinta jadi menuduh kalau Clarinta ingin membunuhnya. Zeline tidak putus asa, ia akan mencari bukti kalau Clarinta bukanlah orang yang baik.


Bersambung