
Lin Fan kemudian memasuki gerbang teleportasi tersebut dan tiba tiba sebuah badai kekacauan benar benar muncul di lorong ruang dan waktu tersebut.
"Huff, untung saja badai ini tidaka separah sewaktu di kehidupanku yang lalu" bathin Lin Fan dan mengeluarkan perisai energi dewa gioknya menyelimuti seluruh tubuhnya agar tidk terbentur oleh badai tersebut.
Lin Fan hanya tetap tenang melewati lorong tersebut dan berusaha melindungi tubuhnya dari badai itu.
Tampak selama berjam jam Lin Fan mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya sehingga membuatnya kelelahan, namun disaat itu juga Lin Fan melihat sebuah cahaya yang merupakan jalan keluar.
Bommm....
Lin Fan terlempar keluar dari gerbang teleportasi tersebut begitu kerasnya, membuat Yun Xue dan Wang Yun serta kedua pengikutnya khawatir karena keadaan Lin Fan.
"Uhuk.., huff kalian tidak perlu khawatir" ucap Lin Fan kemudian mereka semua keluar dari dunia jiwa Lin Fan.
Swosh..
Wang Yun dan Yun Xue memeluk suaminya tersebut dengan raut wajah sedih dan begitu khawatir.
"Kamu jangan memaksakan diri, aku takut kamu kenapa napa" ucap Wang Yun khawatir kepada Lin Fan.
"Benar kata kakak Yun, kami begitu khawatir saat melihatmu melewati badai itu, aku.. aku takut kamu kenapa napa" ucap Yun Xue menangis karena begitu takutnya kehilangan Lin Fan.
"Hahaha, sudah kalian tidak perlu khawatir, aku akan memulihkan diriku sebentar" ucap Lin Fan memulihkan dirinya dan dijaga oleh kedua istrinya.
Setelah beberapa saat hari mulai gelap, mereka kemudian mendirikan sebuah tenda untuk beristirahat malam itu.
"Bai putih apakah ini benua Zhanshi?" ucap Lin Fan penasaran tempat mereka berada di tengah hutan.
"Benar tuan, setelah aku memindai tempat ini, kita berada di benua Zhanshi bagian barat" ucap Lin Bai menjelaskan kepada Lin Fan.
"Baiklah besok kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju ke benua timur" ucap Lin Fan yang mengingat kedua orang tua angkatnya di benua timur serta Ling Mei.
Keesokan harinya, Wang Yun dan Yun Xue kini masuk kedalam dunia jiwa Lin Fan, tetapi Lin Bai dan Lin Long mengikutinya dari luar.
"Kenapa benua ini hanya pemukiman manusia berada di benua timur, apakah kalian bisa menjelaskannya?" tanya Lin Fan penasaran karena benua Zhanshi begitu berbeda dengan benua Tianyun.
"Tuan kami bahkan tidak tau kenapa bisa seperti itu, tetapi yang kami ketahui bahwa di dunia ini begitu banyak benua selain benua tianyun dan benua Zhanshi. Kami pernah menjelajah ke benua lain walaupun itu benua yang sangat kecil tetapi energi alamnya lebih besar" ucap Lin Long menjelaskan keanehan dunia yang mereka tinggali.
"Kalau memang seperti itu, berarti dunia ini sudah diatur?, maksudnya setiap benua yang ada di dunia ini sudah diatur berdasarkan energi alamnya?, apakah mungkin pemilik dunia ini sengaja?" ucap Lin Fan yang baru sedikit menyadari dunia tersebut.
"Tuan, bagaimana jika anda menjadi penguasa dunia ini?, dan menjadikan nama anda adalah kaisar pedang?" ucap Lin Bai menyarankan kepada Lin Fan.
"Kalau begitu, aku harus menjadi pemilik dunia ini?, kemana aku harus mencarinya?, apakah aku harus melakukan perjalanan untuk mengetahui semua isi dunia ini?" ucap Lin Fan kepada mereka semua.
"Tuan menurutku alangkah lebih bagus jika anda menjadi pemilik dunia ini dan mengukir nama anda" ucap Lin Long menyarankan Lin Fan.
"Rencana itu nanti saja, aku harus bertemu dengan orang tua angkatku di kehidupan sebelumnya serta istri ketigaku" ucap Lin Fan yang tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Ling Mei, Feng Cu dan Feng Ying.
Di desa daun tepatnya di rumah orang tua angkat Lin Fan, Feng Ying tiba tiba merasakan sesuatu yang begitu akrab dan detak jantungnya berdebar begitu kencang.
Feng Ying begitu antusias dan matanya berkaca kaca karena perasaan tiba tiba muncul kepada dirinya yang terasa begitu familiar dan akrab.
Mereka berdua pun menghampiri Feng Ying.
"Ibu ada apa?, kenapa tiba tiba ibu manggil dengan nada serius seperti ini?, ada apa bu?" ucap Ling Mei penasaran kepada ibu angkat Lin Fan yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Benar Ying'er, ada apa sebenarnya? kenapa kamu terlihat begitu khawatir?" ucap Feng Cu heran melihat Feng Ying.
Dug....
Detak jantung Ling Mei kemudian berdetak kencang sama seperti yang dirasakan oleh Feng Ying.
"Ibu.... jangan jangan ibu juga merasakannya?!" ucap Ying Mei kemudian matanya berkaca kaca meneteskan air mata.
"Fan'er, aku.. aku yakin dia masih hidup, yaah aku yakin itu!" ucal Feng Ying menangis di pukan Feng Cu.
"Sudah sudah, kalian tidak perlu menangis oke?, jika memang Fan'er masih hidup kita akan menunggunya di rumah" ucap Feng Cu menenangkan hati menantu dan istrinya.
"Yah aku akan menunggu Fan'er pulang!" ucap Feng Ying yang begitu tidak sabar menunggu kedatangan Lin Fan karena merasa yakin Lin Fan akan benar benar datang kepada mereka.
"Ibu.. aku juga merasakan bahwa guru Fan benar benar masih hidup, tetapi aku tidak tau dimana dia berada" ucap Ling Mei yang khawatir tentang keberadaan Lin Fan.
"Jika kamu merasakannya, ayo kita tunggu dia disini, sampai berapa lama pun kita tetap menunggunya disini" ucap Feng Ying yang begitu rindunya kehilangan anak angkat yang mereka sayangi.
Disisi Lain, Lin Fan kini telah berada di benua tengah, tampak dia terlihat begitu tidak sabar untuk menemui seseorang yang dirindukannya.
"Ibu ayah, dan Mei'er tunggu aku" bathin Lin Fan.
Yun Xue dan Wang Yun yang telihat begitu antusias dan penasaran pun juga tidak sabar melihat istri ketiga Lin Fan dan mereka berniat akan keluar jika Lin Fan sudah menjelaskanjya kepada istri ketiganya nanti.
"Adik Xue, kita akan keluar dari dunia jiwa Lin Fan kalau dia sudah menjelaskan kepada dewi phoenix api kalau Lin Fan sudah memiliki istri, kita akan memantau dulu dan melihat apakah dia menerima kita" ucap Wang Yun menjelaskan kepada Yun Xue.
"Siap kakak Yun, aku setuju dengan rencana tersebut" ucap Yun Xue setuju dan juga penasaran tentang dewi phoenix api dan orang tua angkatnya Lin Fan.
Lin Fan kini terbang tanpa henti, akhirnya dia sampai di benua timur, tampak banyak desa desa kecil yang dilaluinya, dia begitu antusias dan tidak sabar lagi melesat ke arah desa daun.
Tidak lama kemudian, Lin Fan akhirnya sampai di desa daun dan menuju ke rumah yang tampak begitu dia kenali.
Mata Lin Fan memerah, dan berjalan menuju ke arah rumah tersebut.
Tok.tok..tok..
"Ibu ayah, aku pulang" ucap Lin Fan membuat Feng Ying tergesa gesa bahkan menangis keluar menyambut Lin Fan.
Pintu pun terbuka, dan betapa terkejutnya Feng Ying melihat seorang pria yang mengenakan topeng yang terlihat familiar.