
Setelah dua kali bertemu dengan pamannya Rindu, Leon bisa menyimpulkan satu hal, bahwa laki-laki yang tidak memiliki anak itu seorang yang materialis Dia sengaja memanfaatkan Rindu untuk mendapatkan uang dan kesenangannya sendiri. Rasanya Leon semakin ingin membawa pergi Rindu dari keluarganya yang malah menyakiti perasaan gadis itu.
“Rindu ‘kan sudah bilang, Paman. Leon itu cuma sopir. Paman jangan berharap lebih dari dia.” Rindu menjawab pertanyaan pamannya dengan cara berbohong, dia tidak ingin pamannya itu memanfaatkan Leon seperti pamannya memanfaatkan Rindu selama ini.
“Oh ya, paman tidak yakin. Lihat wajahnya yang putih bersih, rasa-rasanya tidak cocok jadi orang biasa,” balas paman Rindu yang tidak tahu malu itu.
“Memang kenapa dengan wajah saya, Om? Apa karena saya miskin saya tidak boleh dekat dengan Rindu? Kenapa Om memandang orang lain dari segi materi?” tanya Leon yang kini maju satu langkah di depan Rindu. Dia sama sekali tidak merasa takut atau pun sungkan meski laki-laki di hadapannya itu adalah orang tua dari Rindu.
“Hidup itu perlu uang, tidak mungkin hanya akan makan cinta. Kalau kamu tidak punya uang jangan mendekati Rindu, dia punya banyak utang yang akan buat kamu makin miskin,” jawab paman Rindu blak-blakan.
Leon mengepalkan tangannya, emosinya masih dipendam di dalam dadanya. Sepertinya, aliran darahnya mulai mendidih mendengar penghinaan yang dilontarkan paman Rindu itu. Jika saja dia tidak menghargai Rindu, Leon pasti akan melemparkan uang ke mulut pamannya itu.
“Memang saya akui, saya miskin. Tetapi, saya janji, saya akan membawa Rindu pergi jauh dari paman seperti Anda,” balas Leon dengan tatapan benci pada laki-laki itu.
“Leon, sebaiknya kamu pergi sekarang, aku tidak mau ada keributan,” kata Rindu. Sebenarnya dia tidak tega mengusir Leon begini, tetapi jika terus diladeni pamannya akan semakin menghina harga diri Leon.
“Kamu juga sebaiknya pergi! Tidak ada gunanya kamu tinggal di sini. Kalau bukan karena hutang kamu yang belum lunas itu, paman tidak akan mengizinkan kamu untuk tetap tinggal di sini.”
Mendengar penghinaan itu, hati Leon semakin mengeras. Dia semakin berambisi untuk menyelamatkan Rindu dari pamannya.
“Tapi, Paman–”
“Rindu, hutang kamu sudah lunas, ‘kan? Kemasi barang-barang kamu, ini bagian dari perjanjian kita,” ucap Leon dengan mata memerah menahan amarah. Jika dibiarkan terlalu lama, pasti lahar panas akan keluar dari kepalanya.
Rindu menundukkan kepalanya. Situasi ini membuatnya semakin bingung. Dia memang hanya menumpang di rumah itu, bibinya yang merupakan saudara dari ayahnya juga tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk membelanya. Masih bagus dia diberi tumpangan tempat tinggal selama ini.
“Oh, kamu sudah melunasi hutangnya. Baguslah! Pergi sekalian dari sini!”
“Rindu kemasi barang-barangmu cepat! Aku tunggu di mobil!” Leon berbalik badan lalu meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan.
“Pergi sana!” bentak paman Rindu.
Bulir air mata tiba-tiba keluar dari mata coklat itu. Rindu langsung masuk ke kamarnya dan memberesi barang-barangnya. Tidak lama, bibinya yang baru pulang kerja menemui Rindu yang masih membereskan pakaiannya.
Rindu hanya mengangguk sembari menghapus air matanya.
“Maaf bibi tidak bisa berbuat banyak. Mungkin memang ini saatnya kamu mandiri, bibi dengar hutang di bank sudah lunas.”
Rindu selesai dengan beres-beresnya, dia memeluk bibinya dan berpamitan. Tanpa berlama-lama dia meninggalkan rumah yang sudah seperti neraka itu, lalu berjalan menemui Leon yang sudah menunggunya di mobil.
“Maaf, kamu harus melihat keluargaku yang seperti itu,” ucap Rindu setelah masuk ke mobil Leon.
“Sudahlah! Mereka tidak layak disebut keluarga. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di rumahku sampai kita ke Singapura.”
Leon membawa Rindu ke rumahnya. Saat memasuki rumah orang tua Leon yang seperti istana, gadis itu benar-benar takjub. Pantas saja Leon berani membayarnya mahal, ternyata dia sangat-sangat kaya, bahkan kekayaannya di luar prediksinya saat bersahabat dengan Ellea.
Kehadiran Rindu di rumah Leon, ternyata disambut baik oleh keluarga Leon. Meski begitu, Zayn dan Dera sebagai orang tua Leon tetap mengingatkan mereka untuk menjaga batasan. Bagaimanapun juga, mereka adalah laki-laki dan perempuan yang bisa saja melakukan kesalahan yang berujung dosa.
Rindu diantar oleh Ellea ke kamarnya. Dia sangat bingung saat melewati banyak ruangan di rumah besar itu.
“Kamu sudah tahu kamar Kak Leon, ‘kan?” tanya Ellea setelah mereka sampai di kamar Rindu.
“Iya sih, tapi aku takut kesasar, El,” jawab Rindu yang sedikit bingung karena memang rumah itu sangat besar dan luas. Ada banyak ruangan dan kamar di rumah yang menyatukan tiga bangunan itu.
“Tenang saja, kamu bisa telfon aku atau Kak Leon kalau kesasar. Di sini juga banyak pembantu kalau kamu bingung. Lama-lama juga hafal kok.” Ellea menepuk pundak Rindu sembari tersenyum.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?”
“Aku yakin Kak Leon mulai tertarik sama kamu.”
Pernyataan Ellea membuat pipi Rindu memerah seketika. “Nggak mungkinlah, dia cuma kasihan sama aku, El. Karena sepertinya dia terlalu baik.”
🦄🦄🦄AKu cepetin alurnya gaess, karena sudah mau aku tamatkan ya. Insya Allah hari ini crazy up. Doakan ya semoga kuat otaknya🍭🍭🍭