
Setelah saling jujur dengan perasaan masing-masing, kemarin Xavier mengantar Kiara pulang ke rumahnya. Di sana ia bertemu dan berbincang langsung dengan orang tua kandung Kiara yang baru kali ini ia temui. Secara jujur, dia mengakui perasaannya pada orang tua Kiara bahwa ia mencintai Kiara.
Pagi ini Kiara dikejutkan dengan kedatangan Xavier yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di di hadapannya. Dengan senyum menawan, pria itu berdiri bersandar di mobilnya dan melambaikan tangan. Seketika itu Kiara mematung melihat sosok Xavier yang pagi ini semakin terlihat manis.
Xavier berjalan mendekati Kiara dan menggandeng tangannya. Ia membukakan pintu mobil dan membantu Kiara duduk di kursi depan, samping kemudi. Setelahnya ia memutari mobil dan berjalan masuk ke bagian kemudi.
“Mau langsung ke kantor apa ke rumah Leon dulu?” tanya Xavier setelah menyalakan mesin mobilnya.
Kiara merasa kaku saat ingin menjawab, tapi Xavier terlihat biasa saja. Hingga akhirnya ia berusaha mengendalikan diri dan mencoba biasa saja seperti Xavier.
“Ke kantor langsung boleh deh. Tapi, emangnya kamu enggak apa-apa? Kamu kan CEO juga, Xav. Masa’ mau nganterin pegawai biasa kayak aku gini sih?” Kiara merasa tidak enak karena walau bagaimanapun Xavier adalah saudara Leonel bosnya di kantor. Apa jadinya kalau dia kerja diantar sepupu dari bosnya sendiri?
Xavier mengusap rambut Kiara pelan. Ia tersenyum karena gemas dengan pertanyaan Kiara yang menurut Xavier itu lucu. Sementara itu, Kiara merasa hatinya semakin bergetar dengan perlakuan-perlakuan kecil Xavier itu.
“Tenang aja, kalau ada yang berani ngeledekin kamu, nanti urusannya sama aku,” balas Xavier dengan enteng.
“Bukan masalah itu, Xav tapi–”
“Udahlah. Aku ini pacar kamu. Wajar kalau aku nganterin kamu kerja. Kalau bisa malah mendingan kamu kerja di kantor sama aku saja,” potong Xavier yang tidak mau dibantah.
“Aku udah cukup malu, Xav. Udah dua kali loh aku keluar masuk.”
“Makanya, jadi istriku biar nanti nggak ada yang berani ngomongin kamu di belakang.” Xavier menatap wajah Kiara dengan serius. Lampu merah di persimpangan jalan membuat laju mobil Xavier terhenti. Untuk sejenak, Xavier bisa menikmati wajah cantik Kiara sembari menunggu lampu berubah hijau.
“Memangnya kamu yakin orang tua kamu akan setuju sama aku?” Kiara bertanya balik. Ada banyak keraguan di hatinya yang menjadi benteng penghalang agar dia bisa melangkah serius bersama Xavier.
“Pasti mereka setuju,” jawab Xavier dengan sangat yakin.
Bibir Kiara tiba-tiba cemberut. Dia teringat omongan Leonel kemarin bahwa Xavier sudah dijodohkan dengan seseorang. Mengingat hal itu, wajah Kiara tidak lagi ceria. “Yang dijodohin sama kamu gimana?”
Xavier terbahak-bahak. Dia tidak menyangka Kiara benar-benar termakan oleh omongan Leonel yang mengatakan perjodohannya dengan putri teman Arsen. “Kamu cemburu ya? Aku cuma dikenalin sama dia, bukan mau dijodohin. Leon saja yang berlebihan,”
“Enggak, siapa yang cemburu?” Kiara memalingkan wajahnya dari Xavier, dalam hati ia merasa lega dan bahagia karena Xavier tidak dijodohkan seperti yang dikatakan Leonel kemarin.
Xavier tahu, Kiara sedang cemburu saat ini, karena itulah dia juga merasa sangat bahagia. Dia berjanji akan mentraktir Leon makan siang seminggu ini. Berkat Leonel, ia dan Kiara bisa bersatu kembali.
Lampu telah berubah hijau. Xavier kembali melajukan mobilnya menuju kantor Leonel. Sampai pada akhirnya, mereka tiba di kantor Leonel yang tak kalah megah dari kantor Xavier. Xavier yang memakai setelan jas lengkap, membukakan pintu mobil untuk Kiara. Beberapa karyawan yang melihat mereka pun merasa heran. Siapa wanita itu?
🦄🦄🦄Selamat sore. vote dan komentarnya ramein ya, biar aku up lagi 😂😂🍭🍭🍭