
Kiara menyimpan ponselnya ke dalam tas. Kabar yang Dinda berikan itu sangat mengejutkan untuknya. Kiara pikir, dengan memberitahunya tentang balas sakit hatinya pada Diska, maka Xavier akan membalasnya. Akan tetapi, Xavier justru bertunangan dengan Diska. Entah apa yang sebenarnya Xavier inginkan, Kiara masih belum bisa menebaknya.
Kiara memperhatikan Xavier yang berpegangan pada bagian atas bus. Kiara yakin, Xavier tidak pernah naik bus, tapi demi dirinya Xavier sampai rela naik kendaraan umum begini, meninggalkan mobil mewahnya terparkir di kantor.
Hanya setengah jam naik bus, Kiara akhirnya turun dan diikuti juga oleh Xavier. Laki-laki itu berjalan mengikuti langkah kaki Kiara tanpa berani bertanya atau mengganggunya. Bagi Xavier yang paling penting saat ini adalah mendapatkan informasi tempat tinggal Kiara.
Kiara tiba-tiba berbalik badan dan mengejutkan Xavier. "Bapak mau ke mana sih? Dari tadi ngikutin saya."
Xavier menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Bingung mau menjawab apa, ia akhirnya hanya nyengir kuda.
Kiara menatapnya dengan tajam, lalu berjalan kembali menuju rumah Bibi Mita yang ia tinggali sekarang. Saat sampai di depan rumah Bibi Mita, ponsel Xavier berdering yang membuat kening Xavier berkerut.
Kenapa Diska menelepon disaat begini sih. Apa mereka tidak mencegahnya. Mengganggu saja.
"Ya, halo." Xavier menerima panggilan Diska, membuat Kiara diam karena penasaran.
"Xav, katanya kamu nggak pulang ya, besok, kan, jadwal aku kontrol kehamilan,"tanya Diska.
"Iya, beberapa hari ini aku ada kerjaan di luar kota. Kamu nggak apa-apa kan pergi sendiri? Atau mau nunggu aku pulang?" tanya Xavier. Matanya memperhatikan Kiara yang ia yakini sedang menguping saat ini.
"Ya, kalau kamu lama sih, aku bisa pergi sendiri. Vitamin aku udah habis, aku juga pengen sekalian shoping."
"Iya, nanti aku transfer ya. Ya udah nanti aku telepon lagi, aku masih sibuk."
Entah kenapa hati Kiara merasa sakit dan tidak rela. Ia tahu itu pasti Diska yang meminta uang. Kiara hanya bisa menebak-nebak karena tidak mungkin ia bertanya langsung pada Xavier. Lagi-lagi, ia harus menekan perasaannya. Jangan sampai ia jatuh cinta lagi pada Xavier.
"Oke, aku tunggu Beb, miss you."
Xavier mengakhiri panggilan itu tanpa membalas ungkapan rindu dari Diska. Ia mendekati Kiara yang masih melamun karena mendengar Xavier yang sedang menelepon.
Kiara melepaskan tangan Xavier dari pundaknya. "Xavier, buat apa sih kamu ngikutin aku? Memangnya kamu nggak ada urusan lain?"
"Tidak ada. Urusanku sama kamu belum kelar. Aku sedang berjuang Kiara, tolong jangan buat aku mundur sebelum menang," kata Xavier.
"Terserah. Aku mau istirahat. Silakan pulang!" Kiara langsung meninggalkan Xavier dan berjalan masuk ke rumah Bibi Mita.
Xavier merasa lega, setidaknya sekarang ia tahu di mana temoat tinggal Kiara.
*****
Pagi-pagi sekali Xavier sudah di depan tempat tinggal Kiara. Hujan yang mengguyur pagi itu tak menyulutkan niat Xavier untuk menjemput Kiara.
Xavier terus menunggu sampai akhirnya Kiara keluar dari rumah itu, memakai payung hitam yang seolah menggambarkan kesedihannya.
Xavier berjalan cepat menembus hujan untuk menghampiri Kiara. Lalu, ia menarik wanitanya itu untuk masuk ke mobilnya.
"Hujannya sangat deras, lebih baik naik mobil sama aku," kata Xavier dengan pakaian yang sudah basah terkena hujan.
Dia ini bodoh atau bagaimana sih? Tidak ingin aku hujan-hujanan, tapi dia sendiri basah kuyub?
🦄🦄🦄
Biar nggak makin tegang, kita relaks dulu ya, yang uwu uwuan dulu.. sabar biarkan diska sendirian dulu bentar 😜😜😜
🍭🍭🍭