Kubuat Kau Bertekuk Lutut

Kubuat Kau Bertekuk Lutut
KKBL Bab 73


Leon melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang paling dekat dengan lokasinya saat ini. Melihat wajah Rindu yang pucat pasi itu membuat Leon tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Apa dia tidak makan?


Sepuluh menit perjalanan, rasanya sangat lama bagi Leon. Dengan gelisah dia berkali-kali mengklakson kendaraan di depannya agar memberinya jalan. Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah sakit dengan selamat.


Leon berteriak meminta pertolongan, ia menggendong Rindu keluar dari mobil dan beberapa perawat langsung membantunya. Rindu akhirnya ditangani oleh para medis dan Leon menunggunya dengan khawatir.


Dia hanya berani melihat Rindu dari balik pintu UGD tanpa berani mendekat. Beberapa saat kemudian, Rindu sudah sadarkan diri.


Gadis itu melihat wajah perawat yang akan memberikan infus padanya. “Saya kenapa bisa di sini?” tanyanya yang berusaha bangun meski tubuhnya sangat lemah.


“Istirahat saja! Tubuh kamu sangat lemas karena anemia.” Perawat itu menahan tubuh Rindu agar tidak bangun dari tempat tidur.


“Tidak, Suster. Saya tidak perlu dirawat, saya tidak punya biaya untuk rumah sakit ini.” Rindu tetap menolak dan berusaha lebih keras untuk bisa bangun. Sampai akhirnya, seseorang berhasil menahan gerakannya.


“Aku sudah bayar rumah sakit ini dan semua pengobatanmu. Jadi, tetaplah di sini supaya kamu cepat sembuh!” ucap Leon.


“Ka-kamu. Kenapa kamu ada di sini?” tanya Rindu. Dia tidak tahu jika Leon yang membawanya ke rumah sakit.


“Aku yang bawa kamu ke sini. Kamu tadi pingsan di makam,” jawab Leon yang kini mengambil kursi untuk duduk di samping Rindu.


“Setelah ini kami akan pindahkan ke ruang perawatan,” ucap perawat sebelum meninggalkan Rindu dan Leon.


“Terima kasih, Suster.” Leon memperhatikan wajah Rindu dari dekat, dia merasa prihatin setelah mendengarnya menangis di makam sampai pingsan seperti tadi. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu?


“Kenapa kamu menatapku begitu?” tanya Rindu yang merasa malu karena Leon terus menatapnya tanpa berkedip.


Leon menghela napas berat. “Aku cuma nggak habis pikir. Badan kamu sudah kecil begitu, kenapa kamu nggak makan? Kamu diet?”


Pertanyaan Leon membuat Rindu salah tingkah, dia memang belum makan dari pagi, tapi itu semua bukan karena diet.


“Tidak ada hubungannya dengan kamu. Makasih udah bayar rumah sakit aku, tapi itu nggak perlu. Aku nggak ada uang buat ganti semuanya,” ucap Rindu jujur.


“Aku nggak minta ganti. Bentar lagi Ellea datang bawa makanan,” balas Leon.


“Makasih, tapi kamu nggak perlu repot-repot.”


“Aku masih manusia normal yang punya hati nurani. Kalau untuk hal seperti ini saja aku nggak repot kok.”


Setelah Leon mengatakan itu mendadak suasana menjadi hening. Keduanya sama-sama membisu dan larut dalam pikirannya masing-masing. Leon merasa kasihan pada Rindu, sedangkan Rindu merasa malu pada Leon.


Hingga akhirnya, Rindu dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Leon menemaninya tanpa berani bertanya-tanya lagi. Tak lama Ellea datang bersama Vallen membawa makanan dan buah-buahan untuk Rindu.


“Kurang makan, kata dokter dia belum makan dari pagi,” sahut Leon dengan santai.


“Ish, nyebelin banget.” Ellea mencebik pada saudara kembarnya itu. “Maaf ya, Rindu. Dia memang aneh orangnya.”


“Nggak apa-apa, El. Dia baik kok sudah tolongin aku,” balas Rindu.


“Lagian, kamu ngapain  di makam?” tanya Vallen.


“El, suruh telfon dia telfon keluarganya.” Leon keluar dari ruangan Rindu dan membiarkan gadis itu bersama saudara-saudaranya.


Setelah Leon keluar, Ellea mencoba membujuk Rindu untuk menghubungi keluarganya, tapi gadis itu bersikukuh menolaknya. “Aku sendiri saja nggak apa-apa kok, El. Lagian besok juga aku pasti sudah boleh pulang.”


Ellea dan Vallen tidak bisa memaksa Rindu, mereka pikir mungkin Rindu punya masalah dengan keluarganya.


Setelah Rindu selesai makan, Leon kembali masuk ke ruangan Rindu. Dia terlihat khawatir dengan keadaan gadis itu.


“Dia sudah makan?” tanya Leon pada Vallen yang bersiap untuk pulang.


“Udah kok, kita pulang aja. Dia bilang mau sendiri saja,” jawab Vallen.


“Keluarganya nggak datang?”


“Udah dihubungi.”


“Rindu, kita pulang ya. Kamu nggak apa-apa sendiri?” tanya Ellea yang tidak tega meninggalkan temannya sendiri.


“Nggak apa-apa kok. Makasih ya kalian sudah mau menolong aku.”


“El, kamu pulang sama Valen aja, aku mau tunggu di sini sampai keluarganya Rindu datang,” ucap Leon yang membuat mereka bertiga mengerutkan kening.


“Tapi, Kak–”


“Udah nggak apa-apa. Aku yakin, keluarganya nggak akan ada yang datang. Biar aku yang jagain dia.”


Ellea dan Vallen saling melirik. Dalam hati mereka bertanya-tanya. Kenapa Leon jadi peduli sekali dengan Rindu?


🦄🦄🦄Karena sepertinya kembaran kalian itu sudah mulai tertarik sama Rindu.🍭🍭🍭