Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Kelompok Topeng Darah


Apakah mereka itu ada beberapa orang..? tanya Menteri Acara..


Kemungkinan itu ada..., kata Datuk Rangkayo..


Musuh berada di kegelapan, sedangkan kita berada di tempat terang...ini sangat merugikan kita.., kata Ince Zulfa..


Mm..tuan sekertaris benar..., untuk itu aku sudah mengerahkan orang orang departemen penyelidik untuk memeriksa kejadian ini..kata kepala departemen penyelidik.


Tiba tiba terdengar seruan prajurit..


Jendral Wijaya memohon untuk menghadap...!!


Di izinkan...! timpal Sultan Malik..


Beberapa saat berikutnya,.Jendral Wijaya, Jendral Penjaga Ibukota yang baru beberapa hari ini di angkat oleh Sultan masuk ke aula...


Wijaya,..ada apa...? tanya Sultan Malik..


Lapor Baginda,..! hamba menangkap seorang yang membunuh beberapa anggota asosiasi tungku biru tadi malam..., kata Jendral Wijaya..


Apa..? hm..mereka cukup cerdik..., menyerang acak secara bersamaan...memanfaatkan kelengahan penjagaan kita..., gumam Sultan Malik.


huh..bahkan Asosiasi Tungku Biru pun menjadi sasaran mereka..., ini tidak bisa di biarkan lagi.., kata Menteri Acara menimpali..


Bawa pembunuh itu kemari, aku ingin memeriksanya dan biar semua orang di ruangan ini bisa memeriksanya juga..., seru Sultan Malik..


Seorang pelayan sultan ke luar dan memberi tahu penjaga perintah sultan..


Baik baginda...,! kata penjaga di luar aula..lalu dua dari mereka membawa masuk pembunuh yang sudah di lumpuhkan oleh Jendral Wijaya..


Sesaat berikutnya


Seorang berpakaian hitam di hadapkan ke hadapan sultan dalam keadaan lemas...


Ini pembunuh itu baginda..., kata penjaga sambil terus mengapit pembunuh itu..


Mm..katakan, mengapa kau melakukan ini..?perintah Sultan Malik.


Pembunuh itu hanya diam...ia samasekali tak ingin bicara..


Maaf baginda, sejak semalam hamba mencoba membuatnya bicara tapi dia hanya diam saja seperti ini...


Mana topengnya..? tanya baginda


Ini topeng itu baginda..., jawab Jendral Wijaya smbil menyodorkan sebuah topeng baja berwarna merah gelap..


Topeng itu...ya benar...topeng seperti itu di gunakan oleh orang yang menyerangku tadi malam...


Ya..yang menyerangku juga , tambah Datuk Rajo..


Baginda Sultan Malik menatap tajam pembunuh itu..,


Katakan ada berapa orang kalian..? ucap Sultan Malik dingin..


Pembunuh itu masih juga belum berbicara...


Bukkk...! sebuah tendangan penjaga menghujam punggung pembunuh itu..


Jawab Keparat...!! baginda bertanya padamu..hardik penjaga..


Hehehe..., kalian semua akan mati..hahahaha...kalian semua akan mati dengan kematian tak terduga dan memgenaskan..ahahahahaha...., kata pembunuh itu disertai dengan ancaman dan suara tawa yang keras..


Dukkk...! lagi lagi sebuah tendangan menghujam punggungnya.


Uhuk...!! kali ini ia langsung batuk darah.., yang menedangnya adalah Jendral Wijaya..


Heheh...kalian tak akan bisa mengalahkan kami, kami adalah kelompok 'topeng darah..'.., kata Pembunuh itu lalu tiba tiba mati dengan darah hitam menyembur dari mulutnya...


Kurang ajar, ia bunuh diri.., gerutu Perdana Menteri..


Rupanya ia menyimpan racun di mulutnya..., gumam Datuk Ago..


Hmm...jika seperti ini, selanjutnya kita hanya bisa mengandalkan kekuatan Departemen Penyelidik..., kata Sultan Malik...


Baik baginda, kami akan berusaha keras untuk hal ini..., timpal Kepala Departemen Penyelidik..


Kira kira siapa di balik semua ini..?gumam baginda..


Baginda, siapapun orang di balik ini semua, yang pasti musuh kita berencana menebar ketakutan dalam pihak kita, ini akan melemahkan kita dari dalam..timpal Ince Zulfa..


hampir bersamaan dengan kata kata ince Zulfa,..


Saat itu , dari luar aula terdengar teriakan prajurit jaga,..


Lapor,. Arya Jalu mohon menghadap..


Diijinkan..!! kata baginda sultan.


Arya Jalu dengan cepat memasuki Aula lalu berlutut...


Lapor baginda,..Pasukan Parsi anak buah Pemberontak Makil sebagian terlihat sudah tiba di wilayah Kerajaan Singgalang, mereka berpakaian biasa.., beber Arya Jalu..


Oh..kira kira berapa orang..? tanya Sultan Malik.


Sekitar lima ratus orang baginda..., jawab Arya Jalu..


Baik..amati terus pergerakannya.., seribu lima ratus lainnya harus segera di ketahui di mana keberadaan mereka saat ini.., perintah Sultan Malik pada Arya Jalu..


Baik baginda,.kalau begitu hamba permisi.., timpal Arya Jalu lalu pamit mundur...


Menteri pertahanan, perintahkan Jendral Kasogi mencegat mereka di perbatasan jika mereka ingin memasuki wilayah kita...,.perintah Sultan Malik.


Siap baginda..,!!


jawab Menteri pertahanan lalu segera mengirim surat pada Jendral Kasogi yang sedang memimpin pasukannya berjaga di perbatasan..


Kepala Departemen penyelidik, tugasmu kian berat, berusahalah sebaik mungkin...kata Sultan Malik.


Tentu baginda..., jawab kepala departemen penyelidik bersemangat..


+


Di Sebuah Rumah tua,..


Ayah, aku sudah menangkap beberapa orang dan mengerahkan mereka untuk melakukan pembunuhan..hebat kan..? hehehe..., kata Kisra memuji diri sendiri..


Ya...tapi berhati hatilah..., jika mereka buka mulut kau akan celaka...kata Makil.


Ayah tidak usah khawatir,..aku sudah mengendalikan hati mereka dengan ajian pengendali hati, mereka lebih memilih mati daripada menghianatiku..hehehe..., timpal Kisra sombong.


Wahhh...rupanya kekejaman ibumu sudah kau warisi dengan cukup baik...,kata Makil.


Owh..tentu saja, aku juga mewarisi kelicikan ayah..hahahaha...balas Kisra...


Tok..!! dasar anak kurang ajar...,..!! umpat Makil sembari menjitak kepala anaknya..


Auu....! Sakit lah yah..., ringis Kisra.


Makanya kau jangan tidak sopan padaku.., ngerti!!?kata Makil dengan mata melotot


Ya ..aku mengerti...!!jawab Kisra bersungut.


Eh,. Anakku, sekarang saatnya kita pulang dulu ke Jurang Gunung Tujuh, alu akan mengatur para prajurit yang akan segera tiba, sementara ini biarkan orang orang yang dalam kendalimu itu yang membuat kekacauan untuk sementara..., dua belas hari lagi kita akan datang ke sini membunuhi para petinggi kesultanan ini, hahaha..., kata Makil..


Baiklah ayah..ayo kita pulang..., timpal Kisra..


+


Sementara itu,..


Di perkampungan di tengah hutan...


Perkampungan ini kini di beri nama oleh Eyang Wasis dengan sebutan " Perkampungan Iblis.."


Setelah beberapa hari berlalu sejak mereka kehilangan jejak Sein, dan melaporkan kejadian itu pada Tetua Iblis Biru, mereka terus menunggu dengan sabar akan datangnya perintah selanjutnya..


Hari ini,


Mereka baru saja mendapatkan perintah itu dari Tetua Iblis Biru untuk langsung menyerang ke Hutan Bambu..


Perintah Tetua Iblis Biru, kita harus segera mendapatkan kitab Ganjar Dewa dan Cakram Sudarsana itu..


Ayoo..bunuh semua orang yang ada di sana...., Seru Ki Sura, salah satu petarung perkampungan iblis...


Tidak perlu, ini hanya aku dan Wasis saja yang pergi kesana, kalian tetap di perkampungan ini dulu...putus Ki Bolontio.


Mereka semua akhirnya hanya bisa diam dan menurut...


Wasis, sore nanti kita akan ke hutan bambu...,


Di antara orang orang yang ada di sana, Hanya tiga orang yang perlu kita waspadai, Dewa Sedih, Nenek Serbatahu, dan Si Petarung Gila.., kata Ki Bolontio..


Owh..., Si Petarung gila..? apakah dia sehebat itu..?tanya eyang Wasis.


Ya..dia adalah petarung jalur energi Qi yang sangat kuat...


Tetua Iblis Biru mengatakan agar kita tidak gegabah saat menghadapinya..., kata Ki Bolontio.


Mm..baiklah..., kalau begitu kita perlu membawa tambahan beberapa orang..., timpal Eyang Wasis..


Ya..kau pilihlah beberapa yang sudah berada di Ranah Zirah Emas untuk ikut dengan kita..., putus Ki Bolontio.


Baik..,Ki..., timpal Ki Bolontio lalu bergegas mengumpulkan orang orangnya...


+


Di tempat lain,..


Dalam perjalanan ke Jurang Gunung tujuh, tiga orang petarung cenua congko,..Yang Leiting Yang Siao dan Yang Fei Jin, bertemu dengan ayah dan anak ( Makil dan Kisra)..


Maaf tuan tuan,..


Tuan tuan sepertinya bukan orang asli sini..sapa Kisra...


Oh..iya, kami baru beberapa hari ini tiba di benua ini..,jawab Yang Siao..


Oh..ini daerah terpencil, apa yang tuan cari sampai ke tempat ini..?tanya Kisra lagi.


Hmm..kami tak bisa mengatakannya, itu rahasia kami..., kata Yang Leiting tegas..


Oh..? apa kau pikir kami tak bisa memaksamu mengatakannya?timpal Kisra mulai sedikit emosi.


Heheh...anak muda, kau sungguh tidak sabaran...,aku ingin lihat, apa kemampuanmu sehebay mulutmu..Heheh.. kata Yang Siao terkekeh.


Sabar tuan tuan,..sabar...mohon maaf..kami tidak datang mencari masalah..kami hanya ingin menemui sahabat kami..., kata Yang Leiting menenangkan..


Mm...kalau boleh tahu siapa sahabat yang akan tuan temui di daerah terpencil ini..? tanya Makil.


Tidak mau bentrok yang tidak penting,


Yang Leiting mencoba menakuti mereka dengan nama penguasa Jurang Gunung Tujuh..


Mereka pasti mengenal penguasa Jurang Gunung Tujuh ini.., batin Yang Leiting..


Mm...kami akan ke jurang gunung tujuh mengunjungi Senior Li Puaro.., jawab Yang Leiting kemudian..


Mendengar Yang Leiting menyebut Li Puaro sebagai Senior, Makil sedikit lega,..


Semoga saja bukan musuh.., batin Makil.


Owh...ada hubungan apa tuan bertiga dengan Tuan Li Puaro...? tanya Makil lagi menyelidik.


Oh, itu kami hanya akan mengunjungi nya saja, Tetua Li adalah salah satu kerabat kami.., jawab Yang Leiting


Mm...kami juga akan ke sana..., kata Makil.


Oh?? kebetulan sekali tuan, kami sebenarnya agak bingung dengan jalan menuju kediaman beliau..


apa tuan sudah pernah kesana sebelumnya..?tanya Yang Fei jin.


Ya...aku sering kesana, istri ku juga salah satu murid tuan Li..,jelas Makil.


Kalau begitu bagus sekali, kita bisa bersama sama menemui Tetua Li...


Kalian datang jau jauh ke benua ini pastilah ada sesuatu yang sangat penting..., kata Kisra..


Betul,..Jangan jangan mereka orang suruhan Sekertaris kerajaan Ince Zulfa..., Batin Makil.


Oh..eh..tuan, apakah tuan tuan sebelum kesini tidak ke ibukota dulu..?tanya Makil masih menyelidik..


iya, kami sempat ke ibukota,..rencananya kami akan menangkap seseorang untuk dimintai keterangan..., jelas Yang Leiting mulai terus terang..


Betul,.kami juga ke kediaman Selir Atikah..., ternyata sudah pindah ke jurang gunung tujuh..tambah Yang Siao.


O..?.ada urusan penting dengan selir atikah..? tanya makil.


Sebenarnya kami ke benua ini atas perintah guru kami yang berteman baik dengan paman selir atikah, atas permintaan Selir Atikah untuk membantunya melenyapkan seseorang...,beber Yang Siao.


Oh..rupanya orang orang inilah yang dikatakan Atikah..., batin Makil.


Oh..baiklah baiklah.....kita satu tujuan, sebenarnya aku juga akan menemui selir Atikah...kata Makil penuh arti..


Kalau bagitu mari..kita melanjutkan perjalanan bersama.., timpal Yang Leiting...


Baik tuan tuan..ayo..., kata Makil bersemangat..


Merekapun berjalan dengan cepat menuju jurang gunung tujuh..


+


Di Ruang kerja Sultan Malik,


Ki Tirta Arum yang baru saja tiba, juga terkejut dengan berita pembunuh misterius yang menyerang beberapa petinggi kesultanan..


Namun ia masih harus melaporkan yang di alaminya di hutan bambu, baru kemudian akan membahas masalah pembunuh misterius itu..


Lapor Baginda,..!seru Ki Tirta Arum


Oh, paman Tirta..., iya, bagaimana,.apa paman sudah memberi pelajaran keras pada anak itu..? tanya Sultan Malik


I..ini..., Ki Tirta Arum sedikit gugup..


ada apa paman..?cecar Sultan Malik.


Maaf baginda, saya tidak bisa menjalankan tugas memberi pelajaran keras pada pangeran...?jawab Ki Tirta Arum.


Hah..,? apa yang terjadi...?ucap Sultan Malik kembali bertanya.


baginda, daerah hutan bambu sekarang menjadi daerah tertutup..


Tidak seorang pun yang bisa masuk dan keluar dari hutan itu ...jelas Ki Tirta Arum.


Oh..? ada yang seperti itu..?apa lebih tepatnya yang terjadi di daerah hutan bambu itu paman..? tanya Sultan Malik lagi.


Daerah itu di selimuti kubah energi tak kasat mata.., kekuatan sebesar apapun yang ku kerahkan untuk menembusnya, kekuatan itu akan berbalik menghantamku.., jelas Ki tirta Arum..


Oh? luar biasa, apakah paman mengetahui seberapa besar energi kubah itu..?tanya Sultan Malik dengan cepat..


Apa paman tahu, apa penyebab adanya energi tak kasat mata itu di sana..?tanya Sultan Malik.


Ki Tirta Arum Menggeleng,..


Aku tidak tahu dengan jelas baginda, tapi satu hal yang bisa ku pastikan, seseorang telah dengan sengaja memasang kubah energi tak kasat mata itu di sana..., kata Ki Tirta Arum..


Tapi..., siapa yang sanggup melakukan itu..?tanya Sultan Malik dengan ekspresi sedikit gelisah.


Baginda, Aku rasa aku belum pernah bertemu dengan orang berkampuan seperti ini..jawab Ki Tirta Arum.


Apa ini dilakukan oleh salah satu petarung sepuh yang selalu bersama pangeran..?atau apakah tidak mungkin pangeran sendiri yang melakukannya..? tanya Sultan Malik.


Dewa sedih dan istrinya pun belum sampai ke tingkat itu, aku tahu persis kemampuan dewa sedih dan istrinya itu tuanku,..kekuatannya sedikit berada di bawahku..jelas Ki Tirta Arum.


Apa tidak mungkin ini dilakukan oleh Si Petarung Gila..?kata Sultan malik mengemukakan tebakannya.


Mungkin saja tuanku..., Si Petarung Gila jika kembali pada kemampuannya yang dulu maka itu sangat memungkinkan..., jawab Ki Tirta Arum..


Yahh...sudahlah, kita kesampingkan dulu urusan dengan pangeran,..toh dia tidak begitu mengancam kesultanan ini.., kata Sultan Malik sedikit pasrah.


Betul baginda, saat ini yang perlu kita perhatikan adalah keberadaan Pemberontak Makil dan pasukannya, serta pembunuh misterius itu.., kata Ki Tirta Arum...


Ya..itu juga yang ku pikirkan paman.., timpal Sultan Malik dengan wajah gusar.


Pembunuh yang sempat tertangkap mengancam akan kematian kita semua dan menyebut diri mereka dengan nama ' Kelompok Topeng Darah'..


Oh?? Kelompok Topeng Darah?? sejak lenih dari seratus tahun di dunia persilatan aku baru mendengar mengenai kelompok ini baginda..., kata Ki Tirya Arum berpikir keras.


Ya..beberapa orang juga mengatakan seperti itu,


ini terlalu kebetulan baginda, kabar kedatangan pemberontak Makil dengan adanya serangan pembunuh miaterius serta kemunculan kelompok 'topeng darah ' ini sepertinya cukup berkaitan..., kata Ki Tirta Arum curiga.


+++