Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Persiapan Para Petarung Klan Wong


Huh, ia bisa melakukan semua itu karena para legenda dunia persilatan saat itu sedang menutup diri, dan kita berempat sudah menutup diri di benua ini.., seandainya saat itu ia bertemu dengan kami atau Sepasang Dewa Dewi Pelangi, dewa gadungan itu akan mati tanpa kubur di Benua Congko kita.., umpat leluhur ketiga, Wong Mo,..


Em, adik ketiga betul,..saat itu kita sedang berada di Benua Utara, timpal Wong Mi..


Ya,...sekarang saatnya kita membuat perhitungan dengan dewa gadungan itu,.. tambah Wong Mu.


Baiklah, kita selesaikan dulu masalah Kitab Ganjar Dewa, baru kemudian kita akan membuat perhitungan pada dewa gadungan itu.., tutup Wong Ma.


Salah satu Petarung muda berbakat dari keluarga cabang Klan Wong,. Wong Bao, membuka suara,..


Ke empat Leluhur, ketua klan,..ijinkan saya menghadapi pangeran itu dengan tantangan terbuka,.. usul Wong Bao.


Ya, itu bagus juga, tetapi kabar dari mata mata kita, saat ini pangeran itu sedang terluka parah, dan dilarikan suatu tempat oleh seseorang,.. kata Wong Lee.


Mm...berarti tantangan ini bisa memancing dia atau penolongnya supaya keluar dari persembunyiannya.., para leluhur dan tetua menghadapi perebutan kitab dan cakram sakti itu, biar kami yang mida muda yang membuat perhitungan dengan pangeran itu..., bagai mana ketua..? tambah Wong Bao.


Hahaha....Wong Bao.., kau cukup cerdik,..puji Wong Lee...


Akhirnya mereka pun menyepakati membagi kekuatan, dan Wong Bao akan dijadikan umpan memancing Sein dan Dewa Sedih keluar,..


Selanjutnya Wong Lee memerintahkan seseorang untuk membuat surat tantangan terbuka untuk Sein...


Masih di aula kediaman Klan Wong,..


empat legenda dan Beberapa tetua sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat,.., namun masih ada beberapa orang petarung Klan Wong di aula..


Dua pemuda dari keluarga cabang Klan Wong berbincang serius..


Wong Xin dan Wong Jiu merencanakan untuk mencari keberadaan Sein,..


Mereka berniat untuk mengalahkan Sein agar keluarga cabang mereka memiliki jasa pada Klan, sehingga Keluarga mereka dapat naik status menjadi keluarga dalam,..


dengan menjadi keluarga dalam, maka akan banyak keuntungan yang diperoleh keluarga , mulai dari fasilitas, bisnis, bahkan sumberdaya untuk peningkatan kemampuan beladiri...


Dengan semangat menggebu, kedua pemuda ini memutuskan untuk diam diam melacak keberadaan Sein.


+


Ke esokan harinya,


Ketika hari masih pagi buta,


Kedua pemuda Klan Wong dari Keluarga Cabang, Wong Xin dan Wong Jiu, berjalan dengan sangat cepat menuju pasar Kota Maccini..


Tak butuh waktu lama,


mereka pun tiba di pasar kota,..


Di pasar kota,


Wah, A Xin, lihat kota ini begitu besar dan ramai, walau masih sangat pagi seperti ini...,


Iya, tidak seperti di kota tempatku tinggal, hanya kota kecil.., barang barang di sini sangat lengkap dan bagus bagus,..bahkan mewah,..timpal Wong Xin..


Ya, apalagi jika dibandingkan tempat tinggalku hanya sebuah desa terpencil di benua utara,.. tambah Wong Jiu..


Mereka menikmati pemandangan kota yang begitu semarak,..


hingga matahari mulai meninggi perut mereka mulai lapar...


Eh, aku lapar... ucap Wong Jiu


Iya aku juga,.. timpal Wong Xin.


Ayo Kita sarapan dulu..., ajak Wong Xin.


Saparan di mana kita ? tanya Wong Jiu.


Itu di sana ada kedai bubur..,seru Wong Xin.


Oh iya, ..eh..tapiiii...ehmm..heheh..., timpal Wong Jiu terkekeh malu...


Kenapa...? tanya Wong Xin heran.


Aku, aku tidak punya banyak uang, ayahku hanya membekali untuk perjalanan pergi pulang saja, ..kita kembali dan sarapan di kediaman Klan saja ya,..jawab Wong Jiu dengan wajah merah karena malu...


Ah, itu rupanya,..tenang..kali ini aku yang akan membayarnya.., jawab Wong Xin.


Mm...Terimakasih saudara Xin..


Tidak masalah,...ayo...!! ajak Wong Xin mendahului melangkah ke kedai bubur...


sedangkan Wong Jiu mengikuti dari belakang...,.


Pak, Bubur dua mangkok..! kata Wong Xin pada pak tua penjual bubur..


Oh iya baik tuan muda.., timpal pak tua penjual bubur seraya menyiapkan dua porsi bubur..


Silahkan tuan tuan.., ! ucap pak tua.


Kedua pemuda klan wong ini pun menyantap bubur dengan lahap..


Pak tua, aku ingin bertanya sesuatu apakah boleh..?


Oh tentu tuan muda...,


Mm..apa pak tua pernah mendengar nama Pangeran Sein...?tanya Wong Xin.


Oh, pangeran yang tampan dan baik hati itu ya...? tentu..tentu..hampir semua pedagang di sini mengenalnya..,.kata Pak tua..


Oh..? pangeran itu cukup terkenal rupanya, gumam Wong Xin.


Mm...apakah ia sering le kota ini .?


Ah.hehehe.tidak, cuma pernah kesini tapi bagi warga kota ini, kedatangan pangeran sangat berkesan...


Oh ya..? memangnya apa yang dilakukan pangeran itu..?tanya Wong Jiu ikut berbicara..


.


Tunggu, tuan muda ini berasal dari mana..? mengapa sepertinya tidak begitu mengenal kota ini..? tanya pak tua,,..


Oh..hahahaha.. maaf pak tua kami lupa memperkenalkan diri..,


Aku Wong Xin dan ini saudaraku Wong Jiu, kami dari keluarga cabang Klan Wong, ke sini karena di undang oleh kepala Klan..., jelas Wong Xin.


Oh..? ternyata tuan muda berdua tamu terhormat,...maafkan pak tua ini tuan muda..., kata Pak tua.


Tidak masalah pak tua, bisa tolong dilanjikan menceritakan tentang pangeran itu..?pinta Wong Xin.


Mm...ya, pangeran itu memberi kesan yang sangat baik bagi warga kota ini..,


Asal tuan muda tahu saja, kota ini dikendalikan oleh dua keluarga, yang pertama adalah Keluarga Wong, dan yang kedua adalah keluarga Jalanara..


Karena keluarganya berkuasa, Tuan Muda Jalanara bernama Limanto Jalanara suka berbuat sesuka hati di kota ini, semua orang di tindasnya..


Ia sangat sewenang wenang, banyak warga yang tidak senang padanya, tapi semua orang takut karena keluarganya sangat berkuasa, bahkan di dukung oleh Klan Wong yang begitu kuat...,


Hingga pada hari itu, Pangeran Sein datang ke kota ini, tidak ada yang tahu jika ia adalah seorang pangeran,.


Penpilannya sangat sederhana,


Tuan muda Limanto membuat masalah dengannya, akhirnya ia memberi pelajaran ada Limanto bahkan menghukumnya kerja sosial selama satu bulan.., Pak tua menceritakan kejadian pada waktu itu saat sein berkonflik dengan tuan Limanto Jalanara...


Mm...berarti pangeran itu cukup.baik hati ya..., ucap Wong Xin sinis...


Pak tua itu hanya diam, dan menarik nafas dalam...


Mm..pak tua di kota ini ia tinggal di mana..?apa di rumah tumenggung...?


Saat itu, Pangeran Sein tidak tinggal di penginapan ataupun kediaman tuan tumenggung, pengeran Sein justru tinggal di kedai kopi sebelah ini.., kata Pak tua menunjukkan kedai kopi di samping kedai bubur miliknya..


Hah..?tinggal di kedai teh..?


Iya, itu tuh..bangku panjang itu, di situlah ia setiap malam tidur.., untuk lebih jelas sebaiknya tuan muda berdua menanyakannya pada tuan Tua Wong Fucai..


Tuan Wong Fucai..?


Segera Wong Xin membayar bubur mereka lalu keduanya beringsut ke kedai kopi di sebelahnya...


Melihat ada yang masuk ke kedai kopi miliknya, Wong Fucai menyambut ramah..


Ehehe..silahkan silahkan tuan tuan,...,


mau minum kopi biasa apa kopi campur...?tanya Wong Fucai


Mm..Dua cangkir kopi campur susu..., jawab Wong Xin.


Ah ya...baik tunggu sebentar tuan..., timpal Wong Fucai.


Di sela sela Wong Fucai menyiapkan kopi, Wong Xin membuka pembicaraan..


Maaf tuan, kata pemilik kedai bubur di sebelah, anda dari Klan Wong?tanya Wong Xin.


Mm...betul tuan,..kakak saya tetua ketiga di Klan Wong,..namanya Wong Cai.


Mendengar bahwa Wong Fucai adalah adik seorang tetua Klan, keduanya langsung gugup..


Owh..salam tetua Fu.., ucap keduanya langsung hormat..


Ah, tuan berdua tidak usah sungkan, yang jadi tetua kan kakak saya, bukan saya...hehehe...


Em, apa tuan berdua juga Dari keluarga Wong,..? ucap Wong Fucai.


Betul senior, kami dari keluarga cabang..


Aku Wong Xin dari kota Marina, Benua Utara, dan ini Wong Jiu dari Desa Nambo Benua Utara sama sama masih wilayah Kerajaan Jayanata..jelas Wong Xin.


Ohw, ternyata tamu terhormat Klan Wong..maafkan saya tuan muda.., ucap Wong Fucai menghormat.


Eh..tidak tidak senior,..kami tidak berani..kami hanya anak muda yang di utus keluarga cabang untuk menyatukan kekuatan di Klan Wong Pusat ini.., jelas Wong Xin..


Wong Jiu hanya mendengarkan pembicaraan dengan diam..


Mm...menyatukan kekuatan, kali ini pasti Klan akan mengerahkan kekuatan besar untuk merebut Kitab Ganjar Dewa dan Cakram sakti itu.., timpal Wong Fucai..


Betul senior, Klan akan melakukan itu, dan kami juga akan mencoba melakukan sesuatu yang berarti untuk Klan kita,..membunuh Pangeran Sein.


Apa...?? tuan berdua ingin membunuh pangeran Sein..? hehehe.., tuan tuan sebaiknya jangan gegabah.., pangeran itu sangat sakti..., jelas Wong Fucai...


Oh ya..., tapi kabarnya ia terluka oleh orang yang menyerang kediamannya dan kini tidak ada yang tahu ia berada di mana.., timpal Wong Xin.


Tuan muda, masa depan kalian masih panjang, jangan ambil resiko, pangeran itu benar benar sangat sakti,.., tidak mudah untuk mengalahkan apalagi membunuhnya,..pangeran juga di kelilingi orang orang sakti... kata Wong Fucai memperingatkan...


Senior tenang saja, kami punya caranya, yang penting kami bisa tahu di mana ia bersembunyi..


Yahh, walau saat ini Klan Wong kita sudah membuat surat tantangan untuk pangeran itu, ada Kakak Wong Bao yang akan melayaninya..,


tapi sebelum itu, kami berdua akan membunuh pangeran itu terlebih dahulu.., hehehe,,..beber Wong Xin terkekeh.


Yaaa..baiklah terserah tuan tuan saja, aku sebagai keluarga sudah mencoba menghentikan tuan berdua...Bahkan Wong Liem, tetua kedua Klan kita yang terkenal cerdas dan sakti tidak mampu menang melawan pangeran itu...tapi keputusan sepenuhnya tetap ada pada tuan berdua.., kata Wong Fucai..


Senior Fu tidak usah cemas, kami akan baik baik saja...heheh..., seloroh Wong Xin.


Eh hampir lupa, ini kopinya tuan..., kata Wong Fucai sembari menghidangkan dua cangkir kopi pada kedua tamunya ..


Mm..Terimakasih senior Fu.., ucap keduanya hampir bersamaan, lalu menyeruput kopi mereka..


Setelah puas berbincang merekapun pamit pulang,..


Saat tiba di kediaman Klan Wong, dari arah aula samar samar mereka mendengar laporan mata mata milik klan wong,..


Sst...,! Wong Xin meminta Wong Jiu tidak bersuara, keduanya berusaha mendengar percakapan di dalam aula..


Samar samar terdengar,


Tuan, Pangeran Sein diselamatkan oleh Si Petarung Gila,..


Saat ini berada di daerah Danau Singkarak.., kata mata mata Klan Wong.


Benarkah,..? apakah berita ini seratus persen..?tanya Wong Lee...


Masih belum seratus persen ketua, tapi masih bisa dijadikan petunjuk awal..., timpal sang mata mata..


Mata mata Klan Wong saat ini berada dalam permainan alap alap biru, alap alap biru sengaja membocorkan berita tertentu mengenai Sein untuk memandu situasi..


Berita yang mata mata mereka peroleh seolah olah benar, namun itu semua adalah berita yang sudah di atur oleh kelompok alap alap biru..


Mmm..kalau begitu kita harus mengutus beberapa orang kesana untuk mengukur dalamnya air.., kata Wong Lee


Kita bisa mengutus Wong Bao, Wong Xin dan Wong Jiu kesana, kata salah satu tetua..


Hati hati, Si Petarung Gila adalah pendekar yang sangat kuat .., timpal tetua lainnya...


Leluhur, bagaimana..?tanya Wong Lee meminta pertimbangan..


Panggil A Liem kemari, kita harus tahu persis kekuatan pangeran itu,.. kata Leluhur Wong Ma.


Ya, betul, di antara kita hanya tetua Wong Liem yang tahu kekuatan pangeran itu.., timpal salah satu tetua klan.


Segera hadirkan Wong Liem kesini.., perintah Wong Lee..


Beberapa orang bergegas menuju goa pelatihan untuk memanggil Wong Liem.


Wong Xin dan Wong Jiu saat ini berjalan memasuki aula,..


Dari mana saja kalian..?tanya Wong Lee


Maaf ketua, kami dari pasar, kami mencari berita mengenai pangeran itu,.. jawab Wong Xin terputus.


Haishh...itu Tidak perlu,..beritanya sudah di dapatkan oleh mata mata klan kita..., potong Wong Lee..


A Leee, biarkan A Xin menyelasikan jawabannya dulu..., kata Leluhur Mu.


A Xin lanjutkan,.. ! perintah leluhur Mu.


Emh,..saat di pasar kami berdua bertemu dengan Adik Tetua Ketiga, dari senior Fu menceritakan kekuatan pangeran itu, katanya adu tenaga dalam dengan terus kedua waktu itu, tetua kedua kalah..., kata Wong Xin melanjutkan ceritanya.


Mm...bahkan lebih hebat dari A Liem.., gumam Wong Ma..


Baiklah, Katiga pemuda kita akan di temani oleh Leluhur Wong Mu.., kata leluhur Wong Ma.


Aha..iya begitu sangat bagus...baiklah baiklah,.., diputuskan seperti ini saja,..kata Wong Lee..bersemangat..


Wong Mu, segera bersiap, besok berangkatlah bersama mereka,..kata Wong Ma...


Baik Kakak Ma..., jawab Wong Mu singkat..


Selanjutnya mereka membicarakan cara merebut Cakram Sudarsana dan Kitab Ganjar Dewa dari selir Atikah..


Wong Mo, kau cobalah terobos kediaman selir buangan itu malam ini..., ingat tidak perlu terlalu serius, kali ini hanya untuk mengukur kekuatan saja.., ucap Wong Ma.


Baik Kakak...akan aku lakukan malam ini..., jawab Wong Mo.


Mereka berbincang cukup lama, sampai seorang mata mata datang menghadap,..


Lapor,..!! istana sedang mempersiapkan kekuatan besar, sepertinya sedang bersiap menghadapi perang..., seru mata mata kedua.


Oh iya betul, itu yang belum sempat aku laporkan, ada pergerakan dari kerajaan Samudra Biru,...kata mata mata yang pertama tiba..


Oh. ? apakah negeri ini sedang bersiap untuk perang..? tanya Wong Mi..


Kalau ada perang, pasukan kita yang sudah lama berada di benua inj akan punya kesempatan bagus untuk merebut kekuasaan.., timpal Ketua Klan, Wong Lee...


Mm...jika memang seperti itu, mengapa tidak kita kipasi saja sekalian, biar apinya lebih berkobar.., dengan begitu Klan kita bisa ambil kesempatan.., tambah Leluhur Ma..


Tetua Wong Kin, sesuai keahlianmu, segera persiapkan, atur bagaimana caranya agar kedua kekuatan saling terkam...


Baik, Ketua...,! jawab Wong Kin.


+++