Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Di Jemput Lelaki Bercahaya


Sein Berkelebat dengan kecepatan tinggi ke arah utara Benua Barat,


Sementara itu,


Di kediaman permaisuri,...


Lapor yang mulia..


Tanjung Petir Hitam bersedia mengirim dua orang petarung untuk membantu...! kata Birawa, adik Kenanga, pembantu permaisuri..


Mengapa bukan penguasa Tanjung Petir Hitam Sendiri yang turun tangan..?apa kau tidak menjelaskan padanya,.bahwa lawan kita sangat kuat ..?


Hamba sudah menjelaskannya yang mulia, tapi saat ini penguasa tanjung petir hitam belum bisa meninggalkan perguruannya..., kata Nyonya Kamsina, saat ini gurunya sedang mempersiapkan seorang murid penerus perguruan itu...! jelas Birawa..


Lantas, siapa yang ia utus..., apakah mampu menghadapi kekuatan Sein dan orang orang di sekitarnya...? tanya Permaisuri dengan rasa kurang puas...


Sepertinya penguasa tanjung petir hitam sangat yakin dengan kemampuan ke dua orang ini, yang mulia...


Setahu hamba, penguasa tanjung petir hitam menyebutkan bahwa Mereka adalah orang dari salah satu kuil di Benua Congko..! beber Birawa..


Mm...semoga saja kali ini bisa berhasil..! gumam permaisuri.


Oh ya...kapan kedua orang benua Congko itu akan tiba...? tanya permaisuri.


Kata nenek neraka, penguasa tanjung petir hitam, kemungkinan kedua orang itu akan tiba akhir bulan ini yang mulia..! jawab Birawa..


Baiklah...pergilah ke kediaman Bangsawan Kuraya kakakku.., lihat keadaan Li Poaro, Utari dan Gao Ling... dan secepatnya laporkan padaku...! perintah permaisuri..


Baik yang mulia, hamba permisi..! kata Birawa...


Setelah Birawa pergi, permaisuri manggil pengawal bayangan yang telah mengikuti keluarganya selama puluhan tahun..


Keluarlah...!! perintah permaisuri.


Tapsss...!!


Sesosok berpakaian serba merah menapak di depan permaisuri dan segera berlutut...


Hamba menghadap Yang Mulia...! sapa Hung Ming...


Hung Ming adalah abdi setia keluarga permaisuri dari garis Ibunta, benua Congko...


sebgaimana di ketahui bahwa Permaisuri Atikah adalah anak percampuran keluarga Kerajaan dari benua Congko dan Bangsawan Parsi...


Hung Ming sudah mengikuti keluarga permaisuri sejak kakek buyut permausuri..


Kekek Hung, Apa kau mendengar pembicaraanku tadi dengan jelas...?tanya permaisuri.


Ya yang mulia..., ! jawab Hung Ming.


Bagaimana menurutmu...? tanta permaisuri lagi.


Pengamatan Hamba, pangeran Sein semakin hari semakin kuat, sekarang ini tidak tahu dengan pasti sampai di mana tingkat kekuatannya...


Karena setiap pembunuh yang kita kirim untuk membunuhnya tingaktannya selalu melebihi sebelumnya...! jelas Kakek Hung...


Lantas, apakah kita tidak punya peluang untuk melenyapkannya..?tanya Permaisuri..


Asalkan pengawal misterius di sisi banginda tidak ikut campur, hamba yakin bisa mengatasi pangeran itu...! kata Hung Ming dengan mantap..


Belum waktunya kau bertindak...Kakek Hung, selain kau adalah yang terhebat yang ada di sisiku, kau juga sudah mengikuti keluarga ini dengan sangat lama, ..aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu...kalau keadaan benar benar tidak terpaksa aku tidak mengijinkanmu turun tangan...


Tapi kali ini, jika kedua orang dari kuil benua Congko itu bertarung dengan Sein dan kelompoknya...bantulah mereka bedua diam diam...! kata permaisuri...


Baik yang mulia,..


ingat..hanya dengan cara diam diam...! kata permaisuri memperjelas perintahnya..


Yang mulia tidak perlu kawatir,...,!kata Kakek Hung.


Kakek Hung, bagaimana kabar pergerakan kelompok pangeran celaka itu..? tanya permaisuri..


Sepertinya tidak ada pergerakan, dan kelihatannya mereka masih mengungsi di tiga tempat...! jawab Hing Ming..


Owh...tida tempat..? menarik...!! kata permaisuri bersemangat..


Ya yang mulia, Kantor Ketumenggungan di kota Maccini, Kediaman Sekertaris Kesultanan dan Satu lagi tidak di ketahui...! beber Hung Ming..


Baiklah kek, kau boleh kembali bersembunyi..!


baik..!! jawab kakek Hung lalu menghilang.


*


Masih Di Istana ..


Baginda Sultan, terus meengatur orang orang yang di telah di siapkannya untuk menjalankan rencananya selama ini ..


Bagaimana keadaanya sekarang...!!?tanya Baginda..


Semuanya sudah normal kembali Baginda,..


Sudah tidak ada pergerakan dari orang orang pangeran Sein dan tuan puteri..! semuanya sudah stabil dalam kendali Baginda..!


Klan Wong bagaimana..? tanya baginda lagi.


Mereka telah meminta bantuan pada Tumenggung Morosi untuk melindungi klan mereka, tuanku..!


Mm..baguslah,..


kalau begitu saatnya perhatian kita untuk menemukan Yasmin dan rombongannya...!


Mereka masih berpotensi mengacaukan rencanaku, temukan mereka secepatnya,..! kata Baginda...


Baik Baginda...! kata Jendral Calik..


Sementara itu, di kediaman Ince Zulfa..


Putih, bagaimana keadaanmu...??tanya Ince Zulfa pada adik seperguruannya itu..


Aku sudah baikan kak..!jawab Putih kematian..


Putih kematian harus beristirahat cukup lama setelah mengalami luka yang cukup parah saat menyelidiki kedai timur ibukota..


Ia ketahuan oleh Wanita Pemilik kedai bernama Kamsi..


Dan dengan terpaksa ia harus bertarung melawan wanita itu dan akhirnya ia kalah dengan cukup telak...


Wanita itu benar benar sakti, kak...!


Aku bukan tandingannya...! kata Putih kematian..


Owh...iya...sepertinya ia bukan hanya pemilik kedai timur ibukota itu,


ia pasti ada hubungannya dengan salah satu tokoh dunia persilatan...! timpal Ince Zulfa.


Iya kak...sepertinya wanita ini melatih kekuatan petir...! sengatan petirnya sangat kuat...! jelas Putih Kematian...


Mm...dari luka yang kau derita, aku tahu...kau terluka karena petir hitam..


ia pasti ada hubungannya dengan Perguruan yang sudah lama menutup diri itu..Tanjung Petir Hitam..! kata Ince Zulfa..


Dan masalahnya adalah, baru baru ini aku mendengar kalau wanita gila itu meminta bantuan penguasa tanjung petir hitam untuk melenyapkan anak dan menantuku ..! tambah Ince Zulfa..


Kakak..., berarti keponakan dalam bahaya...orang orang tanjung petir hitam pastinya memiliki kekuatan petarung di atas ranah Legenda Bumi...! ucap Putih kematian dengan perasaan cemas..


Ya...tidak mudah menghadapi kekuatan perguruan itu, jika mereka benar benar ikut campur..!


mungkin wanita yang bernama Kamsi itu saja sudah setingkat dengan guru..., apalagi penguasa tanjung petir hitam yang berjuluk nenek neraka itu...! beber Ince Zulfa.


Hmh....sudahlah, kita tunggu saja,.dan lihat perkembangan..


*


Di hutan Bambu Kuning,


Pagi Hari...


Sein yang sudah tiba di sana untuk memastikan keselamatan kedua istrinya bisa bernafas lega...


Melihat Yasmin dan Mentari baik baik saja bahkan mereka bisa menikmati hidup dengan santai...


Hmm...sepertinya tempat ini cukup baik untuk mengungsi sementara...tetua, bolehkan kami penumpang sementara di sini..?tanya Sein pada Sutan Rajo Bintang.


Ohoho...di sini sama sekali tidak cocok pangeran...! kata Sutan Rajo Bintang...


Sein hanya tersenyum pasrah...


Bukan aku tidak mau menerima rombongan ini..tapi pangeran lihat sendiri..di sini hanya ada satu bilik dan itu pasti tidak nyaman bagi para wanita di dalam..heheh...! jelas Sutan Rajo Bintang..


Mm...betul tetua, harap maafkan saya..! kalau begitu aku akan membawa mereka ke tempat lain..! ucap Sein..


Ah ...pangeran,, itu tidak perlu...


Kalian bisa sementara mengungsi di hutan bambu kuning ini, tapi tidak di pondok ini...! kata Sutan Rajo Bintang..


Jadi...maksud tetua..?tanya Sein bingung..


Mm...ayo ikut aku...!


Kata Sutan Rajo Bintang dan berjalan memutari danau kecil..di ikuti oleh Dewa Sedih, Sein dan Kiyai Malaka serta Begawan Sidik Parasada..


Mereka mengikuti langkah Sutan Rajo Bintang yang terus berjalan di sela sela rimbunnya hutan bambu melintasi bukit kecil..


Selepas bukit kecil, mereka memasuki kawasan rawa rawa...


hati hati, ini lumpur hisap..


Ikuti langkahku dengan tepat, jangan sampai salah pijak...! seru Sutan Rajo Bintang..


Sutan Rajo Bintang, menapak satu persatu beberapa bebatuan yang menonjol di atas permukaan lumpur...


Mereka mengikuti langkah Sutan Rajo Bintang dengan hati hati...


Hup...hup....


hup...


hup...


Kelimanya menapak dengan baik di seberang hamparan lumpur...


Wah...di sini ada bangunan juga..? seru Begawan Sidik Parasada.


Ya..sebenarnya, dulu tempat ini kubuat untuk berlatih agar tidak terganggu..


Di dalam, ada beberapa kamar yang bisa di tempati oleh Tuan Putri Yasmin, Nyonya Mentari dan Nenek Serba Tahu..! ayo masuk..! jelas Sutan Rajo Bintang kemudian melangkah masuk ke pekaranngan...


Di dalam pekarangan, terlihat bunga bunga amarilis berjejer membentuk sebuah formasi...


Ikut aku, hati hati jika terjebak akan sulit untuk keluar...! seru Sutan Rajo Bintang...


Sutan rajo Bintang melangkah dengan mengikuti pola tertentu kemudian sesekali berdiri diam membiarkan pohon pohon umbi amarilis berkelebat di depannya...


Setelah beberapa saat,


Hup....!


Ah...akhirnya kita tiba...!Seru Sutan Rajo Bintang...


Di depan mereka nampak sebuah bangunan berdinding dari tanah liat yang dibakar yang di tata dengan cukup indah..


Inilah tempat pengungsian yang kumaksud...! kata Sutan Rajo Bintang bersemangat..


Hemh....di sini memang akan sulit ditemukan oleh para musuh kita...! kata Kiyai Malaka...


Um....ya...sepertinya jika ada musuh yang berhasil menerobos masuk, energinya sudah akan terkuras setengah sebelum tiba di sini...! tambah Begawan Sidik Parasada...


Sebuah pemikiran yang sangat jenius..., membuat formasi untuk mengurangi kekuatan lawan...! batin Sein..


Maaf tetua, apakah hamparan lumpur di depan sana tadi sudah ada sejak dulu atau baru di buat oleh tetua sendiri...?? tanya Sein pada Sutan Rajo Bintang penasaran..


Mm..? sudah ada sejak dulu pangeran,..setahuku, sejak saat kakek guruku, hamparan lumpur itu sudah ada,..entah sudah berapa lama hamparan lumpur itu ada di situ..! jawab Sutan Rajo Bintang..


Owh...begitu rupanya...! timpal Sein dengan Wajah mengernyit..


Sein diam dan berfikir sejenak...


Sein bertanya seperti itu karena ia sejak tadi mengedarkan kekuatan Spiritualnya..dan menyadari ada sesuatu di bawah lumpur sana...


Pangeran..!! anda baik baik saja..?


tanya Sutan Rajo Bintang.


Oh..aku baik baik saja tetua,..hanya saja aku merasakan ada sesuatu di bawah sana...! kata Sein..


Oh ya...? apa kira kira itu?tanya Kiyai Malaka.


Entah lah, tetua..! tapi samar samar aku merasakan ada energi di bawah sana...


Ohoho..., jangan pernah mencoba memasuki lumpur hisap itu pangeran, belum ada yang berhasil keluar dari sana setelah terhisap ..! kata Sutan Rajo Bintang mencegah..


Mm...baiklah tetua...! kata Sein manggut manggut tapi masih dengan perasan yang mengganjal...


Sein masih penasaran dengan lumpur hisap hitam ini...


Mereka masuk ke kediaman mengikuti langkah sultan rajo bintang..


Setelah beberapa saat melihat lihat kediaman berdinding tanah liat itu merekapun memutuskan akan segera pindah..


Kalau begitu, aku akan menjemput para wanita itu sekarang untuk pindah kemari..! kata Sutan Rajo Bintang..


Mm..tidak perlu merepotkan tetua, biar aku saja yang menjemput mereka tetua, ! Kata sein.


Eh,..?.apakah pangeran Sudah tahu jalannya...? tanya Sutan Rajo Bintang..


Sudah tetua,...! jawab Sein canggung..


Mm baiklah...kalau begitu kami akan menunggu di sini, semoga berhasil pangeran..


Ketika Sein hendak berbalik pergi, sultan rajo bintang mengingatkan..


em...pangeran..! panggil Sutan Rajo Bintang


Ya tetua..! jawab Sein singkat


Jika tersesat di Formasi Bunga Amarilis, segeralah duduk diam dan kerahkan tenaga dalam memanggil,.aku akan segera datang...! kata


Terimakasih tetua...! jawab Sein singkat lalu berkelebat pergi...


Hm..apa tuan yakin pangeran Sein dapat kembali kesini dengan lancar...? Tanya Begawan Sidik Parasada.


Oh..aku tidak begitu yakin...! selama ini belum ada yang dapat menguasai Formasi Batu di lumpur hitam dan Formasi Bunga Amarilis hanya sekali lihat, aku saja menghabiskan sepuluh tahun baru bisa sampai ke sini seorang diri, dan barulah aku bisa membangun kediaman ini...! jawab Sutan Rajo Bintang..


Kita lihat saja nanti, menurut penglihatanku pangeran ini cukup jenius..! kata Kiyai Malaka menimpali.


Setelah beberapa lama,


Hari hampir berganti malam,


Sein sudah tiba kembali bersama nenek serba tahu, Yasmin, Mentari dan Salwa..


Dengan sigap Sein menunjukan langkah seperti yang dilakukan Sutan Rajo Bintang sebelumnya..


Hup....! huh..!


Kita Sampai...!kata Sein dengan puas...


Hah...???.


Ck.ck.ck..!


Wah...pangeran anda benar benar jenius...hanya sekali saja sudah langsung bisa...! Puji Sutan Rajo Bintang...


Heheh, kebetulan saja tetua...! jawab Sein merendah..


Ayo ayo...silahkan masuk...! kata Sutan Rajo Bintang mempersilahkan para wanita masuk..


Di dalam sini ada banyak kamar..., silahkan pilih masing masing...! Kata Sutan Rajo Bintang menunjukkan ruangan ruangan yang berada dalam kediaman itu..


asing masing wanita telah memilih kamar dan beristirahat...


Sedangkan para pria, masih duduk di ruang depan menikmati seduhan teh dari Sutan Rajo Bintang sambil bercengkrama.


Sedangkan Sein, tidak ada yang menyadari sejak menapak keluar dari formasi Bunga Amarilis, Sein kembali ke Rumah bambu, memberi tanda panggilan untuk anggota alap alap biru..


Cukup lama Sein menunggu, baru kemudian ada anggota alap alap biru menghampiri...


Maaf tuan, Hamba alap alap biru nomor dua puluh satu, siap menerima perintah...


Apa ada berita tentang Pemguasa Jurang Gunung Tujuh..? tanya Sein.


Lapor tuanku, Li Poaro berada di kediaman Bangsawan Kuraya..sedang dalam perawatan serius..lukanya sangat parah..! beber Alap Alap Biru nomor dua puluh satu..


Mm..amati terus dan kembali ke sini unyuk melaporkan hasilnya padaku..! perintah Sein..


Bai tuanku,


Satu hal lagi..beritahu anggota yang lain untuk menyampaikan pesan ke para tetua di kantor Ketuemnggungan Kota Maccini...temui karaeng Gantarang dan katakan..." Duduk Diam Laksana Gunung"....!


Baik tuanku hamba permisi...! kata alap alap biru nomor dua puluh satu kemudian beranjak pergi...


Setelah kepergian alap alap biru nomor dua puluh satu, Sein kembali ke hamparan lumpur hisap hitam...


Di tepi hamparan lumpur hisap hitam, Sein mengedarkan kekuatan spiritualnya...


ia penasaran akan kekuatan dari kedalaman lumpur yang ia rasakan,.walau dengan samar...


Saat Sein mencoba memasuki keadaan bawah sadar...


Ia terhenyak, seseorang telah berdiri di tengah hamparan lumpur...


Seseorang dengan aura yang sangat bercahaya...


Hah...? anda...?tanya Sein terbata..


Ya..aku datang lagi...


Anak muda, Sudah waktunya.., aku akan membawamu sekarang....! kata lelaki bercahaya di tengah hamparan lumpur, dengan Senyum mengembang di wajahnya....


Lagi lagi Sein tak dapat bergerak...


Laksana sebongkah patung, ia di bawa oleh lelaki bercahaya menembus hitamnya lumpur...


Saat ini Sein masih dalam keadaan bawah sadar...kekuatan Sein saat ini seharusnya mampu mengimbangi Seorang petarung ranah Legenda Bumi tingkat tujuh.., namun di hadapan lelaki bercahaya ini, ia hanyalah seperti sebongkah patung yang tak berdaya..


+++