
Ke esokan harinya,
Pemakaman Li Puaro di laksanakan,
Li Puaro dimakamkan di pemakaman keluarga Kuraya..secara rahasia.
Adik, apa rencanamu selanjutnya,. tanya Bangsawan Kuraya apada Selir Atikah setelah pulang dari pemakaman Li Puaro..., tanya Bangsawan Kuraya.
Guru memintaku menjadi penguasa Jurang Gunung Tujuh, tentu saja aku akan pindah dan tinggal di sana.., jawab Selir Atikah.
Aku akan melaksanakan pembalasan dendamku dari sana,
Aku mohon kakak merahasiakan ini, jangan ada yang tahu aku pindah ke Jurang Gunung Tujuh.., pinta Selir Atikah.
Adik, kau tenang saja, tidak akan ada yang tahu kau pindah kesana, kecuali orang orang kepercayaanmu saja.., timpal Bangsawan Kuraya,
Baiklah kak, aku pulang dulu, kematian guru, juga jangan sampai tersebar di dunia persilatan.., ucap Selir Atikah.
Baiklah,...sesuai permintaanmu saja..., kata Bangsawan Kuraya.
Setelah Selir Atikah pulang, seluruh pembantu dan pengawal di kediaman Bangsawan Kuraya yang mengetahui kematian Li Puaro segera di eksekusi oleh Bangsawan Kuraya..., orang orang itu seketika mati dengan mata mendelik seolah tak tahu apa penyebab mereka di bunuh...,
Prajurit,....! seru Bangsawan Kuraya,..
Siap tuan besar...!! jawab Prajurit jaga yang tidak tahu kematian Li Puaro, bahkan keberadaannya yang selama ini di rawat di kediaman itu pun para prajurit tak tahu menahu.
Panggil teman temanmu dan bereskan mayat mayat ini..., perintah Bangsawan Kuraya...
I..ini....,..mengapa ada banyak mayat..!!? tanya prajurit pengawal
Tadi ada penjahat menyerang kediaman ini, ..sudah,.. ini semua salah kalian para prajurit jaga...,
tidak usah banyak tanya, segera bereskan mayat mayat ini...!!, kata Bangsawan Kuraya mengulangi perintahnya..
Ba..bbbaaik tuan besar..., jawab Prajurit dengan ketakutan..., lalu segera pergi memanggil beberapa temannya untuk membantu membereskan mayat mayat yang bergelimpangan..
Hugff...untung tuan besar tidak perhitungan pada kami,... kami sudah tidak becus menjaga hari ini..., batin Prajurit.
+
Di kediaman Keluarga Datuk Malingka Alam,
jauh di belakang kediaman,
terdapat goa yang merupakan Makam Leluhur Malingka Alam...
Tuan Besar Keluarga Datuk Malingka Alam sedang berjalan cepat di ikuti seorang wanita dengan aura yang kuat,..
Nona Kenanga, ini tempatnya.., kata Tuan Besar Keluarga Malingka Alam pada Kenanga...
Rupanya Kenanga di perintah oleh Selir Atikah untuk menemui Tuan Han bersama Utari di kediaman Keluarga Malingka Alam..
Mm..Terimakasih tuan besar,.. ucap Kenanga dan langsung masuk ke dalam area makam leluhur..
Area Makam leluhur keluarga Malingka Alam ini berada di dalam sebuah goa, pintu goa hanya dapat di buka oleh tuan besar Malingka Alam.
Daerah makam ini adalah daerah tertutup, bahkan bagi Keluarga Malingka Alam sendiri...
Hanya para tetua dan tuan besar serta tuan muda Keluarga Malingka Alam yang dapat masuk ke daerah ini.., tentu saja harus atas ijin dari tuan besar..
Setelah Kenanga masuk, Tuan Besar Keluarga Malingka Alam segera kembali ke kediaman...
Sedangkan Kenanga terus berjalan menyusuri goa sesuai petunjuk yang di berikan oleh tuan besar Keluarga Malingka Alam..
Penyusuran Kenanga terhenti saat jalan di depannya sudah buntu..,
Hmm..dinding batu., berarti ini merupakan pintu masuk area Kubah Neraka.., batin Kenanga.
Kenanga mencari cari cari tuas pembuka pintu di bagian samping bawah dinding,
setelah beberapa saat mencari akhirnya Kenanga menemukan tuas pembuka pintu itu yang hanya sebesar jari kelingking..
Setelah menekan tuas ke bawah, pintu sedikit bergetar kemudian terbuka sedikit, hanya selebar tubuh satu orang dewasa, namun itu sudah cukup bagi kenanga untuk memasuki areal itu..
Jder..!!!
Beberapa langkah, Saat Kenanga di dalam goa, pintu batu di belakangnya tertutup sendiri..
Kenanga terus melangkah ke dalam, dengan kemampuannya saat ini ia dapat merasakan energi seseorang cukup jauh di depannya...
Beberapa langkah kemudian, Kenanga sudah dapat melihat di depannya ada seorang gadis duduk bersila, memejamkan mata...,
Dan tak jauh dari si gadis, nampak seorang tua yang berbaring santai memejamkan mata di atas dampar kulit harimau..
Aneh, mengapa aku tidak bisa merasakan energi orang tua yang tidur itu..? batin Kenanga.
Menyadari kehadiran orang lain di tempat itu, orang tua itu membuka matanya..
He..? ada siapa..? tanyanya sedikit terkejut..
Emh..maaf Tetua Hung, saya Kenanga pelayan Nyonya Atikah.., jawab Kenanga seraya menjura.
Oh, ternyata kamu Kenanga, aku pikir siapa, timpal orang tua itu yang ternyata adalah Hung Min, pengawal rahasia Selir Atikah.
Ada apa dengan Nyonya, sampai sampai ia menyuruhmu menyusul ke sini..? tanya Hung Min.
Nyonya menyuruh saya ikut berlatih bersama Nona Utari tetua,.. jawab Kenanga..
Owh...? tapi aku merasakan kekuatanmu bahkan sudah melebihi Utari..,
Aku merasakan ada energi Merah Yang dalam tubuhmu, Kau juga murid Li Puaro..? tanya Hung Min.
Betul Tetua Hung, Baru saja tetua Li menurunkan kesaktiannya pada kami berdua.., jawab Kenanga.
Maksudmu, kau dan nyonya..?Tanya Hung Min lagi.
Betul tetua..., jawab Kenanga singkat.
Oh..?? hahaha...setelah sekian lama akhirnya nyonya sudah punya kesaktian yang tinggi.., seru Hung Min tertawa senang.
Teknik menurunkan kesaktian milik Li Puaro itu memang sudah langka,..
Aku sangat ingin mempelajari teknik itu, barangkali suatu saat berguna bagi penerus ilmuku.., batin Hung Min.
Baiklah, Energi Merah Yang dalam dirimu sangatlah kuat, coba peragakan seberapa banyak yang telah kau tahu dari teknik milik tetua Li..., ucap Hung Min..
Segera tanpa menunggu Kenanga mengingat apa yang telah di masukkan Selir Atikah dalam ingatannya, kemudian ia langsung mengerahkan ilmu " Seribu Benang Merah Yang,.."
Ohoho....bahkan " Seribu Benang Merah Yang" pun telah kau kuasai, sungguh luar biasa,.. puji Hung Min.
Seribu Benang Merah Yang, akan menjerat leher, kaki tangan dan tubuh lawan bahkan jika pengerahannya maksimal dapat membentuk jaring yang membungkus tubuh lawan dan memotongnya menjadi bagian bagian kecil..
Setelah selesai dengan Seribu Benang Merah Yang, Kenanga mencoba lagi untuk mengerahkan jurus pedang Kilin Api..
Wah..., jurus Kilin Api, aku pernah melihat Gao Ling memainkannya tapi ini bahkan lebih sempurna dari milik Gao Ling..., heheh..gadis, kau cukup beruntung. ..,
Harus kuakui, daya adaptasimu terhadap kesaktian milik Li Puaro sangat sempurna, .. kata Hung Min lagi memuji.
Baiklah, sekarang kita lihat seberapa besar bakat beladiri yang kau miliki.., ucap Hung Min.
Energi Merah Yang adalah salah satu energi tertinggi yang pernah ada di dunia beladiri..,
Jika di kerahkan maksimal maka hanya ada dua energi lainnya yang dapat mengimbangi nya,.., energi Petir Hitam dan dan Energi Asal Mula..Jelas Hung Min.
O..apakah tetua juga melatih energi merah Yang..? tanya Kenanga..
Tidak, yang aku latih hanyalah energi petir, tapi bukan petir hitam..Hanya Petir Merah.., masih satu tingkat di bawah ketiga energi yang ku katakan tadi..,.jelas Hung Min.
Jadi apakah tetua Li yang terhebat karena ia memiliki Energi Merah Yang..? tanya Kenanga polos.
Seharusnya Ya, jika saja ia memiliki 'Energi Merah Yang' dengan tingkat murni.. saat ini aku lihat energi merah yang milikmu belum murni, itulah mengapa Li Puaro tidak bisa naik ke tingkat selanjutnya..
Seharusnya dengan Energi Merah Yang, Li Puaro bisa mencapai ranah petarung Bintang Alam, atau bahkan Bintang Semesta..., jelas Hung Min.
Mm..berarti untuk bisa meningkat, aku harus memurnikan "Energi Merah Yang" dalan tubuh ku ini ya tetua,.. tanya Kenanga.
Ya, murnikanlah dulu, baru kemudian melatih ilmu dan jurus jurus yang kau peragakan tadi dengan maksimal.., jawab Hung Min.
Aku juga belum tahu pasti, tapi kau bisa memcoba berlatih di Kubah Neraka,.., jawab Hung Min.
Kubah Neraka..? seru Kenanga bertanya.
Ya, itu di sana..., kau bisa masuk sekarang, duduklah di dalam sana, pusatkan pikiranmu dan kerahkan 'Energi Merah Yang' sekuat kemampuanmu.., jelas Hung Min.
Baik tetua, jawab Kenanga lalu memasuki Kubah Neraka..
+
Di kediaman Selir Atikah,..
Selir Atikah mengumpulkan semua orang kepercayaannya, ia telah menjelaskan rencananya sejak siang tadi..
Mereka berencana segera pindah ke Jurang Gunung Tujuh,..
Kita Akan berangkat sebentar saat dini hari,. kita pergi melalui pintu rahasia yang selama ini hanya aku yang tahu..
Apakah kalian sudah Siap..?
ingat harus menyamar..., kata Selir Atikah mengingatkan.
Siap Nyonya, kami juga sudah mempersiapkan penyamaran..
Mm..bagus..,
Kantil..., atur penjagaan di sini agar semakin ketat, biar orang orang mengira aku masih ada di dalam kediaman ini.., setelah itu besok pagi, seperti biasa , melalui pintu depan kamu ke pasar, tapi langsung saja menyusul rombongan..., jelas Selir Atikah..
Baik Nyonya,.., timpal Kantil.
Baiklah, kalian sudah lelah seharian mempersiapkan keberangkatan kita, sekarang istirahatlah, dini hari nanti kita berangkat.., perintah Selir Atikah.
Setelah orang orang nya pergi beristirahat,
Selir Atikah kemudian menulis beberapa surat lalu menyelipkannya di bawah botol kecil di kepala pembaringan,..
Tanpa terasa dini hari pun tiba,
Mereka bergegas memasuki lorong rahasia kediaman Selir yang sejak puluhan tahun lalu sudah di persiapkan oleh Selir Atikah saat masih jadi Permaisuri.
Wah, nyonya, apakah anda sudah tahu hari ini akan terjadi makanya menyiapkan semua ini..?tanya Seorang pelayan.
Mm..tidak, aku hanya menyiapkan langkah cadangan, dan ternyata hari ini bisa berguna..., jawab Selir Atikah..
Hah..? si pelayan hanya bisa berseru bingung
Hehehe, tadinya ini aku siapkan jika ada selir terbuang oleh baginda maka aku berniat menariknya ke pihakku, hitung hitung mereka membalas sakit hati jika di jadikan selir buangan, eh malah justru saya yang jadi selir buangan..., jelas Selir Atikah terkekeh.
Mereka terus menyusuri lorong bawah tanah, hanya Selir Atikah yang tahu arah dan rute dalam lorong ini.., selama puluhan tahun ini ia menyembunyikan keberadaan lorong rahasia ini..
Tak bisa ku banyangkan, orang orang dunia persilatan sibuk berbondong bondong ke istana mencari nyonya, padahal nyonya berada jauh dari ibukota. , nyonya memang cerdik..! puji pelayan.
+
Pagi Hari,
Di luar ibu kota, Ki Blirik dan Jendral Rambun mencari rekan rekan mereka satu persatu,..dua dari tiga jendral Lainnya selain jendral Rambun, yakni Jendral Cataka, Jendral Janu berhasil di ajak untuk bergabung sedangkan yang satu lagi yakni Jendral Kamandaka tidak bersedia lagi berkecimpung di dunia persilatan..
Empat orang berjalan dengan gesit menuju ibukota,
Ke empat orang ini adalah Jendral Besar Blirik, Jendral Rambun, Jendral Catatka dan Jendral Janu..
Mereka semua adalah para jendral petarung yang telah menanam jasa pada Kesultanan Datuk Delapan pada masa lampau..
Saat memasuki gerbang Kota, Jendral Besar Blirik menunjukkan plakat Jendral Besar miliknya pada prajurit jaga, seketika prajurit memberi hormat dan mempersilahkan mereka masuk..
Mereka mencari letak kediaman Selir Buangan,..
Saat mereka melintasi pasar, mereka bertanya pada salah satu pedagang, saat itu nampak seorang wanita yang sedang membeli bahan makanan mendengar pertanyaan Ki Blirik,.
Maaf tuan, kami ingin tahu di mana kediaman Selir Buangan..? tanya Ki Blirik pada pedagang yang sibuk melayani pembeli..
Owh, ..itu tuan, di samping bangunan menara ibu kota,..tunjuk pedagang lalu kembali sibuk melayani pembelinya..
Terimakasih tuan,..kata Ki Blirik lalu bergegas pergi bersama rombongannya..
Kakak, kediaman Nyonya tidak lagi di istana..?tanya Jendral Cataka.
Ceritanya panjang, nanti saja pasti akan ku ceritakan padamu.., jawab Ki Blirik.
Saat mendengar sebutan ' Nyonya ' , dari mulut salah satu orang ini, gadis yang sejak tadi menguping itu pembicaraan itu langsung bergegas mengejar rombongan Ki Blirik..
Hehe.., tidak sulit menemukan kediaman Nyonya, batin Ki Blirik.
Tuan,..tuan,...!! terdengar suara memanggil rombongan Ki Blirik..
Eh, ada wanita cantik yang memanggil kita,.. ! Seru Jendral Janu.
Ke empatnya lantas menghentikan langkah dan menunggu gadis yang memanggil tadi..
Saat gadis itu sudah dekat mereka,
ada apa nona memanggil kami..? tanya Jendral Rambun.
Maaf tuan tuan, tadi saya mendengar tuan mencari kediaman Selir Buangan, apa tuan tuan ini sedang mencari Nyonya Atikah..? tanya Kantil.
Hei, kau menguping pembicaraan kami hah...??!!! hardik Jendral Janu.
Maaf tuan, saya pelayan Nyonya Atikah, saya penasaran saja ada orang yang mencari nyonya saya,.., jelas Kantil.
Oh, rupanya pelayan Nyonya Atikah, kalau begitu antar kami ke kediaman Nyonyamu.., timpal Ki Blirik..
Oh tentu tuan, mari silahkan.. ! ajak Kantil..
Kantil belum mau mengatakan bahwa Selir Atikah sudah meninggalkan kediaman sejak semalam..., ia masih ingin menyelidiki siapa ke empat orang ini, kawan atau lawan...,
Saat hendak masuk ke kediaman, penjaga hendak memeriksa, tapi Jendral Besar Blirik lagi lagi menunjukkan rencananya...
Eh, maaf Jendral Besar.., silahkan Masuk.., seru Penjaga..
Mendengar Penjaga mengatakan bahwa tamu ini adalah Jendral Besar, Kantil sedikit lega,..
Ayo silahkan masuk tuan, Kata Kantil menuntun ke empat tamu menuju ruangan besar di tengah badan rumah...
Silahkan duduk ruan tuan,.. saya ambilkan minum dulu..., kata Kantil lalu masuk ke dalam.
Tak berapa lama, ia keluar membawa nampan berisi sepoci teh dan penganan kecil..
Silahkan tuan tuan, dicicipi..., ucap Kantil menawarkan hidangan.
Ohoho....terimakasih gadis kecil..! kata Jendral Rambun.
Oh ya Maaf, tuan saya tinggal sebentar..., mau kebelakang dulu perut saya mules,.. kata Kantil lalu masuk kembali..
Mm..ya...ya..., ! timpal Jendral Cataka acuh.
Kantil menuju kamar nyonya Atikah, sebenarnya ia bingung mau menceritakan keberadaan Selir Atikah pada ke empat tamunya atau alasan apa yang harus ia buat, lalu sambil berpikir ia berniat membereskan beberapa barang di kepala pembaringan,..
saat itulah ia melihat surat tertindis botol kecil yang semalam di simpan oleh Selir Atikah.
Hah..? ada Surat...!!?? untuk siapa..? batin Kantil lalu membuka lipatan surat,
" Kantil,..! jika situasi tidak memungkinkan bagimu untuk pergi melalui jalur umum dari pasar besok, maka kamu sebaiknya melalui jalur lorong rahasia, panduan dan arahnya aku simpan di kotak bonekamu,..".
Nyonya menyuruhku menyusul melalui terowongan rahasia,...batin Kantil.
Bagaimana dengan keempat orang itu...?
Ah..aku bingung, apa aku membawa mereka saja..., ? ah tapi jangan ah,..nanti nyonya marah, terowongan ini kan rahasia...bahaya kalau ada orang luar yang tahu..,..batin Kantil lagi..
Aduhhh,...Bagaimana ini..!!? Kantil semakin gusar,..
+++