
Di kota Maccini,
Wong Liem telah meninggalkan kediaman yang selama puluhan tahun di tempatinya..
Saat ini, Ia berjalan menuju ibukota,..
Sepanjang perjalanan ia menyadari ada yang membuntutinya..
Mm...mata mata Klan Wong..., heheh...batin Wong Liem sambil terus berjalan.
Saat ini tingkatan Wong Liem hanya tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri,..
Wong Liem membiarkan orang orang menduga duga,.ia tidak begitu perduli dengan semua kejadian di sekitarnya..
Orang orang Klan Wong hanya tahu dan mengira ngira tingkatan Wong Liem berada di ranah Grand Master Abadi Tingkat Tujuh..
Wong Liem terus berjalan dengan santai, ia hanya membawa sebuah butalan kain yang berisi pakaiannya,..
Saat memasuki kota, Wong Liem langsung menuju Asosiasi Tungku Biru,..
tidak banyak yang tahu kalau Asosiasi Tungku Biru adalah milik Sein.., termasuk Klan Wong,..
Kedatangan Wong Liem di sambut hangat oleh Wen, sahabat Sein yang mengurusi Asosiasi..
Ah, paman Liem silahkan masuk..,sambut Wen.
Sesuai yang di atur tuan Sein, paman pergilah ke alamat ini melalui pintu rahasia di belakang.., uacp Wen sembari menyerahkan segulung kain..
Wong Liem membacanya sejenak lalu menghancurkan gulungan itu..
Mm..baiklah tuan Wen, aku akan pergi sekarang, Terimakasih sudah mberitahu pada saya pesan dari pangeran..., kata Wong Liem.
Setelah itu tidak ada yang melihat Wong Liem menyelinap keluar dari pintu rahasia asosiasi, Wong Liem adalah ahli menyamar, ia keluar dari tumpukan bahan obat dan berjalan dengan santai layaknya pekekrja pada asosiasi tungku biru..
Pengintai dari Klan Wong terus memantau asosiasi dari kajuhan,
Mm...senior Liem sudah cukup lama di dalam belum juga keluar, apa yang di belinya...? atau jangan jangan senior Liem tinggal di asosiasi itu..? batin mata mata yang sejak tadi mengintai..
Sampai malam tiba, ia samasekali tak melihat Wong Liem keluar dari asosiasi tungku biru..
Karena merasa bosan, ia manggil temannya dengan teknik rahasia klan wong..
Tak lama berselang seorang berpakaian pedagang ikan datang menghampiri...
A Dang, Ada apa memanggilku.., ?
Owh, A Siu.. kau sudah sampai, .sambut A Dang.
Begini, tadi pagi Aku di tugaskan oleh Ketua Klan untuk membuntuti senior Liem, siang tadi senior Liem masuk ke dalam sana, tapi sejak siang sampai sekarang senior Liem belum juga keluar.., aku takut kalau aku meninggalkan tempat ini lantas senior Liem keluar maka aku akan kehilangan jejak,.. jelas mata mata yang ternyata bernama Wong Dang..
Mm..terus mau kamu apa...? tanya A Sih.
Temani aku, biar aku tidak bosan mengintai di sini.., pinta A Dang.
Mm..baiklah, aku akan menemanimu sampai besok pagi,.. kata A Siu.
Iya kebetulan, kalau aku sendirian, bagaimana mengawasinya kalau aku tiba tiba ingin buang air.., timpal A Dang.
Beberapa saat perbincangan mereka terputus karena pintu asosiasi sudah akan di tutup...
Heh...? sudah mau tutup...!! seru A Siu.
Kemana senior Liem..?? gumam A Dang
Sepertinya kau sudah kehilangan jejak..., kata A Siu.
Gawat....!! ketua bisa menghukumku dengan berat..., gusar A Dang.
Cepat tanya orang yang akan menutup pintu itu.., seru A Siu.
segera keduanya berlari menghampiri penjaga asosiasi yang hendak menutup pintu..
Tunggu tuan..,.tunggu....,! seru A Dang sambil berlari...
Penjaga asosiasi terpaku sejenak dan dengan enggan melayani keduanya..
Ada apa..?tanya penjaga.
Mm..maaf tadi aku melihat ada seorang anggota keluarga ku masuk ke sini tapi sampai sekarang belum juga keluar,..apa ada yang menginap di dalam...?
Tidak ada, ini bukan penginapan...yang menginap di sini hanya petugas jaga,..jelas Penjaga Asosiasi.
Oh..maaf, ucap A Dang kecewa...
Kemana perginya senior Liem,..? apakah ia keluar saat aku lengah.., tapi perasaan aku sama sekali tidak luput mengamati asosiasi itu..ucap A Dang pada A Siu saat berjalan pergi dari depan asosiasi..
Sudah lah, segera laporkan saja bahwa kamu kehilangan jejak senior Liem..saran A Siu.
Mm..ya baiklah..., jawab A Dang dengan enggan..
Entah hukuman apa yang menantiku.., gumam A Dang..
Sementara itu,
Wong Liem sudah jauh meninggalkan ibukota menuju ke utara Benua Barat.
Saat ini perjalanan Wong Lim sudah memasuki kawasan ujung utara, dengan kecepatannya ia akan tibadi tujuannya saat pagi nanti..
Wong Liem melambatkan kecepatan larinya saat ia melihat di depannya ada dua sosok yang juga berkelebat dengan santai..
Menyadari ada orang di belakangnya,.kedua orang di depan Wong Liem berhenti dan berbalik...
Hm..., Putih, orang di belakang kita nampaknya cukup sakti,.., ucap lelaki berjubah hitam pada rekannya yang berjubah putih,..
Kedua orang ini adalah Hitam Putih Kematian, murid Sutan Rajo Bintang.
Hati hati, siapa tau ia adalah salah satu musuh pangeran.., timpal Putih Kematian.
Ehem..., maaf tuan tuan saya permisi lewat, sapa Wong Liem saat akan melewati mereka..
Tunggu,..., ! kalau boleh tahu, tuan ini hendak kemana..?tanya Hitam Kematian.
Aku ingin kerumah teman, di ujung utara,.. jawab Wong Liem.
H...Putih, orang ini akan ke ujung utara, jangan jangan akan mencari masalah pada pangeran.., bisik Hitam Kematian..
Mm..tuan boleh kita berkenalan..,?sepertinya kita satu tujuan..., Ucap putih kematian pada Wong Liem, tanpa menjawab bisikan Hitam kematian.
Oho...tentu saja tuan, aku Wong Liem,..kalau tuan berdua Siapa..?
Kami di juluki Hitam Putih Kematian.., jawab Hitam Kematian,..
Owh, rupanya sepasang pendekar besar, murid Tuan Sutan Rajo Bintang.., kebetulan sekali, aku memang hendak ke pondok bambu..
Ada perlu aka tuan kesana,.. tanya Hitam kematian memasang sikap waspada...,
Ehehe...sabar,.. sabar pendekar,..saya kesana atas perintah tuan pangeran Sein.. kata Wong Liem.
Benarkah..?? timpal hitam kematian.
Kita akan menbuktikannya saat sampai di sana, jika dia berbohong, kita bisa habisi saja dia nanti.., kata Putih Kematian.
Hehe..tuan putih kematian benar..., sesampainya di sana pasti semuanya akan jelas..
M..baiklah tuan..., ayo kita lanjutkan perjalanan..., ajak putih kematian.
Mereka bertiga pun berkelebat memasuki kawasan hutan bambu,
Kawasan hutan ini sangat besar, cukup memakan waktu untuk sampai ke kawasan hutan bambu kuning..
Saat matahari mulai muncul di ufuk, mereka bertiga sudah tiba di kawasan hutan bambu kuning..,
Di ketinggian bukit, terlihat dari kejauhan, hamparan danau yang cukup luas, di mana telihat di tepi nya berdiri dengan apik sebuah pondok terbuat dari bilah bambu..
Beberapa orang terlihat bercengkrama di atas dipan depan pondok..
Salam tuan tuan, sapa ketiganya saat tiba di depan pondok..,
Oh..salam..tuan hitam putih kematian, tuan Liem..., sapa tiga orang yang sedang duduk di atas dipan..
Oh, anggota alap alap biru.., salam.., timpal Hitam Putih kematian.
Dimana guruku..? tanya hitam kematian kemudian.
oh tuan sutan rajo bintang ada bersama para tetua sepuh,.di dalam hutan, mereka sedang melakukan pelatihan atas permintaan tuan pangeran, biasanya siang hari mereka istirahat.., jelas alap alap biru nomor lima..
Owh, ..pangeran ada bersama mereka..?tanya putih kematian.
Pangeran sedang ke Danau Singkarak untuk melawan anggota Klan Wong..
Saat mengucap kata 'Klan Wong' , tiba tiba alap alap biru nomor lima berhenti berbicara kareba menyadari satu hal..
Hitam putih kematian pun juga seperti mengingat sesuatu..
Eh, tuan kan salah satu ketua dari Klan Wong..? tanya alap alap biru kemudian pada Wong Liem.
Wng Liem menyadari ke terkejutan mereka,..
Tuan tuan Jangan salah sangka, aku adalah sahabat pangeran Sein.., saat ini aku bukan pagi anggota Klan Wong, mereka telah mengeluarkan aku dari Klan Wong, Wong Liem menceritakan dengan lengkap apa yang terjadi padanya sebelum menuju ke pondok bambu ini..
Owh, baguslah..., kalau begitu tuan Liem menetap di sini saja dulu.., timpal putih kematian.
Ya..Terimakasih..aku memang berencana bergabung mengikuti pangeran.., balas wong Liem.
+
Di danau Singkarak, Sein dan Karaeng Gantarang sudah duduk dengan santai memancing di tepi danau,..
Sementara Prabakara mengumpulkan kayu bakar untuk memanggang ikan...
Eh, pangeran, apa mereka benar benar akan datang kemari..? tanya Karaeng Gantarang
Sepertinya kemungkinan besar meraka akan datang..,jawab Sein.
Sebenarnya ini sengaja aku lakukan untuk mengukur dalamnya air,...ucap Sein tenang.
Maksud pangeran? tanya karaeng Gantarang lagi.
Ya..kita sudah sering mendengar kehebatan empat leluhur klan wong,..aku tidak berani gegabah,..jadi aku meminta alap alap biru untuk mengatur berjumpa dengan mereka hari ini...hehehe..jawab Sein terkekeh.
Bahkan ini juga ada dalam rencana pangeran..? ucap karaeng Gantarang takjub.
hehe...bukan ini saja, sebentar lagi akan ada beberapa tambahan lainnya yang akan ke sini.., jawab Sein.
Mereka berdua terus berbincang sambil menunggu pancing mereka berhasil memikat ikan ikan yang ada dalam danau..
Beberapa saat kemudian,
Prabakara sudah datang membawa kayu bakar dan langsung menyusunnya..
Pangeran, tetua,.. kayunya sudah siap, bagaimana ikan ikannya..,? seru prabakara.
Eh? oh.. baiklah..sebentar lagi.., seru Karaeng Gantarang.
Saat mereka saling bersahutan, empat orang tiba dengan aura membunuh yang pekat..
Hahahaha..., ternyata memang benar kalian ada di sini...,seru lelaki berkumis tebal yang di iringi tiga orang di belakang nya..
Owh...memangnya kenapa kalau kami ada di sini..., timpal Sein dengan acuh.
Hooho...tentu saja kami akan membunuhmu.., kata lelaki berkumis tebal,..
Heh, rupanya penguasa Pulau Tanabala juga ada di sini..heheh..., gumam Sein santai.
Oh..kau mengenalku...? tanya Ki Blirik.
Tentu saja, kau sangat terkenal kan..?ucap Sein menyindir.
Oh tentu saja..tidak ada yang tidak mengenal Jendral Besar Blirik di Benua Barat ini..., timpal Ki Blirik menyombongkan diri..
Bukan itu maksudku, kau sangat terkenal dengan wajah dan perangaimu yang buruk.., hahahaha..., ejek Sein.
Kau...!! kau cari mati...!! umpat Ki Blirik menahan emosi..
Eit...tunggu, jangan emosi dulu..., apa kau tidak takut pembuluh darah mu meledak karena tekanan darahmu naik.., hehehe..., kata Sein masih terus memancing emosi Ki Blirik.
Kau mau bertarung denganku hah...??? hardik Ki Blirik dengan wajah merah..
Ohoho..., aku tidak tertarik..., lawan mu sebentar lagi akan tiba.., timpal Sein.
Huh..siapa pun yang kau panggil untuk membantumu itu tidak akan berhasil..,
Kau sudah berani membuat berita palsu tentang nyonya Atikah sehingga dunia persilatan memburunya..., kau bahkan sudah bekerja sama dengan Klan Wong, apa kau pikir aku akan membiarkanmu lolos...? sekarang cepat katakan di mana sebenarnya Kitab Ganjar Dewa dan Cakram Sudarsana, jika tidak jangan salahkan aku bertindak kejam,...ancam Ki Blirik.
Owh,.mamangnya kenapa kalau Klan Wong membantuku...? kau takut dengan kekuatan Klan Wong yang akan menyaingi si wanita gila itu kan..? hahaha...asal tahu saja Kitab Ganjar Dewa itu aku juga tidak tahu betada di mana, sedangkan Cakram Sudarsana ada pada istriku, istriku berlatih di goa rahasia Klan Wong..kau tidak akan berhasil mendapatkannya..hahaha..., seru Sein terus menggoda Ki Blirik..
Kau tutup mulutmu...!! cepat katakan di mana goa rahasia itu..., bentak Ki Blirik,..
Eh..? kau benar benar tidak tahu malu ya, apa begini orang tuamu mengajarkan cara meminta pada orang lain hah...!? timpal Sein terus memanasi.
Kau akan mati..., umpat Ki Blirik Siap menyerang Sein.
Tepat saat itu,
Sebuah suara menggelegar,
Tunggu...!! Seru seorang tua bermata sipit, yang di ikuti oleh tiga orang pemuda...
Heh..rupanya bantuanmu sudah datang...baik aku akan membereskan mereka dulu..belum terlambat untuk mengurus mu.., kata Ki Blirik melirik ke arah Wong Mu dan rombongannya..
Oh..baiklah,...kalau kau ingin berurusan dengannnya lebih dulu, tapi ingat kitab Ganjar Dewa dan Cakram Sudarsana harus kau katakan dulu di mana wanita gila itu menyimpan nya..., kata Sein memancing.
Siapa kalian,..? tanya Wong Mu pada Ki Blirik.
Dia adalah suruhan selir Atikah si wanita gila itu, ia masih belum puas dengan kitab ganjar dewa dan cakram sudarsana ia masih ingin menanyakan goa tempat pelatihan Klan Wong padaku.., seru Sein
Oh..pucuk di cinta ulam pun tiba,..aku tak perlu repot repot mencari kediaman wanita itu, anjing peliharaannya sudah mengonggong di sini.., heh,.. kau orang tua jelek..!!segera beritahu aku dimana kediaman tuanmu..,!! seru Wong Mu dengan nada menghina.
Huh, Ki Blirik yang sudah sejak tadi menahan amarah, mendengar hinaan dari Wong Mu, akhirnya menumpahkan kekesalannya pada Wong Mu..,
Segera ia menerjang ke arah Wong Mu dengan beringas..,
Ketiga jendral pengikutnya pun sudah saling serang dengan ketiga pemuda Kan Wong..
Beberapa saat mengeluarkan pukulan tangan kosong, akhirnya mereka mulai terlibat dengan pertarungan menggunakan ilmu dan ajian kesaktian yang mereka miliki..
Ki Blirik dengan julukan Warok Mata Api, menyerang dengan ilmu andalannya
Mata Api Penghancur..!!
Sementara Wong Mu juga mengerahkan Ilmu Warisan Klan Wong,..
Jurus Tombak Dewa Surya bersamaan dengan ilmu Baju Zirah Sisik Kadal Setan berduri merah..
Serangan Mata Api Penghancur, menyambar tubuh Wong Mu, Wong Mu menghindar namun sambaran Mata Api Penghancur masih sempat mengenai sebagian baju Zirahnya di bagian paha kiri..., hawa panas langsung terasa menusuk...meski tidak ada cidera tapi bekas di tempat yang terkena samabaran terasa perih...
Sial, Mata Api ini, panasnya sangat luar biasa...,untung saja ilmu Zirah Sisik Kadal ku sudah mencapai tahap warna merah.. rutuk Wong Mu.
Wong Mu segera memainkan jurus Tombak Dewa Surya, cahaya keperakan berbentuk tombak yang berada di genggaman Wong Mu segera mengincar kepala Ki Blirik,..hawa panas pun mendera..
+++