Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Tewasnya Ki Blirik bersama Pengikutnya dan Tiga Pemuda Klan Wong.


Sementara itu, ketiga pemuda Klan Wong, bukanlah tandingan ketiga jendral pengikut Ki Blirik,..


Hanya butuh satu peminuman teh, Ketiga pemuda ini tumbang dengan pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi dari ketiga jendral sepuh ini..


ahk...,


akh...,


arrghh...


Ketiganya terkapar memegangi dada dan perutnya...


Wong Mu yang melihat ke tiga pemuda ini tumbang, masih tetap tenang..., dan terus menyerang Ki Blirik dengan jurus Tombak Dewa Surya..


Keduanya terus terlibat pertarungan sengit,


Hehe..apakah kalian benar benar mengira dengan mengirim pemuda pemuda konyol ini dapat mengalahkan kami hah..? umpat Jendral Rambun.


Ke tiga pemuda Klan Wong sudah terkapar dalam keadaan pingsan dan luka cukup parah..


Buruk rupa, kau dan komplotan Pangeran itu akan ku habisi hari ini juga..., seru Wong Mu.


Kau,..!! kau akan mati mengenaskan...! hardik Ki Bilirik sambil terus melakukan serangan sengit.


Mata Api, Badai Rambang...!


Seketika sambaran api laksana badai tak beraturan menyapu Wong Mu,,


Tombak Dewa Surya, pusaran xiantin...!! seru Wong Mu menghadang badai serangan Ki Blirik.


Bhammmm!!!!


Keduanya terpental cukup jauh,


Ki Blirik bergulingan di tanah, lalu bangun duduk dengan wajah pucat,


Wong Mu yang terlempar melayang dan akan jatuh di tanah, tiba tiba tiga buah sinar menghantam tubuhnya lagi.., tiga buah larik sinar ini berasal dari serangan ke tiga jendral pengikut ki blirik..


Dhaaaarrrrr...!!


Kembali tubuh Wong Mu mencelat jauh, namun sebelum jatuh tubuhnya tiba tiba menghilang..


Saat terkena tiga larik sinar yang terakhir, Wong Mu sadar akan bahaya, akhirnya ia menggunakan salah satu ilmu rahasia Klan Wong lainnya,


'Tiga Energi Pemindah...'..


Seketika tubuhnya seolah menghilang..


beberapa tarikan nafas kemudian, tubuh Wong Mu terjatuh di atas semak semak perdu di puncak sebuah bukit...


Ahk...! ringis Wong Mu menahan sakit...


Selir Atikah,..Pangeran Sein..., awas saja kalian..,.


Dalam keadaan buruk seperti ini, leluhur klan Wong ini masih sempat membuat surat dan mengirimnya ke Klan Wong menggunakan bantuan tikus tanah sebelum akhirnya ia pingsan..


Sememtara itu,


Jendral Bear Blirik terluka sangat serius,..


Ketiga jendela pengikutnya berusaha menyelamatkan nyawanya,..


Heheh..hehehe..., penguasa pulau tanabala apanya..? menghadapi yang seperti Wong Mu saja kamu tidak mampu..., ejek Sein.


Diam..., kau pikir kami bertiga akan melepaskanmu..?bentak Jendral Rambun.


Kalian berdu, sementara Jaga dulu Jendral Besar, aku akan mengurus pangeran menjengkelkan ini..., ucap Jendral Rambun pada kedua temannya..


Baik kak,...!! sahut kedua jendral lainnya bersamaan.


Seraya berdiri, Jendral Rambun mengerahkan kekuatan telapak tangannya menghantam kepala ke tiga pemuda klan wong..


Brakkk...


brakk..


Brakkk...!


Tanpa suara, ketiganya mati di tempat dengan kepala hancur..


Wuahhhh..., kau kejam sekali..., seru Sein masih saja dengan mimik mengejek.


Ki...tah, segera pe..rgi saja darihh..sin..ni..., ucap Ki Blirik terputus putus..


Iya, jendral besar tunggu sebentar, biar Jendral Rambun membereskan pangeran itu dulu...pelindingnya dati Klan Wong itu sudah kabur, pangeran mebjemgkelkan itu sebentar lagi tamat di tangan Jendral Rambun..timpal Jendral Cataka menenangkan Ki Blirik.


Ki Blirik menggelengkan kepala,..ayoh ki..tah per gi.. selagihhh.. sempathhh..., ucap Ki Blirik


Tenanghlah kak, Biarkan Rambun menyelesaikan mengurus pangeran itu dulu...


Ja..nganhhh.., kalian bu kan ..tan dih ngannyahhhh..., cepat hhhh..! kitah..pergi dari sinihh..., ucap Ki Blirik masih tersengal, hantaman Tembak Dewa Surya dari Wong Mu tadi sangat fatal baginya..


Mendengar ucapan Ki Blirik, Jendral Rambun tidak terpengaruh, sikapnya masih tenang,..


Heh, pangeran menyebalkan, segera katakan di mana kitab itu kau simpan, jika kau mengatakannya maka aku akan mempertimbangkan kematian yang tidak terlalu menyakitkan untukmu..., ucap Jendral Rambun Sombong...


Eh..? siapa kau.., Sein malah bertanya dengan sikap yang di buat buat polos...ia sama sekali tidak perduli apa yang di ucapkan Jendral Rambun.


Kurang Ajar...!!! malah balik bertanya,...bentak Jendral Rambun..


Hei..apa kau bisa sopan sedikit kalau bertanya pada seseorang..?dasar orang aneh, dia yang minta tolong malah dia yang marah marah..., maki Sein.


Heh, siapa yang meminta tolong padamu..?sela Jendral Rambun


Yah...ternyata selain tidak sopan kau juga idiot rupanya..., timpal Sein terus mengejek.


Apa maksudmu..?


itu, kau tadi kan bertanya padaku dengan tidak sopan, bukannya tadi itu kau sedang meminta tolong padaku untuk mengatakan di mana kitab Ganjar Dewa..?lalu kau masih bertanya apa maksudmu aku mengatakanmu idiot..? Dasar manusia barbar...umpat Sein.


Keparat,..terima kematianmu...!!seru Jendral Rambun lalu menyerang Sein yangasih sedang asyik memancing di tepi danau dengan serangan tapak mematikan..


Mendapatkan serangan mengarah ke kepalanya, Sein tidak mengubah posisi duduknya ia hanya sedikit merunduk seolah olah memngamati tali pancingnya.., serangan itu lewat setengah jengkal di atas kepalanya.


Ssst, jangan berisik nanti ikan ikan ini kaget..., kata sein meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mrmberi isyarat agar Jendral Rambun tidak berisik...


Sein masih sama sekali tidak menganggap serangan itu, apalagi keberadaan Jendral Rambun..


Keparat,..!! kau terlalu meremehkan aku anak muda.., seru Jendral Rambun Marah..


Ki Blirik ingin sekali menghajar Jendral Rambun yang tidak mematuhinya untuk segera pergi dari tempat itu..tapi Ki Blirik tidak bisa apa apa dengan kondisinya saat ini..


Saat inj jendral rambun sudahsangat marah, ia bersiap dengan ilmu tertinggi miliknya..


Di tengah ia bersiap untuk menyerang, tiba tiba iandikejutkan oleh suara mendengung menusuk telinga, tanpa sempat menyadari sesuatu laksana awan hitam pekat mendekati dirinya..setelah beberapa saat ia baru menyadari itu adalah segerombolan serangga...


Hah...serangga serangga apa ini.., serunya kaget,..tapi sudah terlambat..


Serangga serangga itu adalah kumbang beracun milik Sein...


Sein melelapskannya karena saat ini ia sedang malas untuk bertarung..


Kumbang Api Beracun milik Sein mulai menggerogoti tubuh Jendral Rambun...


Jendral Cataka dan Jendral Janu terkejut bukan main..sedangkan Ki Blirik pingsan seketika karena terkejut..


Kakak. hati hati itu Kumbang Api Beracun..! seru Jendral Cataka.


Kumbang Apu Beracun..? apa pangeran ini di bantu oleh Raja Kumbang Api..? seru Jendral Janu tak percaya..


Entah lah, yang penting sekarang ayo bantu Jendral Rambun menghalau serangga beracun itu..! Seru Jendral Cataka.


Ayo..., sambut Jendral Janu..


Kumbang kumbang api beracun terus mengepung Jendral Rambun...


Beberapa sengatan Kumbang Api Mulai mengenai tubuh Jendral Rambun...


Whussss....!!!


Whusss....!!!


Tiupan angin kencang berasal dari pukulan kedua Jendral menghantam ke arah Kumbang Api beracun, membuyarkan mereka, tapi hal ini tidak berlangsung lama, mereka segera kembali bergerombol dan menyerang ke arah Jendral Rambun dengan lebih ganas.


Saat ini Jendral Rambun mulai gelagapan,...


Hah.. ? Kumbang Api ini cukup kuat,..


.Ayo kerahkan yang lebih kuat. .., seru Jendral Cataka..


Keduanya pun bersiap mengerahkan ilmu andalan mereka yang mereka gunakan untuk menghantam Wong Mu tadi..


Dua larik Sinar panas mengebubu ke arah kumbang kumbang api yang menggerogoti Jendral Rambun..


Srikkkk..


Srikkkk..


Kumbang kumbang api berjatuhan, hanya tersisa setengah yang masih terus berusaha menyerang Jendral Rambun..


Melihat hasil serangan mereka cukup berhasil, keduanya bersiap lagi untuk menyerang..


Jendral Janu cepat.., kita serang lagi agar dapat menyelesaikan Kumbang Kumbang beracun itu,..


Tapi kini mereia tidak menyerang Jendral Rambun, melainkan menyerang jendela Catakan dan Jendral Janu ...


.Sial...!


Celaka...!!


mengapa kumbang kumbang itu malah kesini...


Akhirnya mereka bertiga terus di sibukkan dengan serang Kumbang Kumbang Api milik Sein.


Sampai beberapa peminuman teh, beberapa sengatan kumbang api sudah mereka terima..


Celaka,.. kita harus cepat cepat kabur dari sini...! jika begini terus kita akan mati perlahan lahan..., seru Jendral Janu.


Ki Blirik memandang mereka dengan tak berdaya...


Ketiganya terus sibuk menghadapi serangan Kumbang Api Beracun,


Tak jauh dari mereka,


Sein malah asyik membakar ikan dengan santai...


Wahh,... pangeran, ikannya besar besar..., seru Prabakara..


Setelah ikan ikan itu matang, Mereka pun menyantapnya dengan lahap tanpa memperdulikan ketiga jendral pengikut Ki Blirik itu yang sibuk menghadapi Kumbang Api Beracun..


Beberapa saat kemudian, ketiga jendral itu mulai lemas...tenaganya perlahan terkuras habis,..banyak sengatan di sekujur tubuh mereka...


Wajah dan seluruh tubuh meeka mulai menghitam...,


Gawat...., kita keracunan..,seru Jendral Janu.


Ketiganya pun mulai panik...,


saat mereka mulai putus asa,


Suuuuiiiitttt...!!! sebuah siulan melengking terdengar..


Seketika kumbang kumbang Api itu berhenti dan berbalik pergi ke arah Sein..masuk ke dalam cincin Sein.


Dulu Sein membawa guci untuk menyimpan Kumbang Kumbang Api ini, tapi saat ini kumbang kumbang api itu tidak lagi masuk kedalam guci melainkan langsung tinggal di dalam cincin penyimpanan Sein.


Menyaksikan Kumbang Kumbang Api itu memasuki Cincin Sein, Ke tiga Jendral itu baru menyadari bahwa Kumbang kumbang Api Beracun itu memang di pelihara oleh Sein.


Sial...ternyata kau yang menggunakan cara kotor ini menyerang kami...,.., umpat Jendral Janu yang sudah sangat keracunan..


Hehehe....menggunakan cara kotor untuk menghadapi orang kotor seperti kalian adalah sedekah..hehehe...timpal Sein mengejek, lalu dengan cepat menyambar mereka dengan totokan..


Seketika Ketiganya tak dapat bergerak,


Mau apa kau..??


Kumbang Kumbang Apiku sudah cukup lama belum makan...


Kalian jadilah makanan mereka..seru sein..


Wajah ketiga jendral itu semakin buruk...


Sein tidak ambil perduli, segera menarik mereka yang sudah tidak bergerak itu masuk kedalam cincinnya untuk di jadikan santapan kumbang api beracun miliknya...


Ki Blirik, hanya bisa pasrah menyaksikan semua ini...


Sein lalu mendekati Ki Blirik,..kau juga sebaiknya masuklah menemani mereka..., ucap Sein lalu memasuki Ki Blirik Ke dalam Cincinnya..


Seketika, tamatlah riwayat Penguasa Pulau Tanabala itu dan pengikutnya..


Pangeran memang cerdik, membuat mereka bertarung dulu, kita tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membereskan mereka..., puji Karaeng Gantarang.


Hehe..biasa saja tetua, Wong Mu masih sempat melarikan diri.., timpal Sein.


Eh iya, apa orang itu benar benar bisa melarikan diri...?tanya Karaeng Gantarang.


Ya..tapi lukanya cukup parah,. mungkin juga ia akan segera tewas. .,jawab Sein.


Ilmu yang dia gunakan untuk melarikan diri itu cukup aneh, kata Karaeng Gantarang..


Iya, itu adalah salah satu ilmu rahasia Klan Wong.., jelas Sein.


Mengapa pangeran memasukkan katiga orang itu ke dalam cincin..?


Biar menjadi santapan kumbang api...,


hah..? dalam keadaan hidup..?


Ya, memakan orang hidup hidup lebih berhasiat meningkatkan kekuatan kumbang api ini di banding yang sudah mati.., jelas Sein, kemudian


Sein segera memanggil alap alap biru dengan tanda rahasia seperti biasa, lalu melanjutkan menyantap ikan bakarnya..


Setelah beberapa saat, dua orang anggota alap alap biru tiba hampir bersmaan,


Salam pangeran...! sapa keduanya


Mm...nomor tiga puluh tiga, dua puluh tujuh, bawa ketiga mayat ini ke ke kediaman Klan Wong dan beri mereka petunjuk keberadaan Wanita Gila itu (Selir Atikah) di jurang gunung tujuh..., perintah Sein.


Baik pangeran, segera kami kerjakan..


+


Dua Hari berikutnya..


Di kediaman Klan Wong..


Mm..saat ini sepertinya leluhur Wong Mu sudah selesai bertarung dengan pangeran keparat itu..., ucap Wong Lee...


Mm..semoga saja Wong Mu bisa mengatasinya, tambah Wong Ma..


Tepat ketiak mereka sedang berbincang,


Seekor tikus membawa sepucuk surat di moncongnya melompat ke Pangkuan Wong Ma,


Hah...pesan tikus tanah..? Wong Ma segera mengambil surat di moncong tikus lalu memasukkan tikus itu ke balik jubahnya...


" Kakak, Selir atikah mengutus Penguasa Pulau Tanabala membantu Sein, aku terluka parah, sekarang ada di bukit Batu Kasek.."..


Wong Ma meremas surat itu lalu mengajak Wong Mi dan Wong Mo segera ke bukit Batu Kasek..


Wong Mi , Wing Mo..segera ikut aku..! kata Wong Ma dengan tubuh sedikit bergetar..


Baik kak.., jawab keduanya..


Tanpa banyak tanya apa yang terjadi Wong Mi dan Wong Mo segera mengikuti..


Ketiganya tidak membuang waktu lama langsung berkelebat pergi...


Di tinggal begitu saja oleh para leluhur klan,


Wong Lee sedikit bingung, menyaksiakan kekhawatiran di wajah Wong Ma..


Apa yang terjadi, mengapa mereka buru buru pergi..? gimana Wong Lee..


Beberapa saat setelah para leluhur pergi,


Tetua Bok.., apa sudah ada berita di mana keberadaan Selir Atikah..? tanya Wong Lee.


Belum ada ketua..., orang kita masih terus menyelidiki..,jawab Wong Bok


Mereka yang sedang berbicara di aula ini, di kejutkan dengan seorang penjaga yang berlari kencang dengan bercucuran air mata...


Lapooorrrr...., huuuuuuu...! ketuaaaaa haaaa..aaa..aaaa...!!! jerit penjaga itu.


Ada apa..? tenanglah dan katakan dengan jelas..., kata Wong Lee sedikit emosi.


Huk..huk..., ketua..., anak muda Kan Kita telah mati..., ratap penjaga dengan sangat sedih.


Hah..? kata Siapa..? sela Wong Lee.


Mayat ketiganya ada di luar, .


I...ini..ada surat di tubuh Wong Bao..., kata penjaga


Wong Lee mengambil surat itu dari tangan penjaga lalu membacanya...,


" Mereka merusak rencana Nyonya Atikah, Aku sudah membunuh ketiga pemuda masa depan Klan Wong, jendral Besar Blirik ".


Hah...? penguasa Pulau Tanabala itu juga telah ikut campur...? gumam Wong Lee.


Siapa yang mengantar mayat mereka..? tanya Wong Lee.


I..itu...tadi waktu kami menawarinya untuk istirahat dulu, kata mereka , mereka sadang buru buru untuk kembali ke jurang gunung tujuh.., jelas Penjaga.


Jurang Gunung Tujuh..? Li Puaro..?


ia melindungi selir Atikah..?


Ternyata selama ini Selir itu bersembunyi di Jurang Gunung Tujuh...!! pantas saja kediannya sangat sepi, gumam Wong Lee...


Atikah, Blirik...Tunggulah kematian kalian..., rutuk Wong Lee...dengan perasaan benci.


Makamkan ketiga pemuda Klan Kita itu dengan layak, panggil keluarganya untuk segera masuk ke keluarga utama..., seru Wong Lee, ia berniat memberi penghargaan pada keluarga ketiganya atas pengorbanan ketiga pemuda ini..


+++