Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 77


Suasana meja makan mendadak canggung saat ini. Bukan tanpa sebab, tentu saja karena peristiwa memalukan tadi pagi. Bahkan saat tak sengaja Elgar dan Bu rahmi beradu tatap, buru buru Elgar menunduk karena masih membekas kuat diingatannya tentang tadi pagi. Sialnya posisi duduk mereka saat ini adalah berhadapan, membuat mereka beberapa kali tanpa sengaja saling melihat. Memang hanya ada 4 kursi disana, sedang Mila duduk disebelah Elgar.


"Kerupuknya masih ketinggalan didapur." Saat Bu Rahmi hendak beranjak, tapi Mila lebih dulu mencegahnya.


"Biar Mila aja yang ambil." Segera Mila menuju dapur untuk mengambil kerupuk.


Saga yang baru keluar dari kamar langsung berlari menyongsong mamanya. Dengan sedikit kasar menabrak mamanya yang sedang membawa toples berisi kerupuk. Tak pelak membuat Elgar langsung membulatkan mata.


"Saga mau kerupuknya." Ujar Saga sambil mendongak menatap Mila. Kerupuk udang memang kesukaan Saga.


"Saga." Panggil Elgar sambil berdiri lalu menghampiri Saga dan Mila. Tangan Saga masih melingkar dipinggang Mila, hanya kepalanya saja yang menoleh mendengar panggilan papanya.


"Saga gak boleh gitu lagi. Gak boleh nabrak nabrak mama."


Saga mengerutkan kening mendengar penuturan papanya. Biasanya boleh boleh saja, kenapa mendadak dilarang?


Elgar mengurai belitan tangan Saga dipinggang Mila. "Disini ada adiknya Saga." Ujar Elgar sambil mengusap perut Mila.


"Kamu hamil lagi Mil?" Bu Rahmi tampak terkejut.


"Iya Bu," jawab Mila sambil tersenyum.


"Alhamdulilah." Bu Rahmi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya.


Saga tampak masih bingung.


"Saga mau jadi abang." Ujar Mila sambil menyentuh kepala Saga. Dia lalu menarik tangan bocil itu dan meletakkan diatas perutnya. "Disini ada adiknya Saga." Baru dia paham setelah dijelaskan mamanya.


"Yeeey....Saga mau punya adik." Diciumnya perut mamanya beberapa kali saking senangnya.


Mereka semua kembali kemaja makan karena sudah makin siang. Saga harus sekolah, begitupun Elgar, dia haru bekerja.


"Saga mau adik laki laki." Ujar Saga disela sela sarapan mereka.


"Laki laki atau perempuan sama saja," sahut Bu Rahmi.


"Gak sama nenek. Perempuan gak asik, gak mau diajak main bola. Terus manja, jatuh dikit aja nangis."


Elgar yang duduk didepan Saga langsung menyodorkan telapak tangannya. "Kita sama, papa juga mau laki laki."


Senang karena merasa satu tim, Saga langsung menyambut tangan papanya, melakukan tos. Kalau sudah seperti ini, Bu Rahmi dan Mila hanya geleng geleng.


"Wah, nanti mama tetep jadi yang paling cantiik dong," kelakar Mila.


"Mama akan selalu jadi cintanya Saga, papa dan adik bayi nantinya. Pokoknya mama akan selalu kita jaga, iya kan Pah?"


Karena sedang mengunyah nasi goreng, Elgar hanya bisa mengangguk dan mengacungkan jempol.


"Nenek gak dicinta nih, gak dijagain juga?"


"Nenek juga dong." Saga berdiri lalu memeluk neneknya. "Saga sayang sama nenek." Diciumnya pipi Bu Rahmi, membuat wanita paruh baya itu tak kuasa menahan air mata karena haru.


Disaat mereka tengah sarapan, dua orang langsung nyelonong masuk karena pintu tak dikunci. Rumah ini sudah seperti rumah kedua mereka, jadi sudah biasa langsung masuk begitu saja.


"Pagi semuanya." Sapa Billi yang baru masuk bersama Aisyah.


"Assalamualaikum." Aisyah memberi salam. Dia sengaja datang lebih pagi karena banyak barang yang harus segera dipacking karena siang nanti diambil ekspedisi.


"Waalaikumsalam." Sahut semua yang ada dimeja makan sambil menoleh kearah dua kakak beradik itu.


"Bos, mau ngambil motor," ujar Billi.


"Bentar ya, saya lanjutin sarapan dulu." Jawab Elgar dan langsung diangguki oleh Billi.


Bu Rahmi menawari mereka sarapan, tapi Billi dan Aisyah menolak karena sudah sarapan. Aisyah langsung saja melakukan pekerjaannya, mengecek catatan dan memilah mana barang yang harus dia kirim.


"Nih." Elgar memberikan kunci motor Billi serta memberinya sejumlah uang.


"Banyak banget bos." Mata Billi berbinar melihat beberapa lembar uang merah yang diberi Elgar.


"Saya lagi seneng, jadi pengen bagi bagi sama kamu."


"Cie....bini udah gak ngambek nih?" lirih Billi, melihat kearah Mila sambil senyum senyum. Kemarin Elgar memang cerita kalau lagi stress karena Mila ngambek. Makanya Billi ngasih ide buat ngajak jalan jalan pakai motor.


"Lebih dari itu."


Billi mengernyit bingung.


"Saga mau punya adik."


Elgar terkekeh mendengarnya, begitupun dengan Mila. Tapi ditengah kebahagiaan itu, seseorang tengah menahan tangis. Siapa lagi kalau bukan Aisyah. Dadanya sesak, bukannya iri, hanya saja, kenapa dia tidak seberuntung Mila.


"Apaan nih yang tokcer?" Seseorang yang baru datang langsung nyambung, siapa lagi kalau bukan Reno. Dia datang untuk mengantar Saga kesekolah.


Billi memamerkan lembaran uang yang diberi Elgar, membuat Reno seketika mupeng.


"Dari bos," pamer Billi.


Dengan senyuman semanis gula jawa, Reno maju sambil menengadahkan tangan. "Buat saya ada jugakan bos?"


"Emang kamu ngelakuin apa buat saya?" tanya Elgar setengah meledek. Billi langsung ngakak mendengarnya.


"Lha emang si Billi ngelakuin apa bos?"


"Gue minjemin motor buat si bos." Jawab Billi bangga.


"Ya elah, kenapa gak minjam saya aja sih bos."


"Emang kamu punya?" tanya Billi.


"Hehehe, enggak." Elgar geleng geleng sambil menoyor lengan Reno. Sedangkan Mila dan Billi sampai ngakak dengernya.


"Yang nyambat yang. Amit amit jabang bayi, jangan sampai anak kita kayak dia." Ujar Elgar sambil menunjuk Reno.


"Nyonya bos hamil?" Reno terkejut sambil menatap Mila.


"Tuh lah, makanya gue bilang si bos tokcer."


"Udah udah, entar telat kamu Bil." Mila mengingatkan.


Billi melihat jam ditangannya. Matanya melotot menyadari dia sudah hampir telat. Dia bukan Elgar yang bisa datang sesuka hati. Tak mau kena SP, segera dia berlari tunggang langgang keluar rumah.


Mila mengantarkan Saga sampai kemobil. Sekalian dia menyuruh Aisyah pergi bersama Reno untuk membeli kertas serta tinta printer yang habis.


Bukan main senangnya hati Reno. Bisa keluar dengan Aisyah sesuatu banget buatnya. Sejak pertama melihat Aisyah, dia sudah jatuh hati dengan wanita berhijab itu.


Setelah mengantar Saga, Reno lanjut mengantar Aisyah. Sepanjang jalan, Aisyah hanya diam. Sedangkan Reno, dia bingung mencari bahan obrolan.


"Gak nyangka ya, baru nikah sebulan, nyonya bos udah hamil aja." Tanpa Reno tahu, topik pembahasan yang dia ambil sangat salah. "Padahal dengan istri yang dulu, 7 tahun gak punya anak. Lucu juga kalau dipikir pikir, se_"


"Apanya yang lucu?" Aisyah langsung menanggapi serius. "Kamu pikir seorang wanita yang tidak bisa hamil itu adalah suatu lelucon?"


Reno menelan ludah susah payah. Dia tak menyangka jika respon Aisyah seperti ini. Wanita yang duduk disebelahnya itu tampak marah.


"Saya yakin, setiap wanita pasti ingin merasakan hamil dan punya anak. Tapi tak semua wanita seberuntung Mila yang bisa hamil dengan cepat."


"Bu, bukan seperti itu maksud saya."


"Sudahlah, saya sudah tahu. Semua laki laki sama, mereka menuntut kesempurnaan dari wanita. Tanpa mereka ketahui, wanita itu lebih menderita daripada lelaki itu sendiri. Dan yang lebih parah, lelaki akan menggunakan kelemahan itu untuk alasan berpoligami. Yang secara tidak langsung, akan makin membuat wanita itu menderita. Tak ubah seperti membunuhnya secara perlahan lahan." Mata Aisyah berkaca kaca saat mengucapkannya. Masih basah diingatannya saat sang suami tiba tiba pulang sambil menggandeng seorang wanita yang katanya sudah dia nikahi secara siri.


"Maaf kalau saya udah salah ngomong." Padahal lucu yang dimaksud Reno bukanlah memperolok Salsa. Melainkan menganggap lucu karena setelah 7 tahun tak bisa memiliki anak, mendadak Salsa hamil dengan orang lain, dan Elgar juga akan punya anak. Itu tandanya, mereka sama sama bisa punya anak. Lalu ngapain aja 7 tahun itu sampai sampai gak punya anak.


"Saya yakin, nanti adiknya Saga pasti cakep banget. Secara kedua orang tuanya bibit unggul." Reno berusaha mengalihkan topik ke yang lebih ringan. "Begitu juga dengan kamu. Wanita cantik dan sholehah, pasti akan menurunkan generasi yang sama juga."


"Kamu nyindir saya?" Aisyah menatap Reno nyalang.


"Nyi, nyindir gimana? Benarkan, kamu cantik, sholeha, nanti kalau punya anak, pasti sama." Padahal niat Reno adalah memuji.


Detik itu juga air mata Aisyah menetes.


"Ka, kamu kenapa?" Reno bingung sendiri.


"Saya tak akan pernah bisa punya anak, karena saya mandul."


"Mandul?" Reno mengernyit bingung. Dia tak mengerti bagaimana Aisyah bisa tahu kalau dia mandul.


"Darimana kamu tahu, udah pernah periksa?"


"Tiga tahun menikah tanpa anak. Dan sekarang istri baru suami saya hamil, sudah menjadi bukti jika saya yang mandul."


Deg


Reno yang keget langsung meminggirkan mobil dan mengerem mendadak.


"Kamu janda?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya.


Anggukan kepala Aisyah, membuat kepala Reno mendadak pusing. Padahal dia sedang ingin pdkt dengan Aisyah, eh ternyata janda.