
Entah untuk yang keberapa kali, Mila melihat jam ditangannya. Ini sudah satu jam lebih, tapi Elgar belum juga kelihatan batang hidungnya. Dia dan Saga yang menunggu di restoran sampai lumutan. Bahkan Saga sudah menghabiskan semua makanannya, dan sekarang sedang menikmati dessert es krim.
Mila mengambil ponselnya, melihat status pesan yang dia kirim pada Elgar. Tapi tak ada yang berubah, masih tetap sama, centang satu. Dia sempat menelepon Aden tadi, tapi pria berkaca mata itu bilang kalau dia sedang tak bersama Elgar.
"Mama gak mau pesen makan? Makanannya enak loh Ma," ujar Saga.
Mila hanya menggeleng. Tak ada naffsu makan sama sekali, yang ada naffsu pengen mengomeli Elgar. Siapa yang gak kesel, diajak ketemuan, disuruh nunggu dicafe, tapi yang ngajak malah gak dateng dateng.
"Setelah es krimnya habis, kita pulang aja," ujar Mila.
"Loh, kok pulang? Papa kan belum dateng." Sangat berbeda dengan Mila, Tak ada raut kesal diwajah Saga meski menunggu lama. Bocah itu tampak enjoy dengan makanannya.
"Kita pulang aja. Papa mungkin gak dateng." Mila tak bisa mentolerir, ini sudah terlalu lama. Melihat es krim Saga tinggal sedikit, dia memanggil pelayan untuk minta tagihan.
Mata Mila melotot melihat tagihan tak masuk akal itu. Saga hanya makan spagheti dan es krim, sedangkan dirinya hanya jus apel, tapi tagihannya mencapai satu juta lebih.
"Mbak, ini apa gak kebanyakan nol ya?" Mila masih berpositif thinking, mungkin ada kesalahan penulisan.
"Tidak Bu, memang segini tagihannya."
Mulut Mila menganga. Selama ini, bahkan di Singapurapun, tak pernah dia menemui spagheti seharga satu juta lebih.
"Jangan mengada ngada deh, ini keterlaluan mahalnya."
"Tapi tarif disini memang segini Bu."
Mila geleng geleng. Pantas sejak tadi dia lihat cafe ini sangat sepi, bahkan hanya ada dia dan Saga. Mungkin karena makanannya terlalu mahal. Makin kesal dia dengan Elgar, gara gara pria itu, dia harus merogoh kocek dalam dalam hanya untuk sepiring spagheti dan es krim.
Karena makanannya sudah habis dimakan, Mila terpaksa membayarnya meski dalam hati dia mengumpat dan bersumpah tak akan kesini lagi.
Mila mengambil dompet, mengeluarkan kartu debit karena uang cash nya tak cukup.
"Maaf, mesin kami sedang rusak, jadi hanya terima cash."
"Terus gimana, saya gak ada uang cash?"
"Makanya, kalau gak ada uang jangan sok sok makan disini."
Dititik ini Mila tak lagi bisa bersabar. Sudah mahal, layanan tak maksimal, pelayannya tak ada tata krama, sungguh menyebalkan.
"Bisa sopan gak kalau ngomong."
"Kok nyolot sih, situ yang gak bisa bayar kok lebih galak," sindir pelayan itu.
"Siapa bilang saya gak bisa bayar?"
Mila dan pelayan itu kemudian berdebat sengit. Semua merasa benar disini, tak ada yang mau mengalah. Disaat mereka tengah sibuk berdebat, tiba tiba terdengar suara petikan gitar. Mila membuang nafas kasar, kepalanya makin mendidih mendengar suara berisik dari gitar.
Cafe macam apa ini? Udah mahal, pelayanan menyebalkan, sekarang malah membiarkan pengamen masuk.
Baru saja dia hendak menoleh untuk memarahi pengamen itu, suara pengamen itu lebih dulu membuatnya kaget.
Ternyata orang yang dia kira pengamen itu adalah Elgar. Dengan kemeja putih yang lenganya dilipat sampai siku dan sebuah gitar, pria itu bernyanyi didepan Mila.
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
( Badai romantic project )
Mila akhirnya sadar jika ini semua sudah direncakan oleh Elgar. Dan sepertinya, Saga sudah tahu, terlihat dari raut bocah itu yang sangat bahagia, tak terkejut sama sekali melihat papanya datang dengan membawa gitar dan bernyanyi.
Elgar meletakkan gitarnya, meraih kotak beludru berwarna merah dari saku celananya lalu berlutut dihadapan Mila yang sedang duduk.
Elgar membuka kotak tersebut, sebuah cincin berlian yang sangat indah ada didalamnya.
"Will u marry me?"
Mila bergeming, kenangan dilamar Elgar dimasa lalu kembali terlintas. Tak hanya itu, tapi kenyataan pahit setelah dilamar tak lama kemudian ditalak membuat lidahnya terasa kelu untuk bilang iya.
Melihat Mila yang hanya diam, Elgar menoleh kearah Saga, mengedipkan sebelah mata memberi isyarat pada bocil itu.
"Say yes Ma, say yes." Saga turun dari kursi melompat lompat girang sambil menarik narik baju mamanya.
"Ayo Ma cepetan, bilang iya Ma. Mama bilang iya Ma."
Apa yang dikatakan Saga saat ini bukan dari hasil pemikiran bocah itu sendiri. Kemarin Elgar sudah mengajari Saga apa yang harus bocah itu katakan. Dan hasilnya, Saga benar benar melakukan apa yang disuruh papanya kemarin.
Mila menatap Saga yang terus merengek. Sementara beberapa pelayan, termasuk yang tadi berdebat dengan Mila, tertawa kecil. Momen lamaran yang biasanya romantis, menjadi lucu gara gara Saga yang jingkrak jingkrak tak karuan sambil memaksa mamanya bilang IYA.
Dan akhirnya, kata keramat itu keluar dari mulut Mila. "Yes." Meskipun lirih, tapi masih bisa didengar oleh Elgar dan Saga.
"Yeeeee...." Teriak bocah itu lalu memeluk mama dan papanya bergantian. "Pah cepetan Pah cepatan, masukin cincinnya kejari mama." Saga tampak lebih antusias dibanding Elgar dan Mila.
Elgar bediri, begitupun dengan Mila. Mata keduanya saling bertatapan dengan wajah merona karena malu. Elgar mengambil cincin dalam kotak tersebut lalu meraih tangan kiri Mila. Jantung Mila berdegup kencang saat cincin yang sangat cantik itu perlahan lahan memasuki jari manisnya. Begitu cincin itu terpasang sempurna, Elgar mencium tangan Mila.
"Horeeee." Teriak Saga sambil bertepuk tangan. Beberapa orang yang melihat ikut bertepuk tangan juga.
"Terimakasih karena sudah mau sekali lagi menerimaku." Elgar lebih mendekat kearah Mila lalu mencium keningnya lama.
"I love you."
"I love you too."
Elgar begitu bahagia mendengarnya. Dia menempatkan kedua tangannya dipinggang Mila, mengangkatnya dan membawanya berputar putar sambil tertawa bahagia. Mila mengalungkan kedua lengannya dileher Elgar karena takut terjatuh.
"El udah." Mila merapa pusing, tapi Elgar seperti mendapatkan kekuatan ekstra hingga tak kunjung menurunkan Mila.
"El pusing." Jerit Mila masih dengan tawa yang menghiasai bibirnya. Saga bertepuk tangan sambil melompat lompat, bocah itu terlihat sangat girang.
Dengan nafas terengah engah, Elgar menurunkan Mila lalu memeluknya erat.
"I love you, I love you, I love you." Entah berapa kali Elgar mengucapkannya. Dia ingin meluapkan perasaan bahagianya saat ini. Setelah bertahun tahun hidupnya terasa hampa dan menyedihkan, akhirnya hari ini, dia kembali mendapatkan cintanya.
"Papa, Saga juga mau dipeluk." Saga menarik lengan Elgar yang melingkar di pinggang Mila.
Mila dan Elgar seketika tertawa. Mereka sampai lupa kalau ada Saga disana. Elgar melepaskan pelukannya, menarik Saga agar lebih dekat lalu berpelukan bertiga.