
Tersiksa rindu, itulah yang saat ini Elgar rasakan. Sejak kepergiannya ke Malaysia 10 hari yang lalu, hingga hari ini, H-1 pernikahannya dengan Mila, mereka sama sekali tak pernah bertemu. Dia pikir bisa melakukan video call dengan Mila, nyatanya ponsel wanita itu selalu dipegang oleh Saga.
"Kata Nenek sama Oma, papa gak boleh video call sama mama."
Selalu seperti itu jawaban Saga saat Elgar memintanya untuk memberikan ponsel pada Mila. Reno, pria itu juga sama, tak bisa diajak bekerja sama, selalu menolak saat disuruh memberikan ponsel pada Mila.
"Gak berani bos. Kata nyonya besar, bos gak boleh ketemu atau video call dengan calon nyonya bos. Saya takut kualat kalau gak nurut perkataan orang tua."
Kalau sudah begitu, Elgar hanya bisa pasrah. Rindu sudah memenuhi seluruh relung batinnya. Tega sekali mamanya menyiksanya seperti ini.
H-1 Elgar masih ke kantor. Suasan kantor sudah kondusif sejak kepulangannya dari Malaysia. Sudah pasti Adenlah pahlawannya disini. Pria itu yang pontang panting menyelesaikan masalah bosnya. Tanpa bosnya sadari, kalau dia sebenarnya juga sedang dalam fase patah hati.
Mila melakukan perawatan dirumah. Bu Dirga mendatangkan tenaga profesional untuk melakukan perawatan pada Mila agar besok pas hari H, aura kecantikannya tak terbantahkan.
Online shop milik Mila tetap buka meskipun besok hari besar pemiliknya. Sekarang ada Aisya, kakak perempuan Billi yang menjadi adminnya. Dia adalah janda muda yang baru saja bercerai karena suaminya kawin lagi.
"Mah, itu dikasih apa tangan dan kakinya?" Saga, bocah itu setia menunggui mamanya yang sedang perawatan. Meski dirumah mereka sedang ramai, ada saudara dari kampung yang datang serta Miko yang pulang dari luar negeri, Saga maunya nempel Mila mulu. Ya, sejak mama dan papanya mau menikah, anak itu malah gak mau jauh jauh dari mamanya, maunya nempel terus kemana mana.
Saudara Mila dari kampung sudah datang, malam ini ada acara pengajian dirumahnya.
"Dilulurin biar kinclong kulit mamanya." Jawab wanita yang sedang mengoles lulur.
Disaat bersamaan, ponsel Mila berdering. Saga, bocah itu langsung menjawab telepon dari papanya.
"Hallo papa."
Elgar mendesahh pelan, kenapa? karena lagi lagi, Saga yang menjawab panggilannya.
"Mama mana?"
"Ini, ada disebelah Saga." Jawab Saga sambil menoleh kearah mamanya. Bocil itu mendadak menjadi bodyguard sang mama yang selalu ada kapan dan dimanapun mamanya berada.
"Papa mau video call sama mama?"tawarnya.
Mata Elgar seketika berbinar. Tawaran dari Saga terasa bagai hujan yang turun setelah kemarau panjang.
"I_"
"Gak boleh," potong Saga cepat.
Elgar mengumpat dalam hati. Kalau saja bukan anaknya, udah pasti dia maki maki. Bisa bisanya dia di php.
"Papa gak boleh vcall sama mama."
"Please....papa kangen." Elgar berusaha mengambil simpati Saga. Meski selalu gagal, tapi dia tetap berusaha, siapa tahu kali ini Saga berbaik hati.
Saga menghela nafas. Sepertinya bocah itu mulai jengah dengan rengekan papanya yang kayak anak kecil minta dibeliin jajan.
"Gak boleh papa."
"Saga gak sayang papa? Gak kasihan sama papa yang lagi kangen sama mama?"
"Mama lagi perawatan, mukanya dikasih lulur, jadi gak bisa bicara."
"Masker maksudnya?" koreksi Elgar.
Saga tergelak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Iya, Saga salah."
Mila yang berada disebelah Saga hanya bisa menahan tawa. Sebenarnya dia juga rindu dengan Elgar. Tapi dia hanya pasrah. Saat orang tua menyarankannya untuk pingitan, dia mengiyakan saja. Berusaha mengambil sisi positifnya. Seperti orang yang sedang puasa, makanan biasapun terasa nikmat saat berbuka. Seperti halnya pingitan, rindu yang menumpuk itu, akan terluapkan saat mereka sah menjadi suami istri nanti. Dan hari itu, akan menjadi hari yang luar biasa, karena dua orang yang saling merindu, akhirnya dipertemukan.
Meski bukan foto yang diinginkan Elgar. Tapi setidaknya, itu lebih baik. Dia bisa melihat sedang apa Mila saat ini. Dengan begitu, rasa rindunya bisa sedikit terobati.
"Baiklah."
Saga mematikan panggilan. Mengarahkan kamera ponsel pada Mila lalu menangkap gambar. Tak berlama lama, langsung dia kirimkan pada papanya.
Elgar, pria itu melotot melihat foto yang dikirimkan Saga. Dia pikir wajah Mila yang cantik akan menghiasi layar ponselnya, ternyata oh ternyata.
Saga tertawa cekikikan. Dia baru saja mengirim foto kaki mamanya yang dioles dilulur.
"SAGA!," teriak Elgar frustasi. Anaknya itu mulai pintar mengerjainya.
...----------------...
Elgar menatap pantulan dirinya dicermin. Dengan beskap berwarna putih, dia terlihat begitu gagah dan tampan. Diusianya yang sudah menginjak 36 tahun, Elgar memang makin terlihat tampan dan matang. Sebenarnya dia tak ingin memakai pakaian adat saat akad nilah, tapi karena paksaan mamanya, terpaksa dia mengikuti.
Ditatapnya jam yang menempel didinding kamar hotel. Sudah jam 9 lebih, itu artinya kurang dari 1 jam lagi, dia dan Mila akan sah menjadi suami istri.
Tok tok tok
Setelah suara ketukan, pintu dibuka dari luar. Bu Dirga memasuki kamar Elgar. Wanita paruh baya itu tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna dusty pink. Dia mendekati putranya sambil tersenyum.
"Tampan sekali putra mama pagi ini." Pujinya sambil merapikan beskap Elgar. Dia teringat pernikahan Elgar dan Salsa dulu. Wajah Elgar jelas tak bahagia seperti saat ini.
"Udah siap?"
"Udah dong Ma."
"Nerves gak?"
"Udah tiga kali Ma. Udah gak begitu." Elgar terkekeh mengingat ini untuk ketiga kalinya dia menikah.
"Sekarang aja bisa bilang enggak. Nanti pas udah saatnya, tau tau gemetaran dan lupa lagi," ledek Bu Dirga.
"Hahaha...semoga aja enggak."
Acaranya sudah hampir dimulai, Elgar dan mamanya keluar dari kamar hotel menuju ballroom tepat dilaksanakannya ijab kabul.
Bu Dirga menuntun Elgar ketempat ijab kabul. Ternyata benar apa yang dikatakan mamanya. Meski ini yang ketiga kalinya, dia tetap gugup saat duduk dikursi sakral itu.
Saat ini, ada Miko yang duduk dihadapan Elgar. Adik Mila itu terlihat tak kalah tampan dari sang mempelai pria. Dia memakai setelah jas berwarna hitam. Mata Miko terlihat masih merah. Karena baru saja, ada drama tangis tangisan antara dia, ibunya dan Mila. Tentu saja karena mereka bertiga teringat bapak yang sudah meninggal. Dan hari ini, tanggung jawab menikahkan Mila turun padanya.
Beberapa menit sebelum pukul 10, Mila memasuki ballroom. Dia diapit oleh Bu Rahmi dan Saga. Bu Rahmi tak henti hentinya menyeka air mata. Ini adalah pernikahan Mila untuk yang kedua kalinya tapi dengan orang yang sama. Dia hanya bisa berdoa supaya kali ini, pernikahan Mila untuk selamanya, tak kandas seperti dulu.
Elgar dibuat tertegun. Mila sungguh cantik dengan kebaya putih dan begitu pas dengan tubuhnya. Dan ketika mempelai wanita duduk disebelahnya, jantung Elgar berdetak dua kali lebih cepat.
"Saga minggir dulu ya sama nenek," Ajak Bu Rahmi sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Saga pada pada tangan mamanya.
"Gak mau, Saga mau terus disebelah mama." Bocil itu menolak, dia makin mengeratkan genggamannya.
Mila mengusap kepala Saga pelan, tersenyum sambil berkata lirih. "Saga kebelakang dulu ya sama nenek dan Oma."
Dengan berat hati, Saga mengangguk. Pelan pelan dia lepaskan genggaman tangannya dari Mila. Bu Rahmi menuntunnya kebelakang, duduk diantara dia dan Bu Dirga.
Elgar dan Mila, mata keduanya saling beradu untuk beberapa detik. Kerinduan yang membuncah membuat keduanya tak ingin berhenti menatap. Sampai suara deheman penghulu menyadarkan keduanya. Dengan wajah sama sama memerah, Elgar dan Mila langsung menunduk.