Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 46


Diruang tamu, terdengar suara Saga dan Bu Dirga yang sedang bermain. Keduanya sudah terlihat akrab. Beberapa kali suara tawa mereka terdengar begitu lepas.


Didalam kamar, Mila mengemas baju dan barang barang pribadi Saga ke dalam tas. Sesekali dia menyeka air matanya menetas. Argghh hanya semalam, tapi kenapa rasanya seberat ini untuk melepaskan Saga.


"Kalau berat, kenapa gak ditolak saja." Bu Rahmi masuk kedalam kamar, duduk disisi ranjang disebelah Mila.


"Aku gak bisa nolak Bu. Gimanapun, Bu Dirga neneknya. Lagian hanya semalam, mungkin aku aja yang terlalu beper, terlalu lebay." Mila kembali menyeka air matanya. Membayangkan Saga dibawa pergi, ada rasa tak terima dihatinya. Selama 7 tahun ini, Saga menjadi hak mutlaknya. Dia tak harus berbagi dengan orang lain, tapi hari ini, dia harus merelakan putranya dibawa oleh neneknya.j


Bu Rahmi menarik tas ditangan Mila, memasukkan baju seragam diatas ranjang yang akan dipakai Saga besok. Setelah semuanya siap, mereka berdua keluar, menemui Saga dan Bu Dirga.


"Udah siap semuanya?" tanya Bu Dirga melihat dua buah tas ransel ditangan Mila. Satu berisi baju dan barang pribadi, satunya tas sekolah Saga.


Mila mengangguk, segera Bu Dirga dan Saga mengemasi mainan yang berserakan dilantai. Setelah semuanya beres, Saga menghampiri mamanya. Niatnya ingin berpamitan, tapi melihat mata sembab mamamya, dia membatalkannya.


"Mama nangis?"


Mila menggeleng cepat. "Enggak, mama habis menguap tadi, ngantuk gak tidur siang." Mila memaksakan diri untuk tersenyum.


"Beneran Ma?"


"Iya sayang." Mila menunduk lalu mencium kening Saga. "Inget ya, Saga gak boleh rewel disana. Gak boleh merepotkan nenek."


"Oma Mah, sekarang manggilnya Oma. Kata Oma, biar sama dengan kakak Pink," terang Saga.


Bu Dirga tersenyum melihat Saga yang terlihat sangat cerdas. Bocah itu mudah sekali memahami seseuatu. Tadi saat bermainpun, Saga begitu pintar menyusun lego menjadi bentuk bentuk yang terbilang rumit untuk anak seusianya.


"Ya udah, pokoknya Saga harus jadi anak pintar. Gak boleh cengeng, harus nurut apa kata Oma."


"Siap Mama."


Mila dan Bu Rahmi mengantarkan sampai depan pagar. Sebelum pergi, tak lupa Saga salim pada mama dan neneknya.


Setelah mobil yang membawa Saga dan Bu Dirga pergi, Mila dan Bu Rahmi kembali kedalam. Suasana seketika terasa berbeda. Rumah yang biasanya selalu ramai dengan celoteh Saga, serta tingkah polahnya yang aktif, hari ini mendadak terasa sepi.


Berbanding terbalik dengan dirumah Bu Dirga. Rumah yang biasa sepi itu, mendadak ramai hari ini. Saga tak menyangka jika rumah papanya sebagus ini. Selain mewah dan besar, ada kolam renangnya juga.


Bu Dirga mengenalkan Saga pada seluruh asisten rumah tangga. Bagi mereka yang sudah bekerja lama, jelas tahu jika dulu Elgar memang pernah membawa wanita yang diklaim istrinya kerumah ini. Tapi pekerja baru, mereka terlihat kaget mengetahui jika ternyata Elgar sudah memiliki anak dengan istri terdahulu.


Bu Dirga menunjukkan sebuah kamar dilantai dua , tepatnya disebelah kamar Elgar.


"Saga suka karakter apa? Nanti biar oma suruh orang buat mendesign kamar ini sesuai permintaan Saga. Nantinya ini akan jadi kamarnya Saga."


Saga menggeleng. "Saga gak mau tinggal disini, Saga mau tinggal bersama mama dirumah." Saga mendadak kangen mamanya. Meskipun mewah, tetap dia lebih nyaman dirumahnya sendiri, bersama mama dan neneknya.


Bu Dirga tersenyum lalu menyentuh kepala Saga. "Maksud oma, buat kalau Saga main kesini saja."


"Oh....," bocah itu manggut manggut.


Elgar pulang lebih cepat dari kantor saat mamanya memberitahu jika Saga ada dirumah. Sudah beberapa hari dia tak bertemu Saga, ingin quality time bersama dirumah.


Hal pertama yang dilakukan ayah dan anak itu adalah berenang bersama. Elgar baru tahu jika Saga jago berenang. Dan dari yang anak itu katakan, Devanlah yang mengajarinya sejak kecil. Elgar merasa iri, dia tak seberuntung Devan yang bisa melihat Saga sejak lahir.


Bu Dirga menyuruh art menyiapkan segala sesuatu yang menurut Mila adalah kesukaan Saga. Dia ingin cucunya itu betah tinggal dirumahnya.


Saga meminjam ponsel papanya untuk menelepon Mila, dia ingin menunjukkan jika saat ini sedang berenang bersama Elgar.


"Hallo Mama." Sapa bocil itu sambil melambaikan tangan kelayar ponsel. Saat ini dia sedang duduk dipinggir kolam yang agak dangkal. Dengan masih mengenakan celana renang dan bibir yang kelihatan sedikit biru karena terlalu lama diair.


Saga mengangguk, dia lalu memutar kamera ponselnya kearah belakang, menunjukkan pada mamanya sabagus apa kolam renang dirumah papanya.


"Bagus bangetkan Ma rumahnya papa. Harusnya tadi mama ikut kesini." Saga kembali mengarahkan kamera padanya.


Mila hanya tersenyum menanggapi ucapan Saga. Mana mungkin dia ikut kesana, emang siapa dia.


"Ini papa Ma." Saga mengarahkan kamera pada Elgar yang baru naik keatas. Dengan tubuh basah dan hanya mengenakan boxer, pria itu berjalan mendekati Saga. Cepat cepat Mila mengalihkan pandangannya.


Astaga, kenapa aku yang malu melihatnya seperti itu.


Mila menggigit bibir bawahnya, ada perasaan aneh dalam dirinya. Tubuhnya mendadak panas dingin.


"Mah, kok gak lihat kesini?"


"I, iya." Pelan pelan Mila memutar lehernya menghadap kamera. Dia bernafas lega begitu melihat Elgar duduk disebelah Saga dan hanya terlihat setengah badan saja. Setidaknya itu lebih aman bagi kesehatan mata dan jantungnya.


"Katanya mama kangen papa, kok malah gak mau lihat papa?"


Wajah Mila memerah seperti kepiting rebus. Seketika dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Lagi lagi Saga membuatnya malu tingkat dewa.


Terdengar suara tawa Elgar, sepertinya pria itu sangat puas melihatnya malu seperti ini.


"Saga, udah dulu ya. Nenek manggil, takut ada yang penting." Cepat cepat Mila mengakhirnya pangilan dari Saga. Dia meletakkan ponsel, mengibas ngibaskan telapak tangannya didekat leher, cuaca mendadak terasa sangat panas.


Malam hari, seperti yang Mila khawatirkan, Saga rewel, tak bisa tidur dan terus terusan mencari mamanya. Anak itu bahkan sampai merengek minta pulang. Tapi Elgar belum rela berpisah dengan Saga. Sesekali dia ingin tidur bersama anaknya itu. Dan hal yang dilakukan Elgar, sudah tentu melalukan video call, meminta Mila membacakan dongeng untuk Saga hingga bocah itu terlelap.


Mila tak bisa fokus membaca dongengnya, pasalnya yang tampak dilayar bukan hanya Saga, tapi juga Elgar yang ada disisi bocah itu. Selain itu, Elgar dengan terang terangan menatap Mila sambil senyum senyum, membuat Mila makin salting.


Mila bernafas lega melihat Saga yang sudah terlelap, dia menghentikan dongengnya dan berniat mengakhiri video call.


"Kok berhenti, papanyakan belum bobok?" goda Elgar.


"Kamu bukan anak kecil El." Mila memutar kedua bola matanya malas. "Udah ya a_"


"Belum." Potong Elgar cepat. "Masih kangen."


"Apaan sih, gak jelas." Mila terlihat salting, bikin Elgar menahan tawanya.


"Kata Saga, kamu kangen aku."


"Gak usah didengerin, anak kecil."


"Justru karena dia anak kecil, jadi gak bisa bohong."


Mila hanya bisa tertunduk malu. "Udah ah, aku mau ti_"


"Gak usah malu, aku juga kengen kamu kok. Bahkan munkin lebih banyak dari rasa rindumu padaku."


Mila makin salting dibuatnya. Dia seperti menemukan Elgar yang baru, tak seperti Elgar dulu yang sukanya hanya bicara kasar dan menghinanya habis habissan. Sekarang mantan suaminya itu seperti abg labil yang lagi jatuh cinta. Kata katanya selalu bikin melting.


"Tiga hari lagi, sidang ceraiku digelar. Bisa dipastikan jika saat itu, hakim akan memutuskan aku dan Salsa resmi bercerai." Elgar terlihat sangat yakin dengan kata katanya. Tak bisa dipungkiri ada rasa bahagia juga dihati Mila. Setidaknya, urusan perceraian Elgar akan segera selesai.


"Bisakah aku minta reward saat aku resmi bercerai nanti?"


Mata Mila melotot, reward? Apa apaan, emangnya cerai sebuah pencapaian yang patut diapresiasi dan diberi reward? Ada ada saja memang pria itu.