Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 66


Gara gara Elgar yang ngambek, terpaksa Mila pasrah dijungkir balik semalaman. Menyesal dia benjanji menuruti berapa rondepun yang Elgar mau. Stamina pria itu sungguh luar biasa, membuat Mila benar benar kualahan. Beruntung honeymoon ke Bali batal, kalau tidak, dua hari dua malam dikamar bersama Elgar, keluar keluar dia tidak bisa jalan.


Mila membuka matanya perlahan. Tulang tulangnya seperti remuk. Bagian intinya terasa sedikit ngilu. Tubuh yang terasa lemas membuatnya ingin tiduran saja seharian ini. Tapi mengingat dia sedang berada dirumah mertua, rasanya tak mungkin untuk bermalas malasan.


Mila mengambil ponsel yang ada di nakas. Matanya membulat sempuran melihat jika sekarang sudah jam 6 lebih. Buru buru dia berlari kekamar mandi. Mengabaikan area sensitif yang terasa perih dan segera mandi.


Karena sudah siang, tak sempat dia mengeringkan rambut. Hanya memakai bedak tipis tipis dan lipstik, segera dia keluar kamar.


Mila berlari cepat cepat menuju dapur. Langkahnya terhenti saat melihat Bu Dirga ternyata sudah ada didapur bersama dua orang art. Wanita paruh baya itu terlihat sedang mencicipi sup yang masih berada diatas kompor.


"Pa, pagi." Sapa Mila ragu ragu. Semoga saja pagi pertamanya dirumah mertua tidak mendapat omelan. Dia sudah sering dengar cerita tentang mertua yang kejam, semoga saja kali ini dia tak dimaki habis habisan didepan art karena bangun kesiangan.


"Sudah bangun Mil?"


Pertanyaan itu terdengar bagai sindirian ditelinga Mila.


"Ma, maaf Ma, Mila kesiangan."


"Tak masalah." Bu Dirga terlihat biasa saja, tapi Mila masih merasa tak enak hati.


Mila mendekat kearah art yang sedang mengupas bawang, berniat membantu.


"Biar saya bantu."


"Tidak udah nyonya, biar saya saja." Sahut art tersebut sambil tersenyum. Mila jadi bingung mau melakukan apa. Secanggung inikah semua wanita saat berada dirumah mertuanya? batin Mila.


"Mending kamu liatin Saga aja, takutnya dia belum bangun, nanti kesiangan," ujar Bu Dirga.


"I, iya Ma." Mila meninggalkan dapur menuju kamar Saga. Setidaknya ini lebih baik daripada terjebak didapur tanpa tahu harus melakukan apa karena semua sudah dikerjakan art.


Benar dugaan mertuanya, Saga belum bangun, sepertinya bocah itu terlalu menikmati kamar barunya, sehingga malas untuk bangun.


Dengan sedikit drama, akhirnya Saga mau bangun. Mila membantunya siap siap lalu mengajaknya turun untuk sarapan.


"Gak nungguin papa?" Tanya Saga saat Mila menyuruhnya segera makan.


"Papa masih tidur, udah Saga sarapan dulu aja," jawab Mila yang juga sudah bersiap untuk makan begitupun Bu Dirga.


Saga, disela sela makan dia memperhatikan leher mamanya. "Ma, kok merah merahnya tambah banyak."


Mila hampir saja tersedak mendengar ucapan Saga. Dia melihat Bu Dirga yang ada didepannya, wanita itu terlihat menahan tawa, membuat Mila makin malu.


Saga beranjak dari duduk, berdiri disamping mamanya sambil meneliti tanda merah yang sepenglihatannya makin banyak itu. Mila merutuki kebodohannya sendiri, karena terburu buru, dia asal ngambil, dan malah gaun dengan potongan leher yang lebar yang ia kenakan.


"Papa bisa gak sih jagain mama?" Bocil itu mendengus kesal. "Nanti malam mama boboknya sama Saga aja, biar Saga yang jagain mama." Hilang sudah rasa percayanya pada sang papa.


Mila hanya tersenyum kecut. Mana mungkin Elgar membiarkannya tidur dengan Saga.


Setelah sarapan, Mila mengantar Saga kedepan. Dihalaman sudah ada Reno yang menunggu untuk mengantar bos kecilnya kesekolah.


Terlebih dulu Mila membenahi posisi rambutnya, sengaja dia kedepankan agar si resek Reno tak melihat kissmark yang memenuhi leher dan dadanya.


"Pagi boscil dan nyonya bos." Sapanya dengan senyum lebar sambil membukakan pintu belakang untuk Saga.


"Baik baik ya di sekolah, belajar yang rajin." Pesan Mila sebelum Reno menutup kembali pintu mobil.


"Kayaknya barusan ada hujan lokal nih." Reno bersiul siul sambil menatap langit setelah mengucapkannya.


Mila memicingkan mata melirik Reno. Nadanya seperti sindiran, tapi dia tak paham.


"Basah teroooss." lanjutnya sambil menarik hendle pintu bagian kemudi.


Dititik ini Mila paham. Reno sedang menyindir rambutnya yang sedikit masih basah.


"Hawanya lagi pengen banget motong sesuatu nih." Reno menelan ludahnya susah payah. Cepat cepat dia masuk kedalam mobil. "Enaknya motong apaan ya?" Mila menahan pintu yang hendak ditutup Reno. Smirk dibibir Mila membuat Reno seketika merinding disko.


"Kayaknya motong gaji driver boleh juga."


"Peace nyonya, becanda." Reno tersenyum kecut sambil mengangkat kedua jari yang berbentuk V.


"Cepat berangkat." Desis Mila sambil melotot.


"Si, si, siap nyonya bos." Gegas Reno menutup pintu mobil begitu tangan Mila sudah tak berada disana. Tancap gas sebelum gajinya benar benar disunat.


Mila kembali kedalam rumah. Melihat art yang sedang membereskan meja makan, muncul niatan untuk membantu. Jujur saja, dirumah ini dia masih sangat segan dan bingung mau melakukan apa apa. Imej mertua jahat yang sering muncul di novel membuatnya bingung harus bersikap.


"Tidak usah nyonya, biar kami saja." Ujar salah satu art saat Mila membantunya membereskan meja makan.


"Tak apa Bi." Tanpa menghiraukan larangan art tersebut, Mila membawa makanan sisa sarapan kembali kedapur. Lagipula dia bingung mau melakukan apa.


Sesampainya didapur, dia tiba tiba kepikiran ingin membuat Elgar kopi. Secangkir kopi panas dengan sepotong sandwich mungkin bisa membangunkan pria itu.


Mila merebus air, tangannya bergerak mencari wadah tempat menyimpan kopi tapi kesulitan saking banyaknya almari disana.


"Kopinya dimana ya Bi?"


"Mau bikin kopi untuk Tuan? Biar saya saja yang buatin." Jawab seorang art bernama Bik Jum.


Bik Jum tersenyum sembari menunjukkan tempat menyimpan kopi, gula dan sebagainya didapur.


"Nyonya sangat berbeda dengan Nyonya Salsa. Kalau nyonya Salsa, mana pernah dia nginjak dapur, apalagi buatin kopi untuk Tuan."


"Mungkin karena Salsa sudah terbiasa dilayani sejak kecil Bi, beda sama saya. Kalau saya malah kebalikannya, suka canggung kalau dilayani. Makanya bingung mau ngapain kalau disini." Jawab Mila sambil menaruh kopi dan gula kedalam cangkir.


"Oh iya Bi, saya lihat tadi ada udang didalam freezer. Kalau mau dimasak, sisain dikit ya. Saya mau bikinin tempura buat Saga, dia suka banget soalnya."


"Lha dalah, Nyonya Mila ini juga pinter masak to?"


"Gak pinter Bi, cuma bisa saja." Sahut Mila sambil menuang air yang sudah mendidih kedalam cangkir berisi kopi dan gula lalu mengaduknya.


"Wah, beruntung sekali Tuan El punya istri kayak Nyonya Mila. Udah cantik, baik, perhatian, pinter masak pula. Pasti Tuan sangat suka masakan Nyonya."


Mila seketika tergelak mendengarnya, sejak kapan Elgar suka masakannya. "Salah besar itu Bi. Yang ada masakan saya dihina mulu sama dia. Yang katanya gak enaklah, kurang kreatiflah, kampung_"


Kalimat Mila terhenti saat seseorang tiba tiba memeluknya dari belakang. Tanpa menolehpun, Mila tahu siapa pelakunya.


"El, lepasin, malu." lirih Mila sambil menoleh kearah wajah Elgar. Wajahnya merona karena malu pada Bik Jum.


"Ngomongin aku dibelakang ya?" Bukannya melepas, Elgar malah meletakkan dagu dibahu Mila.


Bik Jum senyum senyum melihat kelakuan majikannya. Dulu saat masih dengan Salsa, tak pernah dia melihat pemandangan seperti ini. Rumah terasa lebih hidup sejak ada Saga dan Mila disini. Tak mau mengganggu, dia memilih pergi dari dapur.


"Bik Jum sampai pergi gara gara kamu," sewot Mila sambil menguraikan lengan Elgar yang melingkar dipinggangnya.


"Aromanya wangi banget. Kopi bikinan istri emang gak ada duanya." Elgar mengangkat cangkir kopi, meniupnya sebentar lalu menyeruput sedikit.


"Mau aku siapin sarapan?" tawar Mila.


"Roti nutela aja."


Mila mengajak Elgar kemeja makan. Mengambil roti, mengoles nutela lalu menyerahkan pada Elgar.


Bu Dirga yang kebetulan hendak kehalaman belakang untuk merawat tananamannya mengajak Mila ikut serta. Sebisa mungkin dia ingin bisa membangun kedekatan dengan Mila. Dia sangat berharap menantunya itu bisa ditinggal disini nantinya, oleh karena itu, dia ingin akrab dengan Mila.


Mila berdecak kagum melihat koleksi tanaman hias milik mertuanya. Meski tak paham tentang tanaman, tapi dia yakin jika harganya tak murah.


"Kamu suka tanaman Mil?" Tanya Bu Dirga sambil membersihkan daun tanaman hiasnya.


"Enggak Ma."


"Tapi mama lihat banyak tanaman dirumah kamu."


"Ibu yang suka tanaman." Jawab Mila sambil melihat lihat.


"Oh..."


"Mila gak suka tanaman Ma, sukanya Elgar." Ledek Elgar yang juga ikut kehalaman belakang. Pria itu duduk santai disebuah kursi sambil menikmati kopi.


"Boleh Mila bantuin Ma?" Gak enak juga kalau cuma lihat doang. Setidaknya biar dia ada nilai lebih didepan mertua.


"Boleh." Bu Dirga memberikan semprotan berisi cairan khusus dan lap, lalu mengajari Mila bagaimana cara membersihkan daun daun itu.


Sementara Mila membersihkan daun, Bu Dirga mengambil gunting untuk merapikan tanamannya.


Halaman belakang rumah Elgar sangat asri. Selain banyak tanaman yang terawat, kolam renang yang bersih membuat pemandangan segar.


"Kalau kamu, kamu suka ngerawat apa Mil?"


"Buurung."


Elgar langsung tersedak mendengar jawaban Mila, begitupun Bu Dirga, tawanya hampir meledak mendengar jawaban Mila yang dikonotasikan negatif.


Mila reflek menutup mulutnya. Wajahnya memerah menyadari Elgar dan mamanya salah paham dengan ucapannya.


"Burungnya siapa yank?" Elgar makin getol menggoda. Dia tak bisa lagi menahan tawanya.


"Bu, bukan itu maksud saya." Mila bingung menjelaskan. Padahal tadi dia mendengar suara burung, tapi tak melihat wujudnya. Disaat dia tengah mencari cari keberadaan burung itu, Bu Dirga malah bertanya, jadi keluarlah kata itu.


"Kamu lagi mikirin apa sih yang?" Lagi lagi Elgar menggodanya.


Bu Dirga hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan anak dan menantunya.


"Mama jadi khawatir kalian mau ke Korea bertiga besok."


"Kenapa Ma, El udah biasa ke luar negeri. Meski gak bisa bahasa korea, tapi El fasih bahasa ingris."


"Bukan masalah itu."


"Lalu?"


"Takut Saga gak keurus sama kalian."