Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 60


Elgar sungguh keterlaluan, sampai sampai Mila tak punya muka dihadapan MUA. Bisa bisanya pria itu meninggalkan kissmark dilehernya hingga dua orang yang MUA yang tengah meriasnya tak bisa menahan tawa. Pasti mereka pikir keduanya sudah sama sama kebelet. Mencuri curi waktu untuk melakukan malam pertama sebelum malam tiba. Astaga, memalukan sekali.


Beruntung tanda merah itu bisa disamarkan dengan make up, kalau tidak, Mila pasti malu dihadapan semua tamu.


Bagaikan raja dan ratu, Mila dan Elgar terlihat sangat serasi bersanding dipelaminan. Mila begitu cantik dengan gaun putih rancangan mantan Elgar. Sedangkan Elgar, pria itu sangat tampan dengan tuxedo berwarna hitam. Saga, jangan lupakan bocah itu, dia ikut duduk dipelaminan dengan setelan jas senada dengan papanya.


Elgar dibuat iri sepanjang acara, bagaimana tidak, semua orang bukannya memujinya, tapi malah memuji Saga. Sepertinya dia sudah kalah saing dengan putranya itu. Malam ini, bukan Elgar yang menjadi bintangnya, melainkan Saga. Banyak sekali yang minta berfoto dengannya, bukan hanya karena tampan, tapi juga sangat menggemaskan.


"Saga ngantuk?" bolak balik Elgar menanyakan hal itu. Sayangnya bocil itu selalu menjawab dengan gelengan. Padahal dia berharap Saga segera tidur dan tak mengganggu malam pertamanya nanti.


Karena tamu yang diundang sangat banyak, acara itu berlangsung hingga tengah malam. Sampai akhirnya Saga tak mampu bertahan. Bocah itu mengeluh ngantuk dan akhirnya dibawa masuk kekamar oleh Bu Rahmi. Malam ini, seluruh keluarga inti Mila dan Elgar menginap dihotel tempat diadakannya acara. Hotel ini milik SE Corp, jadi tak perlu merogoh kocek untuk menginap disana.


Salsa dan Ben, keduanya terpaksa tidak datang. Hanya mengirimkan hadiah karena mereka berada di Singapura. Pak Rendra sedang kritis.


Mila lebih dulu memasuki kamar setelah acara usai karena Elgar masih mengobrol dengan rekan bisnis yang cukup penting.


Mila tersenyum melihat kamar pengantin yang luar biasa indah dan wangi. Ini memang kedua kalinya dia menikah, tapi dulu, tak ada acara seperti ini, tak ada juga kamar pengantin. Tapi mendadak dia bergidik ngeri saat teringat malam pertamanya dengan Elgar dulu. Bagian intinya terasa ngilu jika teringat malam itu. Sudah merasa sakit karena terkoyaknya selaput dara, Elgar masih saja menghajarnya hingga pagi. Semoga saja tak terulang lagi malam ini. Tulang tulangnya sudah terasa remuk akibat rentetan acara hari ini, jangan sampai Elgar membuatnya makin remuk lagi.


Mila melepas gaun yang terasa berat itu. Membiarkannya luruh kelantai begitu saja dan meninggalkannya menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket semua, rasanya ingin berendam air hangat untuk mengurangi pegal.


Elgar memaki maki Pas Gatot, lawan bicaranya saat ini. Tapi tentu saja hanya dalam hati. Padahal sama sama lelaki, tak tahukah kalau saat ini dia sudah tak sabar ingin segera malam pertama?


"Astaga, gak terasa udah malam banget." Pak Gatot melihat jam tangannya. "Udah sepi, udah pada pulang semua." Dia memperhatikan sekeliling yang tinggal para pekerja yang sedang beres beres. "Maaf ya Pak Elgar, kalau ngomongin proyek baru, saya suka lupa waktu kayak gini. Maaf lo jadi ketunda malam pertamanya." Kelakar pria itu yang langsung disambut tawa terpaksa oleh Elgar.


Setelah kepergian Pak Gatot, buru buru Elgar menuju kamar pengantinnya. Sepanjang jalan dia tersenyum, setidaknya satpam kecil sudah tidur, jadi gak ada yang bakalan ganggu dia buka puasa. Bayangannya saat ini, Mila sudah menunggunya dikamar dengan lingeri seksi. Dulu, setiap dia akan datang keapartemen Mila, dia selalu mewajibkan wanita itu untuk menyambutnya dengan lingeri. Semoga saja kali ini, istrinya itu peka dan masih ingat semua kesukaannya.


Elgar memasuki kamar dengan jantung berdebar. Tak seperti dugaannya, tak nampak Mila didalam kamar. Yang ada hanya gaun pengantin yang teronggok dilantai. Elgar mengulum senyum, dia yakin pemilik gaun itu tengah berada dikamar mandi.


Elgar melepas jas dan melemparnya begitu saja kesofa. Tanpa mengetuk, dia langsung masuk kedalam kamar mandi. Tak terdengar suara gemericik air atau apapun, ternyata Mila sedang berendam. Elgar menelan ludahnya susah payah, jakunnya bergerak naik turun melihat tubuh mulus tanpa sehelai benangpun berada didalam bathtup.


Elgar tersenyum melihat Mila yang ketiduran didalam bathtup. Mungkin saking lelahnya dia sampai ketiduran. Dia membungkuk, mengecup kening Mila lalu menyelipkan tangan ke balik punggung dan lutut Mila.


Mila yang kaget sekaligus merasa kedinginan langsung terbangun.


"El," gumamnya sambil memperhatikan sekeliling. Dia masih merasa bingung karena nyawanya baru terkumpul.


"Bisa bisanya ya, mandi sampai ketiduran."


Mila baru ingat jika tadi dia sedang berendam. Mulutnya seketika menganga menyadari jika saat ini dia sedang tak memakai apa apa.


"Kenapa?"


Mila menyusupkan wajahnya didada Elgar karena malu. Jantungnya berdebar kencang saat ini, semoga saja Elgar tak mendengar.


Elgar tersenyum melihat tingkah malu malu Mila. Padahal dulu, keduanya sudah biasa tampil tanpa sehelai benangpun. Elgar mengangkat Mila keluar dari kamar mandi, menuju ranjang. Hasratnya naik hingga keubun ubun menatap tubuh polos yang saat ini ada dalam gendongannya.


Seperti pinta Mila, Elgar mendudukkan Mila disofa. Cepat cepat dia ngambilkan piyama handuk lalu membantunnya mengenakan. Darah Elgar mendidih setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit Mila. Tapi perasaan menggebu gebu itu berusaha dia tahan mengingat Mila yang tampak sangat lelah. Sepertinya dia harus berendam air dingin setelah ini. Mana tega dia meminta haknya saat Mila lelah seperti saat ini.


Beruntung Mila memakai penutup kepala, jadi rambutnya tidak basah sama sekali.


"Capek banget ya?" Elgar duduk disebelah Mila, melepas satu persatu kancing kemeja yang lengannya basah.


"Iya." Jawab Mila sambil membantu Elgar melepaskan kemeja. Darah Elgar berdesir saat jemari halus Mila menyentuh kulitnya.


Tahan El, tahan. Tega kamu mengajak Mila bergelut saat dia capek seperti sekarang. Mandi saja sampai ketiduran.


"Ganti baju sana, biar gak kedinginan, habis itu tidur."


Mila seperti tak percaya mendengar Elgar menyuruhnya tidur. Padahal tadi siang udah ngebet banget, eh...pas udah ada momennya, malah disuruh tidur.


"Kok bengong?" Elgar menarik gemas hidung mancung Mila.


"Hehehe..." Mila hanya bisa tertawa absurd. Sepertinya dia terlalu berharap.


"Aku mau mandi, gerah. Kamu tidur dulu aja."


Elgar beranjak dari duduknya, meninggalkan Mila yang masih bergeming ditempat. Mila menghela nafas begitu Elgar memasuki kamar mandi. Bayangannya tentang malam pertama penuh drama lagi dan lagi seperti waktu itu, ternyata gak kejadian. Tapi kenapa, rasanya dia kayak gak rela disuruh tidur duluan.


Ahhh, apaan sih Mila, kok malah kamu yang ngarep banget gini. Elgar bilang tidur ya tidur, masa mau protes dan bilang gak mau.


Dengan perasaan kesal, kecewa dan lain lain, dia berjalan menuju tempatnya menaruh koper. Membukanya dengan malas dan....huft, dia membuang nafas kasar. Kenapa justru baju dinas yang ada dihadapannya sekarang. Baju kurang bahan warna soft pink yang sengaja dia beli untuk malam pertama. Kemarin sengaja dia letakkan paling atas karena dia pikir, itulah yang paling dibutuhkan. Ternyata, dia harus menyelipkan benda itu di tumpukan paling bawah sekarang. Mengambil piyama tidur gambar hello kitty lalu memakainya.


Mila menatap nanar kelopak mawar merah diatas ranjang yang seolah mengejeknya. Dihempaskannya tubuhnya keatas ranjang hingga kelopak mawar itu berhamburan tak karuan.


Tadi ngantuk berat sampai ketiduran, tapi sekarang matanya justru terang benderang, jauh dari kata kantuk.


Ceklek


Begitu pintu kamar mandi terbuka, cepat cepat Mila memejamkan mata pura pura tidur. Aroma wangi sabun mengusik penciumannya. Terbayang bayang betapa segarnya kulit tubuh Elgar saat ini.


Mila membuka matanya sedikit, mengintip Elgar yang ternyata hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggang. Tubuh atletisnya yang basah membuat Mila menelan ludah. Andai saja tubuh kekar dan wangi itu mengungkungnya saat ini. Astaga, tubuh Mila mendadak panas dingin.


"Belum tidur?" Mila merapatkak keduanya matanya agar Elgar gak curiga.


"Aku tahu kamu ngintip."


Ish ketahuan, memalukan sekali. Pelan pelan Mila menarik guling untuk menyembunyikan wajahnya.