
Hoek hoek hoek
Sudah 3 hari ini, Salsa selalu muntah muntah. Tapi pagi ini, yang paling parah. Wajahnya pucat pasi hingga membuat mamanya cemas. Bu Rendra memanggil suster yang merawat suaminya untuk mengecek Salsa. Meskipun bukan dokter, tapi setidaknya dia adalah perawat yang sedikit banyak mengerti tentang masalah kesehatan.
"Gimana sus, apa perlu dibawa kerumah sakit?" tanya Bu Rendra.
"Maaf sebelumnya, boleh saya tanya?"
Salsa dan mamanya saling bertatapan lalu mengangguk.
"Kapan terakhir kali Non Salsa datang bulan?"
Salsa melongo, selama ini dia memang tak pernah mengingat atau menandai tanggal datang bulannya. Dia divonis susah memiliki keturunan. Sudah 7 tahun menikah, belum juga pernah sekalipun hamil. Oleh karena itu, dia tak peduli lagi kapan datang bulan.
"Apa dia hamil?" tanya Bu Rendra ragu ragu.
"Sepertinya Bu."
Bertahun tahun menikah dan tak punya anak, kenapa mendadak hamil saat sudah diceraikan. Bu Rendra tak habis pikir.
"Sepertinya Suster salah. Saya tak mungkin hamil. Dokter sendiri yang bilang jika saya susah hamil karena alkoholism serta gaya hidup tak sehat lainnya."
Suster Nana tersenyum sembari melihat Salsa dan Bu rendra bergantian.
"Susah bukan berarti tidak bisa. Jika masalahnya hanya karena gaya hidup, Non Salsa masih bisa hamil jika merubahnya. Selain itu, jika Nona bisa benar benar berhenti mengkonsumsi alkohol, kemungkinan bisa hamil itu pasti ada."
Salsa terdiam. Dia memang sudah sangat jarang mengkonsumi alkohol. Bahkan sebulan terakhir ini, bisa dibilang dia zero. Sama sekali tak mengkonsumsi minuman memabukkan itu lagi. Dia teringat vitamin yang selalu diberikan Ben, jangan jangan itu vitamin penyubur kandungan. Dia tahu jika teman dekat Ben adalah dokter kandungan.
"Apa kami perlu memeriksakannya ke rumah sakit?" Bu Rendra sama seperti Salsa, masih belum yakin jika putrinya hamil.
"Sebaiknya dicek menggunakan test pack dulu saja Bu. Jika hasilnya positif, selanjutnya bisa diperiksakan ke dokter kandungan."
Salsa menelan ludahnya susah payah. Apa benar jika saat ini dia tengah mengandung anak Ben? Karena tak mungkin dia mengandung anak Elgar, sudah sangat lama mereka tak melakukan hubungan badan, bahkan sudah setahun lebih.
Bu Rendra memanggil salah satu pelayan untuk membelikan test pack. Besar harapannya Salsa benar benar hamil. Berita gembira ini pasti bisa membuat suaminya lebih semangat berjuang hidup. Selain itu, mungkin saja Salsa dan Elgar bisa kembali rujuk.
Diteras, Pak Rendra yang tengah berjemur dibawah sinar matahari pagi, melihat kearah pintu gerbang. Disana ada seorang kurir yang memberikan amplop pada satpam.
"Surat untuk siapa?" tanyanya pada satpam yang mendekat dengan amplop ditangannya.
"Untuk Non Salsa tuan."
Pak Rendra meminta surat tersebut. Dan betapa kagetnya saat dia membacanya, ternyata itu surat panggilan sidang perceraian. Pak Rendra terduduk lemas dikursinya, jadi ini alasan sebenarnya Salsa tak pulang kerumahnya. Elgar bahkan tak pernah sekalipun datang kesini meski Salsa ada disini. Tapi, kenapa Salsa tak cerita apa apa?
...----------------...
Ben merasakan tubuhnya meriang, sejak kemarin tak nafsu makan karena mual. Hari ini dia mendadak teringin makan tortilla de patatas, makanan seperti omelet, khas negara asal Ben, yaitu spanyol.
Selain hobi melukis, Ben juga hobi memasak. Jadi meski badannya sedang tak bersahabat, dia tetap memaksa memasak didapur. Tadi dia sudah sempat menghubungi Salsa berkali kali, dia ingin Salsa datang untuk makan bersamanya. Sayanganya Salsa tak menjawab panggilannya. Sudah lama mereka tak bertemu sejak Salsa pulang kerumah orang tuanya.
Disaat Ben tengah sibuk didapur, bel apartemennya berbunyi.
Senyum Ben seketika lenyap saat melihat tamu yang datang. Ternyata bukan Salsa, melainkan suaminya, yaitu Elgar.
"Boleh aku masuk."
Meski sedikit keberatan, Ben akhirnya membuka lebar pintu apartemennya untuk Elgar.
"Silakan duduk." Ben melepas apronnya lalu ikut duduk. Sama sekali tak berniat menjamu dengan minuman atau snack karena dia yakin, Elgar datang bukan untuk itu. Suasana terasa canggung. Bagaimanapun, mereka sama sekali tak pernah berbicara apalagi berkenalan sebelum ini, meski sama sama saling tahu.
"Aku yakin kau sudah mengenaliku meski kita tak pernah berkenalan."
Ben bergeming, memang seperti itulah kenyataannya.
"Apa Salsa ada disini?" Apartemen ini sudah menjadi rumah kedua Salsa, jadi tak salah jika Elgar bertanya tentang itu.
"Jadi tujuanmu datang untuk mencari Salsa?"
Elgar menggeleng.
"Aku dan Salsa sudah sah bercerai secara agama."
Ben terkejut mendengarnya. Jadi ini alasan Salsa menangis hari itu. Tapi kenapa sampai detik ini Salsa tak cerita apapun padanya.
"Melihat ekspresimu, sepertinya kamu belum tahu." Elgar tersenyum miring. Dia pikir, Salsa akan datang pada Ben dan menceritakan semuanya, sayang tebakannya salah. Jadi kesimpulannya, Salsa benar benar pulang kerumah orang tuanya.
Keputusannya untuk menjauhi Mila dan Saga ternyata tepat. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada mereka karena dia tahu Pak Rendra manusia yang sangat kejam. Meski bisa dibilang saat ini raganya sudah tak ada daya, tapi dia masih punya kekuasaan yang hanya dengan memerintah, anak buahnya akan bergerak.
"Besok, sidang pertamaku dan Salsa digelar. Surat panggilannya tertuju kealamat rumahku. Tapi kemarin, aku sudah menyuruh kurir untuk mengirimkan surat fisiknya kealamat orang tuanya. Kemungkinan hari ini sudah sampai."
"Jadi tujuanmu datang untuk mengabariku tentang ini?"
"Benar. Tapi selain itu, aku ingin meminta bantuanmu."
Ben mengernyitkan dahinya. Suami selingkuhannya datang meminta bantuan padanya, terdengar sangat konyol. Bukankah lebih wajar jika Elgar menghajarnya.
"Jika kau benar benar mencintai Salsa dan ingin bersamanya. Bujuk Salsa agar tak hadir dalam persidangan. Dengan begitu, proses perceraian kami akan berjalan lebih cepat. Salsa bisa segera babas dariku dan menjadi milikmu seutuhnya."
Ben bergeming, memang ini harapannya selama ini, Salsa bercerai dengan Elgar. Tapi masalahnya, Salsa selalu kekeh bilang tak mau berpisah dengan Elgar, jadi mungkinkah kali ini dia bisa membujuk Salsa untuk tidak datang?
"Aku harap, kau bisa melakukannya. Aku tak pernah menganggapmu musuh. Tujuan kita sebenarnya sama. Aku ingin melepaskan Salsa, dan kau ingin mendapatkannya. Jadi aku harap, bekerja keraslah untuk membujuk Salsa agar tak perlu hadir dalam proses perceraian sampai hakim memutuskan kami bercerai."
Setelah mengatakan tujuannya, Elgar langsung pulang.
Ben mengambil ponselnya untuk menghubungi Salsa. Dia kecewa karena masalah seperti ini, Salsa tak cerita padanya. Apa Salsa sudah tak menganggapnya lagi.
Berkali kali Ben menelepon tapi hasilnya tetap sama, tak ada jawaban.
Disana, Salsa menatap layar ponselnya yang menyala dan muncul nama Ben. Saat ini, pikirannya sedang kacau. Ditangannya, ada sebuah test pack dengan dua garis merah.