
Mila duduk ditepi ranjang sambil menatap test pack yang ada ditangannya. Belum juga genap 3 minggu menikah, ya kali udah hamil. Meski dulu pas Saga juga cepet prosesnya, habis lepas KB langsung hamil, tapi sekarang, rasanya dia belum yakin. Apalagi tak ada tanda tanda kehamilan pada dirinya. Dia memang sudah telat 2 hari dari masa menstruasinya. Tapi dia belum yakin kalau hamil. Mungkin telat datang bulan karena terlalu kelelahan.
"Apaan itu?" Tanya Elgar yang baru saja memasuki kamar. Dia baru saja dari toilet. Sebenarnya dia merasa kerepotan dirumah Mila karena hanya ada satu kamar mandi, itupun letaknya dibelakang, dekat dapur. Mau ngomong sama Mila, takutnya salah paham dan dikira gak mau tinggal disini.
"Mama ngasih aku ini." Mila menunjukkan test pack ditangannya.
"Emang kamu hamil?"
"Gak tahu. Orang nikahnya aja belum genap 3 minggu, masa iya udah hamil aja." Mila menaikkan kakinya keatas ranjang lalu bersandar pada kepala ranjang.
"Ya siapa tahu jadi. Coba aja dicek besok pagi." Elgar ikut naik keatas ranjang lalu duduk disebelah Mila.
"Kalau enggak gimana?"
"Ya bikin lagi, gitu aja kok repot." Sahut Elgar dengan santainya. "Apa sekarang mau bikin lagi, hayuk." Ujarnya sambil menaikkan sebelah alis dan merangkul Mila.
"Malam ini libur." Mila menyingkirkan tangan Elgar yang ada melingkari punggungnya. "Aku beneran capek pulang dari Korea. Pengen cepet tidur malam ini." Mila menata bantal, merebahkan tubuh lalu memejamkan mata.
Sejak menikah dengan Elgar, jam tidurnya benar benar terpangkas habis. Dia yang biasanya tidur malam 6-7 jam, sekarang hanya setengahnya saja.
Elgar menarik selimut, menutupi tubuh Mila hingga sebatas dada lalu turun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Mila sambil menoleh kearah Elgar.
"Takut banget sih aku tinggalin." Elgar terkekeh sambil geleng geleng. "Cuma mau ngambil laptop." Elgar mengambil laptop yang ada diatas meja lalu kembali naik keatas ranjang.
Mila menggeser badannya kedekat Elgar lalu memeluk pinggang pria yang lagi duduk itu. Elgar ingin mencicil pekerjaan yang terbengkalai selama hampir 3 minggu dia cuti.
Elgar fokus manatap laptop, sesekali tangannya mengusap lembut kepala Mila.
"Belum tidur yank?" Elgar merasakan Mila yang masih gelisah.
"Gak bisa tidur, pengen dipeluk kamu."
Elgar tersenyum mendengar penuturan Mila. Rasanya bahagia saat Mila membutuhkannya seperti ini. Dia lebih suja jika Mila manja seperti ini daripada terlalu mandiri.
Elgar menutup laptopnya, menaruh diatas nakas lalu merebahkan badan disebelah Mila. Masuk kedalam selimut yang sama, meraih bahu Mila lalu mendekapnya didada. Inilah yang diinginkan Mila dari tadi. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan saat berada dalam pelukan Elgar.
"Yank."
"Hem.."
"Bisa gak sih, kalau manggil aku jangan El."
"Terus apa? papa gitu, kayak Saga?"
"Lainnya."
"Apa?"
"Sayang, cinta, beb, honey." Elgar memberikan pilihan.
"Malu, kayak orang pacaran aja."
"Yang pacaran aja gak malu, masa yang udah halal malah malu." Elgar berdecak sambil geleng geleng. Seperti inilah yang namanya dunia terbalik. Yang pacaran aja manggilnya mama papa, ayah bunda, yang udah nikah malah malu.
"Aku panggil Bang aja ya?"
"Gak, kayak penjual nasi goreng aja dipanggil Bang."
Mila terkekeh pelan. Mendadak dia teringat Bang Somat, penjual nasi goreng yang sering lewat didepan rumah. Dulu pas awal awal pindah, sering dikasih gratis karena Bang somat yang naksir Bu Rahmi.
"Ya gak gitu juga kali konsepnya. Ya udah Mas aja kalau gitu."
"Apalagi Mas, ogah. Dah kayak Mas Mas pegawai swalayan aja. Gak mau ah."
Mila membuang nafas kasar. Bukan Elgar namanya kalau nurut begitu saja. Dia pasti mau menang sendiri, sudah dari dulu kayak gitu.
"Hubby aja gimana?" saran Elgar.
"Kepanjangan, ribet, kurang simpel. Entar kalau aku manggil Hab, dikira cicak lagi."
"Cicak?" Elgar garuk garuk kepala.
"Iya, kayak cicak lagi makan aja. Hap, langsung ditangkap." Sengaja Mila lagukan agar Elgar paham.
"Ya gak harus Hab juga yank." Elgar tetiba kesal. "Kan bisa Bi."
"Yaelah gitu aja pakai dipikirin dulu, kelamaan. Panggil Bi ya Yank? yank, yank, kok diem?"
Elgar memperhatikan wajah Mila, ternyata wanita itu sudah tertidur, terlihat dari matanya yang tertutup dan nafasnya yang teratur. Yahhh dikacangin.
...----------------...
Pagi pagi Mila sudah mendapatkan teror dari mertuanya. Wanita paruh baya itu menelepon di jam 9 pagi. Mila yakin dia pasti mau menanyakan hasil test pack.
"Gimana hasilnya?"
Seperti dugaan Mila, itulah kalimat pembukaan yang diucapkan Bu Dirga. Singkat, tapi efeknya luar biasa.
"Ma, maaf Ma. Tadi pagi Mila lupa. Kalau dicek jam segini, takutnya gak akurat. Jadi besok pagi aja ya Mah. Mila bakal langsung fotoin hasilnya dan kirim ke Mama."
Bu Dirga diam saja, membuat Mila merasa bersalah. Harusnya dia tes saja tadi pagi, toh gak ada ruginya. Sebenarnya Mila tak lupa. Dia memang sengaja mengundur, takutnya alat test pack belum bisa mendeteksi kehamilan jika masih terlalu dini. Tapi jadinya malah terkesan dia mengabaikan perintah mertua. Apalagi Bu Dirga sudah repot repot membelikan test pack untuknya.
"Mah, sekali lagi Mila minta maaf. Tadi kesiangan, terus langsung ngurusin Saga sekolah, belum lagi El mulai kerja hari ini." Mila beralasan. Semoga saja mertuanya itu tak marah.
"Ya udah gak papa. Gak usah merasa bersalah. Mungkin mama aja yang terlalu terburu buru, saking pengennnya segera dapat kabar gembira."
Mila juga sependapat. Mertuanya itu terlalu terburu buru.
"Besok Mila janji bakal ngecek. Semoga aja positif ya Ma."
"Aamiin."
Mila bernafas lega saat telepon ditutup. Setidaknya Bu Dirga tidak marah padanya. Semoga saja besok ada hasil yang bagus.
Mila kembali merekap pesanan dionline shopya. Dari pagi dia dan Aisyah sibuk menjawab chat customer. Habis dzuhur nanti mereka harus mulai mempacking barang yang akan diambil oleh ekspedisi.
"Mbak Aisyah, kayaknya Mila harus pergi sebentar deh. Harus kekantor El buat nganter makan siang. Lagi mode manja dia, minta dianterin makan siang." Ujar Mila sambil tertawa ringan.
"Selama masih bisa dan wajar, turutin aja permintaannya. Toh mendatangkan pahala juga bagi diri kita. Pria seperti Elgar itu seribu satu. Tampan, mapan dan mbak lihat, sayang banget sama kamu. Yang kayak gitu biasanya jadi inceran pelakor."
Mila membernarkan ucapan Aisyah dalam hati. Tapi menjaga Elgar 24 jam rasanya juga mustahil. Dia hanya bisa berdoa supaya Elgar bisa selalu menjaga hati untuknya.
Melihat wajah Mila yang mendadak murung, Aisyah jadi merasa bersalah.
"Maaf ya Mil, bukannya mbak menakut nakutin kamu. Mbak hanya mengingatkan sebagai sesama perempuan. Mbak sudah tahu seperti apa rasanya suami diambil pelakor. Semoga saja kamu dan Elgar selalu bahagia. Cukup mbak saja yang merasakannya."
Mila mendekati Aisyah yang matanya sudah berkaca kaca. "Sabar mbak. Mila yakin mbak Aisyah bakalan dapat ganti yang lebih baik."
Aisyah tak mengamini. Saat ini dia sedang tak ingin mencari pengganti atau kembali membina rumah tangga. Hinaan mertua dan suaminya yang selalu mengatainya mandul membuatnya tak berani untuk kembali berumah tangga. 3 tahun Aisyah menikah, tapi selama itu, dia belum juga dikaruniai momongan.
...----------------...
Reno langsung tancap gas setelah menurunkan Mila didepan kantor. Dia harus buru buru menjemput Saga dari sekolah.
Mila mendadak gugup saat mau menginjakkan kaki di gedung SE Corp. Mengingat hinaan Nora cs waktu itu membuat Mila sedikit cemas. Mungkin masih banyak Nora Nora lain dikantor ini.
Mila tersenyum pada sesiapa yang dia jumpai dilobi. Semua orang menyapa dan tersenyum padanya. Tapi tak ada yang tahu senyum itu tulus atau modus.
Saat hendak memasuki ruang Elgar, Dina sekretaris Elgar memberitahu jika saat ini, Elgar sedang meeting dengan salah satu klien penting diruangannya. Tak mau mengganggu, Mila menitipkan makanan dimeja Dina lalu pergi ke toilet.
"Lihat gak tadi Mila ke kantor?"
"Iya lihat."
Didalam bilik toilet, tak sengaja Mila mendengar percakapan karyawan yang sepertinya sedang membicarakannya.
"Cih, lagaknya udah kayak bos besar sekarang. Mentang mentang dinikahi bos dia jadi belagu. Padahal nih ya, dia dulunya hanya office girl."
"Emang kamu kenal dia dulu?"
"Gak kenal sih, cuma tahu. Dulu kan aku kerja di Dirgantara grup."
"Tapi emang beneran cantik si Mila. Pantesan Pak Elgar tergila gila padanya. Sampai rela ninggalin Bu Salsa demi dia."
"Tapi secantik apapun dia, tetap gak sebanding ma Bu Salsa. Gayanya jelas kalah level. Bu Salsa mah kaya dari orok. Semua barangnya bermerk, gayanya berkelas. Lha si Mila, dia mah apa, cuma mantan ob, mana ngerti barang branded. Jauhhhh kalau dibandingin sama Bu Salsa. Ibarat Bu Salsa ikan salmon, dia mah ikan lele."
Perkataan wanita itu langsung disambut tawa oleh temannnya.
Mila meremat ujung gaunnnya. Dia tak bisa diam saja, harus memberi pelajaran wanita diluar itu sampai kena mental.