Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 49


Aden melajukan mobilnya menuju mini market yang ada diujung komplek dekat dengan jalan raya. Disebelahnya, Saga tampak bahagia karena kepengennya makan es krim akan keturutan. Sesampainya di minimarket, Saga segera menuju tempat es krim, memilih beberapa tapi kemudian dia kembalikan lagi.


"Kenapa?" Aden mengerutkan kening.


"Boleh gak Om, Saga beli tiga?" Tanyanya sambil menunjukkan angka 3 dengan jarinya.


"Sekalian sama freezernya juga boleh. Udah ambil aja, sekalian ambil tuh jajan mana yang kamu suka." Aden menunjuk rak makanan ringan. Perasaan kesalnya pada sang bos masih belum hilang, masih ingin dia lampiaskan dengan menghabiskan uangnya sebanyak mungkin.


"Tapi, nanti Saga dimarahin mama kalau jajan banyak banyak." Saga berada dalam dilema, antara ingin belanja banyak, tapi takut dimarahi.


Aden tak mau banyak bicara lagi, dia mengambil keranjang lalu memasukkan beberapa es krim kedalamnya. Termasuk yang tadi sempat dipegang Saga. Selanjutnya dia membawa Saga ke rak makanan ringan.


"Cepetan pilih, terus pulang. Keenakan entar emak sama bapak kamu kalau dibiarin berduaan doang."


Saga tak menggubris keluh kesah Aden, dia mengambil beberapa keripik, coklat dan jelli lalu memasukkannya kedalam keranjang. Setelah keranjangnya penuh, Aden mengajaknya ketempat kasir. Sumpah demi apapun, dia tak rela bosnya enak enakan berduaan sedang dia jadi baby sitter.


Seorang kasir berparas cantik mulai menghitung belanjaan mereka.


"Gak sekalian rotinya Pak, beli satu gratis satu." Aden hanya menjawabnya dengan gelengan dan senyum. Rasanya ingin sekali kali dipanggil mas, sayang kemanapun dia pergi, semua orang memanggilnya pak.


"Atau wafernya, beli 2 gratis satu." Lagi lagi Aden menggeleng. Memang selalu seperti ini kalau belanja di minimarket. Mungkin trik agar laku.


"Atau minumannya?"


Aden menghela nafas lalu menatap kasir yang lumayan cantik tersebut. "Ada gak yang gratisannya nomor telepon kamu?"


Kasir tersebut langsung menelan ludahnya. "Maaf Pak, kalau yang itu tidak ada."


Saga yang berdiri disamping Aden terkekeh mendengarnya.


"Kayaknya anaknya paham Pak. Awas diaduin kemamanya nanti." Ujar kasir tersebut sambil menahan senyum.


Aden tertunduk lesu. Apa tampangnya sudah sangat tua seperti bapak bapak, sehingga dikira bapaknya Saga.


"Bukan anak saya, saya masih perjaka."


"Ups, maaf." Kasir tersebut reflek menutup mulutnya.


Selesai membayar dikasir, mereka berdua keluar. Didekat pintu, ada seorang nenek nenek yang meminta minta. Saga menarik lengan Aden supaya berhenti.


"Om, ada duit gak? Saga mau ngasih nenek itu." Saga menunjuk dagu kearah nenek peminta minta.


Aden merogoh saku celananya, ada uang lima ribu disana dan langsung dia berikan pada Saga. Bocah kecil itu mendekati nenek tersebut dan memasukkan uang kedalam baskom yang ada didepan nenek pengemis.


"Makasih ya Nak, semoga kamu jadi anak yang pintar dan banyak rejekinya."


"Aamiin, sama sama nenek."


Aden membuang nafas kasar melihatnya.


Enak banget cari duit, duduk doang udah ada yang ngasih. Lha aku? harus kerja banting tulang sekalian banting hati sampai remuk berkeping keping buat dapet uang.


...----------------...


Sementara dirumah, Mila dan Elgar sama sama diam. Padahal tadi sebelum bertemu, rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan, tapi sekarang, rasanya kenapa jadi canggung.


Elgar yang duduk disofa panjang, menepuk bagian kursi sebelahnya, memberi isyarat agar Mila berpindah duduk. Mila pura pura tak paham. Mana mungkin dia duduk sedekat itu dengan Elgar. Jauh seperti ini aja udah lumayan canggung, apalagi sedekat itu.


"Pindah sini." Kata itu akhirnya dia keluarkan melihat Mila yang pura pura tak paham.


"A, aku disini saja," tolak Mila.


Elgar tersenyum terpaksa mendengar penolakan Mila. Tapi dia tak patah semangat, masih ada seribu satu cara untuk bisa lebih dekat dengan Mila.


"Aku sudah duda."


"Hem, aku sudah tahu." Sahut Mila datar, tak ada ekspresi senang atau apapun.


"Cu..ma gitu responnya?" Elgar kecewa melihat Mila yang tampak biasa saja.


"Terus, aku harus jingkrak jingkrak gitu, atau salto?"


Elgar tertunduk lesu. Jauhhh sekali dari harapannya. Dia pikir Mila akan bahagia karena tak ada halangan lagi untuk mereka bersama.


"Boleh aku tanya?" Elgar yang tadi sedikit cengengesan mendadak serius. "Kamu masih kecewa sama aku? Belum bisa menerima aku sepenuhnya?"


Mila tak menyangka jika Elgar jadi baper seperti ini. Padahal tadi dia hanya mengerjai, pura pura cuek dengan status baru Elgar agar pria itu kesal, tau nya malah beper. Sebenarnya dia juga bahagia dengan status baru Elgar.


Mila terdiam, dalam lubuk hatinya yang terdalam, rasa kecewa itu memang ada. Tapi rasa cintanya jauh lebih besar dari rasa kecewa itu. Tak ada niat sedikitpun dia untuk membalas Elgar.


"Sepertinya kamu masih ragu untuk rujuk denganku. Tapi aku bukan Elgar yang dulu. Sepuluh kali kamu menolakku, sebelas kali aku akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali, dan seterusnya. Dan saat akta ceraiku keluar, aku akan langsung mengajak mamaku untuk melamarmu."


Disaat keduanya tengah sibuk dengan pikiran masing masing, Bu Rahmi datang membawakan minuman.


"Tidak perlu repot repot Bu," ujar Elgar.


"Hanya minuman. Kamu bilang tamunya dua Mil, mana yang satu?"


"Kemini market Bu, sama Saga, beli eskrim."


"Oh...." Setelah itu Bu Rahmi kembali kedalam, meninggalkan Mila dan Elgar berdua.


"Minum dulu, biar adem," ujar Mila.


"Lebih adem lagi kalau disenyumin kamu."


Mila memutar kedua bola matanya malas. Dulu rasanya Elgar tak pernah gombal seperti ini, tapi sekarang, kenapa mendadak pintar sekali.


Elgar meraih cangkir berisi teh didepannya, menyeruputnya sedikit lalu meletakkan kembali keatas meja.


"Mil, ada apa dibawah kamu itu?" Elgar menatap tajam bawah sofa single yang diduduki Mila.


"Apaan sih?" Mendadak Mila penasaran, ikut melihat kearah bawah. Tapi tak ada apa apa disana. Elgar berdiri dan terus menatap kearah yang sama.


"Coba kamu berdiri dulu."


Tanpa curiga, Mila menurut saja berdiri sambil memperhatikan sofa bagian bawah yang tadi dia dudukin. Disaat Mila masih fokus menatap bawah, Elgar menariknya cepat, mendudukkan disofa panjang dan langsung diikuti Elgar duduk disebelahnya. Saat itu juga, dia sadar jika Elgar sedang mengerjainya.


"El, apa apaan sih." Mila hendak bangkit tapi Elgar lebih dulu menahannya dan menyandarkan kepala kebahu Mila.


"Aku ngantuk Mil." Dengan santainya Elgar bersandar di bahu Mila sambil memejamkan matanya.


Mila melirik kearah Elgar. Dia tak habis pikir, bisa bisanya Elgar punya ide gila seperti ini. Dan sekarang, dengan santai dan tanpa dosa malah bersandar dibahunya


"El, malu kalau ibu lihat." Mila kembali hendak berdiri tapi Elgar menahan lengannya.


"Please, sebentar saja. Semalam aku gak bisa tidur saking gak sabarnya ingin segera pagi dan sidang. Aku benar benar ingin segera lepas dari Salsa. Please Mil, biarin aku tidur sebentar dibahu kamu, sandaran ternyaman buat aku."


Mila tak kuasa menolak, dia akhirnya membiarkan Elgar tidur dibahunya. Mila menyandarkan punggung kesandaran kursi, lelah juga kalau harus duduk tegak dengan kepala Elgar dibahunya.


Tak berapa lama, Mila bisa merasakan jika nafas Elgar mulai teratur, sepertinya pria itu tidak berbohong, benar benar ngantuk, buktinya sekarang sudah tertidur. Tangan Elgar bergerak menggenggam tangan Mila, karena dalam posisi tidur, Mila membiarkan saha. Mendadak dia pun mulai sedikit mengantuk.


"Hem hem."


Mila yang baru saja memejamkan mata langsung gelagapan mendengar deheman ibunya. Dengan wajah memerah karena malu, dia cepat cepat melepaskan tangan Elgar dan reflek berdiri. Membuat kepala Elgar seketika terjatuh hingga terhantuk sofa. Tak pelak pria itu langsung terbangun dan melihat ada Bu Rahmi diruang tamu.


Suasana seketika berubah canggung, sampai akhirnya Bu Rahmi bersuara.


"Ibu mau nganter kue kerumah Bu Sari sebentar." Ditangannya ada sekotak kue yang tadi dibawa Elgar.


"I, iya Bu."


Begitu Bu Rahmi keluar, Mila kembali duduk dan langsung memelototi Elgar. "Tuh kan, aku bilang apa. Malu kalau ketahuan ibu," Mila berucap geram dengan tangan mengepal, ingin sekali memukul Elgar saking kesalnya.


"Ibu kamu pasti ngerti. Lagian kita gak ngapa ngapain." Elgar mengambil sepotong kue coklat dan menyodorkannya kedepan mulut Mila. Tak mau disuapi, Mila mengambil kue itu dari tangan Elgar dan memakannya sendiri. Kalau lagi kesal seperti ini, makan terasa lebih enak.


Elgar terkekeh pelan melihat Mila yang bersemangat mengunyah kue, diapun ikut mengambil dan memakannya.


Elgar berhanti makan saat melihat krim coklat yang ada dibibir Mila. Bibir yang sejak dulu sangat digilainya itu mendadak terlihat sepuluh kali lebih manis saat teroles krim coklat. Jakun Elgar bergerak naik turun. Cepat cepat dia menunduk agar tak melihat godaan yang sangat besar itu.


"Ada apa sih?" Mila merasa Elgar sedikit aneh.


Elgar mengangkat wajahnya, tatapannya tak bisa beralih dari bibir dengan krim coklat. Dia tak tahan lagi, perlahan mulai memajukan wajahnya kearah wajah Mila.


Melihat wajah Elgar yang semakin dekat dan mata yang terus tertuju pada bibirnya, jantung Mila berdegup kencang. Tubuhnya mendadak terasa kaku, bukannya menghindar, dia malah memejamkan mata.


"Mama."


Teriakan Saga membuat Elgar dan Mila reflek menjauhkan wajah mereka. Padahal tinggal satu senti lagi kedua bibir itu menyatu, tapi kehadiran Saga yang tiba tiba membuyarkan semuanya.


Didekat pintu, Aden tak kuasa menahan tawa. Rasanya puas melihat bosnya gagal berciuman.