
I'm free
Sebuah chat dari Elgar disertai foto selfie pria itu yang tengah tersenyum didepan pengadilan agama. Raut wajahnya tampak sangat bahagia, membuat hati Mila tergelitik ingin membalas, tapi bingung harus menanggapi seperti apa.
Congratullation
Ketik Mila dilayar ponsel tapi ragu untuk menekan send. Perceraian bukanlah sesuatu yang bagus, pantaskah dia mengucapkannya? Mila menghapus kembali ketikannya, tapi setelah dia pikir pikir, gak papa juga bilang selamat, toh memang ini yang diharapkan Elgar. Kembali jemari Mila mengetik dilayar ponsel.
Selamat
Arghhh rasanya tak pantas mengatakannya, kembali dia menghapus ketikannya.
Didalam mobil yang disupiri Aden, Elgar mendesis karena geregetan. Dari tadi status Mila sedang mengetik, tapi sampai sekarang tak muncul muncul juga balasan darinya.
Lama banget ngetiknya?
Mila melotot membaca chat masuk dari Elgar. Astaga, memalukan sekali ke gap kayak gini.
Ponsel ditangan Mila tiba tiba berdering, tertulis nama Elgar dilayar. Pria itu sepertinya tak sabar menunggu Mila yang terlalu lama menulis chat balasan. Meski ragu ragu, akhirnya Mila menjawabnya.
"Hallo."
Senyum Elgar mengembang mendengar suara Mila.
"Mau ngetik apa sih, lama banget? Kalau kangen, bilang aja kangen, gak usah jaim." Goda Elgar sambil terkekeh pelan.
Melihat bosnya bicara, Aden memperhatikan sebentar dari center mirror. Dia berdecih pelan melihat bosnya begitu bahagia dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir. Sayangnya berbanding terbalik dengan hati Aden saat ini, karena dia tahu pasti, bosnya itu tengah menelepon Mila.
"Saga udah pulang?"
"Udah."
"Aku kesana sekarang."
Mata Aden seketika melotot. Elgar gak akan mengajaknya kerumah Milakan? Astaga, yang ada kesehatan hatinya bisa terancam jika benar benar Elgar mengajaknya kerumah Mila.
"Kita kerumah Mila. Tapi sebelum kesana, mampir ke toko kue sebentar." Titah Elgar dan langsung dijawab iya oleh Aden. Begitu sampai didepan toko kue, Elgar menyuruh Aden membeli kue untuk keluarga Mila, sedangkan dia menunggu sambil duduk manis didalam mobil, membayangkan masa masa bahagia yang sudah kelihatan hilalnya.
Sambil menggerutu, Aden memasuki toko kue. Tiba tiba terbesit ide jahil dikepalanya. Dengan kartu debit dari Elgar, dia memborong kue hingga 6 kantong besar.
"Kau gila hah." Bentak Elgar begitu melihat apa yang dibawa Aden. "Mila hanya tinggal bertiga, siapa yang akan memakan kue sebanyak ini?"
Aden tertawa dalam hati. Mampus lo, gue kerjain, umpatnya dalam hati.
"Anggap aja selametan bos. Bos kan lagi happy nih, nanti kuenya biar dibagi bagikan ke tetangga Mila."
Aden pikir Elgar akan mengamuk, tapi ternyata dia salah, bosnya itu malah tertawa. "Bener juga ide kamu, kenapa aku gak kepikiran sampai kesana." Bukannya Elgar yang kesal, malah Aden yang jadinya kesal karena rencananya gagal.
Elgar dan Aden melanjutkan perjalanan menuju rumah Mila. Melihat penjual bunga ditepi jalan, terbesit ide dikepala Elgar membelikan bunga untuk Mila.
"Berhenti, turun dan belikan bunga untuk Mila."
Aden mendesahh pelan. Tak habis habisnya bosnya itu menyuruhnya. Kenapa dia tak turun sendiri untuk membeli?
"Baik Pak Bos." Aden menggeram frustasi. Disaat bosnya bahagia, kenapa dia yang menderita.
"Ingat, yang paling bagus dan mahal." Peringat Elgar saat Aden hendak keluar dari dalam mobil.
Cerewet.
Lagi lagi Aden tak henti hentinya menggeruti. Seumur umur, dia belum pernah membelikan bunga untuk perempuan, pertama beli, ehhhh...untuk cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Ini pertama kalinya Aden masuk toko bunga. Dia pikir, toko bunga hanya menjual bunga yang sudah dipotong saja, nyatanya ada bunga hidup dalam pot kecil kecil yang juga dijual disini.
Dia tersenyum saat lampu pijar diotaknya menyala. Langsung saja dia beli bunga mawar yang satu bunganya sudah mekar dalam pot kecil.
Biar dia ngamuk lalu turun sendiri untuk membeli bunga. Enak banget jadi bos, apa apa tinggal pakai mulut aja, gak usah gerak. Udah tahu aku suka sama Mila, eh aku yang disuruh suruh, sengaja apa, bikin aku sakit hati?
Aden tertawa cekikikan didepan kasir, membuat wanita penjaga toko itu merinding.
Aden mengetuk kaca jendela dimana Elgar duduk. Melihat apa yang dibawa Aden, mata Elgar langsung melotot. Dia membuka kaca jendela, berniat hendak memarahi Aden, tapi tiba tiba batal dan malah tersenyum.
"Bagus juga ide kamu beli bunga hidup. Setidaknya bunga itu tak akan layu dan terus tembuh seperti cintaku pada Mila."
Mobil yang mereka tumpangi melanjutkan perjalanan menuju rumah Mila. Sampai digate depan perumahan Mila, Elgar meminta Aden berhenti, dia memberikan satu paperbag kue pada satpam yang berjaga.
"Terimakasih bos, semoga rejekinya makin lancar." Seru salah satu satpam dan hanya diangguki sambil senyum oleh Elgar.
Dih, nyogok satpam. Palingan biar gak diusir kalau ngapelnya sampai kemaleman.
Aden tak henti hentinya menggerutu. Apapun yang dilakukan Elgar, terasa salah dimatanya. Mungkin karena sakit hati dan cemburu.
Sesampainya didepan rumah Mila, Aden menolak untuk turun. Dia tak akan sanggup menatap Mila yang tengah berbahagia dengan Elgar. Seribu satu asalah dia lontarkan demi bisa kembali ke kantor lebih dulu.
"Siapa yang akan bawa kuenya kalau kamu kembali lebih dulu."
Sial, haruskah aku melihat mereka dengan semena menanya menyakiti hatiku?
Aden menghela nafas pasrah. Mengambil semua kantong berisi kue dari dalam mobil lalu mengikuti langkah Elgar menuju pintu rumah Mila.
"Aku tahu kau hanya mencari alasan untuk tak melihatku dengan Milakan?" Aden tak berniat menjawab, karena dia yakin, Elgar tahu jawabannya. "Kau asisten pribadiku, nanti saat aku menikah dengan Mila, setiap hari kau akan melihat kemesraan kami. Jadi kali ini, anggap saja simulasi." Aden mendelik sebal mendengarnya. Tapi tentu saja saat Elgar tak melihatnya.
Elgar mengetuk pintu rumah Mila, hatinya berdebar debar. Rasanya seperti abg yang mau ngapel kerumah pacar.
Pintu rumah terbuka, muncul Mila dengan senyum menawan dan rambut panjang tergerai indah dari dalam. Disaat Elgar dan Aden terpesona melihat Mila yang hari ini memang sengaja dandan tipis tipis demi mantan yang sudah menjadi duda, Mila terbengong melihat bunga ditangan Elgar.
"Untuk kamu." Mila mengernyit sambil menerima bunga mawar putih dalam pot kecil. "Seperti cintaku padamu, putih bersih dan akan selalu bertumbuh."
Aden menoleh kearah lain, pengen muntah mendengar bualan Elgar. Selama menjadi asisten Elgar, baru kali ini dia melihat bosnya lebay seperti ini. Biasanya selalu dingin pada perempuan.
"Makasih." Mila mencium bunga mawar yang harum itu. Dia melihat Aden yang mambawa banyak sekali paperbag bertuliskan nama sebuah toko kue yaang sangat terkenal.
"Mari, silakan masuk." Mila bicara lebih formal karena ada Aden.
Mereka berdua masuk, Aden meletakkan semua kue yang dia bawa keatas meja.
"Banyak sekali?" tanya Mila.
"Bagi bagikan ketetangga jika kebanyakan."
"Baik sekali papanya Saga." Puji Mila sambil menatap Elgar dan memberikan senyuman termanisnya. Dia mengambil semua kue itu dan membawanya kedalam.
Astaga, itu ideku. Tapi kenapa bos yang malah dapat pujian plus senyum?
"Papa.." Seru Saga yang muncul dari dalam. Dia langsung berlari mendekati papanya dan memeluknya. Elgar melepaskan pelukan Saga, mencium kedua pipi dan keningnya, lalu mengacak pelan puncak kepala jagoan kecilnya itu. Padahal baru 3 hari tak bertemu, tapi dia sudah sangat rindu dengan Saga. Rasanya tak sabar ingin bisa selalu bersama Mila dan Saga. Untuk saat ini, tidak ada keinginan lain kecuali itu.
Saga menatap kearah Aden. "Ini Om yang hari itu di car freeday kan?"
Aden mengangguk sambil tersenyum terpaksa. Karena hari ini, dia sebenarnya sedang tak mood tersenyum.
"Papa bawain kue buat Saga." Ujar Elgar sambil mengangkat Saga lalu mendudukkan dipangkuannya.
"Yahhh... kok kue sih Pa, Saga kan pengennya es krim."
"Saga...." Seru Mila yang baru muncul dari dalam dengan sepiring kue ditangannya. "Makan apa yang ada aja. Es krim nya bisa beli besok."
"Gak papa, kita beli es krim sekarang," ujar Elgar.
"El, jangan terlalu dimanjain. Dirumah sedang banyak makanan, biar es krimnya dia beli besok saja." Mila meletakkan kue diatas meja dan mempersilakan Aden untuk makan.
"Kasihan, dia lagi pengen es krim. Mau beli sekarang?" tawar Elgar.
"Ayo Pah, ayo Pah." Saga turun dari pangkuan Elgar dan menarik tangan papanya.
"Saga perginya sama Om Aden gak papakan? Papa capek."
Saga melihat kearah Aden. "Iya, gak papa."
"Antar Saga beli es krim. Belikan juga apapun yang dia mau." Titah Elgar dan langsung diangguki oleh Aden.
"Yang lama, biar aku bisa berduaan dengan Mila," bisik Elgar ditelinga Aden.
Sialan, aku disuruh momong anaknya, sedang mereka bermesraan berdua.