
Elgar terkekeh melihat ekspresi Mila. Sayang jauh, kalau dekat udah pasti dia cium kerena gemas. Padahal cuma dimintain reward, tapi ngeiyainnya mikir lama banget, kayak diajak nikah aja.
"Boleh yaa?" desak Elgar.
"Kayaknya bangga banget duda dua kali. Pencapaian yang luar biasanya gitu ya sampai minta reward segala. Kayak Saga aja, kalau berhasil puasa sehari penuh selalu dikasih reward," ejak Mila
"Emang Saga kalau kuat puasa sehari kamu kasih reward?"
"Iya," Jawab Mila mantap.
"Waahhh, kalau kuat puasa sehari aja dapat rewadr, gimana dengan aku, yang udah puasa hampir dua tahun?" ujarnya Sambil menahan tawa.
"Hampir dua tahun, puasa apa sampai dua tahun?" Mila masih belum nggeh kemana arah pembicaraan Elgar.
Sedangkan Elgar, pria itu menutup mulutnya untuk manahan tawanya agar tak meledak dan membangunkan Saga. Bisa bisanya Mila tak paham puasa yang dia maksud.
"Apa sih?" Mila mengerutkan kening. Tapi beberapa saat kemudian, matanya melotot saat otaknya mulai nyambung. "Dasar otak mesum," desisnya sebal.
"Gak sabar pengen segera buka puasa, apalagi kalau hidanganya spesial kayak yang lagi didepan mata ini. Dijamin bisa makan sampai pagi." Elgar terkikik geli. Otaknya mulai traveling membayangkan yang tidak tidak. Makin tak sabar dia untuk segera menikah.
"Ish dasar, udah ah aku tidur." geram Mila dengan bibir mengerucut kedepan.
"Tunggu bentar."
Entah karena juga masih kangen atau apa, lagi lagi Mila menurut, tak jadi menutup panggilan video.
"Setelah putusan cerai, kita jalan jalan bertiga ya? Aku pengen ngajak kalian ke Bali. Aku lagi bangun resort disana. Itu reward yang aku minta."
Ke Bali? Mila bergeming mendengar nama pulai dewata itu. Jelas akan menginap kalau kesana. Rasanya dia belum berani kalau harus pergi sampai menginap dengan Elgar.
"Kenapa? Aku udah duda. Jadi gak terima alasan kamu yang selalu bilang aku suami orang. Kita janda dan duda, jadi bebas."
"Tapi kita belum menikah El." Mila membuang nafas berat.
"Heis, ngode nih, minta segera dihalalin." Elgar terkekeh pelan.
"Gak usah geer. Aku hanya gak nyaman aja pergi sampai menginap dengan pria yang bukan mahram."
"Emang kenapa, kita gak hanya berdua, sama Saga juga. Lagian tuh kadang diluar sana banyak kok yang masih pacaran udah traveling bareng sampai luar negeri. Ayolah Mil, please... Nanti kita tidur terpisah disana. Lagian aku juga gak akan sanggup jika sekamar sama kamu, bisa bisa si joni ngambek semalaman gak mau tidur, bisa pusing aku."
Mata Mila langsung melotot. "Ish, ngomongnya kok jorok sih. Aku tutup loh ya," ancam Mila.
"Hehehe, sory sayang, efek terlalu lama puasa."
Mila hanya bisa geleng geleng. Puasa hampir dua tahun aja ngeluh, giman Mila yang sampai 7 tahun?
"Aku gak bisa. Kalau kamu mau ngajak jalan jalan, aku bisanya deket deket sini aja, yang gak sampai nginap."
Elgar membuang nafas lemah. Sepertinya dia memang harus bersabar sampai Mila halal baginya baru bisa mengajak wanita itu kemanapun yang dia mau.
...----------------...
Pagi hari, Bu Dirga menggedor kamar Elgar, karena tak mendapat jawaban, langsug saja dia masuk karena kebetulan kamar tak dikunci.
Didepannya terlihat sebuah pemandangannya yang mampu membuat senyum sekaligus airmatanya menetes. Anak dan cucunya masih tertidur pulas. Kaki Saga menimpa tubuh Elgar, tapi pria itu tampak seperti tak terganggu sedikitpun. Bu Dirga mengambil guling dan selimut yang berserakan dilantai. Entah seperti apa mereka berdua tidur, bisa bisanya ranjang terlihat sangat berantakan.
"El kesingangan ya Mah?" Elgar terkesiap dan langsung menatap jam dinding dikamarnya. Dia bernafas lega karena ternyata masih pagi.
Bu Dirga mengangkat kaki Saga yang berada di paha Elgar dan meletakkannya pelan pelan dikasur.
"Saga harus sekolah."
"Astaga iya." Elgar menepuk dahinya lalu membangunkan Saga.
Bu Dirga keluar dari kamar Elgar, menyiapkan sarapan serta bekal untuk Saga. Sementara Elgar menggendong Saga kekamar mandi karena bocah itu ogah ogahan bangun.
"Ngantuk Pah." Semalam memang Saga tidur terlalu larut, mau bagaimana lagi, dia tidak bisa tidur karena tak ada mamanya.
Elgar mengisi bathup dengan air hangat lalu mencopoti pakaian Saga. Mata bocah itu masih terpejam, kepalanya beberapa kali condong kesamping hingga terhantuk bahunya sendiri.
"Mau mandi busa?"
Mendengar kata busa, membuat Saga sedikit lebih bersemangat. Dia berusaha membuka matanya dan memperhatikan papanya yang sedang menuang sabun dibathup. Rasa kantuk Saga mendadak hilang begitu masuk kedalam bathup. Berendam air hangat dan bermain busa terasa sangat mengasyikkan baginya. Keduanya mandi bersama sampai lupa waktu, sampai sampai Bu Dirga kembali kekamar dan mengetuk pintu kamar mandi.
"El, belum selesai mandinya, Saga bisa telat." Seru Bu Dirga dari balik pintu.
"Iya Ma." Didalam, cepat cepat Elgar memandikan, menyuruh bocah itu ganti baju sendiri sementara dia mandi. Kaluar dari kamar mandi, dia melihat Saga yang terduduk lesu diatas ranjang.
"Pah, kayaknya Saga udah telat deh." Saga menunjuk dagu kearah jam digital yang ada diataa nakas. Disana tertulis 7. 40, Saga biasa berangkat jam 7.30.
Elgar menggaruk garuk rambutnya. Gara gara keasyikan mandi busa, mereka sampai lupa waktu. Jika Mila tahu Saga tak sekolah hari ini, wanita itu pasti akan mengomel dan tak mengijinkan lagi Saga menginap dirumahnya.
"Masih ada waktu. Kalau papa yang nyetir, pasti keburu." Elgar menyaut asal kemeja dan celana dialmari. Memainya cepat sementara Saga juga merapikan seragam dan segala atributnya. Dengan tergesa gesa, dua orang itu menuruni tangga. Sudah ada Bu Dirga yang menunggu dimeja makan.
"Kita gak sarapan dimobil aja Mah, gak keburu," ujar Elgar sambil meraih roti, memberinya selai asal asalah yang penting bisa dimakan Saga dimobil.
"Masih TK El, gak papa telat. Nanti Mama telepon Miss Naomi. Udah, mendingan Saga duduk dulu makan dengan tenang." Bu Dirga menarik kursi untuk Saga dan membantu cucunya itu untuk duduk.
"Ini susu untuk Saga, dan ini pancake pisang kesukaan Saga." Ternyata Bu Dirga sudah menyiapkan semuanya.
"Baunya harum sekali Oma." Saga menghirup aroma yang keluar dari pancake hangat didepannya itu. Bu Dirga membantu memotongnya lalu memberikan garpu pada Saga.
Karena Saga sarapan pancake, roti yang tadi dioles selai, dia makan sendiri. "Pancake buat El mana Mah?" Elgar menelisik meja makan, tapi tak menemukan pancake seperti yang dimakan Saga.
"Mama cuma bikin dikit, buat Saga doang, kamu makan yang lain aja."
"Yaelah Ma, El anak mama loh. Kok jadi kayak anak tiri gini." Bu Dirga dan Saga langsung ketawa mendengar gerutuan Elgar.
"Papa mau, sini Saga suapin." Saga menancapkan potongan besar pancek lalu menyuapkannya pada Elgar.
"Cucu Oma baik banget sih, sayang sama papanya," Puji Bu Dirga.
"Saga juga sayang kok sama Oma. Sini Saga suapin juga." Bu Dirga yang berdiri disamping Saga sedikit menunduk agar memudahkan bocah itu menyuapinya. Saat suapan itu memasuki rongga mulutnya, tak kuasa Bu Dirga menahan air mata. Cucu yang tak pernah dia temui sejak bayi, dan baru bertemu beberapa kali, bisa sebaik ini padanya. Buru buru dia menoleh kearah lain dan menyeka air matanya.
Selesai makan, Bu Dirga mengantarkan Saga hingga masuk kedalam mobil.
"Kami berangkat dulu Ma." Elgar meraih tangan mamanya lalu menciumnya.
"El." Bu Dirga menyentuh lengan Elgar. "Mama merestui jika kamu ingin rujuk dengan Mila."