Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 59


Elgar berhasil mengikrarkan ijab kabul dengan sekali tarikan nafas. kata SAH seketika menggema diseluruh ballroom. Semua yang ada disana tampak lega, tebih kedua mempelai, Elgar dan Mila. Binar bahagia terlihat jelas dikedua mata mereka.


Setelah doa bersama, Mila mencium tangan Elgar, sebaliknya, Elgar mencium kening Mila. Saga terlihat tak sabar, dia ingin segera mendekati kedua orang tuanya tapi ditahan oleh sang nenek.


"Nanti ya, kalau udah selesai, Saga kesana."


Meski wajahnya cemberut, tapi bocah itu tetap menurut.


Setelah menandatangani berkas berkas dan mendengarkan ceramah dari salah satu pemuka agama, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Tak banyak tamu yang hadir, hanya sekitar 100 orang yang rata rata keluarga dari kedua belah pihak.


Devan, pria itu jauh jauh datang dari Singapura untuk memberi selamat. Dia memeluk Elgar dan menepuk punggungnya beberapa kali. "Selamat ya Bro, akhirnya sah juga setelah sekian lama. Semoga ini pernikahan yang terakhir. Aku dua kali nikah aja rasanya udah banyak, ehh kamu malah udah tiga kali," ledeknya sambil tertawa ringan.


"Enakan tiga kali, coba deh kalau gak percaya. Nambah satu gih, seorang Dev pasti mampulah," kelakar Elgar.


"Gimana kalau kita barengang aja nanti nambah satunya."


"Aww..." Elgar meringis saat Mila mencubit lengannya dengan keras sambil memelototinya.


"Dev yang ngomong Yang, bukan aku," protes Elgar sambil mengusap lengannya yang sakit.


"Hahaha..." Devan tertawa puas. Melihat orang lain menderita menimbulkan kenikmatan tersendiri.


"Maaf Pink gak bisa datang, dia lagi ujian. Zura juga. Maklumlah, anak kami masih terlalu kecil untuk diajak bepergian jauh. Tapi kalau bisa, kalian honeymoon ke Singapura aja, sekalian ajak Saga dan mama. Pink kangen sama Saga dan Omanya."


"Yeeeyy...kalau rame rame, bukan honeymoon dong namanya, tapi piknik keluarga."


Devan tertawa mendengarnya. Dia dan Elgar memang tak dekat. Bisa bergurau seperti ini, sesuatu banget buat keduanya.


Devan mendekati Mila lalu memeluknya lumayan lama. Sebenarnya Elgar tak terima, ingin marah, tapi jika ingat Devan yang sudah banyak membantu Mila selama di Singapura, dia membiarkan saja mereka berpelukan. Tapi dia bersumpah jika ini akan jadi terakhir kalinya. Karena nanti, dia tak akan lagi mengijinkan Devan memeluk Mila.


"Selamat ya, semoga bahagia. Aku harap, ini menjadi awal kebahagiaan kamu Mil."


Mila tak bisa menahan tangisnya. Dia menumpahkan air matanya didada Devan. Tujuh tahun di Singapura, Devanlah yang selalu ada untuknya. Pria yang tulus mencintainya tapi tak pernah bisa dia membalasnya.


Devan melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Mila.


"Sudah cukup nangis nangisnya selama ini. Kamu wanita yang hebat. Selama 7 tahun kamu berjuang sendirian untuk Saga. Kamu sudah membuktikan pada semua orang jika kamu bisa sukses menjadi ibu maupun wanita karier. Aku bangga padamu Mila."


Air mata Mila kembali mengalir. Dia hendak kembali memeluk Devan, tapi Elgar lebih dulu menarik lengannya lalu memeluknya.


"Sekarang tempatmu bersandar aku, bukan Dev." Celetuk Elgar dengan nada jengjel.


Suasana mengharukan mendadak mencair gara gara kelakuan konyol Elgar. Devan sampai menutupi mulutnya agar tawanya tak meledak. Lucu juga melihat Elgar bucin, ucapnya dalam hati.


Elgar melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Mila. "Menyeka air matamupun, sekarang menjadi tugasku." Ucapan Elgar yang terdengar konyol dan lebay itu membuat Mila menangis campur tertawa.


"Jangan sampai membuatnya menangis juga tugasmu," celetuk Devan.


"His, jelek sekali prasangkamu padaku."


Mereka lalu tertawa bersama sama.


Akhirnya seluruh serentetan acara akad nikah selesai. Elgar menggandeng Mila, ingin mengajak wanita itu untuk istirahat dikamar. Tapi rencana hanya tinggal rencana, karena Saga tiba tiba membuat drama. Bocah itu ngambek gak mau makan kalau gak disuapin Mila.


"Saga kan biasanya makan sendiri." Bu Rahmi masih berusaha membujuk. Dia tahu Mila pasti lelah dan ingin istirahat sekarang. Acara masih panjang, masih ada resepsi yang menanti mereka.


"Pokoknya disupin mama." Kekeh Saga sambil mengerucutkan bibir.


"Gak papa Bu, biar Mila suapin. Sekalian Mila sama El mau makan siang juga."


Mereka bertiga makan siang bersama. Elgar menghabiskan makanannya dengan cepat. Sejujurnya dia tidak lapar. Keinginannya saat ini hanya satu, segera mengajak Mila kekamar.


"Setelah makannya habis, Saga bobok siang sama nenek ya?" pinta Elgar.


"Enggak, Saga mau bobok sama Mama." Saga melingkarkan kedua lengannya dipinggang Mila.


Elgar berdecak pelan. Hari ini, Saga sangat rewel, tak seperti hari hari biasanya, maunya apa apa sama mamanya terus. Dia jadi memikirkan nanti malam. Semoga saja Saga tak minta ikut tidur bersama nanti malam. Jangan sampai acara buka puasanya gagal total. Rencana buka puasa setengah hari sudah gagal, tapi malam nanti, apapun yang terjadi, tidak boleh gagal. Dia sudah tidak bisa menahan lagi.


Dengan dibantu MUA, Mila melepaskan sanggul serta kebayanya. Ada waktu 2 hingga 3 jam untuknya istirahat sebelum persiapan resepsi.


Mereka bertiga, Mila, Elgar dan Saga, berada dikamar tempat make up. Elgar yang sudah berganti kaos ingin tidur sebentar sebelum malam panjang nanti.


"Saga ditengah." Bocah itu pindah ketengah meski Mila sudah menempatkannya dipinggir sedangkan dia ditengah.


"Katanya dulu, Saga dan papa jadi bodyguardnya mama, jadi mamanya dong yang ditengah," tutur Elgar.


Saga cemberut, tapi kemudian, berpindah kesamping, jadilah sekarang mamanya ditengah. Elgar bersorak dalam hati, setidaknya diposisi ini, dia masih bisa memeluk Mila.


Mila memeluk Saga yang tidur menghadapnya. Sedang dibelakangnya, Elgar memeluknya. Tapi tentu saja tak hanya memeluk, tangan pria itu mulai bergerilya kemana mana.


"El, ada Saga," lirih Mila sambil menoleh sebentar kearah Elgar.


Tapi bukannya berhenti, Elgar malah makin nakal dengan menciumi bahu dan ceruk leher Mila. Tentu saja Mila merasa kegelian hingga menggeliat geliat tak karuan.


"Mama kenapa?" tanya Saga yang memang belum tidur.


"Eng gak papa sayang." Mila berusaha bersikap biasa. "Saga bobok ya." Kembali dia mengusap pelan punggung Saga.


Tapi yang berada dibelakang Mila tak mau tahu. Masih saja terus menciumi leher, bahu, bahkan sampai belakang telinga. Membuat Mila menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan desa han.


"El, stop," desis Mila yang tak mampu bertahan jika terus terusan diransang seperti ini. Tapi seperti orang tuli, Elgar tak mengindahkan kata kata Mila sama sekali.


"Ahh..." Mila akhirnya kelepasan.


"Mama kenapa?" Tanya Saga sambil mendongak menatap mamanya. "Ada yang sakit Ma?"


"Gak papa sayang, gak ada yang sakit kok."


Kesal dengan Elgar, akhirnya Mila memustuskan untuk memindah Saga ketengah. Setidaknya dengan begini dia lebih nyaman.


"Gak seru." Protes Elgar yang terlihat kesal.


Mila tak menggubris. Dia memilih memejamkan mata. Tidur sebentar agar nanti pas resepsi tak mengantuk.