Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 74


Setelah cukup lama rebahan diranjang, Mila keluar. Biasanya setelah makan malam, dia akan menemani Saga belajar terus sambung membacakan dongeng hingga tidur.


Mila mengernyit saat malihat meja makan, hanya ada Saga dan Bu Rahmi disana. Dimanakah Elgar? Apakah pria itu sudah selesai makan?


"Kamu gak makan Mil?" tanya Bu Rahmi.


"Masih kenyang Bu." Sebenarnya bukan masih kenyang, lebih tepatnya gak ada selera makan.


"Elgar juga gak makan?"


Mila sedikit kaget, baru tahu jika Elgar ternyata juga tak makan.


"Dia juga masih kenyang kali Bu," Mila beralasan.


Melihat Saga yang sudah selesai makan, Mila mengajaknya menuju kamar. Lebih dulu dia menyuruh Saga masuk, sedang dia mencari Elgar ke ruang tamu dan teras. Nihil, pria itu tak ada dimanapun. Tapi mobilnya masih terparkir dihalaman.


Mila menyusul Saga dikamarnya. Terlihat Saga yang sudah siap dengan buku dan alat tulis, sedang menunggu dirinya. Didekatinya Saga, seperti biasa, dia akan mengajari anak itu calistung.


Tak seperti biasanya, malam ini Mila tak bisa fokus. Pikirannya berkelana mencari keberadaan Elgar. Dimanakah pria itu sekarang? Apa jangan jangan, dia menjenguk Salsa yang habis lahiran? Jangan jangan anak itu anak Elgar, bukan anak Ben?


Mila cepat cepat membuang pikiran negatifnya tentang Elgar. Enggak, itu gak mungkin, jelas jelas itu anak Ben. Dia menyaksikan sendiri seperti apa cemasnya Ben tadi. Kalau Salsa saja sudah mengakui itu anak Ben, sudah pasti itu anak Ben. Karena disini, Salsa yang paling tahu anak siapa yang dia kandung.


Kok malah jadi aku yang galau, seharusnyakan El yang galau karena aku ngembek?


"Mah, ini benar gak?" Selesai mengerjakan soal hitung hitungan, Saga menunjukkan hasilnya pada Mila.


"Mah." Saga kembali memanggil sambil menyentuh lengan karena mamanya hanya bengong.


"I, iya, ada apa sayang?" Mila gelagapan.


"Udah selesai, mama lagi mikirin apa sih, kok bengong aja?"


Mila garuk garuk kepala. Malu juga kalau bilang lagi mikirin papa kamu, yang hilang entah dimana sekarang.


"Sini mama lihat." Mila mengambil alih buku Saga, mengecek soal soal hitungan yang tadi dia buatkan. "Pinter banget anak mama, bener semua." Ujar Mila sambil tersenyum dan mengusap kepala Saga.


"Bukan anak mama, tapi anak mama sama papa," ralat Saga.


"Iya, iya, anak mama sama papa." Mila tertawa melihat cara berfikir Saga yang kritis. Salah sedikit saja, anak itu pasti langsung sigap meralat.


Selesai belajar, Mila mengajak Saga tidur. Membacakan dongeng hingga anak itu tertidur pulas. Mila mencium kening Saga, membernarkan selimutnya lalu keluar.


Sesampainya dikamar, Mila masih tak melihat batang hidung Elgar. Pikirannya makin kacau, kemana Elgar pergi. Sudah sangat lama, sejak keluar kamar tadi, sampai sekarang belum pulang juga.


Mila mencoba untuk tidur. Sudah bergonta ganti posisi dari telengtang, miring kiri, miring kanan, sampai meringkuk, masih juga belum bisa tidur.


Ceklek


Cepat cepat Mila menutup mata, pura pura tidur karena dia yakin Elgar yang masuk. Dia merasakan pergerakan ranjang, benar saja, tak lama kemudian sebuah lengan melingkar dipinggangnya.


"Udah tidur?" Sapuan hangat nafas Elgar yang mengenai belakang telinga dan tengkuk Mila membuatnya merinding. Kalau seperti ini terus, susah mau pura pura tidur.


"Masih ngambek?" Kembali Elgar bertanya sambil menciumi sekitaran telinga dan tengkuk Mila. Dia yakin jika Mila belum tidur, makanya sengaja dia membuat Mila kegelian. Tak sia sia, Mila tak tahan juga. Dia menggeliat geli sambil berbalik dan mendorong Elgar menjauh.


"Aku mau tidur, gak usah gangguin." Ujarnya kesal dengan wajah cemberut lalu kembali memunggunginya.


"Ikut aku yuk, kita jalan jalan." Kembali Elgar memeluknya dari belakang. "Pengen quality time sama kamu berdua."


"Males."


"Ck, ayolah, please."


"Enggak." Mila kekeh menolak. Tapi bukan Elgar namanya jika menyerah begitu saja. Dia membuka selimut yang membungkus badan Mila, menggelitiki pinggangnya sampai empunya badan tertawa sambil menggeliat kegelian.


"Udah El, udah." Mila sudah tak tahan. Berkali kali dia menyingkirkan tangan Elgar dari pinggangnya. Sayang tangan itu masih kembali lagi dan lagi. Tak mau menyerah sebelum kata iya keluar dari mulut Mila.


"Mau gak? Aku gak bakal berhenti sebelum kamu bilang iya."


Dengan terpaksa Mila bilang iya, daripada dia terus dikelitiki hingga ngompol.


Elgar turun dari ranjang, menuju almari lalu mengambil jaket jins milik Mila dan memberikannya.


Mila mengernyit, menebak nebak mau dibawa kemana dirinya hingga harus memakai jaket.


Elgar kembali menuju almari. Mengambil jaket kulit miliknya dan segera memakainya.


"Mau kemana sih El?" Tanya Mila saat El membawanya keluar dari kamar. "Ini udah malem."


"Baru juga jam 9. Lagian kamu bukan anak perawan yang harus aku pulangin jam 10 kan?"


Mila menghela nafas. Tak mau banyak protes lagi, dia ikut saja kemana Elgar membawanya. Sebelum keluar rumah, tak lupa mereka pamit pada Bu Rahmi dan menitipkan Saga, takut dia tiba tiba terbangun.


Sesampainya diteras, Mila dibuat kaget dengan penampakan motor Billi disana. Belum selesai kebingungannya, Elgar sudah memasangkan helm dikepalanya.


Mila menunjuk motor matic yang ada didepannya.


"Iya, kita jalan jalan pakai motor. Biar bisa pelukan sepanjang jalan. Suka iri aku sama sejoli yang bermesraan diatas motor. Pengen juga sekali kali aku ngerasain itu." Entah hanya alasan yang dibuat buat atau memang benar, tapi kedengarannya sungguh membagongkan.


"Kamu bisa naik motor?"


Elgar seketika tergelak. Belum tahu saja Mila siapa dia. Seperti apa masa mudanya dulu yang sering ikut balab liar.


"Gak bisa, tapi jago. Udah ayo." Ditariknya Mila kearah motor. Dia naik duluan, menghidupkan mesin lalu menyuruh Mila segera duduk dibelakangnya.


"Pegangan yang erat. Valentino Rossi mau beraksi." Mila terkekeh lalu melingkarkan kedua lengannya dipinggang Elgar.


"Siap...go." Motor matic yang dikendarai Elgar keluar dari halaman rumah Mila. Dengan kecepatan sedang Elgar melajukan motornya dijalan raya. Meski sudah malam, tapi jalanan masih sangat ramai. Seperti itulah ibukota. Mila memeluk erat Elgar sambil menyandarkan dagunya dibahu pria itu.


"Jadi kamu sejak tadi ada di rumah Billy?" Tanya Mila sedikit berteriak. Suara bising kendaraan lain memaksanya untuk memperkeras suara.


"Iya, kenapa? Kamu nyariin aku ya?"


Mau bilang iya tapi gengsi. Alhasil kebohongan yang keluar. "Enggak, ngapain juga nyariin kamu, ge er."


"Kali aja kamu kangen. Kamu kan gak bisa jauh jauh dari aku," ledek Elgar.


Mila senyum senyum sendiri. Jika tadi sempat kesal dengan Elgar, sekarang sudah berbanding terbalik. Dia merasa seperti diajak pacaran. Menyusuri jalanan kota dimalam hari yang cerah. Jika hari lain lampu jalan terlihat biasa, malam ini luar biasa, terlihat sangat cantik dan membuat suasana makin romantis.


"Dingin gak?" tanya Elgar sembari menoleh sebentar kearah Mila.


"Sedikit."


"Tangan kamu masukin kesaku jaket aku aja biar anget."


Mila menurut, dimasukkannya kedua telapak tangan kedalam saku jaket Elgar. Ternyata benar, dia merasa lebih hangat sekarang.


"Kita mau kemana?" tanya Mila.


"Muter muter aja. Ntar kalau nemu tempat yang bagus kita berhenti." Aneh memang, tapi seperti itulah. Elgar mengajak jalan jalan tanpa tujuan. Bagianya, yang terpenting Mila gak ngambek lagi. Pusing dia kalau didiemin mulu. Bisa sakit kepala atas bawah.


"El..laper."


Elgar terkekeh mendengarnya. Siapa suruh pakai mogok makan segala. Ngaku masih kenyang padahal sejak siang belum makan.


"Mau makan apa?"


"Terserah."


"Ck, paling males kalau dapat jawaban terserah. Kesannya kayak aku kamu suruh nebak isi hati kamu. Buruan bilang, mau makan apa? Kalau terserah lagi, aku ajak kamu makan sate bekicot."


Mila langsung tergelak mendengarnya.


"Buruan mau makan apa?"


Mila berfikir sejenak, bingung juga mau makan apa. Mendadak selera makan melonjak drastis, pengen makan apapun.


"Ada angkringan, makan disitu aja yuk."


Tanpa persetujuan Mila, Elgar langsung menepikan motornya didepan sebuah angkringan lesehan yang cukup ramai.