Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 64


Keluarga Mila dan Elgar berkumpul bersama di restoran hotel. Makan siang bersama sebelum pulang ke kediaman masing masing. Hari ini Elgar akan memboyong istri dan anaknya pulang kerumah karena ada Miko yang menemani Bu Rahmi. Selain itu keluarga Mila dari kampung juga masih ada disana.


"Bawa diri baik baik dirumah mertua." Pesan Bu Rahmi pada Mila saat mereka berada dilobi. Latar belakang keluarga yang jauh berbeda membuatnya sedikit cemas saat melepas Mila. Meski sekarang Mila jauh berbeda dengan yang dulu, tapi tetap saja, ada kekhawatiran di hati Bu Rahmi. Sudah menjadi rahasia umum jika mertua dan menantu itu jarang bisa akur.


"Mbak Mila itu wanita pintar dan berpendidikan Bu. Pasti dia bisa membawa diri dengan baik." Miko menimpali.


Mata Bu Rahmi berkaca kaca. Padahal Mila hanya beberapa hari dirumah Elgar, setelah itu ke Korea dan pulang kerumah lagi. Mungkin seperti itulah perasaan setiap ibu yang putrinya akan meninggalkan rumah.


"Jangan terlalu mikirin Mila Bu. Mila gak mau ibu sakit." Sebenarnya Mila juga agak gugup mau pulang kerumah Elgar.


"Mbak Mila happy happy aja di Korea. Jangan terlalu mikirin ibu. Ada Miko yang jagain. Nanti juga kalau Miko kembali ke US, mbak Aisyah yang akan nginep dirumah buat nemenin ibu."


Bu Rahmi membungkukkan badannya lalu mencium kedua pipi dan kening Saga.


"Nenek pasti kangen banget sama Saga."


"Saga juga Nek." Saga langsung memeluk pinggang Bu Rahmi. "Nenek mau oleh oleh apa dari Korea? Nanti Saga beliin."


"Emang punya duit?" ledek Miko.


"Hehehe....duitnya papa." Sahut Saga sambil nyengir.


"Nenek gak mau apa apa. Nenek cuma mau Saga, mama dan papa, kembali kerumah dalam kondisi sehat dan tak kurang satu apapun, hanya itu."


Mobil yang dikendarai Reno sudah ada didepan lobi. Mereka semua segera bersalaman sebelum akhirnya berpisah.


"Nitip Mila ya Nak, jagain dia. Tegur dia secara wajar jika dia salah. Tapi tolong jangan kecewakan dia lagi."


Elgar seperti tertampar mendengar ucapan Bu Rahmi. Ya, dia memang pernah mengecewakan Mila. Membuat wanita itu terluka. Tapi dia bersumpah, tak akan mengulanginya lagi. Mila dan Saga, akan selalu dia prioritaskan.


"Ibu tenang aja, Mila akan baik baik bersama saya." Elgar mencium tangan Bu Rahmi sebelum masuk kedalam mobil, menyusul Mila, mamanya dan Saga yang sudah lebih dulu berada didalam.


Elgar duduk dibangku depan disebelah Reno, sementara Mila dan Saga dibelakang bersama Bu Dirga.


Sepanjang jalan, Saga terus berceloteh. Menceritakan keseruannya saat jalan jalan dengan Miko dan saudaranya yang berasal dari kampung. Berkali kali bocah itu memuji hotel milik papanya yang menurutnya sangat besar yang megah. Berkali kali juga dia menuturkan rasa bangganya pada sang papa dan kelak bercita cita ingin menjadi seperti papanya.


Saga tiba tiba berhenti bercerita saat matanya tak sengaja melihat bekas merah dileher mamanya.


"Mama kenapa?" Saga memicingkan mata melihat leher Mila. Menyibak rambut yang menutupi leher serta menarik sedikit baju mamanya hingga terlihat leher dan sekitar tulang selangka yang penuh dengan totol merah.


"Saga jangan gini dong." Sedikit gugup Mila membenarkan pakaian dan rambutnya.


"Kok banyak merah merah di leher dan dadanya mama?" Begitulah Saga, rasa penasarannya sangat tinggi. Dia tak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban.


Sebagai orang dewasa, Reno dan Bu Dirga jelas paham apa yang dimaksud Saga. Kedua tak berkomentar apapun, hanya sama sama menahan tawa. Elgar, dia pura pura tak tahu apa apa.


"Emmm...digigit nyamuk," jawab Mila.


"Nyamuk?" Kedua alis Saga menyatu saat mengucapkannya. "Kok Saga gak digigit, kenapa cuma mama aja yang digigit? Pah, Papa digigit gak?" Saga beralih menatap papanya.


"Hah..." Elgar gelagapan, bingung harus menjawab apa.


"Nyamuknya laki, maunya cuma gigit perempuan doang." Sahut Reno sambil cekikikan.


"Gitu ya om." Saga tampak sedikit percaya.


"Iya, makanya kamu harus jagain mama terus, biar gak digigit nyamuk nakal," lanjutnya.


Elgar seketika memelototi Reno. Andai saja pria itu tak sedang menyetir, sudah pasti akan dia hajar saat ini. Bisa bisanya dia dikatain nyamuk nakal. Dasar bawahan gak ada takut takutnya.


Bu Dirga hanya geleng geleng sambil menahan tawa. Dia jelas memahami seperti apa pengantin baru.


"Wow...bagus sekali Pah." Seru Saga sembali berlari kesana kemari, melihat semua barang barang baru yang bernuansa dino.


"Saga suka?"


"Suka banget Pah." Saga melompat lompat kegirangan sebelum akhirnya kelelahan dan berbaring telentang diatas ranjang.


Elgar melingkarkan lengannya dipinggang Mila sambil tersenyum. "Kamar kita juga udah aku ubah semuanya. Semua furniturnya pilihan kamu waktu itu. Mau lihat gak?"


Mila seketika mengangguk. Tapi lebih dulu, dia menghampiri Saga.


"Saga bobok siang ya, mama sama papa tinggal kekamar dulu."


"Ikut." Saga seketika bangun dan memegangi lengan mamanya. "Mau bobok sama mama dan papa."


Elgar langsung garuk garuk kepala mendengarnya. Kalau Saga ngintilin mulu, bisa bisa projek bikin adiknya molor mulu. Padahal dia sudah menyiapkan kejutan untuk Mila.


"Saga udah besar, mana boleh bobok sama mama papa. Lagian biasanya Saga juga bobok sendiri," bujuk Mila.


"Tapi....gimana kalau nanti mama digigitin nyamuk kayak tadi malam? Kata Om Reno, Saga harus selalu ada didekat mama agar nyamuk nakalnya gak berani gigit."


Elgar berdecak pelan sambil mengumpat Reno dalam hati. Bisa bisanya di mengajari Saga agar merecokinya bercocok tanam. Harus diberi pelajaran.


Sambil menahan tawa, Mila melirik kearah Elgar.


Elgar mendekati mereka, duduk disamping Mila lalu merangkul pundaknya. "Biar papa aja yang jagain mama." Saga terlihat tak ragu, tapi akhirnya dia mengangguk juga. Dalam hati, Elgar langsung bersorak bahagia. Ditariknya tangan Mila, dibawanya wanitanya itu menuju kamar yang telah dia siapkan.


Begitu memasuki kamar, mata Mila seketika membulat. Kamar itu begitu indah, tak kalah dari kamar pengantin di hotel kemarin. Ranjang besar dengan sprei putih bertabur kelopak mawar. Kanopi warna putih berpadu pink yang penuh dengan hiasan bunga serta lampu. Tak ketinggalan juga lilin yang menambah suasana semakin romantis.


"Kau suka?" Elgar memeluk Mila dari belakang sambil mencium pipinya. "Malam pengantin kedua untuk kita."


Mila tersenyum dengan pipi merah merona. Jantungnya berdebar debar seakan akan merasakan kembali vibes malam pertama.


Elgar melepaskan pelukannya, memutar lagu klasik dari ponsel lalu berlutut didepan Mila sambil mengulurkan tangan. Tahu jika Elgar sedang mengajaknya berdansa, segera Mila menyambut tangan tersebut sambil tersenyum.


Elgar berdiri, melingkarkan kedua lengannya dipinggang Mila. Sementara Mila, dia mengalungkan kedua lengannya di leher Elgar. Keduanya saling bertatapan penuh cinta dan bergerak seiring dengan irama lagu.


"Aku tak pandai berdansa El."


"Tak penting sama sekali. Berada disisiku dan selalu mencintaiku, itu yang terpenting."


"Aku mencintaimu El. Kemarin, sekarang, nanti, dan selamanya."


Tanpa aba aba, kedua saling bergerak maju dan menyatukan bibir mereka. Tangan Elgar berpindah ketengkuk Mila dan memperdalam ciuman mereka. Ciuman yang awalnya lembut itu makin lama makin dalam dan menuntut.


Pagutan bibir itu baru terlepas setelah keduanya sama sama kehabisan nafas.


"Aku mencintaimu Karmila Kenanga. Aku sangat mencintaimu." Setelah mengatakan itu, Elgar kembali mencium Mila.


Ciuman panas itu membuat keduanya sama sama terbakar gairah. Tak ada yang ingin mereka lakukan saat ini kecuali menuntaskan hasrat yang sudah di ubun ubun.


Ciuman Elgar perlahan turun, menyusuri leher jenjang Mila dan menambah bekas merah yang sudah ada menjadi makin banyak.


"Kau milikku sayang. Berjanjilah akan selalu bersamaku." Ujar Elgar dengan nafas yang memburu.


"Aahhhh...." Mila men de sah, matanya merem melek menikmati ciuman basah yang Elgar berikan disepanjang telinga, leher hingga tulang selangkanya.


"Aku milikmu El. Aku milikmu."