
Pagi pagi, sebuah mobil berhenti didepan rumah Mila. Keluar seorang pria berpakaian rapi yang mengenalkan diri sebagai Reno. Dia adalah supir yang diutus Elgar untuk mengantar jemput Saga kesekolah.
"Dada sayang, belajar yang rajin ya." Mila melambaikan tangan pada Saga yang sudah berada diatas mobil.
Bu Sari yang baru kembali dari belanja, tak sengaja melihat hal tersebut. Dengan keresek besar ditangan, dia menghampiri Mila yang masih berdiri didepan pagar.
"Pagi Mak." Sapa Mila.
Bu Sari menjawab dengan senyuman sambil mengambil sesuatu dari dalam kantong belanjaannya lalu menyerahkan pada Mila.
"Apa ini Mak?" Tanya Mila sambil memperhatikan kantung keresek kecil pemberian Bu Sari.
"Halah, cuma kue." Bu Sari menepuk pelan lengan Mila. "Tadi Mak beli di penjual sayur. Kata Bu Rahmi, kamu suka getuk singkong. Mumpung lagi ada, mak beliin buat kamu."
Mila menatap haru Bu Sari lalu memeluknya.
"Makasih banyak Mak. Beruntung banget Mila punya tetangga kayak Emak."
"Lebih beruntung lagi kalau emak punya mantu kayak kamu."
Mila melepaskan pelukannya sambil terkekeh pelan.
"Billi itu masih itu bujang, udah sepatutnya dapat yang masih perawan. Mila mah apa Mak, udah janda, punya buntut satu lagi," seloroh Mila.
"Mending janda Mil, jelas. Yang perawan juga belum tentu beneran perawan. Pergaulan anak jaman sekarang itu meresahkan. Kamu itu cantik, baik, pinter, mandiri, beruntung laki yang bisa dapet kamu."
"Mak terlalu berlebihan." Mila geleng geleng sambil tersenyum.
"Itu tadi siapa yang nganter Saga kesekolah? Biasanya bukannya si Hadi ya?" Bu sari tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Itu supir yang dikirim papanya Mak."
"Waduh, sekarang kamu dan Saga udah punya supir Mil. Billi gak guna lagi dong." Ekspresi tercengang Bu Sari bikin Mila tak bisa menahan tawa. Bisa bisanya emaknya sendiri bilang Billi gak guna, emang selama ini Billi supir apa?
"Bukan buat Mila Mak. Supirnya buat Saga. Gimanapun, Saga anaknya juga. Saat dia ingin memberikan fasilitas pada anaknya, mana mungkin Mila menolak."
"Bener juga. Lagian lebih nyaman kalau naik mobil. Emang kalian mau rujuk lagi ya Mil?"
Mila hanya tersenyum. Dia tak mau mendahui takdir, biarlah semua mengalir apa adanya. Dia akan menerima apapun yang Tuhan tetapkan untuknya. Termasuk jika dia kembali berjodoh dengan Elgar.
Disaat mereka tengah mengobrol, Billi keluar dari pagar rumahnya dengan motor matic sejuta umat miliknya. Kedua alisnya menyatu melihat Mila dijam ini masih mamakai daster rumahan.
Billi menghentikan motornya didepan Mila dan ibunya. Dia yang memang belum pamit pada ibunya, turun dari motor dan mencium tangan Bu Sari.
"Kamu gak kerja Mil?"
"Oh iya, kok kamu belum siap siap?" Bu Sari memperhatikan penampilan Mila.
"Emm..." Mila garuk garuk, bingung mau menjawab.
Billi dan Bu Sari, keduanya menatap Mila penuh tanya, membuat Mila kian bingung, seperti seorang tersangka yang sedang ditanyai penyedik.
"Mak, Mila bolehkan ngobrol berdua sama Billi?"
"Jangankan ngobrol berdua, duduk dipelaminan berdua juga mak bolehin. Ya udah ngobrol sana, mak pulang dulu, mau masak." Bu Sari gegas meninggalkan mereka berdua.
Kalau sudah seperti ini, Billi yakin ada hal serius yang ingin Mila bicarakan. Dia melepas helm dan meletakkannya diatas jok.
"Aku...dirumahkan Bil."
Billi langsung melotot dengan mulut sedikit menganga. Setahu dia perusahaan dalam kondisi baik baik saja, tapi kenapa ada karyawan yang dirumahkan?
"Tolong jangan bilang siapa siapa ya Bil."
"Ta, tapi kenapa kamu sampai dirumahkan?"
Lagi lagi, Mila bingung mau menjelaskan. Dua hari yang lalu, Elgar menelepon, memintanya untuk tidak bekerja dulu sementara waktu ini. Dia tak ingin Mila sampai bertemu Salsa dikantor. Sekali Salsa buka mulut dikantor, Mila akan dianggap orang ketiga dirumah tangga Salsa dan Elgar. Dulu saat memutuskan Mila sebagai sekretarisnya, dia pikir Salsa tak mengenali Mila, tapi ternyata, Salsa tahu segalanya.
"Apa ada hubungannya dengan Pak Elgar?"
Mila mengangguk.
"Kalian akan rujuk?"
"Aku tak tahu Bil. Semua masih abu abu. Elgar sedang dalam proses perceraian sekarang, tapi secara agama, mereka sudah sah bercerai."
Billi menghela nafas, lalu menunduk lesu.
"Apa ini artinya, aku gak ada kesempatan lagi buat jadi bapaknya Saga?"
Mila menepuk lengan Billi kuat sambil melotot. "Pagi pagi gak usah ngebaperin orang."
Billi mendesis sambil mengelus lengannya yang panas. Saat dia menatap jam ditangannya, ternyata sudah sangat siang.
"Sial, aku bisa telat Mil." Gegas dia mengambil helm yang ada diatas jok lalu memakainya. "Aku udah kehilangan kesempatan jadi bapaknya Saga, jangan sampai aku kehilangan pekerjaan juga." Urusan helm beres, segera dia naik keatas motor dan menstaternya.
"Abang berangkat kerja dulu dek." Teriak Billi sambil menarik gas motornya.
"Hati hati dijalan Bang." Sahut Mila sambil tertawa cekikikan dan melambaikan tangan.
Billi tersenyum melihat Milla dari kaca spionnya. Meski hatinya hancur karena kesempatan mendapatkan Mila makin tipis, tapi seenggaknya, melihat Mila dan Saga bahagia, itu sudah cukup baginya.
...----------------...
Disaat mereka tengah sibuk membuat logo online shop, ponsel Mila berdering, tertulis nama Elgar dilayarnya. Segera Mila memanggil Saga. Dia tahu jika Elgar pasti menelepon untuk mencari anaknya. Setiap malam, mereka berdua memang selalu melalukan video call.
"Hallo Papa." Sapa Saga dengan senyum dibibirnya.
"Hallo jagoan, udah belajar belum?"
"Ah Papa gak seru. Besok kan weekend, Saga libur, masa harus belajar terus."
Tampak Elgar menepuk dahi, beberapa saat kemudian langsung tertawa. Kesibukan membuatnya sampai lupa jika besok adalah akhir pekan.
"Pah, Saga kangen, besok kita jalan jalan yuk."
Sebenarnya Elgar juga sangat merindukan Saga dan Mila. Tapi sayangnya, sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat. Hubungannya dengan Salsa sedang memanas, dia tak ingin Mila dan Saga terseret didalamnya.
"Nanti ya Sayang. Kapan kapan kita jalan jalan bareng."
Saga langsung cemberut. Sudah dua minggu ini mereka tak bertemu. Jalan jalan di car freeday waktu itu adalah pertemuan mereka terakhir kalinya. Elgar memang sedang menjaga jarak sekarang. Dia bahkan sampai melarang Mila bekerja.
"Tapi kapan Pah?"
"Iya nanti. Nanti kita pasti akan jalan jalan bersama."
Elgar bisa meliha kekecewaan diwajah putranya. Tapi ini yang terbaik, lebih baik menahan rindu terlebih dulu agar nantinya mereka bisa berkumpul kembali dan bahagia.
"Papa kenapa gak pernah kerumah lagi?"
Papa ingin sekali kesana sayang, ingin sekali. Papa rindu Saga dan mama.
"Papa masih sibuk, nanti kalau kerjaan papa udah beres semua, papa main kesana."
"Janji ya Pah." Saga mengangkat kelingkingnya, menunjukkan dilayar ponsel.
"Iya janji." Elgar ikut mengangkat kelingkingnya.
"Mana mama?"
"Ada Pah. Papa mau bicara sama mama?"
Elgar mengangguk. Dua minggu ini, selalu Saga yang mengangkat telepon, dia sama sekali tak pernah melihat Mila.
"Mah." Panggil Saga sambil berjalan menuju ruang tengah. Dia membalikkan kamera kebelakangan menunjukkan sedang apa mamanya sekarang. Elgar bisa melihat Mila yang tengah sibuk didepan laptop bersama Billi.
"Papa mau bicara sama mama." Ujar Saga sambil menyodorkan ponsel.
Mila menatap Billi. Tak enak meninggalkan Billi yang sedang sebuk untuk teleponan dengan Elgar.
"Angkat aja, gak papa."
"Bentar ya Bil."
Mila meraih ponsel ditangan Saga lalu masuk kedalam kamarnya. Dia menutup pintu agar suaranya tak terdengar oleh Billi.
"Hallo El."
Bukannya menjawab, Elgar malah tersenyum menatap wajah Mila yang ada dilayar ponselnya. Jarinya bergerak menyentuh wajah Mila dilayar.
"Aku merindukanmu Mil."
Mila menunduk, dia bingung harus merespon seperti apa ucapan Elgar.
Elgar menghela nafas. "Tapi sepertinya, kau tak merindukanku." Elgar menunjukkan ekspresi kecewanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan El, aku sedang sibuk."
Elgar mendecak sebal. Dua minggu ini dia mati matian menahan diri untuk tak menemui Mila meski rindu setengah mati, eh...malah seperti ini respon Mila.
"Sibuk apa? sibuk dengan pria itu?" Elgar memutar kedua bola matanya malas.
"Kenapa, cemburu?" ledek Mila sambil menyebikkan bibir.
"Enggak, cuma iri. Kenapa bukan aku yang ada disana, bercanda tawa dan menghabiskan waktu bersamamu dan Saga."
Kalau ditanya apakah dia juga rindu? Ya, Mila juga sangat rindu pada Elgar. Tapi dia harus bisa menahan diri untuk tak menunjukkan itu. Makanya setiap kali Elgar telepon, Mila menyuruh Saga yang mengangkatnya.
"Aku dan Billi sedang merintis bisnis online shop."
"Bagus itu, apa kau butuh modal? Aku bisa memberikannya."
Mila menggeleng cepat. "Aku sudah ada modal, patungan dengan Billi, ya ..meskipun tidak banyak."
Elgar makin kagum dengan Mila. Wanita yang awalnya dia kenal sebagai ob, sekarang menjelma menjadi wanita tangguh dan cerdas.
"Aku tahu tak berhak meminta ini karena aku bukan siap siapa kamu. Tapi bisakah, jangan terlalu dekat dengan Billi, aku cemburu."
Mila seketika terkekeh. Ngaku juga kalau cemburu, tadi bilangnya enggak.
"Hari ini, aku menerima surat panggilan sidang. Senin depan, aku dan Salsa akan menjalani sidang pertama kami. Doakan semuanya berjalan dengan lancar. Aku sudah tak sabar ingin mendapatkan surat putusan cerai. Aku ingin segera datang untuk melamarmu."
Melamar? Memori Mila kembali pada masa lalu. Dimana Elgar melamarnya dengan begitu romantis. Tapi takdir berkata lain, mereka tak bisa mengesahkan pernikahan mereka dimata negara, dan malah berakhir dengan kata talak.