
Merasa tak sempat membetulkan pakaian, Elgar langsung memeluk Mila begitu pintu terbuka. Setidaknya agar gunung kembarnya tak terlihat, hanya bagian punggung saja yang terbuka.
"Mama sama papa ngapain?"
Saga bengong melihat mamanya yang berada dipangkuan papanya dengan baju yang sudah melorot hingga perut. Tak hanya Saga, Reno yang berdiri diambang pintu dibuat syok melihat pemandangan didepan mata. Sekilas dia bisa melihat punggung polos istri bosnya. Tapi cepat cepat dia menutup pintu kembali. Semoga saja dia tak dapat masalah setelah ini.
Mila turun dari pangkuan Elgar dan menyorok dibawah meja untuk membetulkan pakaiannya.
Elgar berdecak, tentu saja karena Reno yang telah melihat apa yang tak sepatutnya dilihat. Meski hanya punggung, rasanya dia tak rela.
"Mama ngapain dibawah meja?"
"Saga, lain kali kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu." Elgar sedikit membentak, membuat Saga seketika ketakutan dan matanya berkaca kaca. Ini untuk pertama kalinya dia dibentak oleh papanya.
Mila yang berada dibawah meja ikutan kaget. Tak menyangka jika Elgar akan membentak Saga. Kalau dipikir pikir, Saga memang salah, tapi yang lebih dalah jelas mereka yang tak mengunci pintu.
"El, apa apaan sih?" Mila tak terima anaknya dibentak. Seperti itulah sebagian besar ibu. Mereka kadang membentak anaknya, tapi tak rela jika anaknya dibentak orang lain, meski itu ayahnya sendiri.
Gegas dia keluar dari bawah meja dan menghampiri Saga. Bocah itu sudah mulai terisak, membuat Mila segera menuntunnya menuju sofa.
Elgar menepuk dahinya sendiri, bisa bisanya karena kecerobohannya dia malah menyalahkan Saga, bahkan sampai membentaknya.
"Maaf." Bibir Saga bergetar saat mengucapkannya. Dia ketakutan, tapi berusaha untuk tidak menangis.
"Udah udah gak papa." Mila melepaskan tas punggung Saga lalu memeluknya. Dia tahu anaknya itu ketakutan saat ini. Saga memang bisa dibilang tak pernah dibentak.
"Hiks hiks hiks." Saga mulai menangis, membuat Elgar semakin merasa bersalah. Dia berjalan menuju sofa lalu duduk disebelah Saga.
"Maafin papa ya." Elgar sambil mengusap kepala Saga yang berada dalam dekapan Mila. Dia menatap Mila, bingung harus berbuat apa saat ini.
Mila melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Saga. "Udah ya nangisnya. Papa gak marah kok."
Saga masih belum mau menatap papanya, dia masih takut. Ini pertama kalinya dia melihat papanya marah.
Elgar memegang bahu Saga, menariknya agar menghadap padanya. "Papa gak marah." Elgar tersenyum lebar, dengan harapan Saga tak takut lagi padanya.
"Saga." Mila meraih tangan Saga, membuat anak itu kembali menatap mamanya. "Saga tahu gak apa salah Saga?" tanya Mila lembut.
Saga mengangguk. "Saga gak mengetuk pintu," jawabnya.
"Bagus. Karena Saga sudah tahu, lain kali gak boleh diulangi. Tak hanya dikantor papa, tapi dimanapun, sebelum masuk, wajib mengetuk pintu. Tak sopan jika tiba tiba nyelonong masuk."
Saga mengangguk paham.
"Makan yuk, papa lapar." Elgar sengaja ingin mencairkan suasana. Berharap Saga melupakan kejadian tadi.
Mila beranjak dari duduknya, mengambil kotak bekal yang ada diatas meja Elgar lalu membawanya menuju sofa. Dia baru ingat jika hanya membawa ayam rica rica yang lumayan pedas dan oseng brokoli.
"Yah makanannya pedas, mama gak tahu kalau Saga mau kesini."
Saga memang tak ada rencana kesini. Tapi tadi saat Reno telat menjemput kesekolah dan beralasan harus mengantar Mila dulu kekantor, Saga jadi ingin menyusul. Dia meminta Reno mengantarkannya ke kantor papanya.
"Gimana kalau kita makan diluar saja, sambil jalan jalan?" tawar Elgar. "Kita ke mall yuk Saga, kita main ke time zone." Elgar masih berusaha untuk membujuk Saga.
Raut sedih Saga seketika hilang. Seperti itulah anak anak, mudah sekali dibujuk.
"Mau gak?"
"Mau Pah, mau."
"Tapi, bukannya kamu lagi banyak kerjaan El?" tanya Mila.
"Udah gak papa." Elgar beranjak dari duduknya. Membereskan meja lalu mengemas barang barangnya kedalam tas. Tak lupa dia menelepon Aden, menyuruhnya menggantikan meeting bersama klien satu jam lagi. Juga menelepon Reno agar bersiap siap untuk mengantar merek ke mall. Lebih baik dia meninggalkan pekerjaan daripada gak bisa fokus bekerja karena kepikiran Saga yang marah padanya.
Mereka bertiga keluar dari ruangan Elgar. Sepanjang jalan menuju luar, tak sedikit pasang mata yang menatap iri.
Reno sudah stand by di depan kantor. Segera dia membukakan pintu belakang saat melihat bosnya datang. Tapi tatapan tajam Elgar, membuatnya sedikit bergidik. Beruntung tadi Mila tak tahu jika ada Reno didepan pintu, kalau tidak, dia pasti akan sangat malu.
Elgar menarik Reno agak menjauh dari mobil. "Liat apa kamu tadi?" Tanyanya dengan ekspresi seperti mau menelan Reno mentah mentah.
"Eng- gak lihat apa apa Bos."
"Jujur kamu?" tekan Elgar sambil mencengkeram lengan Reno.
"Cu, cuma lihat bahunya nyonya bos saja."
"Yakin cuma itu?" Elgar makin menguatkan cengkeramannya.
Sial, sakit sekali. Untung bos, kalau tidak, udah aku smack down.
"Sa, sa, sama punggungnya."
"Sedikit bos, sumpah cuma sedikit aja."
Elgar melepaskan cengkeramannya sambil membuang nafas berat. Meski hanya sedikit, dia tetap tak rela.
"Jangan sampai Mila tahu kamu melihat. Saya tak mau dia malu."
Reno menghela nafas lesa. Setidaknya cuma itu permintaan bosnya.
"Oh iya satu lagi."
"Apa bos?"
"Kamu dapat SP 1."
"Hah!" Bola mata Reno seperti mau melompat keluar saking syoknya. "Emang salah saya apa Bos?"
"Melihat apa yang tidak boleh kamu lihat."
"Tapi kan bukan salah saya bos."
"Jelas salah kamu, karena kamu yang membawa Saga."
"Tapi bos."
"Kamu gak mau SP 1?"
"Enggak mau bos?" Reno menggeleng cepat.
"Baiklah kalau gak mau. Saya ganti SP 3, kamu DIPECAT!"
Reno makin syok lagi. "Undo bos undo."
"Maksudnya?" Elgar mengerutkan kening.
"Kembali ke yang tadi. SP 1 saja."
"Terserah." Elgar berlalu begitu saja. Masuk kedalam mobil menyusul Mila dan Saga yang sudah ada didalam.
Gini banget nasib anak buah. Dia yang salah, aku yang kena getah. Mungkin memang seperti ini nasib bawahan, terdzolimi.
Mendadak Reno teringat dengan ceraman tadi malam yang dia dengarkan di ponsel. Salah satu doa yang dikabulkan adalah doa orang terdzolimi. Daripada mengeluh, mending dia mengangkat kedua tangan dan berdoa. Ya, benar, lebih baik dia berdoa sekarang.
"Ya Allah, berikanlah hamba jodoh seorang wanita yang sholeha, cantik, baik, dan masih pe_"
"CEPETAN!" Teriakan Elgar dari dalam mobil membuat doa Reno terjeda. Ingin sekali dia mengumpat Elgar yang membuat kekhusyukannya terganggu.
"Aamiin." Reno mengusap kedua telapak tangannya diwajah lalu segera masuk kedalam mobil sebelum mendapat SP 3. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mall terdekat.
"Kamu udah makan siang belum Ren?" tanya Mila saat mobil mereka sudah berhenti tepat didepan mall.
"Belum nyonya bos."
"Ya udah ini buat kamu." Mila memberikan bekal yang dia bawa tadi pada Reno.
"Alhamdulilah." Ucap Reno seraya menerima tas bekas dari istri bosnya. Ternyata dibalik kesialan hari ini, masih ada juga rejeki nomplok buat dia.
Elgar, Mila dan Saga memasuki mall, tempat pertama yang mereka tuju adalah restoran untuk makan siang. Sementara Reno menuju tempat parkir. Dia akan makan, setelah itu tidur. Inilah yang dia sukai dari pekerjaannya, banyak sekali jam santainya.
Selesai mengisi perut, mereka lanjut ke time zone. Elgar dan Saga asyik bermain, sementara Mila menunggu sambil sibuk mengecek online shopnya.
"Udah puas mainnya?" tanya Mila saat Saga dan Elgar menghampirinya.
"Udah Ma," sahut Saga.
"Aku harus belanja El. Gak papa kan kalau kita ke supermarket dulu?"
"Ya gak papalah." Mereka melanjutnya jalan jalan ke supermarket.
Banyak sekali barang yang Mila beli. Dia tahu jika Elgar termasuk orang yang rewel urusan makan. Jadi dia harus stok banyak bahan makanan agar bisa gonta ganti menu setiap hari dan sesuai selera Elgar. Selain itu, dia punya PR besar sekarang. Kesukaan Elgar adalah western food, sedang dia dan ibunya lemah disana, bisanya hanya menu kampung. Harapan satu satunya hanyalah internet, dari sanalah dia akan belajar.
"Mah, kayaknya mama butuh ini." Saga mengambil lotion anti nyamuk dan menunjukkannya pada Mila. "Saga lihat, masih ada terus bentol bentol merah dileher mama."
Mila sigap menutupi lehernya dengan rambut.
"Saga gak bisa selalu jagain mama. Papa juga gak bisa diandelin."
Elgar seketika menelan ludah mendengar ledekan Saga.
"Jadi mending mama pakai ini aja, biar gak digigit nyamuk lagi." Segera bocah itu memasukkan sebotol kecil lotion anti nyamuk yang iklannya serring wara wiri di tv.