Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 75


Terkejut juga Mila diajak Elgar masuk kedalam angkringan. Setahu dia, Elgar bukan tipe orang yang mau makan ditempat sembarangan. Meski angkringannya sudah berkonsep seperti cafe, didalam ruangan namun lesehan, tetap saja, ini bukan selera Elgar.


"Yakin mau makan disini?" tanya Mila sebelum mereka masuk kedalam.


"Kamu gak mau?" Elgar balik bertanya.


"Bukan aku, tapi kamu. Biasanya kamu itu paling pemilih kalau soal makanan."


"Udah ayo masuk." Tanpa menjawab pertanyaan Mila, Elgar merangkulnya masuk kedalam. Dulu Elgar memang tak biasa makan ditempat seperti ini, tapi sejak kenal Aden, jadi mulai terbiasa. Adenlah yang mengenalkannya dengan tempat seperti ini.


Ini pertama kalinya Mila masuk angkringan setelah pulang dari Singapura. Cukup kaget juga melihat banyaknya menu yang disajikan. Selain jenisnya yang bermacam macam, semuanya terlihat enak, membuatnya bingung mau memilih yang mana.


"Mau makan apa?"


"Bingung, banyak banget pilihannya."


"Ya udah sih, ambil aja semua yang kamu mau.'


Ide yang bagus. Mila mengangguk dan langsung mengambil nasi bungkus, tak lupa juga pelengkapnya aneka sate, tempe bacem dan tempe mendoan. Ada juga berbagai macam pilihan sambal yang membuat Mila makin berselera.


Elgar dibuat geleng geleng melihat isi piring Mila. Mungkinkah badan kurus itu mampu menghabiskan setumpuk penuh lauk didalam piring.


"Yank, kamu belum makan dari siang, apa dari 3 hari yang lalu?" ledek Elgar.


"Hehehe, habis semuanya kelihatan enak. Daripada penasaran, mending dicobain semua."


Elgar manggut manggut dengan mulut sedikit terbuka. Rasa laparnya mendadak hilang hanya dengan melihat isi piring Mila.


Setelah mengambil makanan, keduanya mencari tempat duduk. Beruntung bukan weekend, jadi tak berapa ramai.


"Enak banget El tempe mendoannya, mau?" Mila menyodorkan tempe yang sudah dia gigit ujungnya ke depan mulut Elgar.


Penasaran dengan rasanya, Elgar langsung membuka mulut. Perasaan biasa aja rasanya, tapi Mila terlihat sangat menyukai.


"Ambilin lagi dong El, tadi cuma ambil satu, kurang."


"Makan yang lain dulu, dipiring kamu masih banyak banget itu." Elgar menunjuk dagu kearah piring Mila yang dipenuhi aneka lauk.


"Tapi aku mau mendoan lagi."


Elgar membuang nafas kasar. Mau tak mau dia menuruti permintaan Mila. Tujuan awalnya mengajak jalan jalan supaya Mila gak ngambek lagi. Kalau gak diturutin, bisa bisa ngambeknya dobel, gak dapet jatah dong entar malam. MaLam jumat pula.


"Tiga El." Seru Mila saat Elgar mulai beranjak dari duduknya.


Takut nanti disuruh ambil lagi, sekalian saja Elgar mengambilkan lima, jaga jaga daripada kurang lagi.


Mila begitu menikmati makanannya. Nasi kucing yang dibungkus daun dalam sekejab sudah habis beserta beberapa tusuk sate. Wajah wanita itu tak lagi ditekuk seperti tadi, sudah terlihat sumringah, dan itu membuat Elgar senang. Setidaknya usahanya tidak sia sia. Padahal tadi sempat gengsi juga mau minjam motor pada Billi, tapi ternyata usahanya membuahkan hasil, jadi pengen ngasih Billi hadiah sebagai ucapan terimakasih besok.


Tinggal dua tusuk sate kerang, tapi perut Mila sudah tak bisa lagi menampungnya.


"Habisin." Ujarnya sambil menyodorkan kehadapan Elgar.


"Gak ah, aku juga udah kenyang." Jawab Elgar sambil mengelus perutnya.


"Aku lihat kamu cuma makan dikit, masa udah kenyang? Sayang kalau gak dimakan, mubadzir."


Daripada ngambek, Elgar mengambil sate dalam piring lalu memakannya. Sambil menunggu Mila yang masih belum mau beranjak karena kekenyangan, Elgar menikmati secangkir kopi.


"El, aku kok belum dateng bulan ya, ini udah telat sepuluh hari loh, apa jangan jangan aku hamil?"


Elgar males kalau udah ngomongin soal telat. Bukan apa apa, takutnya kayak hari itu, hasilnya negatif, ujung ujungnya malah sedih.


"Hari itu kan udah dicek, hasilnya negatif."


"Tapikan itu dulu, waktu masih telat 1 atau 2 hari. Sekarang udah 10 hari El."


Elgar menghela nafas. "Gak usah dicek mulu, ntar kalau hamil juga kelihatan sendiri, perutnya buncit."


Sekarang giliran Mila yang menghela nafas mendengar penuturan Elgar. "Gak gitu juga konsepnya El. Ya kali hamil langsung mbelendung." Mila geleng geleng. "Habis ini, beli testpack yuk."


"Gak usah, ntar negatif lagi malah sedih."


"Lah, kok gitu sih El. Aku kan penasaran. Kita beli ya, please, please, beli ya?" bujuk Mila.


Mila memutar kedua bola matanya jengah. Elgar bukan sehari dua hari tinggal di Jakarta, tak mungkin tak tahu jika ada apotek 24 jam.


Dengan wajah menunduk dan raut sedih, Mila mengaduk aduk susu jahe didepannya. Mana tega Elgar bilang tidak kalau sudah seperti ini.


"Iya, iya kita beli."


Wajah Mila seketika sumringah. Bibir yang mengerucut itu berubah menjadi senyum yang lebar.


"Tapi ada syaratnya."


Mila mengerutkan kening.


"Gak boleh sedih jika hasilnya negatif."


"Iya iya."


"Iya apa?"


"Janji gak sedih. Aku bakalan ketawa deh meski hasilnya negatif."


"Yakin bisa ketawa?"


"Enggak." Mila menggeleng sambil tersenyum absurd.


Setelah minuman mereka habis, keduanya meninggalkan angkringan. Kembali Elgar melajukan motornya menyusuri jalan raya, hingga berhenti didepan sebuah apotek 24 jam.


Mila begitu bersemangat, sampai sampai dia lupa melepas helm dan mau langsung masuk.


"Yank, helmnya." Seruan Elgar membuat langkah kaki Mila seketika terhenti.


"Ups lupa." Dia melepas helmnya lalu meletakkan diatas jok motor.


Mereka masuk kedalam apotek yang terlihat sangat sepi. Mungkin karena sudah mendekati tengah malam, tak ada pembeli satupun selain mereka berdua.


Mila langsung mengatakan apa yang dia ingin beli pada apoteker.


"Sepuluh mbak, berbagai merek."


Elgar langsung melotot mendengarnya. "Buat apa sepuluh, satu aja mbak."


"Ya udah lima aja deh mbak." Mila mengurangi.


"Satu."


Petugas apotek sampai bingung. Siapa dari mereka berdua yang harus dia dengar.


"Buat apa banyak banyak. Kalau negatif, meski pakai 10 ya tetap negatif, begitupun dengan positif." Elgar kekeh dengan pendapatnya.


"Tapi kadang lain merek lain sensitifitasnya El. Ada yang bisa mendeteksi ada yang tidak. Kurang akurat kalau cuma satu."


Keduanya saling berdebat, tak mau kalah mempertahankan asumsi masing masing.


"Jadi berapa?" Kesal juga petugas apotek melihatnya.


"Satu." Cepat cepat Elgar menjawab sebelum Mila mengeluarkan kata kata. "Satu aja mbak, yang paling bagus."


Mila membuang nafas kasar sambil menatap Elgar tajam. "Ternyata kamu gak berubah, tetep aja pelit."


Petugas apotek seketika menahan tawa mendengarnya. Sementara Elgar, mukanya merah karena malu sekaligus kesal.


"Ya udah mbak kasih sepuluh, kalau perlu semua testpack yang ada diapotek ini saya borong." Elgar tak terima dikatakan pelit.


"So sweet banget sih suamiku." Goda Mila sambil bergelayut manja dilengan Elgar. Sebenarnya dia tadi tak benar benar mengatai, hanya pengen sedikit membuat Elgar kesal saja."


"Lima aja mbak, gak usah banyak banyak," ujar Mila lalu menatap Elgar dan tersenyum.


Setelah mendapatkan apa yang Mila mau, mereka lalu pulang. Sepanjang jalan, Elgar mengajak Mila mengobrol karena istrinya itu tampak mengantuk. Sampai dirumah, Mila langsung merebahkan tubuh diatas ranjang, tanpa membersihkan wajah dan memakai skin care lebih dulu. Matanya benar benar terasa lengket, tak bisa dibuka.


Elgar yang baru masuk karena tadi lebih dulu memasukkan motor dibuat melongo. Padahal tujuan utama menujuk Mila agar dapat jatah, eh ini malah udah langsung molor aja. Malam jumat kelabu buat Elgar.