
Bu Dirga dan Elgar melambaikan tangan kearah Saga yang berada didalam mobil. Karena pagi ini ada meeting, Elgar tak bisa mengantar Saga pulang, dan terpaksa Renolah yang mengantarnya.
"El, mama mau bicara." Ujar Bu Dirga saat mobil yang membawa Saga sudah keluar dari halaman. Sebenarnya Elgar ingin kembali kedalam dan bersiap siap kekantor, tapi tak mungkin dia menolak ajakan mamanya. Dia mengangguk lalu mengikuti mamanya menuju kursi yang ada diteras.
"Ada masalah?" Semalam saat berpamitan, Bu Dirga melihat mata Mila yang merah seperti habis menangis. Ditambah lagi pagi ini saat sarapan Elgar terlihat murung. Padahal biasanya jika ada Saga, Elgar pasti bersemangat.
"Kamu ada masalah dengan Mila?"
Elgar menghela nafas, ragu untuk mengatakannya atau tidak.
"Cerita sama mama."
Mungkin memang sebaiknya dia jujur pada mamanya. Masalah ini harus segara dicari solusinya kalau tak ingin Mila menunda pernikahan.
"Emm....Mila..."
"Mila kenapa?"
Elgar menggaruk garuk kepalanya. Dia ragu untuk mengatakan tentang keinginan Mila.
"Adik Mila kuliah S2 diluar negeri Ma."
"Lalu?"
"Satu tahun lagi adiknya lulus dan kembali ke Jakarta. Setelah kami menikah, Mila ingin tetap tinggal dirumahnya untuk menemani ibunya."
Wajah Bu Dirga seketika terlihat kecewa.
"Hanya sampai adiknya pulang Ma."
Bu Dirga hanya bergeming. Apa ini artinya, Elgar juga akan meninggalkannya? Ini berbanding terbalik dengan harapannya. Padahal dia sudah membayangkan kalau rumah besar ini akan ramai jika Saga dan Mila tinggal disini. Belum lagi kalau Elgar dan Mila punya anak lagi.
Elgar beranjak dari duduknya, mendekati mamanya dan berlutut didepannya. Dia meletakkan kepalanya dipangkuan sang mama.
Bu Dirga membelai kepala Elgar dengan lembut. "Mama tidak keberatan jika kalian akan tinggal disana sementara waktu." Demi kebahagiaan Elgar, dia menekan egonya. Sudah cukup dia melihat Elgar menderita tujuh tahun ini. Dan kali ini, dia hanya ingin Elgar bahagia.
"Mama yakin?" Elgar mengangkat kepala lalu menatap mamanya.
"Mama sudah tua. Tidak ada hal lain yang ingin mama lihat kecuali kebahagiaan anak dan cucu mama." Mata Bu Dirga berkaca kaca. Elgar tahu, mamanya itu pasti berat melepaskannya.
"Terimakasih Ma." Elgar meraih kedua tangan mamanya dan menciumnya. "Elgar janji, setiap weekend, Elgar dan keluarga akan menginap disini. Dan setelah Miko kembali ke Jakarta, kami akan segera pindah kemari."
"Itu lebih baik." Bu Dirga mengulum senyum. Dia tak mau lagi egois seperti dulu. Dia tahu seperti apa ngebetnya Elgar untuk menikahi Mila. Sekarang yang paling penting adalah pernikahan mereka, urusan lainnnya lebih baik dikesampingkan.
...----------------...
Setelah meeting, Elgar langsung menjemput Saga di sekolah. Mengajaknya makan siang diluar lalu mengantar pulang. Sesampainya dirumah, Elgar melihat Mila yang sedang sibuk packing barang. Wanita itu duduk lesehan diruang tamu dengan beberapa barang yang terlihat sudah siap dipacking.
"Wahhh, udah mulai banyak pesenan nih." Ujar Elgar yang masih berada diambang pintu.
"Assalamualaikum Mama." Saga mengucap salam lalu mencium tangan mamanya.
"Waalaikum salam gantengnya mama." Mila mencium kening Saga lalu menyuruh putra semata wayangnya itu masuk untuk ganti baju.
Sementara Elgar, pria itu mendekati Mila dan duduk disebelahnya.
"Ada yang bisa aku bantuin?"
"Gak usah, udah hampir beres." Sahut Mila dengan mata dan tangan yang tetap fokus mempacking barang.
"Kalau udah mulai rame, coba produksi sendiri saja bajunya. Bikin brand sendiri lebih menguntungkan."
"Aku gak pandai mendesign."
"Bukan gak pandai, tapi belum pandai. Asal ada minat, pasti bisa kalau belajar."
Sebenarnya Mila juga kepikiran ingin memproduksi pakaian anak anak sendiri. Tapi belum berani karena butuh modal besar dan dia masih harus belajar lagi.
"Gak usah mikirin itu dulu. Yang penting sekarang mikirin pernikahan kita yang makin dekat aja."
Mila menatap Elgar. Semalam dia tak bisa tidur gara gara masalah tempat tinggal setelah mereka menikah nanti.
"Mikirin apa?" Elgar meraih tangan Mila, mengusap cincin lamaran yang hari itu dia sematkan dijari manis Mila lalu menciumnya.
Mila tak menjawab, dia yakin Elgar tahu apa yang ada dikepalanya saat ini.
"Kita akan tinggal disini setelah menikah."
Mila langsung menoleh kearah Elgar begitu mendengar ucapan pria itu. Melihat Elgar yang tersenyum, sepertinya tak ada masalah.
"Mama udah setuju."
Mila seketika tersenyum lega. Elgar menepati janjinya, dia menemukan solusi secepat ini. Menyesal kemarin dia marah marah sama Elgar dan mengatainya egois.
"Maaf karena kemarin udah marah marah sama kamu."
"Aku yang harusnya minta maaf karena kemarin udah egois."
"Ibu kamu gimana, udah sehat?"
"Udah baikan, tapi masih istirahat dikamar."
Saga tiba tiba muncul dari dalam, membuat Mila buru buru menarik tangannya dari genggaman Elgar. Dengan pakaian rumahan, Saga mendekati mama papanya sambil menyeret keranjang berisi mainan.
"Pah, main yuk."
"Yuk." Jawab Elgar sambil mengamati satu persatu mainan Saga. Semuanya terlihat bagus bagus dan mahal.
"Mama kamu yang beliin," ujar Mila.
Saga mengambil kotak besar berisi track racing tiga jalur. Dia ingin mengajak papanya bermain balap hot wheels.
Mila kedalam untuk membuatkan minum dan mengambil camilan, sementara Saga dan Elgar sibuk merakit track racing. Tak lama kemudian, Mila datang dengan dua gelas jus jeruk dan setoples keripik singkong.
"Kok cuma dua?" Elgar memperhatikan nampan yang diletakkan Mila diatas meja.
"Buat kamu sama Saga. Aku lagi diet, gak minum yang manis manis."
Elgar memperhatikan tubuh Mila. Perasannya calon istrinya itu udah langsing, mau diet gimana lagi?
"Aku ingin tampil sempurna dipernikahan kita nanti. Kamu gak mau kan, para tamu pada bilang kalau pengantin wanitanya gendut?"
Elgar terkekeh sambil geleng geleng. Apakah semua wanita seperti itu, selalu ingin tampil sempurna terutama dihari spesial?
"Nanti pasti banyak yang banding bandingin aku sama Salsa." Kalau memikirkan itu, Mila jadi insecure. Sudah menjadi hal wajib saat seseorang menikah lagi, pasti pengantinnya dibandingkan dengan sang mantan.
"Kamu yang terbaik buat aku. Gak usah denger apalagi sampai mikirin apa kata orang. Cukup dengerin omongan aku aja biar masuk surga." Mila seketika menyebikkan bibir mendengar ucapan Elgar.
"Loh, emang benerkan. Surganya istri itu pada suami. Kalau mau masuk surga, jadi istri sholeha, nurut sama suami," lanjut Elgar.
"Iya, iya, surganya istri ada pada suami. Tapi surganya suami juga ada diistri."
Elgar mengernyit, rasanya dia belum pernah denger yang seperti itu.
"Gak percaya?" cibir Mila. "Yakin surganya gak ada pada istri?"
Elgar terus memikirkan kata kata Mila. Melihat wanita itu yang menahan tawa, Elgar langsung paham.
"Surga dunia maksud kamu?"
Tawa Mila seketika pecah. Akhirnya Elgar paham juga.
"Surga dibawah perut." Elgar terkekeh sementara Mila langsung melotot sambil menunjuk dagu kearah Saga. Dia tak mau Elgar sampai bicara yang tak pantas didengar Saga.
"Papah." Saga menarik lengan Elgar. "Surga itu dibawah telapak kaki ibu, bukan dibawah perut." Dengan gaya sok dewasa Saga mengajari papanya.
"Hahaha....iya, iya sayang. Papa salah sebut tadi."
Mila hanya bisa geleng geleng, sementara Elgar masih saja tertawa sambil membayangkan surga dunia yang akan segera dia raih tak lama lagi.
Saga selesai membangun track racing, karena ada 3 jalur, dia mengajak mamanya ikutan main.
"Gimana kalau yang kalah dapat hukuman?" Otak licik Elgar tiba tiba menemukan ide jahil.
"Dihukum?" Saga bertanya tanya.
"Iya, yang kalah dicium." Ujar Elgar sambil tersenyum miring. Kalau bisa dapat keuntungan, kenapa tidak, batinnya.
Mila langsung melotot mendengarnya.
"Aku setuju." Saga mengacungkan telunjuknya.
Mila menggeleng. "Mama gak setuju."
"Dari hasil vote, dua banding satu." Elgar melakukan tos dengan Saga. " Jadi keputusanya, yang kalah dicium."
Mila hanya bisa pasrah dan berdoa semoga dia menang. Tapi kalau Elgar yang kalah, tetap juga di harus mencium Elgar. Posisinya hanya aman jika Saga yang kalah.