Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 53


Dengan diantar Reno, Mila dan Saga menuju rumah Elgar. Malam ini, mereka datang atas undangan Bu Dirga. Sebenarnya Bu Rahmi juga diundang, hanya saja wanita itu tak bisa datang karena tak enak badan.


Sepanjang perjalanan, berulang kali Mila menarik nafas dan membuangnya perlahan. Dia sangat gugup saat ini. Apalagi saat mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah Elgar, jantung Mila terasa berpacu sangat cepat.


"Ma, ayo turun." Ujar Saga yang melihat mamanya hanya bergeming. Tak melepas seatbelt atau melakukan apapun.


"Ma." Saga menarik lengan Mila, membuatnya terkesiap.


"I, iya." Jawab Mila sambil melepaskan sabuk pengaman. Dikursinya, Reno tertawa melihat wajah pucat Mila dari spion tengah.


"Tenang aja calon nyonya bos. Bu Dirga gak gigit kok, gak usah takut. Palingan cuma ditelan hidup hidup." Reno tertawa pelan sementara Mila melotot sambil menimpuk bahu supir sialan itu dengan tas. Dasar supir resek, udah tahu majikannya sedang tegang, malah dibecandain.


Mila kembali mengecek penampilannya sebelum turun. Merapikan rambut, make up serta baju.


"Ma, ayo cepetan, Saga udah lapar." Rengek Saga yang kesal karena mamanya tak kunjung selesai menatap cermin kecil ditangannya. Dia masih kecil, belum tahu seberapa lamanya wanita kalau sedang dandan.


"Iya sayang." Mila memasukan kembali cermin itu kedalam tas lalu mengajak Saga turun.


Didepan pintu, ternyata Elgar sudah menunggunya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan baju casual.


Sambil menuntun Saga dan membawa sebuah kotak kue, Mila berjalan menuju teras rumah Elgar. Kenangan tentang masa lalu kembali mengusik pikirannya. Saat itu, dia dan Elgar datang untuk minta restu, sayangnya, restu itu tidak mereka dapatkan.


Elgar menghampiri keduanya. Tatapannya terus tertuju pada Mila yang begitu cantik malam ini. Gaun selutut berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya, membuat Mila terlihat dangat menawan.


Saga meraih tangan Elgar lalu menciumnya.


"Kamu enggak?" Elgar menyodorkan tangannya kedepan Mila.


"Belum waktunya." Elgar tergelak mendengar jawaban Mila.


"Bawa apa?" Elgar menunjuk dagu kearah kotak yang dibawa Mila.


"Kue buatanku dan ibu."


"Wahhh, pasti enak. Yuk masuk."


Dengan posisi Saga ditengah, Elgar dan Mila sama sama menggandeng tangan Saga. Mereka memasuki rumah Elgar dan langsung menuju meja makan yang sudah terlihat penuh dengan hidangan menggugah selera.


Bu Dirga yang keluar dari dapur tersenyum melihat cucu dan calon mantunya datang. Tapi dia tidak melihat calon besannya.


"Cucu oma udah datang nih?"


"Oma." Saga melepaskan tangan mama papanya dan langsung berlari menyongsong Bu Dirga. Setelah bocah itu salim, Bu Dirga langsung menciumnya di kedua pipi dan dahi.


Dengan jantung berdebar debar, Mila menghampiri Bu Dirga dan mencium tangannya.


"Ini ada titipan dari Ibu. Maaf, beliau tidak bisa datang karena sakit." Mila mengulurkan kotak berisi kue pada Bu Dirga.


"Terimakasih, seharusnya tak perlu repot repot seperti ini." Dia menerima kotak dari Mila sambil tersenyum. "Semoga Bu Rahmi segera sehat kembali."


Senyuman Bu Dirga membuat ketegangan Mila sedikit mencair.


"Aamiin."


Selanjutnya mereka menuju meja makan. Saga yang sudah kelaparan, tak sabar ingin segera makan. Bocah itu terlihat sangat lahab, berbanding terbalik dengan Mila yang tak begitu berselera karena gugup didepan Bu Dirga.


Bu Dirga menambahkan sepotong salmon teriyaki dipiring Saga. "Makan yang banyak, biar cepet besar."


"Makasih Oma."


Elgar terus terusan curi pandang pada Mila. Dia merasa jika Mila tak begitu menikmati makanannya. Baru saja dia hendak menambahkan lauk dipiring Mila, Bu Dirga sudah lebih dulu melakukannya. Wanita paruh baya itu menaruh sepotong daging dipiring Mila.


"Kamu juga makan yang banyak, jaga kesehatan."


"Terimakasih."


Elgar tersenyum melihatnya. Seperti inilah yang dia impikan, mamanya dan Mila bisa akur.


Mereka melanjutkan makan sambil sesekali membicarakan tentang konsep pernikahan. Bu Dirga terlihat sangat antusias, sedangkan Mila lebih banyak mengiyakan saja apa yang dimau calon mertuanya itu. Mulai dari ballroom, cathering, bahkan tema pernikahan. Tapi urusan gaun, foto preweding dan undangan, Bu Dirga menyerahkan sepenuhnya pada Mila dan Elgar.


"Saga juga Oma. Saga ingin mama dan papa cepet cepet menikah supaya Saga bisa tinggal bareng sama papa, gak pisah kayak sekarang," Saga nenimpali.


"Pastinya dong. Nanti kita tinggal bareng bareng disini."


Mendengar ucapan Bi Dirga, mendadak Mila kesulitana menelan makanan. Tujuan utama Mila kembali ke Jakarta adalah untuk menemani ibunya. Beberapa hari yang lalu, dia teleponan dengan Miko. Mereka berdua telah sepakat jika Mila akan tetap tinggal disana sampai Miko menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke Jakarta.


"Ada apa?" Elgar bisa membaca raut wajah Mila yang berubah keruh.


"Gak ada apa apa." Mila tak mau membahas tentang ini dulu didepan Bu Dirga. Mungkin lebih baik dia bicarakan berdua dengan Elgar dulu.


Selesai makan, mereka lanjut mengobrol. Tapi lebih banyak mendengarkan Saga yang berceloteh menceritakan tentang kegiatannya disekolah. Dan pada saat mereka hendak pulang, hujan turun sangat deras dan disertai pertir.


"Lebih baik kalian menginap disini saja malam ini, tawar Bu Dirga. Elgar tentu langsung sumringah mendengarnya. Berbeda dengan Mila, dia mengkhawatirkan ibunya yang sendirian dirumah.


"Lebih baik kami pulang saja. Ibu saya sendirian dirumah."


Mereka menunggu hingga hujan sedikit reda. Tapi sepertinya, malam ini cuaca memang sedang tidak bersahabat. Hujan deras disertai angin dan petir pasti membuat siapapun enggan untuk keluar, karena jalanan sudah bisa dipastikan banjir.


"Ma, ngantuk." Saga mulai merengek.


"Ya udah kita kekamar papa yuk." Elgar hendak menggendong Saga tapi bocah itu menolak.


"Maunya sama mama. Saga mau dipeluk mama dan dibacain dongeng."


"Ya udah Saga tiduran dipankuan mama sini." Mila menepuk pahanya.


"Mil, apapan sih. Saga gak akan nyaman tidur disofa gini. Ayo kekakamar aku aja."


"El...," desis Mila. "Jangan aneh aneh, kita belum menikah."


"Apanya yang aneh? Pikiran kamu aja yang terlalu kotor."


Mila mendelik sebal dikatain pikirannya kotor.


"Cuma nidurin Saga doang, bukan mau ngapa ngapain. Pintunya dibiarin terbuka. Lagian ada Saga, masa iya mau ngapa ngapain."


Saga menatap mama dan papanya yang sedang berdepat.


"Ayo cepetan, Saga udah ngantuk."


Elgar langsung menggendong Saga. "Ayo, kasihan Saga udah ngantuk berat."


Dengan langkah terpaksa, akhirnya Mila mengikuti langkah Elgar. Saga sudah ngantuk berat, pasti tak akan lama menidurkannya. Setelah itu dia bisa segera keluar dari kamar Elgar.


Mila menatap sekeliling kamar Elgar. Luas, bersih dan rapi. Mungkin karena ada art jadi bisa seperti ini. Mila masih ingat seperti apa malasnya Elgar dulu. Apa apa selalu minta diambilkan, minta dilayani. Elgar, manusia yang lebih suka menggunakan mulut daripada tangannya. Si tukang pemerintah, seperti itu julukan yang dulu Mila sematkan.


Elgar menurunkan Saga diatas ranjang.


"Mau dikelonin mama sambil dibacain dongeng."


Lagi lagi dengan terpaksa Mila naik ketas ranjang. Tapi mendadak, pikirannya kalau karena terbayang bayang Elgar dan Salsa yang melakukan hubungan suami istri diranjang ini.


"Kamu kenapa?" tanya Elgar.


"Eng, enggak." Mila berusaha menyembunyikan ketidak nyamanannya. Dia yang sudah hafal beberapa dongeng, tak perlu buku lagi disaat seperti ini. Dia memeluk Saga sambil mengusap punggungnya. Bibirnya mulai melantunkan dongeng si kancil yang dia hafal.


"Papa sini." Saga meminta papanya yang sedang duduk disisi ranjang naik dan berbaring disebelahnya.


Mila terlihat keberatan, tapi kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali, dan Elgar tak mau menyianyiakannya.


"Gak bakal aku apa apain, gitu amat natapnya," ujar Elgar pelan.


Mila menunjukkan kepalan tangannya kedepan Elgar. Memperingatinya agar tak macam macam.


"Galak banget sih calon bini aku. Udah ah, aku merem aja." Elgar mengusap pelan kepala Saga lalu memejamkan matanya, pura pura tidur agar Mila tak keluar taringnya.