
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dua minggu sudah Elgar dan keluarga kecilnya liburan di Korea. Siang ini mereka kembali ketanah air dengan seribu cerita seru dan oleh oleh yang akan dibagikan Saga pada nenek, oma serta teman temannya disekolah.
Bu Dirga dan Reno yang menjemput dibandara. Sedangkan Bu Rahmi, dia mempersiapkan aneka hidangan dirumah untuk menyambut anak, menantu dan cucunya.
"Oma." Saga melambaikan tangan begitu melihat omanya. Gegas dia berlari lebih dulu dan memeluk omanya.
"Oma kangen banget sama Saga." Bu Dirga langsung memberondong wajah Saga dengan ciuman.
Elgar dan Mila bergantian meraih tangan Bu Dirga untuk salim, sementara Reno, dia mengambil alih koper yang dibawa Mila.
"Yuk langsung kemobil, kalian pasti capek banget."
Mereka langsung menuju mobil. Perjalanan dari Seoul ke Jakarta memakan waktu sekitar 7 jam lebih, membuat mereka kelelahan dipesawat.
"Gimana liburannya, asyik gak?" Tanya Bu Dirga saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Asyik banget oma. Oma pernah ke korea gak? Ada salju disana oma." Saga begitu bersemangat bercerita. Bagaimana tidak, kemarin itu adalah pertama kalinya Saga melihat salju secara langsung, demikianpun dengan Mila.
"Benarkah?" Bu Dirga ingin lebih banyak lagi mendengar cerita Saga.
"Iya Om. Nanti kapan kapan kita kesana bareng bareng ya? Sama oma, nenek, kakak Pink, om Miko, Om Dev, tante Zura." Saga mengabsen satu persatu keluarga mereka.
"Om Reno gak diajak nih?" sahut Reno yang sedang memegang kemudi.
"Om Reno boleh diajak gak Pah?" Saga bertanya sambil mendekatkan wajahnya ketempat duduk Elgar.
"Enggak." Jawab Elgar cepat dan jelas.
"Pelit," gerutu Reno. "Saga, oleh oleh buat om Reno gimana?" Tanya Reno sambil melihat Saga dari spion tengah.
"Gak ketemu Om."
"Gak ketemu? Emang om Reno minta oleh oleh apa?" Bu Dirga penasaran.
"Minta dibawain Lisa balckpink."
"Hah!" Mereka yang ada dimobil seketika melongo sambil menatap Reno. Sedetik kemudian mereka kompak menertawakan Reno. Yang ditertawakan hanya cengar cengir tanpa dosa sambil menatap jalanan.
"Kamu mau Lisa Ren?" tanya Mila dan hanya dijawab dengan senyum malu malu oleh Reno.
"Tenang, besok aku bawain. Ada Lisa blackbingit di pasar dekat rumah. Janda dua anak yang lagi nyari jodoh. Pas banget buat kamu." Goda Mila sambil ketawa.
"Yaelah nyonya bos, masak perjaka tulen dapat janda. Gak level atuh."
"Jangan ngomong gitu kamu," sahut Bu Dirga. "Bisa bisa kemakan omongan kamu sendiri, tahu tahu jodoh kamu ada ditangan janda."
"Hehehe." Reno tersenyum kecut. Dalam hati berdoa supaya omongan Bu Dirga gak jadi kenyataan. Gimanapun, dia ingin ngerasain perawan. Tapi kalau janda ya gak papa, setidaknya jandanya secantik istri si bos.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai didepan rumah Mila. Mereka segera turun lalu masuk, meninggalkan Reno yang masih sibuk menurunkan tiga koper yang berada dibagasi.
"Biar saya bawain satu mas." Reno yang sibuk mengatur tangan untuk menarik 3 koper sekaligus langsung menoleh mendengar suara merdu seorang perempuan.
Dia tertegun melihat seorang wanita cantik bergamis lengkap dengan hijab segiempat berdiri tak jauh darinya. Suaranya yang lembut ditambah senyum yang menawan serta tatapan yang teduh membuatnya terpesona. Terlihat lebih enak dipandang mata daripada Lisa.
"Sini Mas, saya bawain satu." Wanita itu kembali berujar karena Reno hanya bengong.
"I, iya." Dengan sedikit gugup, Reno menyerahkan salah satu koper padanya.
Mereka berdua kemudian masuk, perempuan itu berjalan lebih dulu dengan Reno yang mengekor dibelakangnya. Dalam hati, Reno bertanya tanya, siapakan wanita cantik didepannya itu?
Suasana didalam rumah seketika ramai. Siapa lagi kalau bukan Saga penyebabnya. Bocah itu sibuk bercerita tentang keseruannya di Korea.
"Saga gak ilang kan waktu disana?" celetuk Bu Dirga sambil melirik anak dan menantunya.
"Ya enggaklah Ma. Masa iya ilang disana," sahut Elgar.
"Bukan Saga yang ilang oma. Tapi mama sama papa yang suka ngilang." Mendengar itu, tatapan Bu Dirga dan Bu rahmi langsung tertuju pada Elgar dan Mila.
Melihat sutuasi yang mulai akan menyudutkannya, Elgar berniat menghampiri Saga dan membungkam mulutnya. Sayang Bu Dirga lebih dulu memelototinya dan menyuruhnya tetap dulu.
"Hampir tiap malam kalau Saga terbangun, mama sama papa selalu gak ada, ilang Oma, Nenek."
"Ilang?" Bu rahmi tampak bingung.
"Iya ilang dari ranjang, tahunya mereka ada dikamar mandi. Anehkan oma, masak katanya mama gak berani kekamar mandi sendirian, harus ditemani papa."
Wajah Elgar dan Mila seketika memerah. Keduanya kompak menunduk demi menghindari tatapan dari kedua orang tua mereka yang pastinya tahu apa yang mereka lakukan dikamar mandi.
"Hahaha....di kamar mandi."
Suara ngakak itu membuat semua orang yang ada diruang keluarga menoleh, siapa lagi kalau bukan Reno pelakunya. Saat baru masuk, ehh...malah denger Saga cerita seperti itu, auto ngakak si Reno.
Sementara Saga, Mila dan Elgar membersihkan diri, Bu Rahmi menyiapkan makanan dibantu oleh Aisyah. Dia adalah kakak Billi yang sejak kepulangan Miko keluar negeri, menemani Bu Rahmi dirumah itu. Tak mau hanya duduk manis, Bu Dirga ikut membantu.
"Bau nya harum sekali rendangnya Bu, masak sendiri?" tanya Bu Dirga sambil membawa makanan lezat itu dari dapur menuju ruang tengah. Karena meja makan dirumah Mila minimalis, hari ini mereka akan makan sama sama lesehan diruang tengah.
"Iy Bu, resep turunan dari mertua. Kesukaan Saga," jawab Bu Rahmi.
"Wah, kapan kapan, boleh dong saya dikasih resep rahasianya."
"Boleh sekali, saya malah senang jika resep itu bisa disukai banyak orang."
Setelah makanan dan peralatannya tersusun rapi diatas karpet, Bu Dirga dan Bu Rahmi mengobrol sembari menunggu anak cucu. Tanaman membuat dua orang yang beda kelas itu mendadak nyambung. Ternyata hobi mereka sama.
"Yee...makan rendang." Seru Saga yang baru keluar dari kamar bersama Mila. Bocah yang selama dua minggu ini mengeluh rindu masakan nenek, akhirnya akan terobati. Saga kurang suka makanan korea, membuat anak itu sering rewel masalah makan selama disana.
"Nungguin papa dulu." Ujar Mila saat Saga meminta diambilin makanan.
"Biarin aja Mil, udah lapar banget kayaknya," sahut Bu Dirga. Mana tega dia melihat cucu kesayangannya cemberut karena tak diijinkan makan duluan. Wanita paruh baya itu segera mengambilkan makan untuk Saga, memotong kecil kecil daging rendang agar lebih mudah memakannya.
Tak lama kemudian Elgar keluar dari kamar, ikut duduk disebalah Mila dan iseng mencomot daging rendang dipiring Saga.
"Papa, itu milik Saga," rengek bocil itu. Tanpa rasa bersalah, Elgar malah mengambil lagi sampai bocah itu marah marah dan akhirnya diambilkan rendang lagi oleh Mila.
Karena sudah ngumpul, mereka langsung memulai makan. Seakan tahu diri, Aisyah memilih berdiam didapur.
"Mbak Aisyah, makan sekalian yuk," Mila menghampiri wanita itu didapur.
"Makan duluan aja, mbak nanti aja." Ada raut segan diwajahnya.
"Aisyah, ayuk Nak." Panggil Bu Rahmi dari ruang tengah.
Mila menarik tangan Aisyah, mengajak wanita itu untuk kumpul bersama diruang tengah.
"Ini acarnya buatan Aisyah, dia pandai masak," puji Bu Rahmi sambil menunjuk acar timun dan nanas yang ada diantara hidangan. Yang dipuji hanya senyum senyum saja. Sejujurnya dia kurang nyaman makan bersama seperti ini.
Selesai makan, Bu Rahmi dan Aisyah membereskan semuanya. Sementara Mila yang ingin membantu dilarang oleh ibunya, dia disuruh menemani Bu Dirga mengobrol.
Selesai beres beres, Aisyah membawa sepiring nasi beserta lauk keluar untuk diberikan pada Reno yang sedang duduk diteras sambil merokok.
"Silakan Mas." Aisyah meletakkan sepiring makanan serta segelas es teh diatas meja dekat Reno.
Buru buru Reno mematikan rokok ditangan.
"Terimakasih." Sahutnya sambil tersenyum dan menunduk sopan.
"Saudaranya Nyonya bos Mila yang dari kampung ya?" Reno memang belum pernah melihat Aisyah sebelumnya. Sejak Mila dan Elgar menikah baru hari ini dia kerumah ini. Selain itu, dulu saat status Mila masih janda, Reno memang dilarang masuk kerumah mereka jika tak ada urusan penting.
"Bukan, saya tetangganya."
"Oh...tetangga dari kampung?"
"Bukan, itu rumah ibu saya." Aisyah menunjuk dagu rumah yang ada disebelah.
"Bi_li?" Ragu ragu Reno mengucapkannya. Setahu dia sebelah memang rumahnya Billi. Mungkinkah wanita ini istri Billi? Kapan dia menikah?
"Iya."
"Istrinya Billi?"
Aisyah menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan, saya kakaknya."
"Oh..." Reno seketika tersenyum. Rasanya seperti mendapatkan angin segar dari jawaban itu. Kemana saja dia selama ini, sering ngobrol ngalor ngidul dengan Billi tapi baru tahu jika dia punya kakak secantik ini.
Sementara didalam, setelah cukup lama mengobrol, Bu Dirga memutuskan untuk berpamitan. Dia tahu Mila dan Elgar juga lelah, pasti ingin istirahat.
Sebelum pulang, Bu Dirga mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Diam diam, dia menyelipkan benda itu ditangan Mila.
"Coba dicek, siapa tahu udah jadi."
Pelan pelan Mila melihat sesuatu digenggamannya. Mulutnya menganga malihat testpack yang diberikan mertuanya itu.
Bu dirga berujar lirih ditelinga Mila.
"Dari yang mama baca, kehamilan sudah bisa terdeteksi setelah 1 sampai 2 minggu berhubungan. Kaliankan udah nikah udah hampir 3 minggu, siapa tahu adiknya Saga udah otw. Secara, bikinnya aja getol banget."
Mila tersedak ludahnya sendiri mendengar ledekan mertuanya. Antara malu dan syok bercampur aduk. Segitu bersemangatnya mertuanya sampai repot repot membelikan test pack untuknya.