Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 94, Melawan Undead


Gang sempit kota kerajaan Livius


"Orang yang membunuh mereka sepertinya hanya orang iseng yang mengincar plat mereka untuk dijadikan medali pembunuhan saja tuan." Ririn menghadap.


"Dengan kata lain mereka hanya assassin gila yang memiliki kehormatan tinggi terhadap jobnya." David memyimpulkan.


"Baiklah sebelum itu ini untukmu Teodor gunakan itu untuk membeli mansion disini bersama Selartain dan bertingkahlah layaknya bangsawan." Alfa melangkah pergi setelah melemparkan cincin penyimpanan pada Teador dan Alfa tentunya memiliki alasan lain.


"Baik tuan." Teador dan Selaratain menjawab sebelum berubah menjadi kabut merah dan menghilang.


"Apa kau menemukan petunjuk lain?" Alfa kembali bertanya.


"Assassin ini bodoh tuan dia hanya membunuh saja dan lari begitu saja jadi kita dapat menemukan jejaknya dengan mudah." Ririn menjawab.


"Baiklah kalau begitu kita susul jejaknya." Alfa berniat membalaskan dendam keempat mantan rekannya itu.


Alfa mengikuti Ririn dengan cepat tapi begitu mereka menemukan bau darah mereka kembali mempercepat langkahnya hingga akhirnya menemukan mayat lagi.


"Ini adalah nenekmya Louis sudah kukatakan tetap dipenginapan dia malah keluar ini salahnya jangan dipedulikan terus ikuti jejaknya saja." Alfa melewati nenek itu walaupun Alfa menghormati orang yang lebih tua tapi dia tidak akan menghormati siapapun yang tidak menghargai perkataannya.


Mereka terus menyusul jejak orang tersebut hingga akhirnya keluar kota dan masih terus melewati hutan jejak yang mereka maksud adalah hawa keberadaan dimana Virinda memiliki skill yang dapat mendeteksi mereka.


Mereka terus berlari dengan kecepatan penuh hingga akhirnya sampai disatu tembok yang benar benar hanya tembok saja yang menghalang dengan banyak prajurit diatasnya seperti sedang bertarung dengan sesuatu.


"Kecepatan pembunuh ini setara dengan kecepatan saya tuan." Ririn melaporkan.


"Aku juga merasa begitu tapi para prajurit itu juga sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi." Alfa menunjuk kearah atas benteng dimana prajurit sedang bertarung dengan banyak undead yang terus memanjat tembok.


"Apa pasukan bantuan belum tiba?!" Seorang prajurit berteriak.


"Pesan baru saja dikirim ketua!" Yang lain membalas.


"Cepatlah atau kita semua akan mati disini!" Dia terus menghalaingi undead untuk memanjat dan juga membunuh beberapa undead yang memanjat dinding.


"Buka gerbangnya." Alfa berbicara tenang tapi semua orang dapat mendengarnya dan seketika semua prajurit menatapnya.


"Apa yang kau lakukan jangan membuka gerbangnya atau kita semua akan mati!" Seorang prajurit berteriak diikuti yang lain.


"Baiklah kalau begitu lewat diatas saja." Alfa melompat melewati tembok bersama dengan Ririn.


"Woi kau itu hanya Copper jangan bunuh diri kemba-" belum sempat seorang prajurit melanjutkan perkataanya segera dia menganga saat melihat Alfa mulai membantai para Undead dengan dua pedang besarnya serta beberapa Undead yang ambruk tanpa alasan itu adalah Ririn.


"Dia setidaknya berada di rank Adamantine kenapa menggunakan Plat Copper?" Bertanya yang lain.


"Jangan dipikirkan lihatlah para Undead mulai berkurang." Yang lain menegur setelah ribuan Undead itu mai berkurang.


Disisi Alfa.


Alfa membantai para Undead yang menyerangnya menggunakan pedang besar yang ada dipunggungnya tapi lebih mirip bentuk Black Knife fersi besarnya.


"Mereka terlalu merepotkan apa lagi tubuh Undead ku terlalu susah untuk diseimbangkan." Alfa mengeluh dimana sekarang dia masih menggunakan tubuh Undead didalam armornya tujuannya memang untuk melatih kecepatannya dalam menggunakan tubuh manapun.


"Wolf rising death Knight!" Alfa memanggil Wolf dan dua death Knight keluar.


Awuu..!


"Bersihkan mereka! Ayo Ririn kita urus orang didepan." Alfa dan Ririn segera maju karena merasa jika disini pasti ada seorang necromancer yang mengendalikan undead dikuburan ini karena sekarang memang sedang berada dikuburan prajurit yang gugur dimedan perang.


Wolf dan dua Death Knight mulai membantai para undead dengan ganas mereka bagaikan air sungai hanya perlu mengalir saja dan semua yang mereka lewati tumbang.


**********


"Sial sepertinya ada petualang tingkat tinggi yang membantai Undeadku dan menuju kesini." Berkata seorang peria botak lebih tepatnya kakek tua yang sudah tinghal kulit dan tulang tanpa daging menggunakan jubah dan memegang tongkat sihir diujungnya terdapat sebuah tengkorak bayi.


"Aku sudah mengumpulkan banyak jiwa untukmu loh jangan sampai kau tidak memberikanku pertunjukan menarik." Seorang wanita berjubah hitam pula berkomentar sambil menjilati pisau pendek bermata duanya.


"Aku sudah mengorbangkan energy kehidupanku untuk mengendalikan para Undead ini tidak mungkin aku membiarkan rencana penyerangan pada kota gagal." Ucap kembali manusia tua botak jelek bau lagi itu.


"Yah baiklah kalau begitu aku akan mengurus mereka sebentar sepertinya ini akan menarik." Perempuan itu berjalan keluar.


"Aku juga akan keluar aku ingin melihat siapa yang berani mencari masalah dengan raja undead ini." Pria tua itu pun ikut keluar.


**********


Disisi Alfa


"Mereka menyadi kita Ririn!" Alfa memberi peringatan.


"Mereka hanya makhluk hinat tuanku." Ririn masih santai saja mengiku Alfa dari belakang.


Bezt.. Bom!


Satu energi listirk lewat didekat leher Alfa dimana dia berhasil menghindarinya dan malah meledakkan para Undead dibelakang.


"Oi petualang apa kau tidak punya sopan santun saat memasuki wilayah orang?" Pria tua itu mempertanyakan sopan santun pada Alfa.


"Maaf kalau begitu pak tua.. tujuan saya kesini hanya lah untuk mencari seorang pengguna belati yang membunuh rekan saya." Alfa menjawab walaupun disana tidak terlihat perempuan itu tapi sepertinya perempuan itu memiliki skill yang dapat membuatnya menghilang.


"Tidak ada orang yang kamu cari sebaiknya kamu pulang saja." Pria tua itu mengusi Alfa.


"Hy hy sepertinya aku tidak perlu bersembunyi lagi." Seorang perempuan berambut coklat tiba tiba muncul dan menyapa saat melihat Alfa dan Ririn tidak bergerak saat diusir.


"Satu pertanyaan." Alfa mengangkat satu jarinya setelah menancapkan pedangnya.


"Apa?" Perempuan itu mengangkat alis nya.


"Apa kau yang membunuh empat kelompok petualang rank Silver?" Bertanya Alfa.


"Aku sudah membunuh banyak jadi aku tidak ingat tapi saat perjalanan pulang kesini sekelompok petualang sedang sial jadi aku membunuhnya dan mengambil ini." Perempuan itu membuka jubahnya dan memperlihatkan banyak plate petualang yang menempel pada tubuhnya yang menandakan dia sudah membunuh banyak kelompok petualang dan mengambil plate mereka.


"Aku anggap iya ... sepertinya kakek tua itu memiliki cukup kekuatan aku akan membiarkan Ririn altihan denganya kamu ikuti aku." Alfa menunjuk perempuan itu sebelum melangkah jauh dengan gaya seperti biasa berjalan tenang.


"Baiklah." Santai permpuan tersebut menjawab dan mengikuti Alfa.


"Jadi apa yang diinginkan bocah itu menitipkan kau disini?" Bertanya kakek tua itu saat melihat Ririn menatapanya dingin.


"Tuanku memintaku latihan." Sembarang saja Ririn menjawab walaupun kenyataannya memang begitu.


"Oh kalau begitu kamu pasti bisa menahan ini Lightning Shot!" Satu skil pria tua itu keluarkan dan lima tmbakan listrik langsung menuju kearah Ririn.


Zsrtt! Zrt


Tembakan listrik tersebut berhasil Ririn belukkan menggunakan pedang tipisnya.


"Pedangmu lumayan hebat tapi kau harus menghadapi mereka Rising Warior" dia memanggil sepuluh undead Warior tapi begitu para undead ini keluar dan bersiap menyerang semuanya langsung tepotong dan mati.


"Apa yang kau lakukan pada Undeadku?!" Berteriak pria tua itu terhadap Ririn.


"..." Ririn tidak menjawab.


"Dasar kau Lightning shoot! Fire Ball! ..." Berbagai serangan pamungkas dia keluarkan.