
Ibu kota Vermilion
"Aku hanya ingin menggunakan beberapa makhluk baru, Rising Dullahan!" Ucap David yang tiba tiba terbentuk banyak rune sihir diatas tanah dan mengeluarkan seorang perajurit berpedang besar dengan zirah super hita ungu legam menunggangi kuda gelap bertanduk dua tapi tidak terlihat bahwa ada orang yang berada didalam zirah karena kepala zirah sendiri dipegang oleh tangan kiri.
"Eh? Apa begini bentuk kesatria legendaris dullahan?" David sedikit kebingungan dengan perbedaan imajinasinnya. "Bukan apa apa, kalian bisa menyerang sekarang." David memberi perintah.
Para dullahan berkuda hitam langsung berlari kearah para perajurit dengan mengangkat pedang mereka tinggai.
"Tuan! Tolong kami!"
"Hantu tuan! Hantu!!"
"Mereka ridak memiliki kepala!!"
Para perajurit langsung memasang pertahanan terbaik mereka meskipun masih sedikit gentar sampai berteriak karena melihat aura dullahan yang begitu menyeramkan.
"Stop!! Oke stop!" David berteriak menghentikan Dullahan. "Dasar apa yang sebenarnnya aku pikirkan, segera serang monster yang ada didalam kota!" David memberikan perintah baru sambil menunjuk kearah gerbang.
Seratus dullahan kembali melaju menuju kedalam pintu gerbang menunggangi kuda hitam mereka.
"Mereka lebih mirip kaleng kaleng dengan zirah full tanpa tubuh didalannya." Ucap David menepuk kepalannya.
Beberapa waktu kemudian saat para Dullahan membantai monster yang ada didalam kota, David langsung merasakan sebuah aura yang cukup besar dan pasukan Dullahannya yang mulai mati satu persatu.
"Tuan." Tigerpun merasakan aura tersebut sehingga cepat ia memberi tahu David.
"Aku akan mengurusnnya." David berjalan sebelum melompat memasuki kota.
Swosshh...
"Kenapa kamu tidak ikut?" Bertanya Tiger pada Virinda karena biasannya ia selalu ikut pada David tapi sekarang hanya diam saja.
"Tuan ingin sendiri." Singkat saja Virinda menjawab.
...
Didalam kota
"Sial! Apa apaan kaleng kaleng ini!!! Mereka membantai monsterku, yang benar saja." Ucap seorang yang mulai membunuh para Dullahan.
Semua dullahan langsung menyerang padannya dengan pedang besar tapi mudah saja dia melenyapkannya hanya dengan sihir serangan tingkat tinggi.
"Oh kau yang melenyapkan para Dullahanku." Ucap David yang sudah ada dibelakang orang tersebut.
Cepat orang itu melompat menghindari David sekaligus melayangkan sihir serangan ketempatnya tadi.
"Siapa kau!?" Berteriak dia bertanya saat melihat sihir seranganmya tidak mempan.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kepala keluarga Vermilion mengumpulkan pasukan monster dikota sendiri, tapi biasannya kepala keluarga Vermilion selalu menggunakan pedang saat bertarung kenapa sekarang menggunakan tongkat sihir, ini aneh." Ucap David yang memasang wajah bingung walaupun dia tahu bahwa didepannya ini bukanlah bangsawan Vermilion melaingkan iblis yang pandai menyamar.
"Memangnya siapa yang perduli dengan kota ini, terserahku juga ingin menggunakan sihir atau pedang, itu bukan urusanmu!!" Berteriak iblis tersebut kesal.
Bom..!!
Tiba tiba saja sebuah tangan bersisik mencengkaram wajahnnya dan menindisnta hingga ketanah dan mengeluarkan suara ledakan yang cukup besar.
"Memang iblis tingkat Chief, bahkan serangan seperti ini saja belum mati tapi aku memang tidak berencana untuk membunuhmu, tidak untuk sekarang." David melepaskan tamgan nagannya dari wajah iblis tersebut yang sudah terbaring ditanah.
"A-apa yang kau lakukan barusan?" Iblis itu bertanya dengan kesusahan saat berbicara.
"Maaf maaf aku tadi hanya kebablasan saja karena aku harus melakukan misi seperti ini hanya karena iblis rendahan sepertimu bahkan sampai berteriak teriak jadi anggap saja tadi qku tidak sengaja." Ucap David santai tapi terdengar bahwa ucapannya sedikit serius dan agak emosi.
Buk!
Kembali tangan David mencengkar wajahnnya hingga hampir pecah. "Oi kau seharusnnya menyadari situasimu saat ini, aku tidak akan berbasa basi lagi dari mana kau muncul dan apa ada iblis lain lagi." David bertanya dengan memgeluarkan aurannya yang hampir membunuh iblis tersebut.
"Ak-u tidak a kan memb eri tahumu." Ucapnnya yang masih saja tetap kekeh.
David melepaskan iblis tersebut.
"Yah lagian sebentar lagi aku juga akan tahu. Selatain kau disini? Keluarlah." Ucap David yang merasakan aura Selartain saat ia memasuki kota.
"Tuan memanggilku padahal aku masih ingin melihat tuan menyiksa iblis rendahan ini." Ucap Selartain tersenyum aneh berjalan dari balik sebuah gang rumah yang sudah setengah hancur.
"Bagaimana dengan misimu?" David tidak ingin mengikuti basa basi Selartain dan langsung bertanya pada intinnya.
"Misi selesai tapi aku tidak menemukan retakan dimensinnya." Jawab Selartain menggelang pelan.
"Hm? Apa kau membodohiku?" Tanya David yang sedikit tersinggung karena bawahannya mengatakan misi selesai tapi belum menyelesaikan pekerjaannya.
"Tidak mungkin Selartain berbohong pada tuan yang agung, Selartain tidak dapat menemukan retakan dimensinnya karena iblis ini memiliki item yang dapat membuka retakan dimensi penghubung antara dua dunia tuan." Tunjuk Selartain pada iblis tadi yang dengan bosohnya mengeluarkan item yang dimaksud dan mengaktifkan portal berisap untuk kabur.
"Oh penjelasanmu masuk akal." Mengangguk David saat melihat sebuah portal didepannya tiba tiba terbuka.
"Mereka menggunakan itu untuk melintasi dari dunia iblis dan dunia ini tanpa ketahuan oleh manusia, tapi item ini merupakan item tingkat tinggi dan sangat jarang dimiliki didunia iblis, rumornnya hanya para petinggi dunia iblis lah yang memilikinnya." Jelas Selartain.
"Itu artinnya item ini adalah benda berharga milik dunia iblis." Ucap David yang langsung merebut item teraebut dan menarik iblis tadi yang sudah siap melompat kedalam portal.
"Tuan ampuni saya tolong ampuni saya." Ucap iblis itu bersujud tapi entah kenapa dia bahkan lebih takut untuk melirik Selartain daripada David.
"Apa kau mengenalnnya Selartain?" Bertanya David pada Selartain.
"Hehe tuan, begini begini aku cukup terkenal loh." Selartain sedikit membanggakan dirinnya tapi jelas dia tidak tahu siapa iblis yang bersujud ini.
"Apa kau mengenalnnya?" Bertanya David pada iblis itu sambil menunjuk Selartain.
"Dia adalah puteri pembantai, dijuluki seperti itu karena sudah membantai banyak bangsqwan dunia iblis sehingga keluargannya diusir kedunia manusia." Jelas iblis tersebut.
"Kalau begitu aku serahkan kamu padannya." Ucap David menonaktifkan portal dan berjalan berbalik.
"Tuan tolong jangan tinggalkan aku! Aku siap mati ditangan tuan yang penting jangan ditangan puteri gila ini!!" Iblis tersebut langsung berteriak frustasi.
"Oh iya, apa kau tahi dimana kepala keluarga Vermilion?" David berbalik dan bertanya.
Cepat iblis tersebut merasa senang karena menganggap jika dia menjawab ini dengan benar maka dia akan diselamatkan oleh David. "Orang itu sudah saya bunuh tuan." Cepat dia menjawab dengan mantap.
"Oke thank you." David kembali berjalan pergi.
"Tuaann!!" Teriaknya.
"Kau mendahuluiku memberitahukan pada tuan asal usulku, seharusnya aku yang mengatakannya dengan penuh kehormatan tapi iblis rendahan sepertimu berani berani sekali mengucapkannya." Ucap Selartain yang terlihat sangat emosi. "Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah." Selartain siap untuk mencabik cabik.
"Oh iya Selartain." David berbalik dan menghentikan Selartain.
"Ya ada apa tuan." Cepat Selartain berubah kembali kebentuk anggunnya dan menjawab.
"Sekalian kamu urus monster yang tersisa." Ucap David sebelum menghilang.
"Baik tuan." Ucap Selartain mengangguk sebelum melirik tajam keiblis tadi.
"Eh! Aakhaaak."